
Setelah beberapa lama menunggu, keluarlah Amel dari dalam rumah dan kemudian memasuki mobil.
"Ayo kita berangkat sekarang!" ucap Amel dengan senyum semangatnya.
"Kamu seneng Mel aku ajak nonton seperti ini?" tanyaku pada Amel.
"Kamu gak perlu tanya itu Yo, ini adalah sesuatu yang mustahil bagiku mendapat ajakan main darimu," jawab Amel membuatku sedikit bingung.
"Oh ya, kita mau nonton dimana rencananya?" tanya Amel padaku.
"Kita ke cinemaxxx saja ya," jawabku pada Amel.
"Ya sudah, aku ikut saja Yo," ucap Amel padaku.
Akhirnya aku dan Amel tiba di tempat tujuan kami, ya di cinemaxxx. Ini adalah salah satu bioskop yang memiliki jarak terdekat dari tempat tinggalku.
"Kamu rencana mau nonton apa Yo?" tanya Amel padaku.
"Belum tau, kita lihat nanti saja di sana," jawabku dengan sikap dingin pada Amel.
Ku parkirkan kendaraanku dan segera keluar dari mobil. Tiba-tiba saja dari arah belakang, Amel menggandeng tanganku sambil tersenyum ke arah ku. Jujur, aku tak nyaman dengan sikap Amel ini, namun aku tetap berusaha tenang dan coba untuk menerimanya.
Setibanya di bioskop, kami langsung menuju loket untuk segera mengantri. Antrian saat itu cukup panjang hingga mengular di setiap loketnya, ya tentu saja keadaan seperti ini adalah hal yang biasa saat weekend.
"Aku mau film kuntilanak jatuh cinta ya mba," ucap Amel pada kasir saat tiba antrian kami.
"Kamu kan takut sama film horor Mel!" ucapku pada Amel yang memilih untuk menonton film horor.
"Memang sih, tetapi kan nontonnya ditemani kamu makanya aku berani nontonnya," jawab Amel padaku.
"Posisi duduknya mau dimana mba/mas?" tanya sang kasir pada kami.
Tanpa bertanya kepadaku, Amel pun langsung menentukan tempat duduk untuk kami berdua.
"Aku pilih di I7 sama I8 ya mba." ucap Amel sambil menunjuk layar pada monitor.
"Aku rasa posisi duduk yang kamu pilih itu kejauhan Mel!" ucapku pada Amel.
"Justru terlalu dekat malah pusing lho Yo," jawab Amel sambil menyerahkan uang pembayaran pada kasir
Tiket pun sudah kami pesan, hanya tinggal menunggu jam tayang saja. Setelah menunggu kurang lebih 45 menit, akhirnya pintu bioskop pun di buka.
"Ayo Yo, kita masuk!" tarik Amel pada lenganku dan menggandengnya.
"Kenapa Amel bersikap seperti ini? aku tak biasa melakukan ini!" ucapku dalam hati sambil memikirkan bagaimana aku bisa melepaskan tangan Amel dari lenganku.
__ADS_1
"Kamu duluan masuk ya Mel, aku mau ke toilet dulu!" pintaku pada Amel saat itu.
"Ya sudah, kalau begitu," jawab Amel sambil melepaskan genggaman tangannya padaku.
"Haaahhh.... akhirnya aku bisa melepaskan genggaman tangan Amel," ucapku sambil menghela nafas panjang.
Langkah kakiku berjalan menuju toilet, untuk meyakinkan Amel bahwa aku benar-benar pergi ke sana. Di toilet aku berpikir sejenak, bahwa keadaanku sedang tidak tepat untuk selalu menghindari Amel, Amel akan mengetahui bahwa dia hanya pelampiasan saja bagiku.
"Aku harus terlihat baik-baik saja dalam keadaan seperti ini, agar Amel yakin bahwa aku tidak sedang mempermainkannya," ucapku dalam hati.
Selesai dari toilet, aku kembali berjalan menuju kursiku di I8, ya kursi yang berada hampir di posisi paling atas.
"Sini Yo, sebelah aku," panggil Amel padaku.
Segera aku duduk disamping Amel. Saat itu kursi di barisan kami hanya terdapat beberapa pengunjung saja, hingga lebih banyak kursi yang terlihat kosong.
Film yang kami tunggu akhirnya akan segera di mulai, di tandai dengan menyalanya layar dan munculnya beberapa iklan di awal penayangan.
Wuuaaaa.........
(Teriak salah satu pemeran yang terdapat dalam tayangan tersebut).
Amel yang mendengar teriakan tersebut, langsung mendekap erat lenganku dengan posisi kepala yang menyandar di bahu kiriku.
"Yo, aku takut!" ucap Amel padaku.
"Mel, tolong lepasin tanganmu dari lenganku! aduh, sakit sekali," ucapku meminta Amel saat itu.
"Kamu tuh benar-benar laki-laki yang gak peka ya! saat keadaan seperti ini saja kamu masih bersikap dingin sama aku," ucap Amel yang tidak nyaman dengan sikapku saat memintanya melepaskan genggamannya pada lenganku.
"Bukan begitu Mel, tapi.... " ucapku pada Amel yang terhenti karena Amel memotong pembicaraanku.
"Apa Yo? kamu gak benar-benar ingin ajak aku jalan kan, kamu cuma jadiin aku pelampiasan kamu kan!" ucap Amel sambil berdiri dan meninggalkan aku yang masih terduduk di kursi bioskop.
"Aku harus bagaimana sekarang? Amel benar- benar marah dengan sikapku malam ini," gumamku dalam hati.
"Mel... Amel... tunggu aku," panggil aku kepada Amel yang pergi meninggalkan bioskop saat itu.
Segera ku kejar Amel yang sedang berlari dan semakin menjauh. Tanpa menghiraukan rasa malu dan gengsiku, aku pun berlari dan menghampiri Amel.
"Sini Mel, tunggu penjelasan aku dulu!" ucapku pada Amel sambil menarik tangannya.
"Biarin aku pulang saja Yo, percuma saja aku ada di samping kamu, kalau kehadiran aku gak berarti apa-apa buat kamu!" ucap Amel sambil menitikan air matanya.
Sambil menyeka air mata yang jatuh di pipinya, ku katakan bahwa aku meminta maaf atas segala sikap burukku padanya.
__ADS_1
"Aku minta maaf sama kamu, aku selalu jadi alasan kamu bersedih hingga meneteskan air mata ini," ucapku pada Amel sambil mengusap pipinya yang basah karena air mata.
"Aku hanya minta satu hal dari kamu, beri aku kesempatan untuk bisa mencintai dan menyayangi kamu dengan tulus," pintaku pada Amel saat itu.
"Kamu serius dengan ucapan kamu ini? kamu gak sedang mempermainkan aku dan menjadikan hubungan ini pelampiasan kan?" tanya Amel.
Tanpa berpikir panjang, aku langsung menjawab pertanyaan Amel, yang aku sendiri pun tidak mengerti kenapa aku berani menyatakan kesanggupanku atas pernyataan itu. Entah kenapa pula aku harus meminta kesempatan itu pada Amel. Aku hanya tidak mengerti pada keinginan hatiku saat itu.
"Iya aku serius! kamu percaya kan sama aku?" tanyaku pada Amel.
"Aku percaya sama kamu Yo!" jawab Amel atas pertanyaanku.
"Ya sudah, sekarang kita pulang saja kalau begitu," ajakku pada Amel sambil menarik dan menggandeng tangannya. Amel pun tersenyum dan terlihat percaya dengan ucapan yang baru saja aku katakan.
"Apa yang sudah aku katakan tadi? kenapa jadi seperti ini?" tanyaku berulang-ulang dalam hati.
Aku terjebak oleh ucapanku sendiri pada Amel, namun ini semua sudah terlanjur terjadi dan tidak bisa lagi aku hindari. Aku telah berjanji untuk mencintai dan menyayanginya dengan tulus.
Aku juga ingat pesan kakak dan almarhumah ibu, bahwa aku tidak boleh menyakiti wanita, siapapun itu.
"Sekarang aku akan berusaha bertanggung jawab atas ucapan dan janjiku pada Amel, walaupun aku sadar bahwa ini adalah hal tersulit untuk aku penuhi," ucapku dalam hati.
Krek....
(Suara pintu mobil)
"Silahkan masuk Mel!" ucapku pada Amel untuk segera memasuki mobil.
"Terima kasih Yo!" ucap Amel dengan tatapan dan senyumannya padaku.
Aku pun membalas ucapan Amel tersebut dengan sebuah senyuman. Kemudian aku masuk ke dalam mobil dan ku kendarai mobilku menuju pulang ke rumah.
"Terima kasih ya, kamu mau mencoba memberikan hati kamu untuk aku," ucap Amel sambil mengusap lenganku.
Lagi-lagi aku hanya membalas ucapan Amel dengan senyuman, aku belum berani menyatakan dengan tegas semua pernyataan itu pada Amel.
Setelah kurang lebih 20 menit kami melalui perjalanan menuju pulang, akhirnya kami berdua tiba di rumah.
"Ayo Mel, kita sudah sampai!" ajakku pada Amel saat itu.
Namun Amel tidak menjawab ajakan ku bahkan dia juga tidak bergegas keluar dari mobil. Ku palingkan wajahku melihat Amel yang juga sedang menatapku dengan tatapan tajamnya.
"Kenapa dia memandangiku seperti itu? ada apa ini?" tanyaku dengan heran.
Tiba-tiba Amel menggeser duduknya sedikit demi sedikit hingga tak ada celah antara kami. Wajahnya semakin mendekat dan dia terlihat memejamkan matanya.
__ADS_1
Penasaran dengan kelanjutannya? ikuti terus episodenya ya readers 😘