
...****************...
Dua bulan berlalu. Selama itu, banyak hal yang berubah. Dari dika yang sedikit demi sedikit bersikap baik pada ratu, kirani yang melakukan segala cara agar membuat audina dibenci, adrean yang masih mencari tahu selak beluk kirani untuk membalaskan dendam ibunya, audina yang sibuk menjadi babu seorang dika.
Dan terakhir. Sikap rosi yang semakin lama, semakin tak suka saja kepada audina. Ada beberapa faktor yang membuat nenek itu membencinya, pertama karena kejadian ratu masuk kolam renang, kedua rosi memandang audina sebagai perempuan yang ingin merebut cucunya alias dika, terakhir karena hasutan dari kirani.
Sejujurnya, audina benci ada di situasi tak enak seperti ini kepada nenek rosi. Apalagi, dulu saat wajahnya belum diganti, ia dan rosi lumayan dekat.
Jadi, sekarang, audina berjalan ke taman belakang, tempat biasanya nenek rosi berlatih berjalan. Sekarang berkat karunia tuhan dan obat racikan adrean, kaki rosi sudah mulai membaik.
“Ratu, ninin udah bisa jalan. Nanti kita ke mall ya?” rosi bertanya dengan penuh ceria sembari memegang erat tangan sisil.
“Iya, ninin. Anti, atu pergi yang lama ama ninin!” ujar anak perempuan itu yang duduk dikursi taman.
Rosi kembali duduk di kursi rodanya, saat ia melihat ke arah pintu, dia menemukan audina yang diam.
Audina berjalan kearah rosi, dia tersenyum menyapanya. Tapi, seperti biasa hanya wajah sinis yang rosi berikan.
“Nyonya, apa boleh aku bicara padamu?”
“Sisil aku sangat lelah, antar aku ke kamar.”
Saat roda itu akan berjalan, audina tahan. Ia berjongkok di hadapan rosi. “Aku benar-benar meminta maaf. Tapi bukan aku pelakunya nyonya. Aku sangat tak nyaman ada disituasi ini denganmu. Aku akan memperbaiki semuanya, aku mohon..” ujar audina beruntun tapi rosi tak peduli.
Rosi pergi dengan kursi rodanya. Audina menunduk, sekiranya jika ia sudah kehilangan ibu, dia tak mau kehilangan seorang rosi juga, yang baik padanya dari jaman dulu pacaran dengan dika.
“Aunty, atu minta maaf...”
Audina mendongak, dia menatap ratu. Hah, anak ini sangat lucu. “Maaf, buat apa?”
“Uwat, yang boong itu. Atu, uman disuruh mamah,” ujarnya lagi, berhasil menarik perhatian audina.
“Mamah? Kirani?”
“Hah? Kirani iapa?” tanya bocah itu dengan mata bulatnya.
Audina menggeleng. Kalau benar yang dikatakan ratu, berarti dugaannya sejak awal terbukti benar, bahwa kakaknya lah pelaku dari semua ini. Padahal kirani, belum tahu ia siapa, dan hanya mengenal audina sebagai pelayan penggoda dika, bukan adiknya.
__ADS_1
“Ratu, aunty kasih maaf, tapi jangan diulangi lagi ya? Soalnya bohong itu teman setan tahu,”
“Setan itu yang hihihihi teyus duduk di pohon ya?
Audina tertawa. Pasti ini mengarah ke kunti. “Ratu tahu dari mana setan kaya gitu?
“Dari abang ean,” ucapnya dengan tersenyum.
“Adrean?” ini hanya tebak-tebak audina. Tapi tubuhnya terkejut saat ratu mengangguk. Ini anak tunggalnya, sejak kapan dekat dengan ratu?
“Oh ya? Terus abang adrean bilang apa aja?”
Seketika dapat audina tangkap mimik ratu kebingunan. “katanya aku tuh anak haram. Api ... abang gak kasih tahu apa artinya ke atu,” ucapnya.
“Betul, abang bilang gitu?” tanya audina. Dia tak percaya adrean berucap sekasar itu.
“Iya. Emm, aunty atu mau tidur siang duyu ya, bay!”
Setelah kepergian ratu. Audina berjalan cepat ke kamar adrean. Dia begitu marah, mengapa anak yang selalu ia didik baik mengucapkan hal jahat pada ratu yang tak tahu apa-apa.
Adrean berbalik. Ia berjalan mendekat. “Kenapa, mom?”
“Kamu bilang anak haram ke ratu maksudnya apa? Mom gak pernah ya ajar in kamu buat kaya gitu. Kalaupun kamu emang mau bareng daddy, tapi bukan dengan cara—“
“Ratu emang anak haram.” Potong adrean dia berjalan ke komputer dan memutar rekaman suara disana.
Audina menatap. Dia ingin tahu apa yang anak genius itu dapat.
“Ingat ya. Saya mau menapung kamu di sini hanya untuk memanfaatkan kamu agar saya bisa dekat dengan suami saya!”
Audina tahu itu suara kirani.
“Masud, mamah apa?” ratu bertanya dengan nada lugunya.
“Kamu tuh cuman anak haram! Paham? Jadi jangan berharap saya menyayangimu.” Setelah ucapan itu audina mendengar suara pintu tertutup dan rekaman selesai diputar.
Kaki audina lemas seketika. Dia duduk dikasur adrean. Mengapa banyak kebenaran yang terungkap. Pantas saja, kirani bersikap acuh pada ratu. Tapi maksud anak haram disini, adalah kirani yang hamil diluar nikah dan ayahnya itu dika, apa maksud bahwa ratu bukan anak kandung dika? Atau malah...
__ADS_1
“Bukan daddy ayah ratu, mom. Kemarin ad, dibantu paman noah periksa kesamaan mereka lewat rambut, dan gak cocok,” ujar adrean dan memberikan tes dari dokter.
Anak itu ikut duduk disamping, audina ia memeluk tubuh sang ibu. “Mom, ad tahu kirani itu kakak mom, kan?”
“Ish, pakai aunty Ad, dia lebih tua dari kamu.” Peringatnya.
Adrean tertawa. “Mana bisa, orang sejahat dia dipanggil sesopan itu?”
“Bisa in aja. Adrean, kalau udah selesai kasih obat buat nenek rosi, terus nenek rosi udah sembuh, ad siap keluar dari rumah ini kan?”
Dengan mantap anak itu mengangguk.
Bruk
Pintu dibuka kasar. Sontak mata ibu dan anak itu menatap ke siapa pelakunya. “Uncle??”
“Uncle, uncle, dad udah bilang kan, kalau lagi berdua panggil daddy aja, ad.” Ucap dika sambil berjalan menghampiri kedua orang itu.
Dia berdiri di hadapan audina. Dan memberikan sebuah ponsel. Dengan mengernyit audina menatapnya. Membuat dengusan keluar dari mulut lelaki itu.
“kemarin kau susah dihubungi, dan itu membuatku kerepotan.” Ujar dika sedikit berbohong. Padahal ia tahu, ponsel audina sudah rusak.
“Iya, Makasih pak.”
“Ck. Aku juga bilang kan, panggil nama diluar kantor!”
Adrean menggeram ia memukul pelan lengan dika. Kesal, sebab dika berucap dengan nada tinggi pada ibunya.
“Iya, maafkan dad. Jangan lupa besok datang ke kantor, daddy mau membicarakan tentang mobil itu.”
“Iya. Sana keluar!” sentak adrean.
Sudah lama tinggal dengan anak itu membuat dika sedikit berkaca melihat sikap ia kala dulu kepada sang ayah. Jadi, sudah tak terlalu memusingkan lagi, jika adrean berbicara tak sopan padanya.
“Ini mau.” Sebelum pergi dika tatap audina dan memberi lirikan untuk keluar. Dijawab anggukan malas olehnya.
...****************...
__ADS_1