
Melihat raut wajah yang ditunjukan, terlihat bahwa papa Amel sangat marah dan kesal. Hati dan pikiranku menjadi tak karuan, aku sangat khawatir papanya tidak dapat mengontrol emosinya terhadapku.
Ku tundukan pandanganku dihadapannya, ku tunjukan bahwa aku menghormatinya dan siap bertanggung jawab atas ketiadaan Amel malam kemarin di rumahnya. Tiba-tiba saja papa Amel berdiri di hadapanku.
Kumisnya yang tebal dan hitam serta perawakannya yang tinggi dan besar, membuat sosoknya terlihat menakutkan bagiku.
"Hei kamu.... !" panggil papa Amel padaku.
"Iya om"! sahutku pada papa Amel dengan nada sedikit gemetar.
"Sudah berapa lama kamu kenal dengan anak saya?" tanya papa Amel padaku.
"Semenjak kuliah om, dulu kami satu fakultas yang sama," jawabku padanya.
"Maksud saya sudah berapa lama kalian menjalin hubungan ini?" tanya papa Amel kembali.
"Pa... apa-apaan sih, dia ini teman kantorku!" jawab Amel menanggapi pertanyaan orang tuanya padaku.
"Diam kamu! papa bukan tanya sama kamu!" ucap papanya kepada Amel.
Amel pun kemudian menunduk setelah mendengar ucapan papanya tersebut. Mama Amel pun terlihat hanya terdiam memperhatikan obrolan kami malam itu.
"Saya kenal dengan Amel dari kuliah dulu om, tetapi saya baru benar-benar mengenalnya kurang lebih 2 minggu ini," jelasku pada papa Amel.
"Apa yang kalian berdua lakukan saat bermalam bersama kemarin?" tanya papa Amel kembali padaku.
Aku terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan papa Amel saat itu. Aku hanya bisa menghela nafas untuk sedikit menahan emosiku saat itu.
"Papa, cukup pertanyaan papa! aku dan Rio hanya berteman saja, jadi mana mungkin kami melakukan hal tidak pantas itu," ucap Amel menanggapi pertanyaan papanya.
"Amel, masuk kamar sana! papa tidak butuh penjelasan kamu," ucap papa Amel dengan suara keras.
Mama Amel pun mencoba menenangkan Amel dengan mengusap lengan Amel, namun Amel berlalu begitu saja sambil menangis dan pergi masuk ke kamarnya.
"Siapa namamu tadi?" tanya papa Amel padaku.
"Saya Rio om," ucapku padanya.
__ADS_1
"Selama ini Amel tidak pernah pergi bermalam di manapun apalagi dengan seorang pria, jadi wajar saja saya marah dan curiga seperti ini," jelas papa Amel kepadaku.
"Iya om, saya mengerti kekhawatiran om dan tante, saya minta maaf atas itu semua," ucapku pada kedua orang tua Amel.
"Saya yakin kamu teman dan pria baik-baik untuk Amel, saya harap kamu tidak mengecewakan kepercayaan kami kepada mu," ucap papa Amel sambil menepuk bahuku.
"Amel adalah putri kami satu-satunya, dia segalanya bagi kami dan kami berdua tidak ingin lagi mendengar hal buruk terjadi padanya," tambah papa Amel menjelaskan padaku.
"Iya om, saya paham, mungkin suatu saat nanti ketika saya menjadi orang tua pun akan melakukan hal yang sama seperti yang om lakukan saat ini," ucapku pada papa Amel.
"Terima kasih ya nak Rio, ibu merasa tenang sekali karena Amel memiliki teman yang baik seperti kamu," ucap mama Amel padaku.
"Iya tante, saya akan berusaha menjadi teman yang baik untuk Amel," ucapku di depan kedua orang tua Amel.
"Apa benar hubungan kalian selama ini hanya teman saja?" tanya mama Amel padaku dengan menunjukan wajah penasarannya.
"Iya tante, untuk saat ini kami masih berteman saja," jelasku pada mama Amel saat itu.
"Yahh.... sayang sekali ya, padahal tante berharap hubungan kalian lebih dari sekedar teman," ucap mama Amel dengan wajah penuh harapnya.
"Hustt... kita gak perlu ikut campur urusan mereka ma! biar mereka yang menentukan seperti apa jalan yang akan mereka pilih, karena mereka yang lebih tau seperti apa kriteria pasangannya nanti," ucap papa Amel kepada istrinya itu.
Aku pun menganggukan kepalaku saat mendengar perkataan papa Amel, ya aku setuju dengan prinsip itu.
"Iya sih, papa benar! kita sebagai orang tua hanya mengarahkan yang terbaik untuk anak kita, selebihnya biar mereka yang menentukan," sahut mama Amel menimpali perkataan suaminya.
"Ya sudah, kamu boleh pulang!" ucap papa Amel padaku.
"Lho, kok di suruh pulang sih pa? biar dia duduk dan beristirahat dulu disini!" ucap mama Amel sambil menarik lenganku untuk duduk di sofa.
"Terima kasih tante, lain kali saya akan berkunjung lagi kesini," ucapku pada mama Amel yang saat itu masih memegangi lenganku.
"Biarkan dia pulang ma, kalau dia mengantuk saat berkendara karena terlalu lama di sini apa mama mau tanggung jawab?" jelas papa Amel kepada istrinya.
"Ya sudah kalau begitu, sering-sering ya nak main kesini!" ucap mama Amel sambil melepaskan genggamannya pada tanganku.
"Iya tante, nanti saya akan sering main kesini," ucapku menimpali perkataan mama Amel.
__ADS_1
"Sudahlah ma, kenapa jadi mama yang ngebet begitu!" ucap papa Amel yang melihat istrinya seakan tidak rela aku berpamitan untuk pulang.
"Buka begitu pa, kapan lagi kita punya calon menantu sebaik dan setampan Rio ini!" ucap mama Amel sambil tersenyum ke arahku.
"Mama lupa ya, dulu juga papa setampan dan sebaik Rio kan, sampai-sampai almarhumah ibu ingin cepat-cepat menjadikan aku menantunya itu," jelas papa Amel mengungkapkan masa lalunya.
"Masa sih? perasaan papa ga setampan Rio deh, lagi pula Rio juga tidak berkumis tebal seperti papa sekarang ini," ledek mama Amel pada suaminya.
"Mama ini suka gak mau mengakui ketampanan papa, buktinya dari sekian banyak pria yang naksir mama, hanya papa yang mama pilih, iya kan?" ucap papa Amel kembali.
"Ihh... apa sih papa, sudah-sudah! kasihan kan nak Rio jadi terlambat pulang karena harus mendengarkan cerita papa itu," ucap mama Amel yang meminta suaminya untuk berhenti membicarakan masa lalunya.
"Nak Rio, pulangnya hati-hati ya! kapan-kapan main kesini lagi ya," ucap mama Amel padaku.
"Iya tante, saya pasti akan main kesini lagi," ucapku sambil tersenyum ke arah mama Amel.
"Baik kalau begitu, saya pamit ya om, tante!" pamitku kepada kedua orang tua Amel.
"Oh ya tante, tolong sampaikan maaf saya kepada Amel, saya tidak sempat berpamitan kepadanya," ucapku pada mama Amel.
"Iya, nanti tante sampaikan ya sama Amel," sahut mama Amel padaku.
"Hati-hati di jalannya ya nak," ucap mama Amel sambil melambaikan tangannya ke arahku.
"Terima kasih tante," Sahutku dari balik kaca mobil yang belum ku tutup sepenuhnya.
Aku pun segera menuju mobil untuk kembali pulang. Ketika di tengah perjalanan tiba-tiba saja ada sebuah pesan whatsapp masuk, aku berusaha membuka pesan tersebut, namun ponselku terjatuh dari genggamanku saat aku akan membukanya.
Aku berusaha sebisa mungkin untuk mengambilnya, tetapi tiba-tiba saja sebuah mobil truk pengangkut barang berat menabrak mobil yang ku kendarai.
Aku tak ingat lagi kejadian setelah itu, semua terjadi begitu cepat. Aku hanya tahu bahwa kakiku terjepit dan seluruh tubuhku terasa begitu sakit sekali.
**********
Penasaran apa yang terjadi dengan Rio setelah kecelakaan itu? Simak terus ya kisahnya, semoga readers bisa menikmati seluruh episode yang ada.
❤❤
__ADS_1