Kakak Iparku Ayah Dari Anakku

Kakak Iparku Ayah Dari Anakku
RENCANA KIRANI


__ADS_3

...****************...


“Mas! Kamu tuh bisa gak, menghargai aku sebagak istri kamu? Sekali aja..” kirani mengucapkan sembari menahan lengan dika yang akan keluar dari kamarnya.


Melihat sang suami masih belum mau menjawab, kirani segera menghadang jalan, dan memegang kedua tangannya.


Dika menepis, lalu mendorong kirani hingga mentok ke dinding. “Menghargai? Dari awal pernikahan ini ada, aku sudah berusaha buat memperlakukan kamu sebagai istri. Setiap kamu mau aku hadir di acara media, aku datang. Kamu suruh aku pura-pura untuk jadi pasangan yang romantis, aku ikuti. Terus, kamu sekarang bilang aku gak menghargai kamu? Gak salah ran?” tanya lelaki itu. Mengungkap segala kata yang ia pendam selama enam tahun pernikahannya dengan kirani.


Tapi bukan merasa bersalah, kirani malah menggeleng tegas. Dia tatap balik, mata dika. “Gak dika. Menghargai versi aku, kamu mau kita tidur berdua, makan pagi bersama, travelling, kamu dengar semua mau aku, kita cerita sebelum tidur, kamu jauh-jauh sama wanita mana pun, kamu anggap ratu sebagai putrimu, kamu dukung karierku sebagai model, kamu gak sibuk sama kerjaan kantor. Dan kamu bisa bangga in aku didepan semua keluargamu!” tegas kirani menggebu-gebu.


“Semua yang kamu mau cuman dilakukan sama sepasang suami istri yang nikah karena cinta, dan kita tak termasuk. Dari awal, Aku tolak pernikahan ini tapi—“


“Kamu yang mulai dika! Malam itu kita bangun udah di hotel tanpa sehelai benang? Terus aku positif hamil. Kamu masih ingat, kan?” potong kirani.


“Gak. Aku udah pernah bilang, aku gak merasa melakukan **** sama kamu. Sekalipun mabuk, pasti ada ingatan, tapi ini gak sama sekali,” balas dika serius. Dia mundur beberapa langkah memberikan jarak. “Meskipun begitu, aku sedang berusaha menyayangi ratu seperti anakku. Dan camkan ini, kirani. Audina bukan pelayan penggoda. She is my favorit person. Jadi, jangan sampai kamu sentuh dia, atau hasut orang untuk benci audina. Kalau kamu siap cerai, silahkan. Aku tunggu surat pengadilannya.” Setelah mengucap panjang lebar, dika keluar dari kamar milik kirani.


Meninggalkan kirani yang kesal setengah mati, dia pukul semua benda yang ada di sekitarnya sembari berteriak-teriak.


“Ah! Sialan audina! Nama itu dari dulu selalu menghancurkan hidupku!” kirani memukul keras cermin yang ada di hadapannya.


Dari pantulan cermin, muncul cinta tiba-tiba.


“Mbak?”


Cinta tersenyum, dengan menghampiri kirani dan mengusap pelan tangan kirani yang terkena pecahan kaca dari cermin itu. “Tenang, kirani. Aku akan jaga semua rahasia pernikahan kalian berdua,” ucap cinta sambil menatap kirani, ia usap pelan air yang keluar dari sudut mata kirani. “CupCupCup, kirani. Jangan buang-buang air mata berhargamu hanya untuk lelaki dan wanita tak jelas. Apa mau aku bantu, cara membalas dendam dengan baik?”


Kirani diam, lalu mengangguk. Hal yang langsung menerbitkan smirk dari wajah cinta.


...


Sama seperti biasa. Audina mengekor dibelakang dika, kala berjalan di kantor. Keduanya datang dengan penuh wibawa. Dika dengan jas biru tua kegelapan, dan audina memakai drees selutut, yang tetap memberikan kesan formal di penampilannya.


Mereka sampai dilantai tujuh. Tempat rapat akan diadakan. Orang-orang yang duduk dan fokus terhadap pekerjaannya, menyempatkan waktu memberi sapa pada bosnya itu.


Tak lama, kaki keduanya sampai diruang rapat. Di dalam sana sudah ada tiga orang penting perwakilan dari bidang yang terdapat di perusahaan dika. Jangan lupa, adrean juga hadir ditemani jaz.


Rapat selesai, menghabiskan banyak waktu sebab banyaknya pendapat dari setiap orang. Tapi, pada akhirnya mereka bisa menyatukan ide dan pendapat itu pada rancangan yang segera dibuat.


“Na, makan siang?” ajak jaz masih dengan adrean di sampingnya.


Audina melirik dika, hal yang membuat jaz paham. Dan mengucap pamit pada dika untuk ke restoran di bawah bersama adrean.


Kini, tinggallah audina dan dika di ruang rapat itu. Audina bawa map yang ada di meja dika, lalu berdiri kembali dibelakangnya.

__ADS_1


“Kita makan siang bersama.” Dika tanpa menunggu jawaban langsung keluar dari ruangan, diikuti audina.


Kala akan masuk lift, terdapat tiga orang wanita yang keluar dari lift juga. Salah satu darinya langsung mengait tangan dika dengan tangannya. Berhasil membuat audina menyingkir dari tempatnya.


“Mas, aku, mamah sama ibu mau ajak kamu makan siang bareng di resto depan, mau kan?” tanya istri dika, alias kirani.


Dika mendengus. Sudah tahu, jika ada keluarga mereka, dika tak mampu menolak. Jadi mau tak mau ia mengangguk. Namun sebelum semua masuk ke lift, dika berbalik, menatap audina dan menggerakkan kepalanya untuk ikut dengan mereka.


Hal yang langsung ditolak mentah-mentah oleh audina. Bukan apa-apa disana juga ada ibu, wanita yang melahirkannya ke dunia ini. Sudah tujuh tahun berlalu, tapi ternyata audina tetap menyayanginya.


“Ck, masuk.” Dika mengucapkan sembari menarik audina dengan lengan kanannya yang menganggur.


Jadilah sekarang kelimanya duduk bersama disatu meja. Saat mamah dan ibu tuanya bertanya siapa audina dia hanya menjawab sekretarisnya. Meski kesal, tapi kirani berusaha menyembunyikan perasaan itu, sesuai wejangan cinta tadi.


Dengan sengaja, kirani menyender dibahu dika, berusaha membuat perhatian lelaki itu berahlih padanya bukan pada audina yang sedang duduk di hadapan mereka.


“Oh iya dik. Kata kirani, benar kalian akan honeymoon?” tanya mamah dika, penuh antusias.


“Honeymoon? Aku sibuk mah,”


“Ish, apa sih mas, kemarin kan kita udah bicara tentang ini. Dan kamu setuju, apalagi mau kasih adik buat ratu. Hehehe.” Klarifikasi kirani segera pada ibu mertuanya.


“Serius! Astaga, mamah seneng banget dik. Akhirnya kamu bisa melupakan pacar gak jelas kamu itu!”


“Mah, kita kesini mau makan.” Tekan dika yang menyuapkan daging ke mulutnya.


Audina mengikuti jejak dika. Dia sedang berusaha tak mendengarkan apapun yang diucapkan dan perlakuan kirani pada dika. Audina disini hanya untuk makan siang saja, setelah semua selesai, dia akan langsung pamit pergi.


Tapi, tangan milik ibu yang berada disamping audina tak sengaja memegang lengannya. Membuat ada sedikit getaran listrik dari tubuh audina.


“Eh, maaf nak. Saya gak sengaja.” Ucap ibu sembari menundukkan sedikit kepalanya.


“Iya, bu.”


“Kamu, udah lama kerja sama dika?” pertanyaan itu keluar dari mulut mamah dika.


“Baru-baru,”


Heni alias mamah mengangguk. Dia kembali berbincang dengan menantunya kirani. Dan kirani seperti sengaja, melebih-lebihkan ucapannya agar terlihat baik didepan heni serta audina.


Memang itu poin dari pertemuan mereka, untuk membuat audina merasa kalah atas dika.


“Audina, juga punya anak loh, mah,”

__ADS_1


Heni terkejut. “Wah, padahal muka kamu masih muda ya?”


Audina terkekeh. Lihat saja, sesudah ini kirani pasti akan pernyataan atau pertaanyaan yang menyebalkan.


“Iya kan mah. Tapi aku gak tau, ayah dari anak audina ini kemana..” lirih kirani merasa sedih.


“loh, kemana?” heni langsung bertanya. Hal yang menjadikan kirani bahagia.


“Ada kok tan. Cuman memang, kami udah gak ada ada hubungan apapun.” Jawab tenang audina. Dia masih menampilkan senyum. Sama sekali tak mengizinkan kirani menang.


Tapi jawaban yang audina beri, malah mencorengkan harga diri dika sebagai lelaki. Padahal audina sendiri yang memilih pergi.


“Oh begitu ya.”


Makanan yang ada dipiring kelimanya telah habis, saatnya untuk pulang. Audina telah siap dengan tas disampirkan ke bahu. Dia memilih menunggu mereka jalan lebih dulu.


Tapi, tangan audina tertarik oleh kirani yang membawa dirinya kedalam toilet. Saat telah sampai disana, kirani hempaskan kasar lengan audina. Dan menyudukan dirinya ke dinding toilet.


“Lo jangan sok polos dengan dika ya!” teriak kirani.


Amarah kirani kembali memuncak saat audina malah terlihat santai. Dan dengan mudah menyentak tubuhnya balik.


Audina malas sekali berurusan dengan perempuan seperti kirani, mungkin dulu ia akan diam tapi sekarang tidak.


Byur


Entah darimana kirani mendapatkannya. Tapi sebotol air berwarna merah diguyur habis pada tubuh audina. Yang saat itu audina memakai baju drees berwarna putih. Membuat ********** tercetak jelas.


Sudah. Kesabaran audina sudah tka tersisa. Ia denhan nafsu, menampar audina dan menjabak rambutnya hingga kirani mendongak sembari merintih ampun.


“Aku bukan wanita lemah yang tetap diam kau ganggu. Kirani.” Setelah ucapannya audina jatuhkan tubuh kirani hingga kepalanya menyentuh ujung wastafel.


Memastikan perempuan itu tak pingsan, audina keluar toilet. Berhasil mendapatkan banyak pasang mata menatapnya dengan penuh pikiran beragam.


Tapi audina tak peduli. Hingga ada sebuah jas yang menyampir dikedua bahunya. Lalu orang itu menghadang didepan audina dan mengacingkan kancing jas yang menutupi tubuh audina.


“Kai?”


“Hahahaha, yes sunsshine?” kaivan menatap audina dengan tatapan jahilnya.


Audina digiring masuk kedalam mobilnya. Tanpa mengatakan apapun, mobil itu jalan membelah ibukota.


Melupakan, ada seorang lelaki yang akan mengejar keduanya tapi tak jadi, sebab mamahnya datang. Menyuruh ia membawa kirani.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2