Kakakku Wanita Yang Ku Cintai

Kakakku Wanita Yang Ku Cintai
Episode 12. Kenapa harus pria mesum itu kak?


__ADS_3

Kami pun segera menyantap sarapan pagi yang kak Naya beli pagi itu. Setelah menyelesaikan sarapan pagi, aku bergegas mengganti baju untuk ikut lari pagi bersama kak Naya dan Amel.


"Kalian sudah siap? ayo kita berangkat sekarang!" ajak kak Naya kepadaku dan Amel.


"Aku udah siap nih!" jawabku pada kak Naya.


Kami bertiga pun berangkat. Aku berlari ringan di belakang kak Naya dan Amel. Setelah berlari kurang lebih 2 km, aku meminta kak Naya dan Amel untuk berhenti sejenak dan beristirahat.


"Kak Naya, Amel, ayo kita istirahat dulu." ajakku pada kak Naya dan Amel.


"Yah, payah nih Rio!, baru sebentar aja udah minta istirahat." ucap kakak meledekku."


(Kakak akhirnya duduk di sebelahku dan mengajak Amel untuk ikut duduk bersama).


"Sini Mel, istirahat dulu, Rionya udah kelelahan nih." ucap kak Naya meledekku lagi."


(Amel pun duduk disebelah kak Naya).


"Oh ya, sampai lupa kakak kasih tau kalian kalau Sapta akan ikut lari pagi bersama kita pagi ini." ucap kak Naya


"Sapta mau kesini kak?" tanyaku terkejut saat itu.


"Iya Yo, dia bilang kalau dia akan menyusul nanti." jawab kak Naya.


"Kak Naya ajak dia ikut?" tanyaku.


"Hehe.... iya kakak tadi pagi bilang sama dia kalau kita mau lari pagi ini, terus dia bilang dia mau ikut kita Yo." jawab kak Naya sambil tersenyum malu.


"Kenapa kakak mesti ajak dia sih?" tanyaku.


"Lho.. memang kenapa kalau kakak ajak Sapta? apa masalahnya dengan itu?" tanya kak Naya heran.


"Salahnya adalah Sapta yang kakak ajak." ucapku dengan nada kesal pada kak Naya.


"Memangnya kenapa dengan Sapta Yo?" tanya kak Naya kembali.


"Kakak cuma ingin mulai membuka hati kakak untuk dia, pria yang selalu setia menemani hari-hari kakak saat ini." tambah kak Naya.

__ADS_1


"Aku setuju sama kakak, tapi kenapa orang itu harus Sapta kak?" tanyaku dengan nada kesal.


"Kakak bingung Yo sama kamu, tiba-tiba saja kamu marah-marah gak jelas dan mempertanyakan mengapa kakak mengajak Sapta."


"Kamu mau kakak jomblo terus seumur hidup dan gak punya pendamping hidup, itu yang kamu mau?" ucap kak naya padaku sambil melanjutkan larinya.


"Bukan begitu kak, aku mau kakak memiliki pendamping hidup, aku juga mau ada pria yang menyayangi dan menjaga kakak, tapi bukan dia kak." jelasku pada kak Naya.


"Kalau alasan kakak mau membuka hati kakak untuk dia karena dia selalu menemani hari-hari kakak, aku juga bisa lakuin itu buat kakak!" ucapku saat itu pada kak Naya.


"Tapi memilih pendamping hidup bukan hanya karena itu kak! kakak harus tau dulu orang seperti apa Sapta itu, kakak juga harus tau masa lalu yang dimiliki Sapta." jelasku pada kak Naya.


"Lalu kakak harus dengan siapa Yo? Kakak juga cukup mengenal Sapta dengan baik, jadi kakak percaya dia adalah orang yang tepat untuk menjadi pendamping hidup kakak." ucap kak Naya dengan keyakinannya.


"Kakak udah lelah dengan pria-pria yang hanya ingin menghabiskan waktu kakak dengan berpacaran, kakak ingin menjalani hubungan serius hingga ke jenjang pernikahan." ucap kak Naya menambahkan.


"Kakak benar-benar gak ngerti sama kamu Yo, kenapa kamu melarang kakak dekat dengan Sapta, apa salahnya dengan dia?" tanya kak Naya penasaran.


"Kakak harap kamu gak perlu ikut campur terlalu jauh urusan hubungan kakak dengan Sapta, karena kakak juga gak pernah mau ikut campur tentang kehidupan pribadi kamu!" ucap kak Naya padaku.


Mendengar ucapan kak Naya, aku hanya terdiam. Saat itu aku bingung harus bagaimana memberi tahu kak Naya bahwa calon tunangannya itu adalah pria tidak bertanggung jawab yang sudah merusak hidup seorang wanita.


Tiba-tiba dari kejauhan terlihat seorang pria berlari sambil melambaikan tangannya ke arah kami.


"Hallo semua.... hallo sweetyku." ucap Sapta pada kami dan kak Naya.


"Sorry ya aku telat.... gak apa-apa kan honey?" tanya Sapta sambil memegangi tangan kak Naya.


"Jangan cemberut begitu dong sayang! aku tau cemberutnya kamu tetap cantik tapi masa kamu mau begitu terus sama aku." ucap Sapta menggoda kak Naya.


"Iya aku gak apa-apa kok" jawab kak Naya sambil tersenyum ringan pada Sapta.


Aku mulai melihat kak Naya sudah membiarkan Sapta masuk ke hatinya, ini akan sulit bagiku untuk memisahkan mereka berdua. Amel yang melihatku sedang memperhatikan kak Naya dan Sapta, seraya mengusap tanganku dan sesekali melirik ke arahku.


"Oh ya sayangku, kamu sudah sarapan belum? aku bawain sarapan untuk kita berdua lho." ucap Sapta pada kak Naya.


"Sarapannya masih di mobil sih, tapi kalau kamu mau aku bisa ambil dulu ke mobil!" Sapta menambahkan.

__ADS_1


"Sorry ya... aku cuma beli sarapan untuk aku dan Naya jadi kalian ga bisa sarapan bersama kami." ucap Sapta lagi.


Rasanya aku muak mendengar ocehan Sapta, ingin ku remas mulutnya itu lalu ku tarik.


"Aku udah sarapan tadi sama Rio dan Amel!, jadi kalau kamu mau, sarapan saja ya sendiri." jelas kak Naya


"Yaaah... ya sudah kalau begitu nanti saja aku makannya, menunggu makan siang biar bisa makan bareng sama kamu." ucap Sapta pada kak Naya.


"Kak, aku pulang duluan ya!, tiba-tiba saja perutku tidak enak." ucapku pada kak Naya.


"Ya sudah, nanti kakak menyusul." jawab kak Naya singkat.


"Aku ikut pulang sama kamu ya Yo." ucap Amel memegang tanganku.


"Kak naya, kayanya aku pulang duluan ya sama Rio," ucap Amel berpamitan pada kak Naya.


"Iya gak apa-apa, hati-hati ya." ucap kak Naya.


Aku dan Amel kemudian berjalan menuju ke rumah yang jaraknya kurang lebih 3 km.


"Kak Naya gak benar-benar mau menerima Sapta kan Yo?" tanya Sapta padaku.


"Aku gak tau Mel, tapi sepertinya kak Naya serius dengan ucapannya tadi." jawabku pada Amel.


"Mungkin kita terlambat beri tahu kak Naya tentang Sapta." ucap Amel padaku.


"Engga ada kata terlambat Mel, selagi hubungan kakak belum memasuki ke jenjang yang lebih serius, aku akan beri tahu pada kak Naya, seperti apa pria yang dipilihnya itu." ucapku pada Amel.


"Aku hanya perlu memikirkan kapan saat yang tepat dan bagaimana caranya memberitahu kakak tentang semua ini." tambahku pada Amel.


"Aku akan selalu bantu kamu Yo, kapan pun kamu butuh aku, aku siap untuk kamu!" ucap Amel yang membuatku sedikit lebih kuat.


Di sepanjang perjalanan menuju pulang ke rumah, aku hanya terdiam dan melamun. Entah apa yang Amel katakan selama perjalanan, aku sama sekali tidak memperdulikannya.


"Kenapa kakak pilih Sapta kak?, kenapa harus dia dan bukan aku saja." ucapku dalam hati.


"Aku bersedia selalu menemani hari-hari kakak seperti Sapta yang kakak anggap selalu ada untuk kakak."

__ADS_1


"Aku juga bersedia antar jemput kakak setiap harinya untuk memastikan kakak sampai rumah dengan selamat." tambahku dalam hati.


__ADS_2