
Aku dan Amel pun keluar dari mobil dan menghampiri kak Naya yang sedang memasang dan merapikan alas untuk duduk para tamu.
"Assalamualaikum." ucap salamku pada kak Naya.
"Waalaikumsalam, Alhamdulillah kamu pulang juga Yo, kakak khawatir kamu gak bisa pulang hari ini." ucap kakak dengan raut wajah gembira.
"Mana mungkin aku gak pulang kak, di hari penting seperti ini, tetapi aku mohon maaf ya kalau datang terlalu sore jadi gak sempat bantu kakak mempersiapkan semuanya." ucapku pada kak Naya.
"Gak perlu minta maaf seperti itu Yo!, kamu sudah mau usahakan untuk pulang hari ini aja, kakak sudah cukup senang kok." ucap kak Naya pada ku.
"Oia ini siapa yang kamu bawa? kok kamu gak kenalin sama kakak!, hmm.... pacar kamu ya?" tanya kak Naya sambil meledekku.
"Kenalin kak ini teman kantorku, namanya Amelia tapi kakak bisa panggil dia Amel." jelasku pada kakak.
Kakak pun mengangkat tangannya untuk bersalaman dengan Amel
"Naya, kakaknya Rio." ucap kakak sambil tersenyum pada Amel.
Begitu pula dengan Amel yang langsung menjabat tangan kakak
"Aku Amel kak, teman kantornya Rio". ucap Amel sambil menjabat tangan kak Naya.
"Amel itu teman kak!, dulu dia satu fakultasku denganku saat masih kuliah." jelasku pada kak Naya.
"Oh.. kakak pikir pacar kamu, ya sudah kita masuk yuk ke dalam, karena acaranya akan segera di mulai." ajak kakak pada aku dan Amel.
Terlihat ekspresi wajah Amel yang berbeda padaku saat aku katakan pada kak Naya bahwa hubungan kami hanya teman saja. Aku memang ingin menjaga perasaan Amel tapi aku juga tidak ingin kak Naya salah paham atas kedekatanku dengan Amel.
Akhirnya aku, kak Naya dan Amel bersiap-siap untuk acara syukuran yang akan di mulai ba'da isya (setelah isya).
"Apa yang perlu Rio bantu dan bisa kerjakan kak?" tanyaku pada kak Naya.
"Hmm.. kakak rasa sudah cukup kok Yo, kamu istirahat saja ya!, kalian pasti lelah setelah seharian bekerja kemudian langsung menuju kesini." ucap kak Naya padaku.
"Baik kalau begitu kak, aku bersiap dulu agar bisa mengikuti acaranya bersama yang lain." ucapku pada kak Naya.
Ya ku lihat alas duduk untuk tamu, serta suguhannya sudah selesai kak Naya siapkan. Bagiku sosok kak Naya adalah sosok wanita idaman pria, khususnya aku. Selain cantik dan menarik, kak Naya juga pintar dan mandiri. Itulah kenapa aku cukup jatuh hati padanya.
Tak berapa lama tamu undangan yang hadir pun sudah mengisi seluruh ruangan yang telah disiapkan. Dengan di pimpin doa oleh pak Ustadz, acara syukuran pun di mulai dengan khidmat.
Setelah kurang lebih 45 menit berjalan, acara syukuran pun selesai di gelar. Para tamu undangan mencicipi sedikit hidangan yang telah kakak siapkan.
__ADS_1
Saat itu tiba-tiba saja Amel mendekati ku dan berbisik.
"Yo, acara syukurannya kan sudah selesai, boleh aku menginap di rumah kamu?, karena gak mungkin kalau aku harus memaksakan pulang malam ini juga." tanya Amel padaku.
"Aku gak masalah kok kalau harus tidur di sofa atau lantai sekalipun, yang penting kamu izinin aku untuk menginap disini!" ucap Amel dengan nada setengah memaksa.
"Gimana ya Mel, aku bingung!" ucapku.
"Bukan apa-apa, aku khawatir tetanggaku yang lain berpikir yang tidak-tidak tentang kita kalau sampai tahu kamu menginap disini, apalagi tadi kita terlihat datang bersama." jelasku pada Amel.
"Ya tapi kan kita juga enggak ngelakuin apa-apa Yo!" ucap Amel padaku.
"Mereka mana tahu, kita enggak ngelakuin atau benar- ngelakuin seperti yang mereka pikirin."
"Tapi setidaknya kita bisa mencegah agar mereka tidak berpikiran buruk terhadap kita Mel." jelasku pada Amel.
Tiba-tiba saat itu kak Naya menghampiri aku dan Amel yang sedang membicarakan permasalahan ini.
"Ada apa Yo? kok kakak dengar kalian ribut-ribut begitu!1" tanya kak Naya pada aku dan Amel.
"Begini kak, Amel berencana untuk menginap disini malam ini, tetapi aku khawatir nanti tetangga yang lain berpikiran yang tidak-tidak pada kita, apalagi aku datang bersamaan dengan Amel sore ini." Jelasku pada kak Naya.
"Kalau nanti ada tetangga yang tanya tentang Amel, kakak akan bilang bahwa Amel adalah teman kakak jadi kalian tenang saja ya." Tambah kakak pada aku dan Amel.)
"Terima kasih Naya kak Naya, sudah izinkan aku menginap disini." ucap Amel sambil memeluk tubuh kak Naya saat itu.
"Iya sama-sama Mel." Sahut kakak pada Amel.
"Oh ya besok kalian libur bekerja kan?" tanya kakak.
"Iya kak besok libur." jawab aku dan Amel bersamaan.
ucap kakak sambil tersenyum pada aku dan Amel.
Saat kami tengah bercengkrama di teras depan tiba-tiba ada mobil yang parkir tepat di depan kami. Ya mobil milik Sapta yang ku kenali lewat nomor polisinya.
"Selamat malam semua, selamat malam Naya." sapa Sapta pada kami bertiga.
"Lho... kamu... !" ucap Amel sambil mengarahkan jari telunjuknya pada Sapta.
"Sedang apa kamu disini." tanya Amel pada Sapta.
__ADS_1
"Kamu sendiri sedang apa disini?"
"Aku kesini untuk hadir di acaranya Naya." jelas Sapta pada Amel.
"Kalian sudah saling kenal ya?" tanya kak Naya pada Amel dan Sapta.
"Iya kak, jadi Sapta itu...." ungkap Amel pada kak Naya.
Tiba-tiba Sapta memotong penjelasan Amel pada kak Naya.
"Jadi dulu aku pernah dekat dengan Amel beberapa tahun yang lalu, tapi akhirnya kami lost contact (hilang kontak) sampai sekarang, dan gak nyangka akhirnya bisa bertemu disini." jelas Sapta pada aku dan kak Naya.
"Ta... tapi.." ucap Amel dengan suara gagap.
Amel yang sikapnya sedikit aneh dan terlihat bingung membuatku berpikir bahwa ada sesuatu yang mereka sembunyikan padaku dan kak Naya.
"Iya Mel aku minta maaf ya karena ga berusaha untuk cari keberadaan kamu, tapi kebetulan lho kita bertemu disini." ucap Sapta pada Amel.
"Naya ini calon tunangan aku Mel, kita akan menikah segera setelah bertunangan." jelas Sapta pada Amel.
Mendengar penjelasan Sapta tadi aku langsung kaget, perasaanku hancur. Seolah tidak ada lagi sesuatu yang menjadi alasanku untuk tetap semangat pulang ke rumah.
"Ngomong apa sih kamu Sapta?, kita belum ada pembicaraan ini lagi kan!" ucap kakak kepada Sapta.
"Iya tapi kan kita memang mau tunangan kan,? gak masalah dong aku ceritain kabar rencana pertunangan kita ke mereka!" ucap Sapta.
"Sapta, aku belum kasih jawaban atas pertanyaan kamu malam itu jadi aku minta kamu tetap tahan ucapan kamu." jelas kak Naya pada Sapta.
Rasanya lega mendengar kak Naya mengatakan itu, bahwa kakak memang belum memberikan jawaban kepada Sapta, itu artinya aku masih memiliki harapan untuk kak Naya.
"Oke.. oke.. aku minta maaf, jangan cemberut begitu dong!" ucap Sapta sambil menggoda kak Naya.
"Ya sudah ayo kita masuk!" Ajak kak Naya pada kami bertiga.
"Acaranya sudah selesai, tapi kamu baru datang Sap.. !" ucap kak Naya pada Sapta.
"Iya Nay maafin aku ya, tadi aku harus antar mama dulu ke tempat arisannya makanya sampai sini jadi telat." jelas Sapta kepada kak Naya.
"Gak masalah kok, lagipula acaranya juga selesai." ucap kak Naya pada Sapta.
"Sebentar ya aku buatin kalian minum dulu!" sambung kak Naya kembali
__ADS_1