
Kediaman Naya dan Rio
Pada pukul 01.17, Naya masih saja menunggu kepulangan adiknya yang tengah mengantar teman wanitanya pulang.
"Kenapa Rio belum pulang juga ya?" tanya Naya dalam hatinya, sambil sesekali melihat layar gadgetnya.
"Apa mungkin dia menginap di rumah Amel atau kembali ke tempat kostnya?" ucap Naya dengan raut wajah bingung.
Naya yang cemas pada adiknya, membuat matanya terjaga hingga pukul 03.00 dini hari. Hatinya yang gelisah seperti mengisyaratkan sesuatu pada apa yang terjadi dengan adiknya itu.
"Apa aku coba telpon dia saja!" gumam Naya dalam hati.
Naya pun mencari kontak adiknya untuk menanyakan keberadaannya saat itu, namun tak ada jawaban ataupun nada tunggu yang terdengar. Lalu ia kembali mencoba melakukan panggilan tersebut.
Tiba-tiba....
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, silahkan coba beberapa saat lagi.
The number you have dialed is not active, please try again later
(keterangan yang terdengar saat nomor telepon tidak aktif).
"Aduh, nomornya juga ga aktif," ucap Naya yang semakin cemas.
Dia kemudian mengirim pesan pada Sapta kala itu, dengan harapan kecemasannya dapat berkurang pada Rio adiknya.
"Sap, perasaan aku gak enak banget ya! aku khawatir sama Rio, jam segini dia belum sampai di rumah," tulis Naya kepada Sapta dalam pesannya.
Sambil memegangi gadgetnya, Naya bergerak bolak-balik mengitari ruang tamu, menunggu pesan balasan dari Sapta, namun sepertinya Sapta masih menikmati tidurnya sehingga tidak membalas pesan yang ia kirimkan.
Pukul 04.37
Kring.... kring... kring...
Dering panggilan masuk dari gadget naya terdengar, Naya pun terbangun dari lelapnya. Ia tertidur pulas di sofa saat menunggu kabar adiknya. Di raihlah gadgetnya, besar harapan bahwa itu merupakan panggilan dari adiknya.
"Huuh... kirain Rio," ucap Naya dengan nada lemas.
Naya kemudian menerima panggilan telepon dari Sapta.
"Halo Sap," ucap Naya pada Sapta.
"Halo sayang, kamu semalaman ini gak tidur ya?" tanya Sapta.
"Gimana aku bisa tidur, Rio belum juga pulang setelah mengantarkan Amel semalam!" jawab Naya dengan nada cemas.
"Sayang, dengarin aku ya! Rio itu udah bukan anak-anak lagi, sekarang dia adalah pria dewasa.
"Aku rasa cemas kamu itu berlebihan, siapa yang tahu kan kalau dia malam ini sedang berduaan dengan si Amel itu," ucap Sapta menimpali kecemasan Naya.
"Apa mungkin begitu? tapi perasaan aku benar-benar gak enak Sap!" ucap Naya menceritakan perasaan cemasnya.
"Iya, udahlah percaya sama aku!" ucap Sapta meyakinkan kekasihnya untuk tetap tenang.
Mendengar pernyataan Sapta, Naya pun sedikit lebih tenang saat itu.
"Ya sudah kalau begitu, thanks ya kamu udah nenangin aku," ucap Naya pada Sapta sambil menghela nafas panjang.
"Iya sayang, aku kan calon tunangan kamu jadi aku akan berusaha selalu ada untuk kamu," sahut Sapta dengan kata-kata manisnya.
__ADS_1
"Dah sayangku, muach... muach," ucap Sapta yang kemudian terdengar mencium gadget miliknya.
Naya yang tak membalas ekspresi kecupan itu, kemudian mengakhiri panggilannya. Dalam hatinya ia masih cemas dan bingung, apa benar yang di katakan Sapta bahwa Rio sedang bersama dengan Amel.
"Apa Rio memang bersama Amel ya? tapi bukankah sikap Rio pada Amel terlihat dingin dan cuek, mana mungkin secepat itu Rio memiliki perasaan pada Amel!" gumam Naya dalam hati.
"Ah sudahlah, itu kan urusan mereka!" ucap Naya yang kemudian bergegas masuk ke toilet.
Kediaman Sapta, pukul 05.38
"Loe gak akan semudah itu untuk gagalin semua rencana gue, gak akan gue biarin" ucap Sapta dengan senyum liciknya.
"Walaupun loe adalah adik dari wanita yang gue cintai tetapi kalau keberadaan loe ternyata malah ngerusak mimpi gue bersama Naya, gue harus singkirin loe Yo! " ucap Sapta kembali.
Sapta kemudian terduduk di ranjangnya, ia terlihat tersenyum dalam lamunannya.
"Gue harap loe beristirahat dengan tenang di alam sana jadi loe gak perlu ngerusak hidup gue," gumam Sapta dengan senyum liciknya yang khas.
Tindakan Sapta pada Rio merupakan buntut dari cerita Naya tentang pandangan Rio terhadapnya, Naya juga menceritakan pada Sapta bahwa Rio sepertinya tidak menginginkan hubungan mereka berlanjut. Tentu ini membuat Sapta merasa terusik dan tidak nyaman, akhirnya Sapta memutuskan untuk menyingkirkan Rio selama-lamanya.
Pukul 06.09
Sapta bergegas keluar dari kamarnya menuju ruang makan, dia mendapati bahwa papa dan mamanya sudah bersiap menyantap sarapan pagi.
"Pagi sayang," sapa mamanya pada Sapta.
Krek....
(suara kursi di geser)
"Pagi ma," sahut Sapta pada mamanya.
"Gak ada pa," jawab Sapta singkat.
"Kalau begitu, kamu bisa ikut papa main golf bersama teman-teman papa, nanti sekalian papa kenalin kamu ke mereka," ajak papanya pada Sapta.
"Papa mau kenalin calon penerus perusahaan papa, usia papa yang sudah tidak muda dan fisik yang kian memburuk membuat papa harus mencari pengganti papa," jelas papa Sapta sambil menyantap sarapannya.
"Begitu ya, semoga saja aku yang akan menjadi pengganti dan penerus papa, bukan yang lain!" ucap Sapta sambil menajamkan pandangannya pada papanya yang tengah menikmati makanannya.
"Ya tentu kamu dong sayang, anak papa dan mama kan cuma kamu satu-satunya jadi sudah pasti posisi itu kamu yang pegang," ucap mama Sapta meyakinkan putranya.
"Itu kan mama, aku gak tau dengan papa!" ucap Sapta sambil melirik pada papanya.
Sapta curiga pada gerak-gerik ayahnya selama ini, ia menduga bahwa papanya memiliki seorang putra dari rahim wanita lain.
Uhuk...uhuk...
(suara batuk)
Ucapan Sapta di ruangan itu, membuat papanya kaget sehingga tersedak saat menikmati makannya.
"Papa, pelan-pelan pa makannya, obat papa semalam di minum kan pa?" tanya mama Sapta pada suaminya yang masih terbatuk.
Mama Sapta kemudian memberikan suaminya segelas air minum.
"Ini pa, di minum dulu biar hilang batuknya," ucap sang mama pada suaminya.
Papa yang telah berhenti dari batuknya, kemudian berkata pada Sapta.
__ADS_1
"Maksud kamu apa?" tanya papa Sapta dengan heran.
"Gak ada maksud apa-apa kok, semoga papa selalu sehat sampai nanti aku bisa menjadi pengganti papa di perusahaan, setelah perusahaan aku pegang, papa mati pun aku gak akan tangisi" ucap Sapta sambil meninggalkan papa dan mamanya yang masih berada di ruang makan.
"Dasar anak tidak tau sopan santun, beraninya kamu berkata seperti itu pada papamu!" ucap papa Sapta sambil memegangi dadanya.
"Sudah pa, sudah! jangan pikirkan perkataan Sapta, nanti jantung papa kumat lagi," ucap sang istri khawatir pada keadaan suaminya.
"Anak itu benar-benar kurang ajar ma, papa sekolahkan dia di luar negeri bukan untuk menjadi anak pembangkang seperti ini ma!" ucap papa Sapta yang terlihat kesal.
"Iya pa, mungkin Sapta juga ga bermaksud berbicara seperti itu pada papa," ucap sang istri menenangkan sambil mengusap-ngusap dada suaminya.
"Haaah.... ya sudah papa mau istirahat dulu di kamar," ucap papa Sapta sambil menghela nafasnya dan berlalu meninggalkan istrinya.
Pukul 08.30
Sapta baru saja menyelesaikan mandinya setelah ia berolahraga pagi. Cuaca pagi yang cerah membuatnya ingin mengajak papanya yang semula berniat untuk bermain golf. Sambil bersiul dan bernyanyi, kakinya melangkah maju ke ruangan kerja papanya yang berada di depan ruang tamu, namun derap kakinya berhenti seketika saat mendengar percakapan papanya dengan seseorang disana.
Ia pun penasaran dan mengintip dari celah kaca yang berwarna bening.
"Papa bicara dengan siapa sih itu?" tanya Sapta yang penasaran karena orang tersebut membelakangi dirinya.
Rasa penasarannya yang tinggi membuat ia memutuskan untuk menguping pembicaraan papanya tersebut.
"Saya mau kamu cari dia secepatnya! saya gak mau salah pilih orang untuk memegang kuasa penuh atas perusahaan yang nantinya akan saya tinggalkan," ucap papanya kepada orang tersebut.
Sapta langsung tersentak saat mendengar pernyataan papanya itu, ia marah dan bingung kenapa papanya bisa berpikir demikian.
"Kenapa papa bicara seperti itu, bukankah tadi papa berencana untuk mewariskan perusahaan padaku?" tanya Sapta heran.
"Bukankah bapak akan memberikan perusahaan itu kepada pak Sapta?" tanya orang tersebut yang suaranya begitu familiar bagiku.
"Itu kan suaranya pak Mamun, supir pribadinya papa," gumamku dalam hati.
"Saya tidak akan memberikan perusahaan itu kepada Sapta, dia tidak pantas mendapatkan kepercayaan saya untuk memegang seluruh aset perusahaan," ucap papanya menjelaskan.
"Jadi siapa yang akan bapak tunjuk nantinya?" tanya pak Mamun pada papa Sapta.
"Kamu cari saja dulu anak itu, saat ini dia tinggal bersama kakak angkatnya, di daerah Fatmawati mereka tinggal," jelas papa Sapta dengan wajahnya yang terlihat cukup serius.
Sapta terkejut mendengar pernyataan papanya, yang ia tau daerah itu merupakan tempat tinggal Naya kekasih hatinya.
"Fatmawati? itu kan daerah rumah Naya!" ucap Sapta terlihat bingung.
"Baik pak, nanti saya kabari bapak lagi setelah saya menemukan anak ini," ucap pak Mamun dan bergegas pergi dari ruangan kerja papa.
Melihat pak Mamun yang telah selesai dengan obrolannya bersama sang papa, Sapta pun bersembunyi di balik tembok, hingga pak Mamun berlalu dan hilang dari pandangannya.
"Papa mau coba main-main ya denganku! silahkan saja pa, aku akan cari tahu apa yang papa lakukan saat ini bersama supir itu," ucap Sapta sambil tersenyum licik.
Sapta akhirnya membuntuti mobil yang digunakan supir pribadi papanya, dengan cepat ia mengejar dan mengikuti kemana mobil tersebut melaju.
"Pandangannya hanya tertuju pada mobil di depannya, hingga sampai pada suatu tempat yang sangat tidak asing baginya. Ya, sang supir itu berhenti tepat tidak jauh dari rumah kekasihnya.
"Lho, ini kan jalan ke rumah Naya! kenapa pak Mamun kesini?" Sapta semakin bingung dengan apa yang dilihatnya, ia pun terus memantau gerak-gerik pak Mamun saat itu.
To be Continue....
Ikuti terus kisahnya ya readers, dukung Author selalu agar bisa update setiap harinya 🤗😘
__ADS_1