
"Lalu bagaimana dengan kehidupan kamu setelah itu?" tanyaku pada Amel.
"Setelah kejadian itu, aku mulai merasakan mual-mual dan sering merasa pusing" cerita Amel padaku.
"Lalu apa orang tua kamu tahu yang terjadi dengan kamu?" tanyaku kembali pada Amel.
"Saat itu mamam sempat curiga dan menanyakan apakah aku hamil."
"Aku yang panik dan takut langsung membantah pertanyaan mama dan mengatakan bahwa aku baik-baik saja." jelas Amel padaku.
"Dengan perasaan takut dan khawatir, aku pergi untuk membeli test pack, namun tangisku pecah saat itu ketika tahu bahwa aku tengah mengandung bayi dari pria yang telah merusak masa depanku." cerita Amel kembali.
"Jadi kamu pernah mengandung Mel?"
"Lalu dimana anak kamu sekarang?" tanyaku dengan kaget.
"Janinku saat itu tidak berkembang, karena aku sempat jatuh di kamar mandi dan mengalami pendarahan hebat."
"Bi Asih yang mengetahui kejadian itu langsung membawaku ke rumah sakit." ungkap Amel.
"Bayimu keguguran Mel?" tanyaku lagi dengan setengah emosi.
"Iya, Dokter bilang kalau janinku sudah tidak bisa dipertahankan lagi karena tidak adanya perkembangan. yang terlihat" jawab Amel padaku.
"Awalnya aku ingin merahasiakan masalah ini dari mama dan papa, tetapi saat kejadian aku terjatuh di kamar mandi akhirnya mereka tahu semuanya, bahkan papa berniat untuk mencari pria itu dan meminta pertanggung jawabannya untukku." ungkap Amel padaku.
"Tetapi Mel, apakah pria itu tahu kalau kamu sempat mengandung bayinya?" tanyaku penasaran.
"Ya tahu, karena aku sudah menceritakan kabar kehamilanku padanya, namun ia malah memintaku untuk segera menggugurkan kandunganku."
"Saat itu aku keberatan dan tidak setuju dengan usulannya, karena aku berniat merawat bayi itu hingga kelak dewasa.
"Aku hanya tak ingin lagi menambah dosa dengan menyingkirkannya dari hidupku."
"Setelah aku memberitahunya tentang kabar kehamilanku, dia menghilang dan tak ada kabar lagi."
"Aku juga telah mendatangi tempat tinggalnya, namun saat itu sudah berganti pemilik." ungkap Amel dengan nada emosi.
"Benar-benar laki-laki yang tidak bertanggung jawab, andai saja aku mengenalnya saat itu, akan aku seret dan pastikan dia mau bertanggung jawab atas semua kesalahannya pada kamu Mel." ucapku pada Amel.
__ADS_1
"Aku minta maaf ya, selama ini aku gak pernah tahu luka masa lalu kamu yang begitu menyakitkan, bahkan sampai saat ini pun aku gak akan pernah tahu kalau kamu tidak menceritakan semuanya." ucapku pada Amel.
"Gak apa-apa Yo, itu semua masa lalu aku!, aku gak ingin mengingatnya tetapi aku juga gak akan melupakan itu semua agar jadi pengalaman buat aku untuk lebih berhati-hati lagi." ucap Amel padaku.
"Itulah kenapa papa dan mama selalu menanyakan kekasih dan calon suami untukku, karena mereka tahu kejadian menyakitkan yang menimpaku dulu."
"Mereka ingin aku segera menikah dan melupakan kejadian itu." ucap Amel.
Akupun segera menguatkan Amel agar tetap bangkit dan mampu melupakan kenangan pahit itu.
"Mel, aku tahu ini sulit, aku juga enggak bisa merasakan segala rasa sakit yang telah menimpa masa lalumu, tetapi aku mau kamu bangkit dan memikirkan masa depan kamu sendiri." pesanku pada Amel.
"Aku akan berusaha coba Yo, tetapi tidak untuk saat ini, karena kamu tahu betul bahwa saat ini perasaanku hanya untuk kamu." ucap Amel sambil menatap wajahku.
Mendengar pernyataan Amel tersebut, aku hanya bisa menghela nafas panjang.
"Ya sudah, semua aku serahkan kembali sama kamu!, aku yakin kamu lebih tahu apa dan bagaimana yang terbaik untuk hidupmu sendiri." jelasku pada Amel.
"Setelah aku jujur dan menceritakan semua masa lalu aku, apa kamu tetap temanku Yo?, apa kamu masih mau dekat dan kenal denganku?" tanya Amel dengan tatapan tajam.
"Aku akan tetap dan selalu jadi teman kamu!, tanpa atau dengan semua cerita ini, ga akan mempengaruhi sikap aku sama kamu." ucapku menenangkan Amel.
"Terima kasih ya Yo, aku beruntung kenal dan dekat sama kamu." ucap Amel sambil memegang erat tanganku.
"Hehee... berlebihan kamu!" ucapku pada Amel sambil melihat jam tangan yang ku kenakan.
"Ya ampun... ini sudah pukul 23.15 lho Mel, kamu gak kemalaman ini?" tanyaku pada Amel.
"Serius kamu Yo?, kok gak terasa ya, tau-tau sudah pukul 23.00 saja." ucap Amel padaku.
Saat kami sedang mengobrol, tiba-tiba dari arah kanan Amel duduk terlihat ibu kost yang sedang berjalan menghampiri kami.
"Lho... mas Rio tumben belum tidur?" tanya ibu kost padaku.
"Iya, belum nih bu! kebetulan ada teman datang jadi belum mengantuk." jawabku pada ibu kost.
"Oh... begitu ya!, kalau mbaknya asli sini juga?" tanya ibu kost pada Amel.
"Bukan bu, ini rekan kerja saya di kantor!" jawabku pada ibu kost.
__ADS_1
"Tinggal dekat-dekat sini atau bagaimana?" tanya ibu kost kembali.
"Saya tinggal daerah Kemang bu." jawab Amel pada ibu kost.
"Lumayan jauh juga ya dari sini, apa gak takut kemalaman pulangnya, kok jam segini masih di luar rumah?" tanya ibu kost lagi pada Amel.
"Iya bu, kebetulan ini saya mau pamit pulang." jawab Amel pada ibu kost.
"Bukan apa-apa ya mas Rio dan mbaknya, disini kan daerah pemukiman yang padat penduduk dan setiap malamnya ada petugas yang bergilir untuk berjaga, saya khawatir mereka masih meliat mas Rio dan mbak berdua disini." ucap ibu kost pada aku dan Amel.
"Maaf ya ibu jadi bilang seperti ini sama mas Rio dan mbak, ibu cuma gak mau mereka salah paham dan malah jadi fitnah nantinya bagi mas Rio sendiri." jelas ibu kost pada aku dan Amel.
"Iya bu, saya paham kok maksud ibu." ucapku pada ibu kost saat itu.
"Ya sudah bu, saya permisi keluar dulu untuk mengantarkan teman pulang." pamitku kemudian pada ibu kost.
"Oh.. iya.. iya... silahkan!" jawab ibu kost.
"Sekali lagi ibu minta maaf ya, Mas Rio jangan salah paham sama ibu! ibu cuma kasih tau aja." ucap ibu kost kembali.
"Saya permisi pamit pulang bu." ucap Amel pamit kepada ibu kost.
"Iya, hati-hati mbak di jalannya." sahut ibu kost pada Amel.
Segera ku bergegas menyalakan mobil untuk mengantar Amel pulang ke rumahnya.
"Kamu gak masalah Mel pulang larut begini?" tanyaku pada Amel sambil mengemudikan mobilku.
"Enggak akan ada yang masalahin aku pulang malam Yo, semua sibuk dengan hidupnya masing-masing." ucap Amel.
"Papa sama mama kamu?" tanyaku.
"Saat aku mereka masih sibuk di luar rumah, jadi aku gak pernah ketemu mereka selain pagi-pagi saat di meja makan." jelas Amel padaku.
"Hmm... begitu ya." ucapku sambil bergumam.
Setelah melalui perjalanan kurang lebih hampir 20 menit lamanya, akhirnya mobilku tiba di depan rumah Amel.
"Aku cuma bisa antar sampai sini Mel!" ucapku pada Amel.
__ADS_1
"Iya Yo, makasih ya sudah antar aku pulang." ucap Amel sambil bergegas keluar dari mobil."