
...****************...
Audina bangun di keesokan siangnya. Dengan keadaan kepala yang pusing. Masih ingat di memorinya, dia kemarin berada dirumah kaivan. Namun sekarang sudah berada dirumah nenek rosi saja.
Kalau bukan noah pelakunya ya dika yang mengantar.
Dengan pelan audina bangkit. Pintu kamarnya terbuka dan menunjukkan adrean dengan segelas air lemon. Adrean berjalan menghampiri audina dan memberikan minumannya.
Segelas air lemon habis dengan beberapa tegukan dimulut audina. Lalu dibantu adrean, audina berjalan ke kamar mandi.
“Siapa yang mengantar mom kesini ad?”
“Ya, siapa lagi kalau bukan bos possesiv mom itu.” Balas adrean menyindir dika, ia lalu buka pintu kamar mandi. “Kemarin daddy pukul uncle kai, waktu udah liat badan mom.” Lanjut adrean kembali. Dan keluar dari sana, membiarkan mommy nya membersihkan diri.
Audina aneh. Dika kenapa tiba-tiba memukul, walaupun kemarin memang mereka berdua sempat...
“Mau coba kiss denganku?” tanya audina kemarin dirumah kaivan.
“Boleh.” Kaivan memajukan badannya namun saat kedua wajah itu sejengkal lagi akan menyatukan bibirnya. Audina memalingkan wajah. Dia tiba-tiba mengingat dika.
“Kenapa? Kamu merasa mengkhianati dika si brengsek itu?” bisik lembut kaivan, mengenggam wajah audina untuk menghadap kepadanya.
Audina tak menjawab melainkan malah menangis, lalh kaivan membawa tubuh mungil itu kedalam tubuhnya. Kaivan berucap dalam pelukan itu, ia tahu jika audina memiliki buah hati dengan dika saat berpacaran dulu.
Hal yang mengakibatkan tangis audina semakin pecah dan berulang kali meminta maaf.
“Untung kaivan yang tahu. Coba kalo kirani, hadeh!”
Audina melepaskan satu persatu pakaiannya lalu lanjut mandi. Saat ia berkaca ke cermin. Dirinya baru sadar banyak berkas kissmark. Apalagi di bagian dada. Seketika, saja audina mengingat ucapan adrean bahwa dika marah saat melihat tubuhnya. Apa ini yang dimaksud?
__ADS_1
Gawat. Salah paham terjadi. Maka setelah memakai baju, adrean sudah menghilang dari kamarnya. Audina langsung saja pergi menuju ke ruangan tempat adrean bekerja.
Audina juga sebenarnya tak tahu mengapa ia sekarang berlari begitu cepat hanya untuk menjelaskan perihal bekas kissmark yang ada ditubuhnya. Ini hanya naluri saja sebagai wanita mungkin?
Saat telah dihadapan pintu, audina segera masuk.
“Dik—“ lidahnya terasa kelu untuk melanjutkan kalimat.
“Mas, jangan digigithh,” suara kirani mengalun. Tapi sepertika dika tak mendengar dan dengan sengaja menggigit serta mengemut leher istrinya yang duduk di pangkuan ia.
Tangan audina memegang gagang pintu. Dia tak pernah merasa sesakit ini selama bertahun-tahun. Tapi, kali ini mengapa jiwanya begitu marah, kecewa dan sedih. Seperti ingin menghancurkan apa saja yang ada disekitar.
Apalagi, ingatan audina mengalun pada dua hari lalu saat Dika juga melakukan hal yang sama seperti yang kirani rasakan kini. Dika kala itu datang malam-malam ke kamarnya. Dan membuat jejak kissmark yang begitu banyak.
“Audina?”
Hah, audina terlalu banyak berfikir hingga tak sadar bahwa pasangan di hadapannya telah selesai dengan kegiatan panasnya disiang hari ini.
“Ck, kau sengaja?!” bentak dika begitu marah. Tadi tiba-tiba saja kirani masuk dan duduk di pangkuannya.
Lalu wanita itu menciumnya dan menggoda. Membuat dika terpancing.
“Kenapa sih mas, wajar loh kalo kita kaya gitu.”
“Bukan wajar atau tidak nya kirani. Kita ada tanpa cinta. Dan aku gak mau sentuh wanita kalau aku tak ada perasaan apapun padanya.” Dika menyingkirkan tubuh kirani dari pangkuannya dan berlari keluar. Mencari dimana wujud audina berada.
“Hahahaha sialan! Padahal aku yang membuat dia masuk kamar audina, dan membuat mereka berselisih paham. Setidaknya dika, kalau aku tak dapat hatimu, maka kamu pun gak bisa dapat orang yang kamu cintai.” Kirani mengakui dengan senyum penuh bahagia.
Rencana nya hampir selesai.
__ADS_1
...
“Na, stop!”
Dia ikuti. Tapi tanpa berbalik.
“Yang kamu pikirkan salah, aku dan kirani—“
“Aku bukan siapa-siapa kamu. Jadi gak perlu kasih penjelasan yang detail. Tapi aku mau bilang sesuatu,” audina berbalik. Jalan menghampiri dika dengan membuka sedikit kerah lehernya. Yang mampu memperlihatkan begitu jelas bekas gigitan nyamuk. Namun versi nyamuk besar. “Kamu yang buat dua hari lalu waktu mabuk. Jadi jangan pikir aneh-aneh dan menyalahkan orang.” Ujar audina tajam.
“Kapan?”
Lantas langkah audina berhenti. Dia terkekeh tak percaya. “Kamu emang punya penyakit pikun setelah melakukan hal berbau kaya gini ya? Dari waktu tujuh tahun lalu, kita making love, oh bukan-bukan cuman aku yang melakukannya pakai cinta—“
“Kamu pikir aku lelaki yang mau **** sama sembarang wanita? Gak, na.”
“Terserah apa pendapat kamu! Tapi waktu itu kamu pergi dan simpan uang banyak buat bayaran keperawanan aku! Terus tiba-tiba kamu kasih pengumuman bakal nikah sama kirani, disaat aku lagi hamil benih kamu! Rasanya aku udah gak ada semangat hidup, semua hancur, aku merasa cuman wanita bayaran buat kamu ka .... aku berjuang sendirian buar adrean lahir kedunia ini, aku kerja sana sini buat kita makan. Sedang kamu malah enak-enakkan di sini bareng keluarga kamu ... aku benci ka, aku benci harus cinta sama pria tak perasaan kaya kamu, aku benci masih cinta sama cowok brengsek itu sampai sekarang...” kali ini, didalam lorong lantai dua yang hanya ada mereka disana, audina menangis. Perasaan yang ia pendam kala itu kembali muncul.
Kalimat yang kala beberapa tahun tak tersampaikan pada dika kini semua ia keluarkan.
Dika mendekat. Dia sadar salah. Tapi egonya tetap tak ingin kalah. Jadi, dika hanya memeluk tanpa mengatakan apapun.
Audina sandarkan seluruh tubuhnya pada pelukan dika. Mau disangkal berkali-kali pun perasaan yang audina punya kepada dika dari jaman mereka sekolah dasar tak akan hilang sedikit pun.
“Abang, aunty kenapa?”
Adrean menggeleng. Mengapa tiba-tiba perasaannya ikut sedih. Ini salahnya sendiri yang memberi ide untuk mengintip bersama ratu dibalik dinding.
“Ayo kita ke perpus.” Adrean melangkah menjauh bersama ratu didepannya.
__ADS_1
Adrean membantin. “adrean halap, adrean bisa tahu gimana lasanya punya keluarga yang utuh, tuhan..”
...****************...