Kakakku Wanita Yang Ku Cintai

Kakakku Wanita Yang Ku Cintai
Episode 27. Kakak tiri


__ADS_3

"Maksud kamu pertunangan kita batal?" tanya Sapta dengan raut wajah terkejut.


"Iya, kita akan tunda pertunangannya sampai Rio di temukan," ucap Naya pada Sapta.


"Aku ngerti perasaan khawatir kamu sm Rio, tapi kamu gak bisa tunda gitu aja acaranya! aku udah nunggu-nunggu moment itu Nay," ucap Sapta menimpali keputusan Naya.


"Tolong hargain keputusan aku Sap, aku gak mau berbahagia, sementara Rio ada di suatu tempat yang kita gak tau keadaannya seperti apa saat ini," ucap alasan Naya menunda pertunangannya.


"Oke, kalau itu mau kamu! aku akan minta orang-orangku untuk membantu mencari Rio, tetapi aku minta sama kamu, kamu tidak akan menunda waktunya apabila aku bisa menemukan Rio," ucap Sapta meminta kesepakatan dengan Naya.


Pernyataan dan ucapan Sapta kala itu tidak di gubris oleh Naya, Ia masih tak percaya dengan peristiwa yang telah menimpa adiknya.


"Aku akan pergi mencari Rio," ucap Sapta sambil berjalan keluar meninggalkan Naya dan Amel dengan wajah kecewa.


Sapta pun pergi dengan kendaraannya, ia berencana mencari Rio agar pertunangannya dengan Naya dapat berjalan sesuai dengan rencana.


"Bisa-bisanya kamu tunda pertunangan kita demi anak angkat itu Nay...!" ucap Sapta sambil memukul stir mobil dengan tangannya.


"Rioo..... kenapa hidup loe selalu nyusahin gue, dan saat mati pun loe masih aja buat hidup gue sengsara!" ucap Sapta dengan amarahnya.


Emosinya yang memuncak, membuat ia tak bisa mengontrol laju kendaraan yang ia kemudikan. Ia berencana pergi ke suatu tempat untuk mendukung rencananya.


Setelah menempuh perjalanan, akhirnya Sapta tiba di suatu tempat. Lingkungan yang sunyi dengan berdiri 1 bangunan tua, di kelilingi dengan rumput liar dan ilalang yang lebat.


Tok... tok... tok...


(suara pintu di ketuk)


"Man... Arman... buka pintunya, gue butuh bantuan loe," ucap Sapta sambil memanggil sebuah nama.


Tiba-tiba pintu rumah tersebut pun di buka. Terlihat seorang berambut gondrong dengan kumis dan jambang yang lebat serta perawakan yang tinggi besar membuat tampangnya semakin terlihat seram.


"Apalagi bos yang bisa gue bantu?" tanya orang tersebut dengan tampang serius.


"Loe cari lagi deh anak itu, w butuh dia sekarang!" pinta Sapta pada orang yang di panggilnya Arman.


"Bukannya kemarin you yang minta gue untuk nyingkirin dia, terus ngapain sekarang you cari dia lagi?" tanya Arman sambil menghembuskan asap rokok ke arah Sapta.


"Loe gak perlu tau urusan hidup gue, gue bayar loe untuk kerja bukan untuk banyak tanya!" ucap Sapta menimpali Arman.

__ADS_1


"Siap bos, gue akan lakuin yang loe minta, asal loe siapin dananya dengan cepat!" ucap Arman pada Sapta.


"Gue cuma gak yakin anak itu masih hidup, terakhir gue liat mobilnya udah kosong waktu itu, makanya gue suruh mereka bakar dan buang mobilnya ke dasar jurang," ucap Arman menceritakan kejadian saat kecelakaan Rio terjadi.


"Pokoknya loe cari dia sampai ketemu! gue butuh dia hidup atau mati, ngerti loe..!" ucap Sapta sambil berlalu pergi.


Sapta yang telah menyelesaikan pertemuannya dengan Arman (orang bayaran) kemudian kembali ke rumah. Saat di rumah ia melihat pak Mamun sedang mengobrol dengan papanya yang terbaring di ranjang.


"Awas aja kalau dia mencoba berkhianat denganku," gumam Sapta sambil mengintip pak Mamun dan papanya yang tengah mengobrol.


Beberapa waktu, Sapta masih setia menunggu pa Mamun menyelesaikan percakapannya dengan papanya hingga waktu yang ditunggu Sapta pun tiba, pa Mamun tengah berjalan ke luar dan menuju ke arahnya.


"Sini pak." tarik Sapta pada lengan pak Mamun.


"Oh.. pak Sapta," ucap pak Mamun terkejut melihat Sapta.


"Ada informasi apa tentang rencana papa terhadap Rio?" tanya Sapta pada pak Mamun dengan wajah penasaran.


"Bapak meminta saya untuk terus mencari keberadaan Rio saat ini karena keadaan bapak yang sudah tidak memungkinkan untuk terus melanjutkan perusahaan," ucap pak Mamun menjelaskan.


"Papa sakit?" tanya Sapta dengan terkejut.


"Hmm... bagus pa, cepat-cepat saja papa menyusul Rio, agar perusahaan dan harta papa bisa aku miliki!" gumam Sapta sambil tersenyum tipis.


"Lalu apa lagi pak yang papa katakan?" tanya Sapta kembali.


"Tidak ada pak, bapak hanya meminta saya untuk terus mencari keberadaan Rio secepatnya," ungkap pak Mamun.


"Bagus.... terus kabari saya pak, sekecil apapun informasi yang pak Mamun miliki," ucap Sapta sambil menepuk bahu pak Mamun.


"Pak Mamun boleh pergi sekarang," ucap Sapta yang mengizinkan pak Mamun untuk pergi.


Setelah menyampaikan informasi kepada Sapta, pak Mamun pun pergi meninggalkan Sapta seorang diri. Namun siapa sangka, informasi yang diberikan pak Mamun padanya tentang sakit yang diderita papanya saat itu menjadi kabar bahagia baginya.


Sapta pun berjalan menghampiri kamar papanya.


Tok... tok... tok...


(suara pintu di ketuk)

__ADS_1


"Pa... papa, ini aku pa," panggil Sapta sambil mengetuk pintu kamar papanya.


"Masuk...!" terdengar sahutan papanya dari dalam kamar.


Sapta pun bergegas masuk setelah mendengar suara papanya. Ia melihat papanya tengah berbaring lemah di ranjang, ia pun berusaha menunjukan simpati dan kekhawatirannya.


"Papa.... papa sakit? wajah papa terlihat pucat sekali!" ucap Sapta pada papanya sambil menghampiri dan duduk di sampingnya.


"Iya, jantung papa kumat lagi, tapi kamu gak usah khawatir karena papa sudah diberikan obat oleh dokter jadi sekarang papa sudah merasa lebih baik," ucap papanya menenangkan Sapta.


"Siapa bilang aku khawatir dengan keadaan papa, justru aku senang sekali lihat papa seperti ini, aku jadi lebih mudah untuk ambil semuanya dari papa," gumam Sapta dalam hati.


"Oh ya pa, papa kan sedang sakit dan harus beristirahat total saat ini, kenapa perusahaan tidak papa serahkan saja padaku agar aku yang menangani semuanya,"


"Aku yakin di tanganku perusahaan akan mudah berkembang dan sukses nantinya, papa percaya kan sama aku?" ucap Sapta dengan percaya diri.


"Papa percaya kamu memiliki tekad kuat untuk memimpin perusahaan tetapi papa tidak yakin kamu akan jadi pemimpin yang baik di perusahaan," ucap papanya dengan suara lemah.


"Lalu siapa yang akan papa tunjuk untuk memimpin perusahaan, apakah anak haram itu?" tanya Sapta dengan suara keras pada papanya.


"Siapa yang kamu maksud dengan anak haram? papa gak ngerti maksud kamu! papa cuma ingin kamu bisa berusaha keras agar kamu bisa jadi pemimpin yang baik nantinya," ucap papanya dengan suara gemetar.


"Siapa Rio itu pa? apa dia anak haram papa? jelaskan padaku sekarang," teriak Sapta pada papanya yang tengah berbaring di ranjang.


"Sapta dengarkan papa dulu, kamu harus tahu siapa Rio itu bagi papa," ucap papanya yang berusaha menjelaskan pada Sapta.


"Siapa pa dia? dia cuma anak angkat miskin yang tidak punya orang tua kan pa!" ucap Sapta dengan amarahnya.


"Sapta tutup mulutmu! kamu harus menghormati dia," ucap papa Sapta dengan nafas terengah-engah.


"Hormat? untuk apa aku menghormati dia pa?" tanya Sapta dengan penasaran.


Melihat rasa penasaran Sapta yang begitu besar akhirnya papanya menceritakan semuanya pada Sapta. Ia merasa saat itu adalah waktu yang tepat untuk memberi tahu siapa Rio sebenarnya.


"Sapta dengarkan papa!" ucap papanya dengan suara lemah.


"Rio... Rio itu adalah....," ucap papanya terbata-bata.


To be continue....

__ADS_1


Selamat membaca ya readers, dan harap bersabar untuk menunggu kelanjutannya ☺😘


__ADS_2