
...****************...
Berita ratu telah sadar, membuat semua keluarga kumpul dikamar anak itu. Termasuk, audina.
Nenek rosi mendekati sang cucu yang bersandar dipunggung kasur. “Sayang, bisa kasih tahu kita siapa yang buat ratu sampai masuk kolam renang?”
Takut-takut ratu menatap audina lalu menunjuknya. Ia segera menundukkan lagi kepala.
“Hiks ... mas, lihat kan apa yang pelayan itu lakukan pada putri kita?? Aku ingin dia diusir dari sini mas!” kirani menangis dan memeluk manajernya.
Tangan mungil adrean menggenggam erat lengan audina. Bocah itu memberikan penguatan untuk ibunya. Sedangkan audina hanya terdiam dan menatap ratu. Dia yakin, sedang ada yang tidak beres.
“Kalau uncle belani mengusil ibuku, jangan halap aku mengobati kaki nenek losi.” Tekan adrean, saat ia tahu dika pasti akan mengikuti ucapan istrinya.
“Bocah! Kau berani mengancam suamiku??”
Adrean menatap sinis kirani. “Aku sedang tak bicara denganmu!” adrean kembali berahlih menatap dika. Dia harap, daady nya itu membela mommy.
“Tetap Kurung dia di gudang.” Putus dika. Pria itu tanpa mau menatap seseorang pun disana, langsung keluar dari kamar.
Membuat lagi-lagi hati adrean patah. Dia berfikir bisa meluluhkan sifat dika untuk audina. Tapi semua tak akan terjadi. “Aku membencimu, dad...” batin anak lelaki itu.
...
Letak gudang tak terlalu jauh. Tapi, untuk kesana butuh banyak perjuangan.
Dari mulai, tak ada penerangan, hanya diberi akses tangga tanpa lift, dan saat berjalan ke gudangnya, adrean harus melewati lorong yang hanya cukup untuk satu orang saja.
Belum lagi, debu-debu yang beterbangan. Membuat adrean harus ekstra sabar untuk melewati semuanya agar bisa berbicara dengan sang ibu.
Mata adrean menangkap dua pengawal yang berjaga disana. Tanpa harus izin, adrean duduk didepan pintu kayu. Dan meminta pengawal itu meninggalkan mereka berdua. Untungnya atas sedikit ancaman adrean, keduanya mau pergi.
__ADS_1
Tok Tok Tok
“Mom? Kau baik-baik saja?” ujar adrean sembari menyandar di pintu.
Audina tertawa di dalam gudang. Ia dengan posisi menyatukan lututnya dan bersandar ke pintu, menjawab. “kau dengar tawaku kan? Itu artinya mom baik. Jika putra mommy, bagaimana? Sudah makan?”
Adrean menggeleng. Dia menahan tangis yang sedari tadi ditahan. Berpisah dengan audina selama ini, baru ia rasakan.
“Hei, ad, kau masih disana?” tanya audina saat tak mendengar suara jengkel anaknya.
“Iya, mom.”
Audina rasanya sakit, mendengar suara adrean yang begitu menyedihkan. Dia tahu putranya itu sedang sedih. Tapi, mau bagaimana lagi, ucapan seorang dika adalah perintah.
“Ad, mommy pernah bilang, kan. Kalo mommy selalu bareng adrean? Jadi jangan pernah sedih ya, dan tentang ... dika, kau sudah tahu dia ayahmu?”
“Hm. Jangan membahas lelaki tua itu. Aku benci padanya!”
Adrean menatap. Ia terkekeh dan memegang tangan audina. “Mom, aku punya bukti rekaman cctv dan tahu siapa pelakunya. Apa boleh aku beritahu pada mereka?” izin adrean. Yang tadinya akan ia beri langsung ke dika.
“Jangan. Nanti ratu yang salah. Aku tahu, anak itu pasti ada paksaan dari seseorang. Biarkan semua berlalu, ad.” Setelah ucapannya audina bawa lagi, tangannya kedalam.
Ia lalu meminta adrean untuk kembali ke atas, dan segera mengobati kembali nenek rosi. Meskipun sedih, adrean tetap pergi.
Tapi, adrean tidak melangkahkan kakinya ke kamar rosi. Melainkan ke kamar ratu. Dia hanya ingin menanyakan beberapa hal.
Saat sudah ada didepan pintu. Kaki adrean berhenti melangkah.
“Diam! Intinya kau harus melakukan semua keinginan ku, paham??” suara seorang wanita terdengar dari kamar.
“Iya, mamah. Api atu akan icayang oyeh mamah, kan?” tanya anak perempuan itu.
__ADS_1
“Berisik! Jangan harap aku dapat menyayangimu!”
“Api, mamah uda promise ke atu, emarin.”
Brak
Suara seperti seseorang didorong dari dalam mengejutkan adrean. Tak lama, seorang wanita yang tak lain kirani keluar dari kamar ratu dan berjalan pergi. Untungnya, adrean sempat bersembunyi tadi.
Dengan penasaran, ia masuk ke kamar itu. Dan melihat ratu terduduk dilantai. Ia pun membantu ratu berdiri.
Dapat adrean tangkap, ratu terkejut mendapatinya ada di sini. Tapi ia tak peduli, dan malah berjalan kearah kasur, ratu. Dan menyimpan sesuatu alat kecil berwarna hitam ke dinding yang tertutup tong sampah mini.
Dia pun kembali melihat ratu, dengan pandangan tak terbaca.
“Jadi, ini semua ulah ibumu? Pantas saja, aku kenal wajahnya di CCTV,”
“masudnya?”
“Tidak. Aku kemari mau mengajak kau untuk bekerja sama denganku. Mau?”
Ratu anak berusia 4 tahun itu menggeleng. “amu orang asing.”
Adrean memperlihatkan jari kelingkingnya. “sekarang aku ajak kau berteman. Aku adrean,”
Ratu terdiam. Ini pertama kalinya ada yang mengajak untuk berteman. Maka sedikit ragu, memang. Namun jari ratu memegang adrean. Dan memperkenalkan namanya dengan tersenyum.
“Okay. Jadi kau mau ikuti rencanaku?”
“Baik, abang!”
...****************...
__ADS_1