
...****************...
Resca Anelin Almans, wanita yang sudah tak asing lagi dimata pebisnis, masyarakat, bahkan diluar negeri ia terkenal akan kepintarannya membuat teknologi baru.
Tapi, saat suaminya—Aska, meninggal. Resca mulai tak menyukai ketenaran. Mulai sejak saat itu, Resca lebih dominan menyibukkan diri dengan segala hobinya. Dan meredupkan nama dia sendiri, di layar kaca negeri ini.
Hal lain tentang Nyonya Almans ini ialah, dia membenci mengurusi urusan orang lain. Makanya dia tak pernah peduli pada Dika, anak semata wayangnya. Saat anak itu memutuskan menikah pun, Resca acuh. Selama istrinya bukan Audina—perempuan yang tak ia sukai. Dika bebas menikah dengan gadis mana pun. Namun, tatkala tiba-tiba Kirani datang kerumah, memberitahu jika Dika berselingkuh dengan seorang pelayan. Resca langsung bangkit dan datang kerumah sakit yang 80% sahamnya kepemilikan suaminya.
“Dika. Pernah aku ajarkan kau untuk menyakiti hati perempuan?” suara Resca kembali terdengar.
“Ajarkan? Nyonya sama sekali tak mengajarkan apa pun pada ku.” Balas Dika.
Ibu dan anak itu bersihadap. Mereka masing-masing memiliki tingkat keegoisan, keras kepala dan tak mau kalah yang sama. Membuat jika keduanya bertemu, hanya akan ada perdebatan yang terjadi.
Rosi yang berada di tengah-tengah mencoba melerai. Namun, Resca lebih dulu menangkis. “Kau, masih di sini saja, wanita perusak. Aku kira, setelah ayahku meninggal, kau juga akan ikut pergi dengannya. Uh, sayang sekali tidak. Padahal aku berharap kalian—“
“Nyonya resca.” Geram Dika, tertahan. “Tak ada yang direbut atau merebut. Ninin orang baik. Kau yang tidak tahu apa pun, harusnya diam.”
“Oh, ya? Aku dan kau saja, lebih dulu aku yang hidup. Jadi harusnya yang diam itu kau,”
“Terserah. Tapi tangan nyonya yang menampar wanita yang kucintai. Itu sebuah kesalahan besar, dan nyonya harus membayarnya.” Dika berjalan mendekat kearah Kirani. “Dan seharusnya Nyonya tahu jika menantumu ini, bermain juga dengan banyak pria!” Marah Dika.
“Tapi kau seharusnya tahu Dika! Aku. Aku melihat ayahku sendiri berselingkuh dengan wanita yang kau sebut ninin itu! Apa kau tak tahu, bagaimana trauma dan takutnya aku jika kau melakukan yang sama? Hah? Cepat jawab, kau putraku, kan?” Resca seketika menjadi gila. Kedua tangannya gemetar. Kepalanya pusing bukan main, sekelibat memori dimasa lalu, kembali terputar di otaknya.
“ah ... mentokkin lagihh, ah stopph,”
Kasur bergoyang semakin kencang, sebab pergerakan dari kedua insan di atasnya yang sedang mengejar nikmat dunia. Tak memedulikan sekitar, dan seorang anak kecil yang mengintip dari balik pintu.
“Ayah, lagi apa sama tante-tante itu?” tanyanya begitu polos. Dia berjalan mendekat tanpa takut apa pun. Lalu berhenti di samping kasur. Ayahnya masih belum menyadari dia berdiri disana. “Ayah...” panggil anak perempuan yang tak lain, Resca.
“Masss berhentihh, anakmu—Ah!”
__ADS_1
“Diam saja!”
Lalu sekiranya berselang enam menit dari itu. Lelaki yang disebut ayah oleh Resca datang mendekat padanya dan menarik tangan Resca kedalam kamar mandi. Tanpa terduga Resca didudukkan di closet duduk. Dan ayahnya itu berdiri di hadapan Resca. “Lakukan apa yang ku suruh.” Setelahnya kelamin milik sang ayah dipaksanya masuk kedalam mulut Resca yang kecil. Resca yang tahu apapun menangis. Dia meraung-meraung tak suka, namun ayahnya memaksa. Sampai, tante-tante itu masuk kedalam toilet. Ia awalnya terkejut, tapi cepat membiasakan ekspresinya sendiri dan berdiri disamping ayah Resca. “Bagus, mas. Buat mulut putrimu itu diam. Dan istrimu tak tahu hubungan gelap kita.”
“emmh, yahh. Kau benar Rosi!”
Setelahnya kegiatan itu selesai. Resca kecil menunduk, dia benci apa yang dilakukan ayahnya. Dan menangis dihadapan Rosi. “tante ... ayah jahat, bantu eca ... tolong...” Rintih Resca sembari menggapai lengan Rosi. Tapi Rosi hempaskan kencang dan raup kedua pipi anak itu. “Aku tak sudi membantu anak kandung dari pria yang kucintai dan istrinya. Cobalah diam, dan kau aman.”
Brak
“Tolong!” Resca bangun dari mimpi terburuk dalam hidupnya. Dia menoleh ke kanan dan mendapati Dika yang berada disana.
“Nyo-“
“Keluar. Aku ingin sendiri.”
Maka tanpa ingin mengatakan lebih, Dika pergi dari ruangan ibunya dirawat selama dua hari. Yang awalnya pingsan, berlanjut ke demam yang tinggi. Untungnya sore ini, wanita yang melahirkan Dika ke dunia, ini bangun.
Mendengar penjelasan dokter, kala itu. Dika jadi ingin mencari tahu lebih tentang masa lalu ibunya. Dan siapa perempuan yang sering Dika sebut ninin itu. Apa mereka benar-benar terlibat konflik yang berat? Sampai-sampai Resca tak pernah mau mendekatinya sedikit pun untuk ukuran ibu kepada anak lelakinya.
“Nyonya, udah—“
“Nyonya yang kamu sebut itu, ibu kamu. Panggil dia selayaknya. Kalian...”
Dika memeluk Audina dan menjatuhkan dahinya ke bahu perempuan itu. Peningnya terasa berat sekali, untuk masalah-masalah yang datang silih berganti, tanpa memberi jeda.
Bahkan, dia harus menjadi lelaki brengsek karena mempertahankan Audina, yang sudah terlanjur Dika jadikan belahan jiwanya. “Bentar, Na. Aku pinjam bahu kamu. Lima menit, kasih aku waktu lima menit.” Ujarnya membuat mau tak mau Audina iyakan. Dipikir-pikir kasihan juga lelaki ini, sedari kemarin pulang pergi kantor dan rumah sakit.
...
Kirani kesal, benar-benar kesal. Dia terkadang ingin tahu sebenarnya siapa sosok perempuan yang bernama Audina itu. Padahal, Audina baru bekerja sebagai pelayan beberapa bulan lalu. Tapi sudah dicintai oleh Dika. Namun, Kirani yang sudah menjadi istrinya belasan tahun, tak pernah mendapat kasih sayang setulus itu dari Dika.
__ADS_1
“Ah, sialan!!!” umpatnya kesal. Dia saat ini sedang berjalan di jalanan sepi yang entah di mana daerahnya. Awalnya, tadi Kirani ikut dengan sang ayah. Ia dimarahi habis-habisan karena melibatkan seorang Resca dalam rumah tangannya.
Bukan apa-apa, Ayah bilang, Resca adalah wanita yang mematikan yang harus dijauhi sejauh-jauhnya.
Sebab kesal dan marah, Kirani minta diturunkan dari mobil. Tanpa diduga ayah menyuruhnya turun dan meninggalkan ia sebatang kara dijalan raya yang sepi ini.
“Gue capek!” keluhnya yang mendudukkan diri di berbatuan pinggir jalan. Lalu kirani tendang kerikil-kerikil yang ada dikakinya.
Tuk
Tanpa disengaja, kerikil yang tak bisa disebut kerikil lagi—sebab ukurannya lumayan besar, mendarat dikaca mobil yang sedang lewat lambat melewati Kirani.
Tubuh kirani menegang tatkala mobil menepi dan sang pengendaranya keluar.
“Kaivan?”
“Kirani?”
Kaget keduanya bersamaan.
...
Benar saja. Setelah lima menit berlalu, Dika angkat wajahnya. Dia menatap Audina, lalu dipijitnya pelan bahu Audina yang tadi ia tiduri. “Pegel? Nanti aku panggil tukang pijit atau mau ke spa? Kayaknya tubuh kamu kecapean beberapa hari ini.” Kata Dika.
Audina menggeleng. “Aku kesini mau pamit sama Adrean pulang ke rumah kontrakan yang harusnya aku tempati kemarin,” ujar Audina yang kakinya sudah dipakai alat untuk berdiri walau ia masih memakai penahan, dan terkadang kursi roda. Tapi, untungnya, penyembuhan Audina terlampau cepat untuk ukuran patah tulang.
“Okay. Aku suruh Jaz antar kalian."
Ingin menolak, Namun, wujud Jaz sudah terlihat dibelakang tubuh Dika. Mau tak mau, berakhilah Audina yang harus pergi dengan Jaz. “Jaga wanitaku. Kalau dia lecet kau mengganti lukanya oleh nyawa, Jaz.” Bisik Dika saat Jaz mendekat padanya. Dan diangguk oleh Jaz.
Setelah melihat keduanya pergi dari koridor rumah sakit. Dika lantas dudukan tubuhnya ke kursi disana. Dia pijit pelan Dahinya. Lalu mengambil ponsel dan menelepon seseorang disana. “Cari tahu, semua yang aku suruh tentang wanita bernama Resca dan Rosi. Jangka waktunya hingga besok sore. Jika tidak dapat, keluargamu lah taruhannya.”
__ADS_1
“Baik, laksanakan, bos.”
...****************...