Kakakku Wanita Yang Ku Cintai

Kakakku Wanita Yang Ku Cintai
Episode 19. Duduk di kursi roda


__ADS_3

"Oh ya pak, saya belum tahu nama bapak!" ucapku pada bapak tua.


"Panggil saja pak Saeful, orang di sekitar daerah tempat tinggal bapak sudah hafal betul dengan bapak, bapak biasa menerima panggilan untuk membersihkan kebun atau taman di komplek perumahan mewah," jelas pak Saeful kepadaku.


"Saat ini hanya pekerjaan itu yang bisa bapak andalkan, memasuki usia senja dengan tubuh rapuh dan lemah seperti ini sangat sulit mendapatkan pekerjaan," ucap pak Saeful dengan wajah tertunduk.


"Maaf pak, kalau boleh saya tahu, apa bapak dahulu sempat bekerja?" tanyaku penasaran.


"Dahulu sebelum tragedi kecelakaan yang merenggut nyawa istri dan anak bapak, bapak hanya karyawan swasta biasa, namun kebutuhan kami tercukupi hanya dengan gaji yang pas-pasan," jelas pak Saeful kepadaku.


"Lalu kenapa bapak berhenti dari pekerjaan itu?" lagi-lagi aku penasaran dengan kisah masa lalu pak Saeful.


"Sebenarnya bapak tidak ingin berhenti bekerja, namun pasca meninggalnya mereka, keadaan fisik dan mental bapak menurun, bapak sering sakit-sakitan sehingga selalu absen dari kantor," ungkap pak Saeful dengan mata berkaca-kaca.


Mendengar kisah pilu yang dialami pak Saeful aku memegang tangannya dan mengusapnya untuk sekedar membantu menenangkan hatinya.


"Semoga semua ini ada hikmahnya ya pak," ucapku pada pak Saeful yang terlihat termenung di sebelahku.


"Bapak tidak pernah menyesali atas kesulitan hidup yang bapak alami, hanya saja bapak sering kesepian dan menangis di kala sendiri seperti ini," ucap pak Saeful dengan suara bergetar, menahan kesedihannya.


"Bapak gak perlu sedih lagi, sekarang bapak punya saya, anggap saja saya ini adalah putra bapak," ucapku pada pak Saeful kala itu.


Mendengar ucapanku, tangan pak Saeful memegang lenganku dan terpancar senyum bahagia di wajahnya


"Oh ya, bapak belum kasih nama untukmu! bagaimana dengan Reza?" tanya bapak padaku.


"Reza.... nama yang bagus pak! aku suka nama itu," jawabku dengan senyum lebar.


Kami berdua sangat bahagia hari itu, aku akhirnya memiliki keluarga dan bapak juga kembali memiliki seseorang yang di anggapnya sebagai putranya. Tiba-tiba terdengar suara ketukan di balik pintu.


Tok... tok... tok...


(suara pintu di ketuk)


"Selamat siang pak, maaf mengganggu istirahatnya! perkenalkan saya Anton dan ini rekan saya Dimas, kami dari pihak kepolisian yang menangani kasus kecelakaan bapak 3 minggu lalu," ucap polisi tersebut di hadapan aku dan bapak.


"Jadi bagaimana pak, apakah sudah di temukan informasi terbaru tentang anak ini?" tanya bapak pada kedua polisi yang berdiri di hadapannya.


"Untuk sementara kami masih mencari segala sesuatu yang membantu menunjukan identitas korban, namun ada sesuatu yang masih kami selidiki pak," jelas salah satu polisi kepada bapak.


"Apa tidak di temukan sama sekali KTP atau identitas lainnya pak?" tanya bapak dengan wajah heran.


"Kami masih terus mencari pak, tetapi dugaan awal kami bahwa kecelakaan mobil tersebut bukan murni suatu kecelakaan tetapi ada pihak yang sengaja untuk mencelakakan korban, namun ini baru dugaan awal saja, pihak kepolisian masih mendalami kasusnya," jelas polisi itu tentang kejadian yang menimpaku beberapa waktu yang lalu.


"Baiklah pak, kami permisi dulu! setiap ada informasi terbaru akan saya sampaikan kembali," pamit polisi tersebut padaku dan bapak.

__ADS_1


Kedua polisi tersebut keluar dari ruanganku, hanya tinggal aku yang terbaring lemah di temani bapak yang masih terduduk sambil memegangi bibirnya.


"Siapa yang tega melakukan ini kepada anak sebaik dirimu?" tanya bapak sambil memandangiku.


Aku hanya mengerutkan dahiku mendengar pertanyaan bapak yang jelas-jelas sangat membuatku bingung. Tiba-tiba masuk seorang suster dan berkata sesuatu pada bapak.


"Pak, silahkan mengurus seluruh administrasi rumah sakit dan segera menemui dokter di ruang jaga," ucap suster itu kepada bapak.


Tanpa berkomentar apapun, bapak menuju ruang dokter yang di maksud.


Tidak menungu beberapa lama, bapak kembali masuk dengan senyum sumringahnya.


"Ayo, kamu boleh pulang! bapak mau kemas-kemas dulu," ucap bapak dengan senyum dan semangatnya saat mengetahui aku diizinkan pulang dari rumah sakit.


Ekpresiku tentu ikut senang saat melihat senyum bapak yang terpancar dari wajahnya.


"Bapak senang aku diizinkan pulang?" tanyaku penasaran.


"Bapak senang, akhirnya bisa tinggal bersama putra bapak lagi," ucap bapak dengan wajah polosnya.


Sesat setelah mengatakan hal itu, tiba-tiba wajah bapak berubah menjadi murung.


"Bapak kenapa, tadi bapak bilang senang aku bisa kembali pulang!" ucapku bingung pada ekspresi wajah bapak yang tiba-tiba berubah.


"Keluarga yang aku punya ya bapak dan aku adalah putra bapak," ucapku menenangkan bapak agar tidak larut dalam lamunan dan kesedihannya.


"Ya sudah pak, katanya bapak mau kemas-kemas dulu!" ucapku mengingatkan bapak untuk segera mengemasi barang-barang yang sengaja bapak bawa dari rumahnya.


"Oh ya, tadi bapak sudah bicara dengan dokter, beliau mengatakan pada bapak bahwa saat ini kamu memerlukan kursi roda, namun kamu tetap harus melakukan kontrol rutin untuk memastikan perkembangan otot dan saraf di kakimu," ucap bapak menjelaskan padaku.


"Apakah kursi roda dan kontrol rutin itu memerlukan uang yang banyak pak?" tanyaku memandangi wajah bapak.


"Uang tabungan bapak masih cukup untuk membayar itu semua, kamu gak perlu khawatir!" ucap bapak sambil mengemas barang-barang.


"Bagaimana kalau uang bapak habis untuk membayar seluruh biaya pengobatanku?" tanyaku dengan haru.


"Bapak masih bisa mencari uang dengan kembali bekerja, itu cukup untuk biaya hidup kita sehari-hari," jawab bapak dengan penuh keyakinan.


Masuklah dua orang bruder (perawat pria) membawa sebuah kursi roda ke arah ku.


"Pak, ayo saya bantu turun dan duduk di kursi roda ini!" ucap salah seorang bruder sambil mendekatkan kursi rodanya padaku.


Akhirnya kedua bruder tersebut mengangkat tubuhku dan memindahkannya ke kursi roda.


"Hati-hati mas," ucap bapak pada kedua bruder tersebut.

__ADS_1


Mendengar ucapan bapak, aku sangat terharu. Aku berharap kedua orang tuaku disana juga sebaik bapak.


Bruder pun mendorong kursi roda yang ku naiki, di susul bapak yang berjalan di belakangku. Aku menikmati perjalanan dalam kursi rodaku, ya berjalan dengan tanpa kaki rasanya memang aneh, namun ku terima nasib ini dan ku nikmati semua keputusan -Nya.


"Siapakah orang yang dimaksud polisi sebagai orang yang sengaja mencelakakan aku dan apakah keluargaku mencemaskan keadaanku?" tanyaku dalam lamunan.


"Mobilnya dimana pak?" tanya salah seorang bruder pada bapak.


"Saya gak punya kendaraan mas, jadi mau naik angkutan umum saja," jawab bapak kepada salah seorang bruder.


"Ya sudah, bapak cari saja angkutannya, nanti kita bantu angkat ke dalam," ucap sang bruder kepada bapak.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya bapak mendapatkan angkutan umum untuk kami sewa sampai ke rumah.


"Itu mas, mobilnya di depan sana!" ucap bapak sambil menunjuk ke salah satu angkutan umum yang terparkir di halaman depan rumah sakit.


Setelah itu, kedua bruder kembali mendorong kursi rodaku untuk membantu mengangkatku ke dalam mobil. Setibanya di dekat mobil yang akan ku naiki, kedua bruder tersebut mengangkatku dan mendudukkan aku di jok depan.


"Sudah ya pak," ucap salah seorang bruder kepada bapak setelah memasukan kursi rodaku di kursi belakang.


"Terima kasih mas," ucap bapak kepada kedua bruder tersebut.


Angkutan yang kami tumpangi akhirnya berjalan ke tempat yang di tuju. Dalam perjalanan ke rumah bapak rasanya seperti tak asing melihat jalanan yang ku lewati itu, tetapi entah kapan aku pernah kesini atau melewati jalan ini.


Setelah kurang lebih 30 menit menempuh perjalanan, akhirnya kami tiba di suatu gang, dengan gapura di depannya yang bertuliskan gang Syukur.


"Disini kan bang?" tanya sang supir kepada bapak.


"Iya, disini saja bang! nanti tolong bantu saya memindahkan anak saya ke kursi rodanya ya bang," ucap bapak kepada supir tersebut.


Supir pun turun dan membantu bapak mengangkatku untuk duduk di kursi roda. Aku pun kembali duduk di kursi roda itu.


"Terima kasih bang," ucap bapak sambil memberikan sesuatu kepada supir tersebut.


Setelah aku dan bapak turun membawa barang bawaan kami, sang supir kembali masuk ke mobil dan berlalu dari pandangan kami.


"Ayo, kita sudah hampir sampai," ucap bapak sambil mendorong kursi rodaku.


Tidak berapa lama bapak mendorong kursi rodaku, kami pun tiba di depan rumah yang terlihat sangat tidak terurus, keadaan cat tembok yang sudah berjamur dan jendela yang sudah di makan rayap serta pintu yang terbuat dari papan, sangat membuatku sedih.


"Ini tempat tinggal bapak?" tanyaku pada bapak.


"Iya, hanya ini yang bapak punya!" ucap bapak dengan wajah tenangnya.


Aku terkejut melihat keadaan rumah bapak, rumah yang bisa dikatakan tidak layak huni. Padahal, sepanjang masuk gang tadi, ku lihat rumah-rumah bagus nan mewah menghiasi pandangan menuju ke sini, namun rumah bapak hanya cukup sebagai tempat berteduh kala hujan dan panas melanda.

__ADS_1


__ADS_2