Kakakku Wanita Yang Ku Cintai

Kakakku Wanita Yang Ku Cintai
Episode 13. Pergolakan batin yang kuat


__ADS_3

Sesampainya di rumah, aku segera memasuki kamarku dan menyendiri disana. Entah bagaimana dengan Amel saat itu, aku tidak begitu memperhatikannya.


Ku buka galeri foto kak Naya yang ku simpan di ponselku. Semakin aku memandangi fotonya, semakin terasa sesak dada ini saat memikirkan dirinya yang telah memilih pria lain untuk mendampingi seumur hidupnya.


Selang beberapa lama, aku mendengar suara kak Naya dan Sapta yang kala itu sudah tiba di rumah kami.


"Sebentar ya, aku ambilkan minum dulu untuk kamu." terdengar suara kak Naya saat itu kepada Sapta.


"Iya sayang, aku tunggu di sini ya." jawab Sapta pada kak Naya.


Ku buka pintu kamarku dan duduk di ruang tamu sambil menyaksikan acara tv kala itu. Terlihat kak Naya melewatiku sambil membawa air minum yang dia siapkan untuk Sapta.


"Ini minumnya ya." ucap kak Naya seraya memberikan segelas air minum pada Sapta.


Sesekali aku mengintip mereka yang tengah asyik duduk di halaman depan. Memperhatikan kedekatan mereka membuatku menggerutu dalam hati.


"Bisa-bisanya pria gila itu mendapatkan hati wanita sebaik dan secantik kak Naya."


"Aku gak akan rela biarkan kamu mendapatkan kak Naya." ucapku dalam hati sambil menatap mereka yang sedang asyik mengobrol.


"Heeiii.... kamu sedang apa disini Yo?" tanya Amel dengan suara berbisik.


Sssstttt..... jangan berisik! aku sedang menguping pembicaraan mereka berdua." jawabku pada Amel.


Amel pun menganggukkan kepalanya padaku. Kemudian aku pun kembali menguping setiap pembicaraan kak Naya dan Sapta siang itu.


"Jadi gimana sayang? kamu bersedia kan tunangan sama aku?" tanya Sapta pada kak Naya.


"Iya Sapta, aku bersedia." jawa kak Naya sambil memberikan senyumnya pada Sapta.


"Yes..... aku senang banget sayang, kamu akhirnya mau menerima aku." ungkap Sapta.


"Perasaan aku selama ini gak sia-sia deh, terima kasih ya sayang." ucap Sapta kembali.


Mendengar percakapan itu, kakiku terasa lemas, hatiku terasa hancur. Seorang yang ku cintai kini akan menjadi tunangan pria lain.


"Aku juga senang, terima kasih ya sudah memilih aku menjadi wanitamu." balas kak Naya pada Sapta.


Tiba-tiba saja Amel menarik tanganku ke dalam, dan menyuruhku duduk.

__ADS_1


"Yo, kamu harus segera kasih tau kak Naya sebelum semuanya terlambat! kamu gak mau kan kak Naya menikah dengan pria seperti Sapta?" ucap Amel padaku.


"Aku gak tau mesti berbuat apa Mel, aku bingung!" ucapku pada Amel.


Saat aku sedang berbicara berdua dengan Amel, tiba-tiba kak Naya pun masuk dan berkata padaku.


"Kakak mau pergi keluar dulu bersama Sapta, ada yang perlu kakak urus!" jelas kak Naya pada aku dan Amel.


"Kakak mau pergi kemana kak?" tanya Amel dengan penasaran.


"Sapta mau ajak kakak untuk ke butik bridal Mel, cari-cari baju yang cocok untuk kakak nanti." jawab kak Naya pada Amel dengan senyum bahagianya.


"Ahh... aku bisa apa untuk kak Naya! melihatnya bahagia seperti ini saja sudah cukup bagiku, aku hanya tak rela lelaki itu yang bersamanya."


"Andai saja bukan Sapta, mungkin tak mengapa apabila aku harus mengorbankan perasaanku ini." gumamku dalam hati.


"Kakak berangkat dulu Yo, kalian baik-baik di rumah!" pesan kak Naya pada aku dan Amel.


Aku hanya terdiam dan tidak menjawab apa yang dikatakan kak Naya.


"Ternyata seperti ini rasa sakit yang aku rasakan saat pertama kali jatuh cinta, mungkin ini yang mereka sebut dengan patah hati." ucapku dalam hati.


Ku lihat kakak memasuki mobil Sapta dan mereka pergi bersama. Raut wajah kakak terlihat sangat bahagia saat itu, mungkin aku memang harus membiarkan kak Naya dengan lelaki pilihannya.


"Aku baik-baik aja Mel!" jawabku singkat pada Amel.


"Syukurlah kalau begitu, oh iya ini sudah jam makan siang, kita cari makan yuk!" ajak Amel padaku.


"Kamu duluan aja ya Mel, aku belum terlalu lapar saat ini." jawabku pada ajakan Amel.


"Ya sudah kalau begitu, aku pergi cari makan siang dulu untuk kita." pamit Amel padaku.


Amel pun saat itu pergi untuk membeli makan siangnya. Sedangkan aku masih duduk termenung memikirkan keputusan yang harus aku ambil.


Tidak berapa lama Amel pun kembali ke rumah. Ia membawa 2 paket makanan siap saji yang dibelinya saat itu.


"Yo, ini aku sudah beli makan siang untuk kita, makan bareng yuk." ajak Amel padaku.


"Mel, aku kan sudah bilang tadi kalau aku belum lapar, jadi kamu makan saja duluan ya." sahutku pada ajakan Amel.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu, nanti kalau kamu sudah lapar di makan ya!" ucap Amel.


"Aku gak mau kamu sampai sakit!" ucap Amel menambahkan.


"Iya, nanti aku makan makanannya." jawabku singkat.


"Aku akan berpura-pura tidak tahu tentang apa yang sedang kamu pikirkan Yo, aku juga akan percaya bahwa kamu memang belum lapar saat ini." ucap Amel sambil menatap wajahku.


"Aku harap perasaan kamu bisa segera membaik dan menjadi Rio seperti yang aku kenal." ucap Amel yang duduk di sebelahku.


"Mendengar seluruh ucapan Amel saat itu, terjadi pergolakan batin dalam hatiku.


Kenapa aku begitu tega bersikap cuek pada wanita yang selama ini sangat memperhatikanku, kenapa aku malah mencintai wanita yang akan menjadi tunangan orang lain, yang juga merupakan kakak bagiku.


Setelah memikirkan dengan berbagai pertimbangan, akhirnya aku memutuskan untuk mendukung pertunangan kak Naya dengan Sapta dan mulai membiarkan Amel mengisi hatiku yang selama ini kosong.


"Ayo Mel kita makan! aku sudah lapar nih sekarang." ucapku pada Amel yang saat itu sedang menyantap makan siangnya.


"Nah gitu dong, ini baru Rio temanku yang aku kenal." ucap Amel menyemangatiku.


Amel pun menyiapkan peralatan makan untukku dan mengambilkan aku segelas air minum yang ia letakan di meja makan.


"Terima kasih ya Mel, untuk segalanya yang kamu lakukan untukku, bahkan kamu tetap bertahan dengan sikap cuek dan dinginku terhadapmu." ucapku pada Amel.


"Gak perlu minta maaf Yo, ini sudah jadi resiko aku berteman dengan pria cuek, dingin dan keras kepala seperti kamu." ucap Amel menggodaku.


"Aku keras kepala?" kamu pikir cuma aku yang keras kepala! kamu juga keras kepala lho Mel." ucapku pada Amel.


"Masa sih aku keras kepala?" tanya Amel dengan heran.


"Kamu gak percaya aku bilang kamu keras kepala?" tanyaku pada Amel.


"Aku tuh gak keras kepala seperti kamu Yo!" jelas Amel padaku.


"Sini.... sini aku ketuk kepala kamu, biar aku tahu kepala kamu keras atau enggak." ucapku sambil mengetuk kepala Amel dengan sendok yang ku pegang."


Tuuk... tukk.. tukk


(mengetuk 3 kali)

__ADS_1


"Aduuuhh... apa-apaan sih kamu? sakit tau!" ucap Amel sambil berteriak dan mengejarku.


"Tuh kan keras, berarti kamu juga keras kepala Mel." ledekku kepada Amel sambil menghindari kejaran Amel.


__ADS_2