Kakakku Wanita Yang Ku Cintai

Kakakku Wanita Yang Ku Cintai
Episode 16. Saya minta maaf om


__ADS_3

Aku yang sangat gugup saat itu tiba-tiba menjatuhkan hiasan mobil yang ku letakan di dalam kaca bagian depan.


Pruk....


(suara hiasan mobil terjatuh)


Kami berdua yang kaget dengan suara itu kemudian segera beranjak dari posisi masing-masing.


"Maafin aku Mel!" ucapku pada Amel yang masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.


Tanpa menunggu tanggapan Amel, aku segera masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamarku.


"Apa yang mau Amel lakukan ya tadi? apa dia benar-benar mau menciumku?" tanyaku dalam hati dengan perasaan bingung.


Apa semua wanita seagresif Amel ya?" ucapku sambil menggaruk kepala yang tidak sama sekali terasa gatal.


Tok.... tok... tok


(suara pintu kamarku di ketuk)


"Siapa?" tanyaku dari dalam kamar.


"Aku Amel," sahut Amel dari balik pintu.


"Ada apa Mel?" tanyaku singkat pada Amel.


"Aku mau pamit pulang," sahut Amel kembali dari balik pintu.


Krek.....


(suara pintu saat ku buka)


"Kamu yakin mau pulang selarut ini Mel?" tanyaku pada Amel.


"Iya, aku gak enak kalau menginap disini terlalu lama, lagi pula aku khawatir mama dan papa mencari ku karena aku tidak ada di rumah dan tidak mengabari keberadaan ku pada mereka," jelas Amel padaku.


"Ya sudah, aku antar kamu ya!" ucapku menawari Amel untuk mengantarkannya pulang.


Amel pun menganggukan kepalanya padaku, lalu dia kemudian memasuki kamar kak Naya. Terdengar suara kak Naya yang sedang meminta Amel untuk menginap semalam lagi di rumah kami.


"Kamu yakin mau pulang? semalam lagi ya temani kakak!" pinta kak Naya pada Amel saat itu..


"Aku juga masih ingin berada disini kak, tetapi aku khawatir mama dan papa bingung mencari keberadaanku," jelas Amel pada kak Naya.


"Lain kali aku kesini lagi kak, aku janji," ucap Amel menambahkan.


"Yah.... ya sudah kalau memang begitu, tapi kamu di antar Rio kan?" tanya kak Naya pada Amel.


"Iya kak, Rio yang antar aku pulang," jawab Amel pada kak Naya.


Amel pun keluar dari kamar kak Naya, disusul kak Naya yang mengikutinya dari belakang.


"Kamu sudah siap Yo?" tanya Amel padaku.


Aku pun menganggukan kepalaku, mengisyaratkan bahwa aku sudah siap mengantarnya pulang.


"Kak, aku antar Amel dulu," pamitku pada kak Naya malam itu.


"Hati-hati Yo di perjalanannya!" pesan kak Naya padaku.


Aku dan Amel kemudian bergegas ke halaman depan rumah dan masuk ke dalam mobil. Setelah perjalanan mulai memasuki jalan raya, aku tersadar bahwa Amel tidak menggunakan sit belt (sabuk pengaman).

__ADS_1


Segera ku hentikan laju kendaraanku dan menepi ke pinggir. Lalu dengan inisiatifku, ku tarik sit belt dari kursi jok Amel duduk dan ku kenakan pada Amel. Amel pun tersenyum melihat ke arah ku.


"Kamu harus pakai ini biar aku gak di tilang sama pak polisi!" ucapku pada Amel.


Seketika wajahnya yang terlihat tersenyum berubah masam dan kesal.


"Hhhh.... aku pikir kamu pakaikan aku sit belt ini karena kamu khawatir sama aku, ternyata cuma takut karena di tilang polisi," ucap Amel menggerutu.


"Ya gak salah dong, aku gak mau di tilang cuma gara-gara kamu lupa pakai sit belt," ucapku menimpali pernyataan Amel.


"Kadang aku bingung, bisa-bisanya aku jatuh cinta sama orang seperti kamu yang dingin dan beku, susah untuk mencair!" ucap Amel dengan nada kesal.


"Aku juga gak minta untuk dicintai wanita seagresif kamu, yang tiba-tiba minta dicium di dalam mobil!" sahutku menimpali ucapan Amel.


"Kamu ngeselin banget ya, ga ada romantis-romantisnya sama cewe," ucap Amel sambil mencubit salah satu pahaku.


"Aw... aw... sakit tahu!" mau kamu lepasin cubitannya atau aku turunin kamu di sini?" tanyaku mengancam Amel.


Mendengar ancamanku, Amel kemudian melepaskan cubitannya padaku.


"Ishh... benar-benar gak habis pikir, lama-lama aku bisa gila menghadapi sikap kamu," ucap Amel yang terlihat semakin kesal.


Sambil melajukan mobilku, sesekali ku melirik ke arah Amel yang masih terlihat kesal.


"Kamu sebenarnya cantik dan menarik ya Mel, kamu juga wanita yang baik," ucapku dalam hati.


"Kalau kamu mau, kamu bisa aja bongkar tentang masa lalu Sapta di depan kak Naya, tapi kamu gak lakuin itu.


"Kamu lebih memilih memikirkan masa depan, dibanding terus larut dalam masa lalu kelammu itu," ucapku dalam hati sambil sesekali melihat ke arah Amel.


"Setidaknya itu menjaga perasaan kak Naya saat ini, terima kasih ya Mel," tambahku dalam hati.


"Gimana gak seneng, aku berasa lagi liat daisy duck (tokoh pemeran donal bebek) saat kamu manyun kaya gitu," ucapku meledek Amel.


"Kamu gak perlu ngeledek aku terus, cepat turunin aku di depan sana!" ucap Amel padaku.


"Owh... sudah sampai ya?" tanyaku dengan terkejut.


"Kamu benar-benar menikmati pembulyan kamu ya selama di perjalanan tadi, sampai-sampai perjalanan jadi terasa singkat," ucap Amel padaku sambil bergegas turun dari mobil.


"Ya, bisa di bilang seperti itu," sahutku menimpali Amel.


Amel yang sudah turun, kemudian mengetuk pintu rumahnya.


Tok... tok... tok


(suara pintu di ketuk)


"Bi... bi... bi Asih, buka pintunya bi!" panggil Amel kepada asisten rumah tangganya.


Amel yang sudah beberapa kali mengetuk pintu, namun tidak juga ada jawaban. Lalu Amel menekan bel yang terdapat di samping pintu.


"Bi Asih kemana sih," tanya Amel sambil menekan bel di samping pintu.


Tidak lama kemudian, terbukalah pintu itu dan kami berdua pun masuk.


"Ko lama banget bi buka pintunya?" tanya Amel kepada bi Asih (asisten rumah tangga).


"Maaf non, bibi lagi siapin makan malam untuk bapak dan ibu, jadi bibi gak terlalu dengar non ketuk-ketuk pintu," jawab bi Asih pada Amel.


"Ada mama sama papa bi? dari kapan mereka pulang? nanyain aku gak?" tanya Amel dengan memberondong pada bi Asih.

__ADS_1


"Ibu sama bapak pulang dari kemarin non, ibu sama bapak juga sempat menanyakan non Amel tapi bibi jawab bibi gak tau non ada dimana," jawab bi Asih pada Amel.


"Aduh.... berarti mama sama papa tau aku gak pulang semalam," ucap Amel dengan nada cemas.


"Aku harus jawab apa ya kalau mereka tanya nanti," ucap Amel sambil menggigit-gigit jemarinya.


"Kamu tenang aja, nanti aku yang jelasin ke mereka kalau semalam kamu sama aku," ucapku menenangkan perasaan Amel yang sedang cemas.


"Enggak... enggak, jangan itu Yo! aku gak mau mama sama papa berpikiran buruk tentang kamu," ucap Amel menimpali perkataanku.


"Dalam situasi mendesak seperti ini saja, dia masih memikirkan dan mengkhawatirkan aku," gumamku dalam hati.


"Kamu gak perlu khawatir, aku akan bicara baik-baik pada mereka," jelasku pada Amel.


"Kamu yakin bisa mengatasi ini Yo?" tanya Amel dengan penasaran.


"Semoga saja bisa," jawabku pada Amel yang masih dengan kecemasan dan kekhawatirannya.


"Siapa bi yang datang?" terdengar tanya dari seorang wanita di balik ruangan.


"Non Amel sudah pulang bu," sahut bi Asih pada wanita itu.


"Pulang sama siapa dia bi? suruh dia kesini menemui saya dan papanya!" ucap wanita tersebut pada bi Asih.


"Baik bu," sahut bi Asih kepada wanita yang di panggilnya ibu.


"Non, ibu sama bapak minta non menemuinya di ruang makan!" ucap bi Asih pada Amel.


"Aduh Yo, gimana ini? aku takut!" ucap Amel yang terlihat semakin cemas.


"Sudah... ayo kita temui orang tua kamu," ucapku sambil memegang dan menarik tangan Amel saat itu.


Kakiku berjalan menyusuri ruang yang di maksud bi Asih bersama dengan Amel. Terlihat sepasang suami istri yang sedang menyantap makan malamnya di meja makan. Ya, mereka adalah orang tua Amel yang sedang makan malam.


"Selamat malam om, tante," ucap salamku kepada mereka.


Tanpa memperdulikan dan menjawab salam dariku, mereka tetap melanjutkan santapannya. Amel pun terlihat takut dan gemetar saat ku pegangi tangannya.


"Sebelumnya saya mohon maaf kepada om dan tante, karena membawa Amel semalaman dan tidak pulang ke rumah," jelasku pada orang tua Amel.


"Perkenalkan om tante, saya adalah rekan kerja Amel di kantor! hari kemarin saya mengajak Amel untuk menghadiri acara syukuran almarhum kedua orang tua saya, kebetulan hari sudah larut jadi saya memintanya untuk menginap dan bermalam bersama kakak perempuan saya di rumah," jelasku panjang lebar pada kedua orang tua Amel.


Kedua orang tua Amel yang tidak menghiraukan penjelasan yang aku berikan, masih menikmati santapannya tersebut.


"Saya mohon maaf kepada om dan tante karena membawa Amel bermalam sehingga membuat om dan tante khawatir dengan keberadaan dan keadaannya.


"Saya juga memohon maaf tidak segera mengabari kepada om dan tante tentang keberadaan Amel semalam," ucapku memohon maaf pada kedua orang tua Amel.


"Saya bersedia menerima segala konsekuensinya atas sikap dan kesalahan saya pada om dan tante," ucapku menambahkan.


Amel yang terkejut dengan ucapanku tersebut, langsung menekan jari tanganku dan menggelengkan kepalanya padaku. Ya, ia tak setuju dengan perkataan yang baru saja aku katakan. Dengan perasaan yang juga cemas, aku berusaha menenangkan Amel dengan mengusap tangannya.


Tiba-tiba papa Amel yang sedang menyantap makanannya terbangun dari duduknya dan menghampiriku dengan wajah kesal dan amarah yang begitu besar.


*****


Kira-kira apa yang dilakukan papa Amel ya terhadap Rio saat sedang emosi seperti itu?


Ikuti terus kelanjutan kisahnya ya readers 😊


Happy reading 😘😉

__ADS_1


__ADS_2