
"Ya sudah, aku mau tidur dulu." pamitku pada kak Naya dan Amel.
"Iya cepat tidur ya, jangan menguping lagi!" ucap kak Naya padaku.
"Iya kakakku sayang, aku janji." sahutku pada kak Naya.
Akupun segera masuk ke kamar dan bergegas untuk tidur. Hari ku yang melelahkan membuat tidurku nyenyak malam itu.
"Yo... Rio.... ayo bangun, ini sudah subuh!" panggil kak Naya padaku.
"Iya kak, sebentar ya 5 menit lagi." sahutku dari kamar.
"Gak ada alasan 5 menit lagi, ayo cepat subuh dulu!" ucap kak Naya.
Akhirnya aku bergegas bangun dan menuju toilet. Saat keluar dari toilet, ku lihat kak Naya sudah rapi dengan setelan jeansnya dan membawa 1 buah helm.
"Lho.. kakak mau kemana sepagi ini ?" tanyaku dengan heran.
"Kakak mau pergi cari sarapan dulu untuk kita, karena kakak gak sempat buat sarapan pagi ini." jelas kak Naya padaku.
"Aku antar ya kak, setelah aku menyelesaikan subuhku." ucapku pada kak Naya.
"Gak perlu, biar kakak bawa motor saja." tolak kak Naya padaku.
"Ya sudah kalau begitu, hati-hati kak di jalannya!" ucapku pada kak Naya.
Kak Naya pun langsung pergi untuk membeli sarapan kami pagi ini.
"Kak Naya sudah pergi ya?" tanya Amel padaku.
"Sudah Mel, kakak pergi untuk beli sarapan buat kita." jawabku pada Amel.
"Yo... aku mau cerita sesuatu sama kamu, ini tentang pria yang sudah merusak dan merenggut masa depan ku itu." ucap Amel padaku.
"Kenapa Mel, kamu sudah bertemu orang itu? atau dia sudah menemui kamu dan janji mau bertanggung jawab sama kamu?" tanyaku dengan penasaran pada Amel.
"Iya Yo, aku sudah bertemu dengan pria tidak bertanggung jawab itu." jelas Amel padaku.
"Terus apa yang dia katakan? lalu bagaimana jawaban kamu Mel?" tanya ku tak henti-henti pada Amel kala itu.
__ADS_1
"Dia sama sekali gak bilang apa-apa Yo." jawab Amel dengan raut wajah kecewa.
"Lho, kok bisa begitu? kamu ketemu orang itu dimana sih Mel dan kapan kamu ketemunya?" lagi-lagi pertanyaanku memberondong Amel kala itu.
"Dia benar-benar pria tidak bertanggung jawab dan tidak tahu malu Yo." ucap Amel sambil menangis dan menyandarkan kepalanya di pundakku.
"Dia malah mengatakan bahwa hubungannya denganku hanya sebatas kenal saja, dia juga mengatakan bahwa tidak lama lagi akan menikah dengan wanita pilihannya." ungkap Amel dengan tangisnya yang pecah.
Aku yang mulai curiga dan bingung dengan cerita Amel tentang pria itu, langsung memancing pertanyaan untuk menjawab teka-teki siapakah pria dibalik kejadian menyakitkan yang menimpa Amel saat itu.
"Kamu tenang dulu ya Mel!"
"Sekarang kamu jawab pertanyaan aku! kapan kamu ketemu pria pengecut dan tidak bertanggung jawab itu?" tanyaku yang semakin penasaran menunggu jawaban Amel.
"Aku bertemu dia semalam Yo." ucap Amel.
"Tunggu... tunggu!, kamu kan semalaman di rumah ini bersama aku dan kak Naya."
"Aku tahu betul kamu tidak pergi keluar tadi malam." ucapku pada Amel dengan pikiran yang tak karuan.
"Jangan bilang pria bejat itu adalah pria yang juga mendekati kak Naya saat ini!" ucapku pada Amel yang masih mengusap air matanya yang jatuh.
"Mel, kamu adalah teman dan salah satu orang terdekat di hidupku, aku mau kamu jujur dan cerita sama aku, siapa orang yang kamu maksud itu?" tanyaku pada Amel.
Amel masih saja memilih diam sambil menundukan kepalanya.
"Oke, kalau memang aku bukan siapa-siapa buat kamu, kamu gak perlu kasih tau siapa pria itu!" ucapku yang sudah mulai kesal dengan sikap Amel.
"Kamu gak cerita pun, itu gak akan merugikan aku!"
"Tapi sebaliknya, kalau kamu mau jujur dan ungkap siapa pria itu, semoga aku bisa bantu cari pria itu dan meminta dia untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya sama kamu." jelasku pada Amel.
"Baiklah, aku akan beri tahu kamu siapa pria itu." ucap Amel padaku
"Pria itu menemuiku semalam di rumah ini dan dia tidak lain adalah teman pria kak Naya." ungkap Amel dengan wajah setengah takut.
"Jadi pria itu adalah Sapta?" tanyaku terkejut.
"Iya Yo, Sapta adalah orang itu yang juga calon tunangan kak Naya." jelas Amel padaku.
__ADS_1
"Kenapa kamu baru bilang sekarang Mel, kalau pria bejat itu bernama Sapta!" ucapku dengan marah pada Amel.
"Aku pikir akan percuma memberitahu dan menceritakannya sama kamu, kamu gak akan kenal siapa dia." jelas Amel padaku.
"Tapi setelah bertemu semalam aku sangat terkejut, tidak menyangka akan melihatnya lagi setelah bertahun-tahun menghilang."
"Parahnya lagi dia berhubungan dan dekat dengan orang yang ku kenal, ya dia akan menjadi iparmu." jelas Amel padaku.
"Engga... engga... itu ga boleh terjadi, aku ga akan biarkan Sapta dekati kak Naya dan rusak hidupnya kak Naya seperti dia merusak hidup kamu, aku gak akan biarkan itu terjadi sama kak Naya." jelasku pada Amel.
"Aku memang kurang suka dengan sikap dan pribadi Sapta, tetapi aku benar-benar tidak menyangka kalau Sapta adalah pria bejat itu." ucapku pada Amel.
"Iya Yo, aku minta maaf baru bisa cerita ini semua sama kamu."
"Aku takut Sapta marah saat tahu bahwa aku menceritakan semua ini sama kamu."
"Aku juga gak bisa bayangin saat Sapta tahu bahwa kak Naya juga mengetahui semua ini dariku." ungkap Amel dengan kekhawatirannya.
"Kamu tenang aja, aku gak akan bongkar masalah ini sama siapapun." janjiku pada Amel.
"Lalu bagaimana kamu akan menjaga dan memberitahu kak Naya tentang siapa Sapta sebenarnya?" tanya Amel padaku.
"Aku gak akan ceritain ini sama kak Naya, aku khawatir ini akan membahayakan kamu dan kak Naya."
"Aku akan mencari cara lain untuk membuat kak Naya menjauhi Sapta dan baru akan menceritakan semua ini pada kak Naya di saat yang sudah tepat." jelasku pada Amel.
Saat aku dan Amel sedang membicarakan masalah itu, tiba-tiba kak Naya pulang membawa sarapan yang di beli olehnya.
"Rio.... Amel... kakak pulang." panggil kak Naya dari arah luar.
(Aku dan Amel yang sedang mengobrol di ruang tamu, langsung bergegas menghampiri kak Naya yang baru saja pulang membeli sarapan pagi)
"Iya kak kami datang." sahutku.
"Ayoo kita sarapan dulu, ini kakak beli bubur ayam, kamu suka bubur ayam kan Mel?" tanya kak Naya pada Amel.
"Iya kak, aku suka kok." jawab Amel pada kak Naya.
"Ya sudah kalau begitu, nanti setelah kita sarapan, kakak mau ajak kalian lari pagi ya." ajak kak Naya pada aku dan Amel.
__ADS_1