
...
Awalnya Dika membenci perempuan bernama Audina yang ia pacari dulu hanya untuk main-main. Dika hanya merasa suka saat ia mempermainkan emosi Audina. Dika juga suka melihat wajah itu memerah menahan marah. Hanya itu suka untuknya.
Tapi, entah kenapa, akhir-akhir ini setelah Audina meninggalkannya dalam waktu dua minggu itu, Perasaan Dika padanya mulai berubah sekian waktu. Perasaan dinamakan cinta itu mulai tumbuh untuk Audina.
Jika ditanya Dika merasa bersalah kepada Kirani, jawabannya tidak. Sebab ia pun tahu, bagaimana Kirani jika berada di belakangnya— sama-sama bermain dengan lawan jenis. Bedanya Dika hanya cukup satu orang, Namun Kirani, Entahlah.
“Kenapa, ketemu di perpustakaan?” Tanya pertama Dika setelah Audina menutup novel fiksinya dan menyimpan kembali ke rak nya. “Supaya lebih privasi, mungkin?” Balas Audina tak yakin.
“Baik, aku paham.” Dika dengan tampang tengilnya menahan tawa sembari menunduk.
Audina angkat wajah Dika untuk menghadapnya. Lalu ia berikan cincin yang terpasang di jari manisnya. Membuat lelaki itu mengernyit tak suka. “Kalau kamu pikir aku wanita murahan yang mau memakai barang pemberian istrimu. Kamu salah besar, dan jujur, harga diriku sedikit tergores karena kenyataan bahwa cincin ini hadiah pernikahan kalian berdua.” Jelasnya panjang lebar, dan menyandarkan tubuh ke punggung sofa. Dia juga memerhatikan bagaimana mimik Dika.
“Ck! Aku juga tak semiskin itu memberimu barang orang lain. Ini memang tak sengaja modelnya sama saja. Apa mau aku belikan yang baru, dan langsung diukir dengan nama Audina disana?” cerocos Dika.
Sambil menggeleng Audina bangkit. Dia datangi Dika dan memberi selembar kertas. “Surat pengunduran diriku. Bertepatan besok perjanjian pengobatan nenek Rosi selesai,” ungkap Audina. “Aku tak akan menghalangimu jika ingin bertemu Adrean, sebab bagaimanapun dia tetap anakmu. Nanti akan kukirim alamat tinggal kami.” Lanjut Audina kembali.
Saat kakinya akan melangkah ke pintu keluar perpustakaan. Sebuah tangan memeluk dari belakang. Lalu tak lama, sebuah kepala bersandar dibahu Audina, nafas orang itu yang tak lain Dika, begitu terasa di ceruk lehernya.
“Lepas. Kita gak sepantasnya berdekatan seperti seorang pasangan.” Gertak segera Audina sembari berusaha melepaskan diri. Tapi, bukannya mengendur pelukannya, malah makin-makin erat saja tangan Dika di perut Audina.
“Emang nya kenapa? Kita dulunya memang pasangan, kan?” Balas tak tahu diri lelaki itu.
__ADS_1
“Iya, dulu. Sekarang kita sebatas kakak dan adik ipar,”
Kali ini, tubuh Audina didorong keras oleh dika, hingga punggungnya terbentur pintu perpustakaan. Dia dengan senyum anehnya menatap mata bulat Audina. “Makin lama, makin berani aja ya perempuanku ini? Kayanya aku harus kasih hukuman kaya dulu, supaya Audina lungguh kembali lagi?” ujar Dika sembari tangannya menggerayangi pipi Audina.
“Lepas. Aku tak akan pernah jadi Audina bonekamu lagi, Dika.”
Setelah menyentak lengan pria itu, Audina langsung keluar dari perpustakaan. Dika terkekeh, sepertinya dia berubah pikiran. Audina-Nya yang sekarang lebih menarik daripada Audina-Nya dulu. “Apa, aku harus memakai cara kasar?” tanyanya pada diri sendiri.
...
“Nenek kami pamit undur diri, Terimakasih atas seluruh kebaikannya. Aku dan Adrean pasti sesekali akan berkunjung kemari!”
Rosi tersenyum haru. Ia dibalut jaket tebalnya berdiri didepan gerbang, untuk mengantarkan Adrean dan Audina pergi dari rumah, karena kontrak bisnis sudah selesai. “Baik! Aku tunggu selalu kalian, hati-hati!” pisah kembali Rosi, ia lalu melambaikan tangan saat taksi yang ditumpangi ibu dan anak itu berjalan pergi dari kediamannya.
“Nyonya, apa anda butuh sesuatu?”
“Sisil. Ganti semua barang yang pernah atau sudah dipegang dan digunakan oleh ibu dan anak itu! Oh ya, siapkan juga mobil, aku ingin bertemu teman-teman malamku lagi!” kata Rosi sembari mengganti bajunya dengan drees pendek. Meskipun, ia berusia lanjut tapi tak khayal bentuk tubuhnya masih bagus bak model. “Dan, Kurung kembali Anak haram si Ratu, di lantai tiga. Buat juga, Dika Kirani pergi dari rumah. Secepatnya!” Putus Rosi yang sudah masuk kedalam Garasi.
Sedangkan Sisil hanya dapat mengangguk. Ia sudah terbiasa akan sikap Rosi sedari tujuh belas tahun lalu tak pernah berubah.
...
Taksi yang dipesan melalui aplikasi di ponsel itu, kini berjalan santai di jalan. Untungnya karena bukan waktu makan siang atau jam pulang kerja, jalanan menjadi lenggang karenanya.
__ADS_1
Dengan Adrean yang sedang tertidur di pangkuannya, Audina tatap setiap pepohonan dari jendela mobil. Dia sepertinya merasa sudah lama tak melihat pemandangan asri ini.
Audina jadi merasa bersyukur sudah mendapatkan kontrakan rumah didaerah desa dan telah mendapatkan pekerjaan baru disana. Tentang gaji, cukup untuk menghidupi mereka berdua.
Citt
Tiba-tiba mobil berhenti. “Kenapa, pak?” tanya segera Audina, setengah khawatir.
“Bannya bocor, mbak. Saya periksa dulu.”
Audina pun, menghela napas. Ada-ada saja ujiannya saat berpindah rumah.
“Mom?” Lirih Adrean yang terbangun. Anak itu mulai membangunkan dirinya sendiri. Dan menatap Audina. “Bentar, berhenti dulu. Ban bocor,” kasih tahu Audina. “Ad mau keluar dulu, cari angin? Nanti mommy nyusul.” Audina membuka pintu samping Adrean agar sang anak dapat keluar.
“Mommy mau ngapain? Bareng aja.”
Sembari menunjuk tasnya yang berada dibagasi mobil, Audina berujar. “Bawa hp, minum sama cemilan, juga. Ad duluan aja.” Maka, setelah mendengar penjelasan mommy nya. Adrean dengan linglung sebab baru terbangun dari tidurnya keluar dari mobil dan berdiri di trotoar jalan.
Audina terkekeh. Ia lalu balikkan badannya dan mencari barang apa saja yang ingin ia bawa. Saat setelah mendapatkannya tiba-tiba sebuah benda keras menabrak mobil bagian depan hingga membuat Audina merasa tubuhnya terpental. Semua tubuh Audina langsung kaku dan sakit, dia ingin berucap pada Adrean yang sedang berlari kearah nya namun kelu. Hingga, saat wajah nya menghadap ke kiri dia menemukan Dika yang berdiri. Lalu semua gelap.
“Bagus. Gajih kalian aku naikkan. Tapi jika perempuanku terluka lebih dari yang kuminta, maka nyawa kalian yang akan aku naikkan ke atas sana.” Ucap Dika tegas, pada seseorang dibalik earphonenya.
“Baik.” Balasan itu mengakhiri pembicaraan mereka. Karena mereka harus segera mebawa Audina ke rumah sakit. Sebelum hal yang tak diinginkan terjadi, dan nyawa taruhannya.
__ADS_1
Dika tersenyum senang. “Cara kasarnya harus ampuh padamu, my girl.”
...