Kakak Iparku Ayah Dari Anakku

Kakak Iparku Ayah Dari Anakku
Patah tulang


__ADS_3

...****************...


“Karena benturan yang keras di bagian depan, kaki nyonya Audina mengalami patah tulang. Untuk kesembuhan beliau harus rutin mengikuti terapi.”


“Baik, dokter Gernin.” Dika keluar dari ruangan dokter itu. Dengan perasaan yang super-super bahagia. Karena mulai hari ini, Audina-Nya hanya dapat diam, tak akan pergi kemana-mana. Dan Dika, akan selalu menjadi orang yang dimintai tolong oleh perempuan itu.


Setelah membuka pintu, ruangan VIP tempat Audina dirawat. Dika segera memasukkan diri ke sana. Di dalam hanya ada Adrean yang duduk di samping brankar ibunya yang masih tak sadarkan diri, pasca operasi. “Ad, istirahat saja. Daddy yang akan menjaga malam ini.” Kata Dika.


Bukannya menjawab, Adrean malah mendekat pada Dika dan memukul sekuat tenaga tubuh ayahnya. “Hei, why?” Dika menghentikan.


“Anda pula-pula tak tahu? Anda pikir anak ini dapat dibodohi seperti yang lain? Dad salah besar. Aku tahu, daddy yang buat mommy kecelakaan.” Ucap adrean dengan tatapan menghunus tajam.


Seolah gertakan Adrean tak berarti apa-apa padanya, Dika duduk begitu santai dan mencium tangan Audina yang masih tak bertenaga di hadapan laki-laki kecil yang sudah ingin membunuhnya. “Bagus jika kau tahu. Berarti benar kau anakku, Ad.” Katanya dan menunjuk sofa besar disana. “Sana tidur. Bisa-bisa aku dimarahi Mommy mu karena membuat anaknya kelelahan.”


Maka, mau tak mau Adrean menidurkan tubuhnya di sofa dan terlelap tidur.


Selang beberapa menit, tangan yang sedang digenggam Dika bergerak. Berpindah ke mata, Audina sedikit demi sedikit membuka kelopak mata hingga terlihat jelas lampu terang di atap sana.


Dika lantas menekan tombol dan mendatangkan dokter Gernin serta beberapa perawat ke ruangan ini. Mereka memeriksa tubuh Audina, dan tak ada yang perlu dikhawatirkan. Semua orang yang kemari tadi, berangsur keluar. Berakhir meninggalkan Dika dan Audina hanya berdua.


“Minum...” lirih perempuan itu yang masih lemas.


Dengan lembut Dika bawa segelas air dan membantu menyesuaikan tinggi tempat tidur Audina.


“Apa ada yang kamu inginkan lagi?”


“kau pergi.”


Dika terkekeh. “Dengan keadaan kaki lumpuh, kau menyuruhku pergi? Yakin?”


“ya. Ada perawat, pergilah.” Balas Audina mantap.

__ADS_1


Tapi Dika malah mendudukkan kembali dirinya di kursi dan memeluk tangan Audina. Dika tak akan mungkin meninggalkan begitu saja Audina setelah ia suruh para pekerjanya menabrak taksi dan membayar mereka begitu mahal.


Audina berusaha melepaskan, namun karena tenaganya masih belum terisi. Ia hari ini hanya dapat pasrah akan apa yang dilakukan Dika.


Ingin menangisi keadaan kakinya saja, Audina tak cukup tenaga. Dia hanya menatap atap-atap rumah sakit. “Adrean mana?!” tanya Audina panik saat baru ingat putranya.


“Tidur di sofa. Aku tak setega itu membiarkan dia di jalanan, Na.”


“Benarkah? Lalu kau terlantarkan dia saat masih dalam kandunganku ... kau tak tega?” meskipun sedikit tenaga, tapi Audina tetaplah Audina yang suka mengungkit masa lalu.


Kalau tahu begini. Sekalian saja, Dika buat mulut itu bisu. “Hm, sesukamu saja. Aku lelah berdebat.” Putus Dika. Ia bangkit namun lengan Audina menahan. “Kemana?” tanyanya.


Dengan dagunya Dika menunjuk toilet. “Mau ikut?” tanyanya jahil.


“Sana! Hus!”


Maka setelah tertawa keras, Dika masuk kedalam toilet.


...


Dia diantar ke ruangan teman-teman sebayanya berkaraoke dan minum-minum. “Waw! Biduan kita malam ini datang!” seru wanita berbando kuning. Membuat mata mereka seketika menatap kearah Rosi.


“Hello! Sorry temanku. Kemarin-kemarin aku harus atasi hama. So, hamanya telah pergi aku kemari...” ujarnya tak enak.


Namun mereka tak terlalu peduli akan alasan itu dan menarik Rosi untuk berkaraoke bersama. Lagu, jaran goyang memenuhi room ini. Sampai pintu terbuka membuat keempat perempuan yang asik bernyanyi, jadi berhenti.


“Delan?”


“Hm. Bisa kita bicara?”


Maka sekarang di sinilah Rosi berdiri. Diatas roftoop yang langsung memperlihatkan pemandangan ibukota pada malam hari. “Aku tak tahu, club ini punya atap.” Ungkap Rosi.

__ADS_1


Delan melirik sesaat kearah Rosi yang ada di sampingnya. “karena kau ke sini hanya untuk berbuat dosa.” Balas Delan.


“Seperti kau tidak saja. To the point apa yang kau mau,”


“Sama,” balas Delan. “Hah?” bingung Rosi. Delan kali ini benar-benar menghadapkan tubuhnyan pada Rosi. “Sama seperti jaman SMA dulu, kau benci basa-basi,” lanjut Delan.


“Yeah! Makannya kau lebih memilih menikah dengan mentari daripada aku, betul?”


Delan tak menggeleng dan mengangguk. Dia hanya tatap wajah yang selalu terlihat cantik dari samping itu.


“Tentang, anakmu Audina. Dia telah pergi,” ungkap Rosi di tengah keheningan mereka.


Delan berdecak. “Aku benci menganggapnya anak.”


“Bagaimanapun dia hasil benihmu, Delan.” Nasihat Rosi. “Ya, meskipun aku pun begitu pada Dika, cucu tiriku.” Rosi berucap sembari terkekeh akan takdir yang lucu menghampiri ia dan Delan.


“Dasar. Jadi, akal-akalan mu tentang penyakit kaki itu telah usai?”


“Yup. Perjanjian kita pun, selesai?”


Delan menggeleng. “Kirani. Dia seperti mulai memberontak padaku.”


Rosi pun kembali terdiam. Dia dan Delan—ayah dari Audina dan Kirani, dulunya teman masa kecil. Dan Rosi memilih menikah dengan kakek Dika yang sekarang telah mati.


“Nyonya, permisi. Maaf mengganggu.” Sisil mengatakannya tergesa-gesa. “Audina mengalami kecelakaan. Kini dia dirawat di rumah sakit hiponsa.”


Maka setelah mendengarnya mau tak mau Rosi harus beranjak ke sana untuk memainkan sandiwaranya sebagai nenek yang baik.


Tapi sebelum itu, Rosi tatap Delan. “Aku melakukan ini demi kau yang Delan. Awas saja tak memberi balasan yang setimpal.” Kata Rosi yang langsung menjinjing heelsnya agar dapat berlari.


Delan tertawa. “Kau selalu lucu, Rosi. Sayang aku tak menikahimu.”

__ADS_1


...****************...


__ADS_2