Kakakku Wanita Yang Ku Cintai

Kakakku Wanita Yang Ku Cintai
Episode 23. Kantor polisi


__ADS_3

Kediaman Naya pukul 20.45


Rintik hujan saat itu bagaikan senandung yang mengiringi sepinya malam. Dinginnya terasa hingga ke tulang. Pemukiman yang sudah tampak sepi dari lalu lalang kendaraan menandakan waktu sudah mulai memasuki tengah malam.


Naya yang masih terdiam dalam lamunannya, tiba-tiba terbangun dari duduknya setelah ia melihat waktu pada jam dinding sudah menunjukan pukul 20.48.


"Ini sudah hampir jam 9 malam Sap, tapi belum juga ada kabar dari Rio! kamu temani aku ke kantor polisi ya," ucap Naya meminta Sapta menemaninya.


"Ya sudah, kamu ganti pakaian dulu! aku tunggu kamu di depan ya," ucap Sapta seraya berjalan ke halaman depan untuk menunggu Naya mengganti pakaiannya.


Naya kemudian mengganti pakaiannya dengan kaos hitam dan celana jeans, dilengkapi sweater tebal untuk menjaga tubuhnya agar tetap hangat saat hujan.


"Ayo Sap kita berangkat sekarang!" ajak Naya pada Sapta yang tengah menunggu di kursi depan.


Sapta dan Naya kemudian masuk ke mobil dan bergegas mendatangi polres terdekat dengan rumahnya. Setibanya di sana Naya dan Sapta langsung menuju ruang pelayanan.


"Selamat malam bapak dan ibu, silahkan duduk! ada yang bisa kami bantu?" ucap salah seorang polisi yang sedang berjaga saat itu.


"Selamat malam pak, perkenalkan saya Naya," ucap Naya memperkenalkan diri dengan menjabat tangan kedua polisi tersebut.


"Saya mau melaporkan kehilangan adik saya pak, Rio Reynaldi namanya," ucap Naya sambil menunjukan kartu keluarga dan akte kelahiran milik Rio. Kedua polisi tersebut pun memeriksa berkas yang diberikan Naya padanya.


"Sejak kapan bu adik ibu tidak pulang ke rumah?" tanya salah satu polisi kepada Naya.


"Ia tidak pulang sejak kemarin malam pak, hingga saat ini sudah 1x24 jam," ucap Naya menceritakan saat Rio tidak juga kembali ke rumahnya.


"Ibu sudah coba menghubungi ponselnya atau mencari tahu kepada teman dekatnya?" tanya polisi kembali pada Naya.


"Saya coba hubungi ponselnya beberapa kali tetapi masih tidak aktif pak, malam itu adik saya memang mengantar rekan kerjanya pulang, namun hingga saat ini dia belum juga kembali ke rumah," ucap Naya menceritakan asal mula Rio pergi dari rumahnya.


"Ibu sudah menghubungi dan menanyakan pada rekannya itu?" tanya salah seorang polisi yang lain pada Naya.


"Saya belum menanyakan padanya pak, karena saya tidak memiliki nomer kontaknya," ucap Naya menjelaskan.

__ADS_1


"Baik kalau begitu bu, segera kami tindaklanjuti laporan ibu! ini surat laporan kehilangannya, silahkan ibu simpan," ucap polisi kepada Naya sambil menyerahkan surat pelaporan atas kehilangan.


"Ibu dan bapak bisa kembali ke rumah saat ini, sambil membantu mencari dan menghubungi rekan atau orang terdekat korban," ucap sang polisi pada Naya dan Sapta saat itu.


"Kapan ya pak kira-kira saya dapat informasi tentang adik saya?" tanya Naya dengan raut wajah penasaran.


"Saya belum bisa pastikan itu bu, ibu tenangkan diri ibu di rumah dan kami akan menginformasikan apabila ada temuan terbaru," ucap salah seorang polisi menenangkan Naya.


"Baik kalau begitu pak, terima kasih," ucap Naya sambil menjabat tangan kedua polisi tersebut


"Baik ibu," sahut singkat kedua polisi pada Naya.


Setelah Naya dan Sapta memberikan pelaporan atas kehilangan Rio, akhirnya mereka berdua kembali ke rumah. Sepanjang perjalanan, tatapan Naya begitu kosong, pikirannya hanya kepada sang adik yang sampai saat itu belum juga kembali ke rumah.


Sapta yang melihat keadaan Naya, berusaha menghibur dengan mengajaknya makan malam dan berjalan-jalan mencari udara segar di sekitar tempat itu.


"Sayang, kamu jangan melamun terus kaya gitu dong! aku sedih dan bingung lihat kamu kaya gini,"


"Gimana kalau kita cari makan sambil nongkrong!" ucap Sapta sambil melirik ke arah Naya.


"Sudahlah sayang, ini juga bukan kesalahan kamu kok! kamu juga kan gak tau kalau akhirnya jadi seperti ini," ucap Sapta berusaha menenangkan hati Naya.


Perasaan peduli dan perhatian yang ditunjukan Sapta kepada Naya terhadap kehilangan Rio seolah menutupi sifat aslinya. Ia berusaha menenangkan Naya agar tidak larut dalam kecemasan, namun di balik itu semua ia merupakan orang yang bertanggung jawab atas kecelakaan yang menimpa Rio malam itu.


"Sekarang lebih baik kita makan dulu ya, aku gak mau kamu sampai sakit karena terus menerus seperti ini! kita doakan saja semoga Rio cepat di temukan," ucap Sapta membujuk Naya agar kembali berselera untuk makan.


Naya pun hanya terdiam mendengar ajakan Sapta kala itu, entah ia larut dalam lamunannya atau memang tidak berselera untuk makan.


Dengan sandiwaranya Sapta kembali membujuk Naya untuk mau makan bersamanya malam itu.


"Ayo dong sayang, jangan kaya gini! aku temani kamu makan ya," ucap Sapta membujuk Naya.


Mendengar ajakan Sapta, Naya hanya mengangguk ringan. Ia akhirnya bersedia untuk makan malam itu.

__ADS_1


"Nah gitu dong, ini baru calon tunangan aku!" ucap Sapta menggombali Naya.


"Kita ke resto dekat sini saja ya sayang!" ucap Sapta pada Naya yang masih menikmati lamunannya.


"Aku mau makan di pecel ayam saja Sap, nanti di pertigaan itu kamu ambil kanan," sahut Naya yang meminta Sapta untuk ke tempat makan favoritnya.


"Oh tempat makan yang pernah kamu ceritain itu ya? aku jadi penasaran dengar cerita kamu, ya udah kita kesana ya," ucap Sapta sambil tersenyum ke arah Naya.


Lagi-lagi Naya hanya terdiam tanpa sepatah katapun menimpali perkataan Sapta. Naya hanya duduk berdiam diri dengan wajah murungnya.


Gemericik hujan malam itu seakan turut serta merasakan kesepian dan kesedihan yang Naya rasakan. Jalan yang cukup sepi hanya di lewati beberapa kendaraan saja.


Akhirnya Naya dan Sapta tiba di tempat yang dituju, sebuah tempat makan pinggiran yang menyediakan beberapa menu seperti ayam, lele dan bebek goreng.


"Kamu mau pesan apa Sap?" tanya Naya pada Sapta yang baru saja terduduk.


"Ada apa aja sayang pilihannya?" tanya Sapta dengan suara kencangnya.


"Ayam, bebek dan lele goreng, kamu mau pesan apa?" ucap Naya dengan bertanya kembali.


"Ayam aja deh sayang," jawab Sapta sambil melihat-lihat tempat makan yang dikunjunginya.


"Ayam 1 sama lele 1 ya bang," pesan Naya pada salah satu pelayan yang sedang menggoreng.


Setelah memesan makanan, Naya pun duduk di depan Sapta. Pengunjung yang sepi membuat tak banyak pelanggan yang datang, hingga pesanan yang di antar tak perlu lama menunggu.


"Terima kasih mas," ucap Sapta kepada pelayan yang mengantarkan makanan ke meja tempat mereka duduk.


"Wah, kayanya enak nih sayang!" ucap Sapta sambil mencium aroma ayam goreng yang telah tersaji di hadapannya.


Tanpa menunggu waktu lama, Sapta pun menyantap makanan yang membuatnya penasaran. Sementara Naya hanya memegangi nasi yang sudah ada di kepalan jarinya tanpa menyuapnya.


"Uhh... enak banget ya sayang, pantas saja kamu sering makan di sini! lain kali ajak aku ke sini lagi ya," ucap Sapta sambil melirik ke arah Naya.

__ADS_1


"Lho kok gak di makan sih makanannya? ini benar-benar enak sayang!" ucap Sapta berusaha membujuk Naya.


Setelah beberapa kali Sapta membujuk Naya dan hanya sia-sia baginya, akhirnya Sapta menyerah dan kembali melanjutkan santapannya. Tiba-tiba saja Naya mengatakan sesuatu yang membuat Sapta terkejut.


__ADS_2