
...****************...
Hari ini dika pergi ke sebuah club. Dia kesana bukan untuk mabuk-mabukkan melainkan bertemu dengan pemilik sebuah minuman yang ia pesan kala malam ke kamar audina.
Sebenarnya sudah berhari-hari sejak audina menangis di dalam pelukan dika. Dalam hari-hari itu pun, dika meminta jaz untuk mencari siapa yang mengirim minuman botol beralkohol itu, sebab nyatanya dika tak memesan sama sekali.
Nihil. Dicari sejauh mana pun, tak dapat ditemukan. Akhirnya dika iseng bertanya pada adrean dari toko mana minumannya berasal, dan adrean menjawab sebuah club ternama. Adrean pun memberikan nama pemiliknya. Dan nama kaivan yang keluar. Lumayan menyulut emosi, tapi dika membutuhkan informasi ini.
“Hai, bro! Senang kamu duluan yang meminta kita bertemu,” sapaan pertama kala, dika mendudukan diri di sofa yang berhadap-hadapan dengan kaivan.
Sepertinya club ini sengaja dikosongkan oleh kaivan dan hanya diisi mereka berdua.
“Kau punya banyak pengawal.” Ucap dika sembari menatap keseluruh penjuru club, tempat para pengawal kaivan berdiri.
“Waw, kamu cukup handal, dik!”
Kaivan meminum wine nya. Dan memberikan kertas, yang berisi kapan, siapa dan apa saja kandungan dari minuman yang dipesan untuk dika.
Dengan cermat dika membaca keseluruhan detailnya. Nama Kirani begitu tercantum jelas disana.
Dia menggeram kesal. Sengaja sekali wanita itu, membuat dika ingin membunuhnya. “Ada rekaman cctv?” tanya dika.
Kaivan mengangguk. “Tunggu, sedang dipindahkan ke dalam flasdick.” Ujarnya.
Mereka lalu diam dalam keheningan hingga kaivan kembali berucap. “Pukulanmu waktu itu lumayan juga,” kaivan terkekeh sembari menyulutkan rokoknya ke mulut.
“Sorry. Aku salah paham.” Dika menatap rokok milik kaivan. “Vape sepertinya lebih enak,”
“No, rokok lebih terasa nikmat,” bantah kaivan dengan mengulurkan sebungkus rokok malboro pada dika. Memintanya untuk mencoba walau satu batang.
Sebab sebagai tanda terimakasih telah dibantu, dika bahwa rokok dari sana lalu mulai menghisap dan mengepulkan asapnya. “Hm, not bad.” Pendapat dika setelah beberapa kali mencoba.
“Pilihan saya memang selalu baik. Kapan-kapan kita bisa merokok bersama,”
“Sepertinya tidak akan pernah.”
__ADS_1
Kaivan mengernyit. “Why?”
“Takut kau ambil rancangan mobil ku, lagi,” jawab dika blak-blakan. Dika lihat ekspresi kaivan dari sudut matanya sebab ia tengah asik mengepulkan asap ke udara.
Dika terkekeh, kaivan begitu terkejut. “Kau kaget sekali aku tahu,”
“Bukan. Bukan terkejut karena itu, tapi saya merasa tak pernah sekalipun mencuri ide atau rancangan dari perusahaan kamu!” meski bernada tinggi, tapi kaivan tidak menunjukkannya untuk dika.
Setelah satu batang itu habis. Dika ambil kembali batang rokok lainnya, lalu maju mendekat kearah kaivan sembari mengambil sesuatu dari sakunya.
Sontak pergerakan itu, membuat para pengawal kaivan yang berjaga di sudut-sudut ruangan langsung mengelilingi dika dengan senjata yang ditodongkan.
Tapi dengan cengengesan, dika perlihatkan apa yang ia bawa. Sebuah flasdick putih. Dia berikan itu kepada kaivan. “Aku harap kau langsung singkirkan orang ini.” Setelah ucapannya dika ambil korek berbahan besi dari tangan kaivan.
“Pinjam. Kalian mau rokok juga?” tanya kaivan pada sekeliling pengawal disana.
Tapi mereka hanya diam, membuat dika kembali duduk di tempatnya dan dengan santai merokok.
Tak lama muncullah orang yang membawa benda yang sedari tadi dika tunggu. Setelah mendapatkannya. Ia pamit keluar dari club yang kaivan miliki.
...
Bukannya takut atau harap-harap cemas. Kirani malah tersenyum bahagia sampai menampilkan gigi putihnya. “Sangat-sangat sengaja suamiku, sayang. Jadi, setelah melihat ini, apa yang akan kamu lakukan?” tanya nya sembari memajukan bibir.
“Aku ingin membunuhmu. Tapi itu tak adil, untuk segala kebohongan yang nanti kamu tinggali dibumi ini,”
Kirani mengangguk lalu memperlihatkan layar ponselnya yang terdapat dika dan audina tengah berciuman penuh nafsu. Lalu di slide ke layar berikutnya, terputar video kala dika memangku tubuh audina dan memberikan banyak tanda cinta yang banyak disana.
Dika menggertak rahangnya. Tubuh belakang audina terekspos penuh divideo itu. Apalagi dada dan wajah keenakan milik wanita-Nya terpampang dari samping. “Siapa yang merekam?”
“Apa pentingnya itu?”
“Penting bagiku. Karena kalo pria yang merekamkannya aku cukil kedua bola mata yang menatap tubuh audina. Dan telinganya aku tembak supaya tak mendengar lagi suara milik wanitaku.”
Mulut kirani terbuka tak percaya. Dia baru tahu, jika ada lelaki yang sangat mencintai perempuan, padahal mereka baru bertemu beberapa bulan kebelakang. “Waw, aku sangat kaget, suamiku. Kamu mengungkapkan perasaan pada wanita lain dihadapan istrimu sendiri,” ucapnya.
__ADS_1
“Jawab! Pria atau bukan?” kekeh dika pada pertanyaan pertamanya.
“Aku. Istrimu sendiri yang merekamnya, puas?!”
Dengan gaya andalannya —memasukkan tangan kedalam saku celana— dika mengangguk penuh kepuasan. Ia lalu bersandar ke meja kayu kerjanya. “Jadi, apa mau nyonya kirani yang haus akan hormat ini?” tanya dika.
“Oh, tentu aku ingin kamu menjauhi perempuan pelayan itu, dan memperlakukan aku layak seorang istri. Terakhir datang bersama ratu ke acara perta pernikahan teman modelku. Bagaimana?”
“Kalau aku menolak?”
“Semua yang tadi aku perlihatkan akan tersebar ke seluruh media sosial.”
Tanpa berfikir dika mengangguk. Ia lalu bawa berkas itu kembali ke tangannya dan berlaru pergi keluar. Berhasil membuat kirani girang kesenangan. Ia berloncat-loncat, akhirnya dia bisa menundukkan seorang dika almans dikakinya.
Sedangkan diluar ruang kerja, dika terkekeh menggeleng. “Ternyata kakaknya lebih bodoh dari adiknya.” Ucapnya lalu berjalan ke arah taman.
Dika menghampiri adrean yang sedang menggambar disana. “Boy,” panggilnya.
Sebab malas menjawab, adrean hanya berdehem saja.
“Mau bantu daddy?”
“Apa?” tanya adrean mulai tertarik kemana arah pembicaraan ini.
“Menyelamatkan wanita yang sama-sama kita cintai.” Dika mengatakannya sembari mengedipkan sebelah mata pada adrean. Berhasil membuat sang empu bergidik ngeri.
“Imbalannya apa dulu dad?”
“Kau? Adrean demi mommy mu kau masih meminta sebuah imbalan?”
Bocah enam tahun itu mengangguk. “Otakku lelah dad halus belfikil. Anggap saja aku sedang minta bahan bakal padamu, agal otak ini jalan.” Jelas adrean.
Satu tarikan nafas berat kembali dika lakukan. Sepertinya menghadapi adrean harus mempunyai stok kesabaran yang tak terbatas.
...****************...
__ADS_1