
"Cepat kasih tau aku pa! siapa Rio itu?" tanya Sapta pada papanya yang berbicara terbata-bata.
"Dia itu anak kandung papa dari pernikahan papa sebelumnya, dia adalah kakak tiri mu!" ungkap papanya kepada Sapta.
"Gak mungkin... ini gak mungkin pa, papa pasti salah orang, ga mungkin Rio itu anak papa!" ucap Sapta yang tidak meyakini pernyataan papanya.
"Papa yakin betul kalau dia memang benar-benar anak papa, papa ingat saat menyimpannya di rumah itu," ungkap papa Sapta menceritakan kejadian masa lalunya.
"Tapi orang itu juga belum tentu Rio kan pa!" ucap Sapta yang masih terus menyangkal dan tidak mempercayai perkataan papanya.
"Kamu memang tidak mengenal anak itu, tapi papa kenal dengan baik siapa dia, papa tidak mungkin salah orang! papa yakin Rio adalah anak papa, yang juga kakak tiri mu," ucap papa Sapta meyakinkan putranya itu.
"Jadi maksud papa, perusahaan itu akan papa berikan pada Rio, begitu?" tanya Sapta dengan penasaran.
"Karena dia anak kandung tertua papa, papa akan percayakan semua ini padanya," ucap papa Sapta tentang rencananya untuk perusahaan.
"Aku ngerti pa, silahkan papa berikan semua aset dan perusahaan pada Rio! tapi jangan salahkan aku, kalau suatu saat papa akan menyesali semua keputusan papa ini," ucap Sapta dengan nada mengancam yang kemudian pergi meninggalkan papanya.
"Sapta... tunggu papa selesai bicara! Sapta..." panggil papa Sapta pada putranya yang tengah berjalan keluar dari kamarnya.
"Anak itu, sifatnya keras dan tidak mau kalah! sangat berbeda dengan putra yang ku campakan dulu," ucap papanya berlinang air mata.
"Maafkan papa nak, karena papa kamu harus menjalani beban hidup yang cukup berat dan hidup tanpa kasih sayang kedua orang tua," ucap papa Sapta seolah menyesali keputusannya masa silam.
Sesaat setelah berdebat dengan papanya terkait pemindahan hak kuasa perusahaan dan seluruh asetnya, Sapta masuk menuju kamarnya, ia berbaring melepaskan penatnya.
"lagi-lagi Rio, Rio... Rio terus! semua hanya tentang Rio, kenapa semua orang selalu saja berpihak padanya," ucap Sapta menggerutu.
"Gue benar-benar gak percaya sama pengakuan papa! mana mungkin gue ada ikatan saudara dengan laki-laki miskin itu, terlebih papa akan mempercayakan hak kuasa perusahaan padanya,"
"Tapi buat apa gue khawatir masalah itu, toh dia juga udah gue singkirkan!" ucap Sapta sambil tertawa terkekeh.
Pemikiran Sapta tentang tewasnya Rio membuat ia tenang menjalani Kehidupannya seperti biasa hingga 3 minggu berlalu semenjak Rio tidak kembali ke rumahnya, ia sesekali datang ke kantornya hanya untuk mendapat pengakuan dari karyawannya saja. Berbeda halnya dengan Naya dan Amel yang masih terus mencari keberadaan Rio.
Naya dan Amel tak lelah menyempatkan datang ke kantor polisi, walaupun mereka sudah seharian bergelut dengan pekerjaan masing-masing, namun jawaban dari pihak kepolisian masih selalu sama.
Hingga pada suatu waktu, Naya mendapatkan telpon dari pihak kepolisian.
"Selamat siang bu, kami pihak kepolisian ingin memberi kabar kepada ibu! apakah ibu bisa datang ke kantor siang ini?" tanya polisi dalam sambungan telponnya.
"Siang pak, iya pak tentu saya bisa!" ucap Naya menyanggupi untuk mendatangi kantor polisi saat itu.
Kabar mengejutkan itu tentu membuat Naya senang dan juga takut, ia akhirnya menelpon Amel untuk meminta menemaninya datang ke kantor polisi.
__ADS_1
"Mel, kamu bisa temani kakak gak hari ini? polisi meminta kakak untuk datang, mereka bilang ada informasi tentang Rio," ucap Naya pada Amel dalam telponnya.
Amel yang mendengar informasi itu dari Naya tentu sangat terkejut. Bagaimana tidak mereka selalu menunggu kabar itu setelah 3 minggu lamanya. Amel pun memastikan kembali apa yang baru saja di dengarnya dari Naya.
"Kak Naya serius? aku gak salah dengar kan kak?" tanya Amel memastikan.
"Iya Mel kakak serius, kapan kamu bisa ketemu kakak?" tanya Naya.
"Saat ini aku masih di kantor kak, pokoknya sepulang kantor aku akan langsung kesana ya kak," ucap Amel yang bersedia untuk menemani Naya.
"Ya sudah Mel, kakak tunggu di rumah ya!" ucap Naya sebelum mengakhiri panggilan telponnya dengan Amel.
Tiba-tiba Naya teringat sesuatu, bahwa ia belum memberikan kabar mengejutkan itu pada Sapta. Ia kembali meraih ponselnya untuk menghubungi Sapta.
"Halo Sap, kamu sibuk gak hari ini? kalau gak sibuk, bisa kan kamu kesini?" tanya Naya.
"Halo sayang... enggak kok, untuk kamu gak pernah ada kata sibuk! ada apa memangnya sayang?" ucap Sapta bertanya pada Naya.
"Syukurlah kalau begitu, aku dapat telepon dari kepolisian, mereka bilang menemukan informasi tentang Rio," jelas Naya pada Rio.
"Mereka menemukan informasi tentang Rio?" tanya Sapta heran dan terdiam sesaat.
Dalam hati Sapta, ia tentu tidak senang mendengar kabar itu. Ia berharap, yang akan dikatakan kepolisian bukanlah sesuatu yang akan mengancam dirinya.
"Tentu sayang, aku akan segera kesana ya," ucap Sapta menyanggupi.
Setelah percakapan selesai, Naya pun mengakhiri panggilan teleponnya dengan Sapta. Ia tak sabar ingin segera mendengar informasi yang ditemukan pihak kepolisian, namun hatinya berharap besar bahwa yang akan di sampaikan padanya merupakan kabar baik. Hingga pada waktu yang di tunggu, Sapta tiba di rumahnya.
"Halo sayangku, gimana kabar kamu hari ini?" tanya Sapta sambil mencium kening Naya.
"Baik," sahut Naya singkat dan berlalu dari Sapta.
Tak menunggu lama, Amel pun tiba di rumah Naya. Ekspresi yang terlihat di wajahnya, ia begitu bersemangat mendengar kabar mengejutkan itu.
"Ayo kak kita berangkat sekarang!" ajak Amel yang baru saja tiba di rumah Naya.
"Ayo Sap kita berangkat, aku gak sabar untuk segera sampai di sana!" ucap Naya mengajak Sapta untuk bergegas ke kantor polisi.
Sepanjang perjalanan ke kantor polisi, mereka sibuk dengan perasaan masing-masing. Naya yang mengkhawatirkan keadaan Rio dan takut kehilangannya, Amel yang berharap kekasih hatinya itu baik-baik saja, serta Sapta yang justru tidak ingin Rio di temukan dan mengancam kehidupannya.
Perjalanan di tempuh kurang lebih 20 menit, mereka tidak saling berbicara sedikit pun di dalam mobil hingga akhirnya sampai pada tempat yang di tuju.
Naya dan Amel pun bergegas turun, di susul dengan Sapta di belakangnya.
__ADS_1
"Selamat sore pak," sapa Naya kepada polisi yang sedang berjaga.
"Saya ingin bertemu dengan pak Dimas, apa beliau ada pak?" tanya Naya pada polisi tersebut.
"Oh briptu Dimas, silahkan ikuti saya bu," ucap salah seorang polisi yang meminta Naya mengikutinya dari belakang.
Sampai pada suatu ruangan, polisi tersebut berhenti.
"Silahkan bu, beliau di dalam," ucap sang polisi menunjuk ke arah ruangan di depannya.
"Baik pak, terima kasih," ucap Naya pada polisi yang mengantarnya.
Tok... tok... tok...
(suara pintu di ketuk)
"Silahkan masuk," sahut suara dari dalam ruangan.
Naya, Amel dan Sapta pun masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Bu Naya ya?" tanya orang tersebut, yang diduga merupakan briptu Dimas.
"Silahkan duduk pak, bu," ucap briptu Dimas menyuruh mereka duduk.
"Begini bu, setelah kami melakukan penyelidikan dan pencarian, kami menemukan sebuah kerangka mobil yang hampir habis terbakar di dasar jurang," ungkap briptu Dimas pada Naya yang duduk dihadapannya.
"Kecurigaan kami adalah kecelakaan tersebut di lakukan sengaja oleh seseorang yang ingin mencelakan korban," ucap briptu Dimas menambahkan.
"Jadi ada seseorang yang tega mencelakakan adik saya pak?" tanya Naya heran, air matanya mulai tak terbendung.
Amel yang mendengar hal itu pun terkejut, ia tak menyangka dengan apa yang di dengarnya. Sementara Sapta hanya menunduk, hatinya tak karuan. Ia takut semuanya akan terbongkar.
"Lalu sekarang dimana dia pak? dimana adik saya?" tanya Naya dengan setengah berteriak.
Amel yang berada disebelah Naya, berusaha menenangkan Naya saat itu. Ia mengusap-ngusap Naya yang tengah bersedih atas kenyataan yang di dengarnya.
"Ibu tenang dulu bu, saat ini kami masih mencari korban," ucap briptu Dimas pada Naya.
"Apa bapak bilang? mencari? jadi maksud bapak adik saya belum di temukan, begitu?" tanya Naya dengan setengah amarahnya.
To be continue.....
Mohon kritik dan sarannya ya readers, agar karya ini bisa lebih baik lagi. Terima kasih 😘😘
__ADS_1