Kakak Iparku Ayah Dari Anakku

Kakak Iparku Ayah Dari Anakku
PERKARA BERENANG


__ADS_3

...****************...


“Kau kemarin makan siang bersama Jaz?” tanya dirinya kala audina baru menutup pintu kamar adrean.


“Jaz? Noah?” audina berbalik bertanya. Ia hanya mengenalnya sebagai noah.


“Jazcylen noah pradipa, iya itu. Kenapa kau memanggil dia noah?”


“Aku berhak kan untuk gak jawab? Itu gak ada sangkut pautnya sama pekerjaan.” Jawab audina langsung pamit ke dapur.


Membuat lelakinya menggeram kesal. Kenapa makin lama makin berani saja Audina padanya. Padahal tujuh tahun lalu saat mereka masih memiliki hubungan, audina sangat tunduk pada dika. Tapi, sekarang, tak ada tunduk-tunduknya.


Daripada emosi lebih banyak. Dika memilih menjalankan kakinya ke arah kolam renang. Karena padatnya perkerjaan dikantor, dika sudah lama tak berenang dan melatih, otot-otot tangannya.


Setelah melepas pakaian atas, dia langsung saja memasukkan diri kedalam air yang dingin. Lalu mengayunkan seluruh tubuhnya dari ujung kolam hingga ke ujungnya lagi.


Menghabiskan sebanyak sepuluh putaran, dika memilih menepi ke kolam. Keringat yang ada di tubuhnya kini menyatu dengan air kolam. Kala mata lelaki itu tak sengaja menatap audina yang berjalan, senyum miring terbit diwajah dika.


“Audina!” teriaknya, mampu menghentikan langkah audina. Dia yang peka langsung saja mendekati dika yang menyembulkan kepalanya ditepi kolam.


“Apa?”


“Lemon tea satu, cepat ya!” ucap dika tanpa basa-basi.


Audina berbalik dan melaksanakan perintah bosnya itu.

__ADS_1


Hanya menghabiskan sedikit waktu, dia datang kembali ke kolam dengan segelas lemon tea, dan handuk ditangan lainnya.


Membuat lagi-lagi senyum dika terbit. Dia lalu bangkit ke atas kolam dan duduk di tepian. Menunggu pesanannya datang.


“Nih, sama handuk. Aku tahu kamu pasti bakal suruh aku balik lagi, cuman buat bawa handuk.”


“Hahaha, tahu aja.”


Dika meminum tuntas air lemon itu. Dan audina menjadi penonton setia, untuk dika.


Audina akui pesona seorang dika almans saat berenang, apalagi memperlihatkan otot-otot perutnya lebih berkali-kali lipat dari biasanya.


Tiba-tiba, audina menelan ludahnya sendiri, saat jakun lelaki itu naik turun, dan setetes air jatuh dari rambutnya, lalu melewati hidung mancungnya dan jatuh di paha dika yang tak tertutupi celana.


Dika melemparkan handuk yang dipakainya untuk mengeringkan rambut dan tubuhnya. Dia dengan sengaja melangkah lebih dekat dengan audina, masih dalam keadaan belum memakai bajunya.


Sebab tinggi audina yang hanya sebatas dada lelaki itu, membuat mata audina kini, disungguhi pemandangan dada bidang milik dika.


“Ck, Sana!”


“Kenapa? Bukannya dulu biasa lihat aku tak berpakaian?” tanya jahil dika.


“I-iya tapi beda! Udah mundur!”


Kalau bukan iseng bukan dika namanya. Dia masih tetap memajukan tubuhnya sampai dada dika akan bersentuhan dengan audina. Tapi suara seseorang menginstruksi.

__ADS_1


“Dika! Apa yang kamu lakukan?”


Tangan audina langsung mendorong tubuh pria itu. Mata audina kini membola, itu nenek rosi, dengan sisil dan ada kirani di sampingnya.


“Nyonya, Aku sama sekali—“


“Kirani, bawa suamimu itu. Jaga dia dari wanita penggoda.”


Terulang lagi, kalimat rosi berhail melukai harga diri audina. Tapi yang bisa dilakukannya kini hanya diam, menahan sekala sedih dan menjalankan semuanya.


Audina tetap berdiri disana, menatap kirani yang membawa dika, dan juga rosi yang pergi.


Semua orang akhirnya akan pergi. Tak ada yang benar-benar menetap.


“Aunty!”


Buru-buru audina hapus air matanya saat ratu datang adrean.


“Eh, ratu, kenapa?”


“Ayo ikut kita! Kita mau perpustakaan!”


Audina mengangguk antusias, lalu pergi bersama ratu di gandengannya. Sedang, adrean hanya berdiri. Tangannya mengepal. Ia melihat seluruh kejadian, dan berjanji akan membalas semuanya untuk mommy.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2