
Saat aku dan Amel sedang asyik bercanda dan saling menggoda, kak Naya dan Sapta pun akhirnya kembali.
"Haii.. kalian sudah makan siang belum? kalau belum makan sama-sama yuk, Sapta sengaja beli ini untuk kita lho." ucap kak Naya sambil memegang box makanan.
"Silahkan kakak makan saja berdua dengan Sapta, kebetulan aku dan Amel baru saja menyelesaikan makan siang bersama!" ucapku pada kak Naya.
"Rio betul kak, kami berdua baru saja selesai makan siang, kakak makan saja ya bersama dengan Sapta." ucap Amel pada kak Naya.
"Udahlah sayang, kalau mereka memang gak mau makan bersama kita ya gak masalah." ucap Sapta pada kak Naya.
Mendengar ucapan Sapta pada kak Naya kala itu, membuat emosiku memuncak. Bagaimana tidak, ucapannya terkesan menganggap kami sengaja menolak makan bersama dengan mereka.
"Sabar ya Yo." ucap Amel menenangkan ku sambil mengusap lengan kananku.
"Terima kasih Mel." ucapku pada Amel.
Saat aku dan Amel sedang duduk di ruang tamu, menikmati reality show yang tayang di salah satu channel tv, terdengar obrolan kak Naya dan Sapta yang sedikit samar-samar.
"Oh ya sayang, kamu benar-benar suka kan sama gaun yang aku pilihkan tadi?" terdengar tanya Sapta pada kak Naya.
"Aku suka banget ko, cuma gaunnya sedikit terlalu besar saat aku coba tadi." jelas kak Naya pada Sapta.
"Itu bukan masalah rumit kok sayang, yang terpenting kamu cocok dan suka dengan gaunnya!" ucap Sapta pada kak Naya.
"Aku benar-benar gak menyangka sayang, kita akan segera bertunangan." ucap Sapta pada kak Naya.
"Oh ya sayang, besok akan ada temanku yang akan menemui kita, dia adalah salah seorang EO (event organizer) hebat." ucap Sapta menambahkan.
"Apa kita perlu pakai jasa EO (event organizer) seperti itu? rasanya berlebihan deh, apa gak sebaiknya semua kita urus sendiri saja?" tanya kak Naya pada Sapta.
"Sayangku, aku gak mau kamu kelelahan karena harus mengurus semua persiapan acara kita nanti, jadi aku mau semua ditangani oleh EO, agar kamu bisa tetap fokus dan sehat jelang acara pertunangan kita." jelas Sapta pada kak Naya.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu." ucap kak Naya atas pernyataan Sapta.
"Sapta memang memiliki segalanya yang bisa dia berikan pada kak Naya, tidak seperti aku yang hanya pegawai bank biasa, aku tidak akan mampu melakukan seperti apa yang dilakukan Sapta kepada kak Naya." ucapku dalam hati.
Saat aku sedang menikmati lamunanku, terdengar permintaan Sapta pada kak Naya.
"Sayang, suapi aku makanannya dong! aku ingin makan dari tangan kamu." pinta Sapta saat itu.
"Sapta, apa-apaan sih kamu! malu kan sama Amel dan Rio kalau mereka lihat." ucap kak Naya.
"Kenapa harus malu sayang? ini akan jadi rutinitas kita berdua nanti setelah menikah." ucap Sapta sambil mencium kening kak Naya.
Kak Naya pun terlihat malu-malu dengan senyumannya pada Sapta saat Sapta mencium kening mereka. Aku pun yang tak ingin kalah romantis dari mereka, mencoba menggenggam tangan Amel dan berkata:
"Mel, weekend pekan depan kamu mau kan jalan sama aku? aku bosan liburan hanya berada di rumah saja." ucapku dengan suara yang sedikit keras, berharap kak Naya dan Sapta mendengar ucapanku.
"Kamu serius Yo mau ajak aku liburan? aku gak salah dengar kan?" tanya Amel dengan ekspresi terkejutnya.
"Ya sudah, nanti aku pikirkan dan mencari tempat yang cocok ya untuk kita kunjungi saat liburan nanti." ucap Amel padaku.
"Aku tunggu kabar kamu secepatnya ya, biar aku bisa pesan sekalian untuk akomodasinya juga." tambahku pada Amel kala itu.
"Nanti aku kasih tau kamu ya, setelah aku tentukan tempatnya." ucap Amel menanggapi pernyataanku.
"Kalian pikir cuma kalian saja yang bisa bersikap romantis seperti itu! aku pun tidak kalah romantis dengan kalian." ucapku dalam hati sambil melirik ke arah dimana kak Naya dan Sapta duduk.
"Ya sudah sayang kalau begitu aku pamit pulang dulu ya, besok kita akan bertemu lagi untuk membahas rencana dan konsep yang kita inginkan dengan EO (Event organizer)." ucap Sapta sambil memegang kedua tangan kak Naya.
"Kamu hati-hati di jalannya ya!" pesan kak Naya pada Sapta yang sudah bersiap-siap untuk pulang.
Sapta kemudian menghampiri mobilnya dan bergegas pulang saat itu juga. Aku pun segera mendekati kak Naya yang sedang merapikan meja makan.
__ADS_1
"Kak, kakak yakin ya mau melanjutkan tunangan kakak dengan Sapta?" tanyaku pada kak Naya.
"Sebelum kakak jawab, kakak akan tanya dulu sama kamu, seandainya jawaban kakak yakin kenapa dan kalau kakak gak yakin kamu mau apa?" ucap kak Naya yang terlihat kurang menyukai pertanyaan ku.
"Aku gak ada masalah sama pertunangan kakak, hanya aku minta kakak pikirkan baik-baik dengan siapa kakak akan bertunangan." ucapku pada kak Naya.
"Aku gak mau kakak salah pilih dan menyesal nantinya kak!" tambahku menasehati kak Naya saat itu.
"Kakak jadi bingung sama kamu Yo, sebenarnya apa masalah kamu sama Sapta? sampai-sampai kamu kurang menyukai Sapta dan mencurigai Sapta seperti itu!" ucap kak Naya yang mulai terlihat kesal dengan ucapanku.
"Kakak sudah cukup mengenal Sapta dengan baik, dan kakak juga yakin bahwa dia memang pria yang tepat untuk kakak!" ungkap kak Naya kepadaku.
"Kakak harap kita gak perlu bahas ini lagi! kamu harusnya lebih memikirkan diri kamu sendiri dari pada terus mencampuri urusan kehidupan kakak." ucap kak Naya sambil meninggalkan aku yang masih terduduk di ruang makan.
Sejenak aku berpikir, bahwa apa yang kak Naya katakan benar. Aku tidak perlu mencampuri urusan pribadinya karena kak Naya lebih tau mana keputusan yang tepat untuk masa depannya.
Kak Naya juga benar tentang satu hal, bahwa aku harus lebih memperhatikan kehidupanku sendiri.
"Baiklah kak, kalau itu mau kakak, aku akan menjadi seperti yang kakak minta!" ucapku dalam hati.
"Mel, kamu siap-siap ya! aku mau ajak kamu nonton di luar." ucapku dengan suara lantang.
"Kamu mau ajak aku nonton Yo?" tanya Amel dengan ragu.
"Iya, aku tunggu kamu di mobil!" ucapku pada Amel.
Aku bergegas mengganti pakaian ku dan segera menuju ke mobil.
"Maafkan aku Mel, aku sadar bahwa semua yang aku lakukan ini hanya pelampiasan atas kekecewaanku terhadap sikap kak Naya." ucapku sambil meneteskan air mata.
"Aku berharap suatu saat nanti aku benar-benar bisa mencintai dirimu dengan tulus, bukan sebagai pelampiasan seperti ini." ucapku dalam hati.
__ADS_1