Kakakku Wanita Yang Ku Cintai

Kakakku Wanita Yang Ku Cintai
Episode 10. Menguping di balik pintu


__ADS_3

"Ini minumnya silahkan diminum dulu!" ucap kak Naya pada kami bertiga (aku, Amel dan Sapta).


"Wah... ga terasa ya sudah pukul 22.00 sekarang." ucapku sambil melihat ponsel dan berharap Sapta bisa segera pulang.


"Oh iya ya, pantas di luar sudah tidak ada kendaraan yang lewat." sambung kak Naya.


"Hari ini kakak benar-benar lelah jadi sepertinya kakak akan bersitirahat lebih cepat." ucap kakak menambahkan.


"Terus aku gimana Nay kalau kamu tidur"? tanya Sapta pada kakak.


"Eumm... aku minta maaf ya Sapta, bukan maksudku mengusir kamu dari sini, tetapi badanku benar-benar lelah hari ini dan aku ingin segera beristirahat." jelas kak Naya pada Sapta.


"Baiklah demi calon tunanganku yang akan menjadi istriku, aku rela melakukan apapun untukmu." ucap Sapta dengan gombalannya.


"Kiss aku dulu dong honey biar aku bisa tidur malam ini." tambah Sapta dengan gombalannya.


"Hust... apa sih kamu, norak deh!" ucap kak Naya sambil menatap Sapta kala itu.


"Ya ampun, punya calon tunanganku galak banget deh, tapi aku sukaa... sukaaa... banget kalau kamu lagi marah begini, tambah cantik soalnya." ucap Sapta kembali dengan gombalannya.


"Ya udah aku pamit ya Naya honey bunny sweetyku, love you... love you..." pamit Sapta pada kak Naya.


Kak Naya pun segera meninggalkan ruang tamu tanpa menghiraukan ucapan dan ocehan Sapta.


"Hiiii.... punya calon tunangan udah galak, judes pula, tapi gimana lagi kalau udah cinta." ucap Sapta dengan suara pelannya.


"Heii... gua pamit ya!" ucap Sapta kepadaku dan Amel.


"Yups... hati-hati loe." sahutku


"Alhamdulillah... akhirnya Sapta pulang juga, jadi aku ga perlu liat dia dekat-dekati kak Naya terus." ucapku dalam hati.


"Ih kenapa sih kamu, senyum-senyum sendiri begitu?" tanya Amel padaku.


"Oh gak apa-apa, aku cuma seneng aja udah ada di rumah lagi." jelasku pada Amel.


"Eh udah malam juga nih Mel!, kamu cepat mandi dan ganti baju sana." ucapku pada Amel.


"Iya Mel, kamu bersihin badan kamu dulu ya, nanti kakak siapin baju dan handuknya." ucap kak Naya pada Amel kala itu.


Lalu kak Naya bergegas masuk ke kamar untuk mengambil baju yang akan dipinjamkannya pada Amel.


"Ini Mel pakai baju kakak ya dan ini handuknya kalau kamu mau mandi." ucap kak Naya sambil memberikannya pada Amel.

__ADS_1


"Makasih banyak ya kak, maaf aku jadi ngerepotin kakak begini." ucap Amel.


"Kamu ngomong apa sih Mel?, kakak seneng kok kamu malam ini menginap disini, kan kakak jadi ada teman ngobrol." ucap kak Naya pada Amel.


Amel pun segera mengambil baju yang sudah kak Naya persiapkan. Setelah Amel mandi dan mengganti bajunya, kemudian kak Naya mengajak Amel untuk segera masuk ke kamarnya.


Tiba-tiba saja keingintahuanku meronta-ronta tentang apa yang mereka bicarakan berdua di dalam kamar. Ya aku menguping pembicaraan di balik pintu kamar kak Naya.


"Kak Naya, aku boleh tanya-tanya gak tentang Rio?"


(Terdengar suara Amel yang bertanya)


"Boleh lah Mel, kenapa engga? memangnya kamu mau tanya apa sih?" tanya kak Naya kembali.


"Rio itu suka cewek seperti apa ya kak?, soalnya dari saat kuliah dulu aku gak pernah liat Rio punya pacar!" jelas Amel pada kak Naya.


"Kalau itu kakak juga kurang tau Mel, karena memang selama ini yang kakak tahu Rio itu gak pernah pacaran atau bawa teman perempuannya ke rumah, makanya kakak kaget pas tadi sore liat dia ajak kamu kesini, kakak sempat beranggapan kalau kamu pacarnya Rio." jelas kak Naya panjang lebar.


"Kamu suka ya sama Rio?, ayo ngaku sama kakak!" tanya kak Naya pada Amel.


"Hmm.... gimana ya kak, aku bingung harus jawab apa!"


"Sebenarnya aku mau jujur sama kakak tentang perasaan aku sama Rio, aku memang ada perasaan kak sama dia semenjak kita berdua bertemu lagi di kantor yang sama." ungkap Amel pada kak Naya.


"Rio tahu kok kak, aku sudah jujur sama perasaan aku tapi dia bilang hanya anggap aku sebagai teman." jelas Amel.


"Hmm.... begitu ya, apa mungkin Rio sudah punya pacar?, atau dia punya wanita idaman lain ya."


"Tapi dia gak pernah cerita sih Mel sama kakak tentang pacar ataupun teman wanitanya." ucap kak Naya pada Amel saat itu.


"Begitu ya kak, syukurlah kalau memang Rio belum punya pacar, berarti kan masih ada kesempatan untuk aku ya kak, hehehe..... " ucap Amel dengan suara tawanya.


"Jadi Amel masih berharap sama aku?" tanyaku heran, dengan telinga masih menempel di balik pintu.


"Iya Mel kamu benar, apalagi kalian bekerja di kantor yang sama, nanti lama-kelamaan juga hati Rio luluh sama kamu." jelas kak Naya.


"Aamiin... semoga aja ya kak, tapi kakak setuju kan kalau Rio dekat sama aku?" tanya Amel dengan nada serius.


"Mel, kakak gak pernah nentuin wanita seperti apa yang harus dekat dengan Rio, itu semua kakak serahkan pada Rio karena Rio yang akan menjalani, jadi kakak gak akan ikut campur kehidupan pribadinya." jelas kak Naya pada Amel.


"Sebagai kakaknya, kakak hanya berpesan pada Rio agar selalu menjaga dan menghormati wanita, seperti dia menjaga dan menghormati almarhumah ibu, itu saja." lanjut kak Naya menjelaskan pada Amel.


"Terima kasih banyak ya kak, aku senang dan lega bisa mengutarakan perasaan ini sama kakak."

__ADS_1


"Semoga suatu saat nanti, Rio bisa benar-benar membuka hatinya untuk aku ya kak." ucap Amel kemudian.


"Nah gitu dong, kamu harus pede ya Mel." ucap kak Naya menguatkan.


Preekkk...


Tak sengaja aku menginjak kemasan air minum bekas yang sudah kosong. Hatiku pun berdebar, khawatir kakak dan Amel mengetahui bahwa aku menguping semua pembicaraan mereka.


Kembali kutempelkan telingaku pada permukaan pintu, namun aku sama sekali tidak mendengar suara apapun.


Tiba-tiba saja...


kreeekkk.... (pintu dibuka)


"Kamu ngapain Yo di depan pintu kamar kakak?" tanya kak Naya dengan heran yang melihat posisiku sedang membungkuk di balik pintu.


"Kamu nguping pembicaraan kami ya?" tanya kak Naya lagi.


"Eng... Engga kok kak." jawabku dengan gugup.


"Aku gak dengar sedikit.... eh salah, maksudku aku cuma dengar sedikit kak." ucapku membela diri.


"Tadi aku gak sengaja dengar percakapan kakak sama Amel, aku penasaran apa yang kalian berdua obrolin, makanya aku terpaksa nguping deh, hihii.. " jelasku sambil menggaruk-garuk kepala.


"Haduuh... kebiasaan kamu itu dari dulu ga berubah,! masih aja suka nguping." ucap kak Naya sambil menarik telingaku.


"Aa.... aduuuh... ampun kak, aku gak dengar apa-apa kok, ampun kak.... sakit.... !" ucapku sambil meringis kesakitan.


"Janji gak akan nguping-nguping lagi?" tanya kak Naya padaku.


"Iya aku janji ga akan nguping lagi." ucapku


"Kalau engga kepepet." tambahku dengan suara pelan.


"Tuh kan, masih mau mengulangi lagi ya? berarti gak akan kakak lepasin telinga kamu!" ucap kak Naya mengancamku.


"Iya... iya... aku janji, gak akan nguping lagi." ucapku berjanji pada kak Naya.


Kakak pun segera melepaskan tangannya dari telingaku.


"Haduuh.... rasanya telingaku mau putus nih kak." keluh ku pada kak Naya.


Amel yang berada di depanku dan kak Naya terlihat tertawa sambil meledekku.

__ADS_1


"Makanya jangan suka kepo! kan jadi kena jewer kak Naya." Ledek Amel sambil menjulurkan lidahnya padaku.


__ADS_2