Kakak Iparku Ayah Dari Anakku

Kakak Iparku Ayah Dari Anakku
SALAH PAHAM


__ADS_3

...****************...


“Jadi, bajumu kebasahan. Dan sekarang saya menyuruh kamu mengganti pakaian. Masuk ke kamar dekat tangga, nanti kita bertemu diruang tv ini lagi.” Kaivan bergegas masuk ke ruang kerjanya.


Dan audina memasuki kamar yang ditujukan tadi oleh kaivan. Ia sejujurnya tak berfikir akan dibawa sejauh ini oleh kaivan bahkan sampai rumahnya. Tapi, apa boleh buat, kaivan ini audina dengar-dengar biasa membawa wanita untuk berkunjung ke tempat tinggalnya.


Saat memasuki kamar itu, sesaat audina takjub. Sepertinya kamar ini dulu memang dikhususkan untuk wanita yang menyukai dunia peri. Terlihat dari lukisan fantasi dan propertinya.


Tanpa banyak berbelat-belit kini baju putih audina telah terganti dengan kaos oversize dan celana training.


Sembari menunggu kaivan selesai, audina berjalan-jalan menyelusuri penjuru rumah. Sampailah kaki audina ke dinding yang dikhususkan untuk foto-foto bersejarah bagi kaivan.


Audina terkekeh, melihat wajah kaivan kala masih kecil. Dia menatap intens semuanya hingga berhenti di satu foto, dengan gantungan peri tergantung di bingkainya.


Dan ternyata gantungannya memiliki nama ‘cici’


“Itu gantungan couple dengan teman masa kecilku. Hanya itu yang tersisa sebagai kenangan, karena kami sudah sangat lama tak bertemu.” Kaivan sudah berdiri saja disamping audina dan ikut menatap foto anak kecil lelaki dan wanita yang membelakangi kamera kala sedang sunset.


“Waw, kamu suka dia?”


“Emm, bisa dikatakan begitu. Dia first love ku.” Jawab kaivan dengan terkekeh. Jika wanita-wanita nya dulu mendengar ini sudah dipastikan mereka akan kesal, dan tak percaya.


Tapi lain dengan audina dia mengangguk-anggukan kepalanya. “Pantas bermain dengan semua perempuan, orang kamu nya udah punya perempuan yang dicintai,” ujar audina sembari berjalan menjauh dari tempat foto-foto itu.


Kala ia akan mendudukan dirinya disofa ada sebuah kemasan berwarna merah yang menghalangi kenyamanan pantatnya.


“Kai! Ini!” audina berucap sembari melempar kemasan itu ke kaivan. Yang seketika membuat tawa kaivan pecah. “Hahahaha sorry. Saya suka main dimana pun dengan wanita saya,”


“Ya tapi, gak sama sutra nya juga disini. Gimana kalo ada tamu datang??”


“Saya gak peduli. Soalnya pernah sekali kebobolan,” Kaivan ikut duduk disamping audina dan menyetel televisi.


“Kebobolan? Gak pake alat pencegah kaya gitu?”

__ADS_1


“Ya. Namanya orang udah nafsu, tapi pas bangun, saya udah gak lihat wanita itu.” Jelas lagi Kaivan. Dia berfikir kembali ke beberapa tahun belakang, saat tak sengaja bertemu wanita itu di club, tapi kaivan tak ingat jelas wajahnya.


Audina menjadi terdiam. Kejadian yang dialami kaivan hampir mirip dengannya. Sama-sama ditinggalkan setelah melakukan hubungan intim.


“Kai?”


“Hm,”


“Mau coba kiss denganku?”


Dilain tempat beberapa waktu lalu. Setelah memastikan kirani telah tertidur pulas dirumah sakit dan semua keluarga pulang. Dika bersama adrean, segera meluncurkan kendaraannya ke lokasi yang ditunjukkan oleh pelacak dari ponsel audina.


Mereka melewati macet dan banyak rambu lalu lintas untuk sampai di alamat yang dituju. Tapi ternyata rumahnya harus melalui jalan tol. Dika jadi berfikir, sejauh mana kaivan membawa audina.


“Dad, jangan salahkan mom lagi. Dia sama sekali gak salah, orang istri dad dulu yang cari pelkara,” adrean berucap sembari memakan chiki dari dika tadi.


“Hm,”


“Hm, hm, hm, terus mau ganti jadi nissa sabyan?”


“Dih, jangan sampai deh, baik juga om kaivan daripada daddy!”


Seketika dika mendelik kesal. Enak saja, ia dikalahkan oleh lelaki sok cakep itu. Lagian, dika yakin audina masih menyayanginya dan tak mungkin menerima lelaki lain.


Yah, jadi jangan harap jika kaivan dapat memiliki audina.


“Tanya aja mommy kamu, dia pasti cintanya ke daddy,”


Adrean melemparkan satu buah chikinya ke dika. Tingkat kepercayaan diri yang dika punya sangat melebihi batas kapasitas. Adrean berfikir kembali, sebenarnya apa yang membuat audina dulu pernah sangat mencintai lelaki di sampingnya ini. Hanya modal tampang tapi minus sikap.


“Mommy kayanya diguna-guna sama daddy,” ucap adrean menusuk.


Tapi tak dijawab dika. Dia fokus menatap bangunan besar yang tertutup pagar tinggi berwarna hitam. Jika tak salah, ini rumah kaivan.

__ADS_1


“Sialan, kaivan! Kau berani membawa audina kemari!” batin dika menjerit marah.


“Adrean, kau mau disini?”


“Gak. Aku ikut daddy.”


Jadilah keduanya beriringan masuk kedalam rumah itu. Saat akan membuka pagar, ternyata pagarnya tak dikunci. Memudahkan mereka masuk lebih dalam.


Disana ada satu mobil yang tadi dika lihat ditumpangi adrean. Mereka langsung membuka pintu, tapi kali ini pintu terkunci.


Bel dibunyikannya oleh dika beberapa kali, hingga bel ke lima belas, baru pintu dibuka oleh kaivan.


Dapat Dika lihat, lelaki itu tersenyum singkat dengan dua kancing baju yang terbuka. Kaivan jalan lebih dulu. Dia seperti mempersilahkan dika dan adrean masuk.


Saat sampai diruang televisi dika lihat tubuh audina berbaring disofa. Dengan baju yang sudah diganti, membuat mata dika berahlih tatap kearah kaivan.


“Apa?”


“Kau berani mengganti bajunya?!” jelas dika emosi. Dia menghampiri kaivan dan akan memukulnya. Tapi adrean mencegah.


“Dad, bawa pulang mommy,” ucap anak itu.


“Waw, kau punya anak lagi? Married?” kaivan bertanya dengan jengkel.


“Bukan urusanmu.” Setelah ucapan itu dika menghampiri audina yang ternyata tertidur, saat akan menggendong audina, tak sengaja baju kaosnya memperlihatkan belahan dada audina. Tapi bukan itu titik masalahnya. Tapi ada beberapa bekas kismark disana. Alhasil, dika yang tadinya akan membawa pergi audina kembali terurung. Dia balik lagi pada kaivan yang tengah tersenyum penuh kemenangan.


“Bangsat!” meluncurlah pukulan dika ke wajah kaivan, ia angkat tubuh kaivan dan menekannya ke meja. “Sekali lagi aku lihat kau melakukan hal yang tak pantas pada audina, rohmu aku kirim ke hadapan tuhan.” Bisik dika lalu pergi dari sana, dengan audina yang berada dalam pelukannya.


Adrean sebelum pergi, menghampiri kaivan yang masih berdiri. Wajahnya kini membiru. “uncle, maafkan daddy, dia belum minum obat hari ini.” Ucap anak lelaki itu berhasil memunculkan tawa dari mulut kaivan.


“Ya. Bilang padanya, jangan dahulukan gengsi.” Balas kaivan sembari meringis sebab luka disudut bibirnya.


“okay uncle, adrean pamit!”

__ADS_1


“Ck, padahal saya tak melakukan apa pun pada wanitanya!” kaivan membantin.


...****************...


__ADS_2