Kakakku Wanita Yang Ku Cintai

Kakakku Wanita Yang Ku Cintai
Episode 21. Menguntit


__ADS_3

Sapta yang berdiri di balik tembok terus memperhatikan arah pak Mamun berjalan. Tiba-tiba ia bertanya pada seorang ibu paruh baya yang tengah menyapu halaman rumahnya.


"Permisi bu, saya mau numpang tanya, apa ibu kenal dengan orang ini?" tanya pak Mamun pada ibu tersebut sambil menyodorkan sebuah foto berukuruan 5r.


"Oh, ini sih mas Rio," ucap sang ibu pada pak Mamun yang tengah berdiri di hadapannya.


Mendengar percakapan itu, Sapta terperanjak. Hatinya bertanya-tanya.


"Rio? bukan Rio yang aku kenal kan?" gumam Sapta dengan penuh tanya.


"Ibu tahu dimana rumahnya?" tanya pak Mamun sambil melihat sekeliling pemukiman tersebut.


"Iya pak saya tahu, rumahnya disana pak! bapak sudah melewati rumahnya tadi," ucap sang ibu sambil menunjuk ke arah jalan yang telah dilewati tadi.


"Sebelah mana bu patokan rumahnya?" tanya pak Mamun kembali.


"Dari sini bapak lurus saja, nanti pas pertigaan bapak ambil jalan ke kanan, dari situ bapak lurus saja terus sampai ketemu rumah dengan cat berwarna abu-abu," jelas sang ibu pada pak Mamun.


"Rumah dengan cat berwarna abu-abu ya bu! oh ya, apa benar orang ini tinggal bersama kakak angkatnya bu?" tanya pak Mamun penasaran.


"Hmm... gimana ya?" ucap ibu tersebut yang mulai ragu untuk terus menjawab pertanyaan pak Mamum.


"Bapak ini siapa ya? kok dari tadi seperti penasaran dengan keluarga ini!" tanya sang ibu dengan pandangan yang mulai curiga pada pak Mamun.


"Saya sedang mencari anak ini bu, keluarganya sedang mencari keberadaannya sekarang!" jelas pak Mamun.


Pernyataan pak Mamun jelas membuat Sapta kaget. Siapa yang pak Mamun maksud dengan keluarga yang sedang mencari dan siapakah Rio itu. Pertanyaan ini semakin membuat Sapta tak sabar untuk segera mendapatkan jawabannya.


"Benar begitu pak?" tanya ibu tersebut dengan mata mendelik.


"Benar bu," jawab pak Mamun singkat.


"Semoga saja benar ya, saya kasihan dengan anak itu," ucap ibu dengan wajah haru.


"Kasihan kenapa bu?" tanya pak Mamun penasaran.


Percakapan mereka berdua membuat Sapta semakin penasaran, ia tak sabar menunggu siapakah orang yang di maksud itu.


"Rio ini adalah anak angkat dari keluarga tersebut pak, ia dulu di temukan di halaman depan rumah almarhum pak Toto, saat itu usianya kemungkinan baru beberapa hari," jelas sang ibu menceritakan masa lalu Rio pada pak Mamun.


"Lalu apa ibu tahu kapan kejadian itu terjadi?" tanya pak Mamun yang semakin penasaran.


"Saya juga tidak tahu pasti detailnya pak, karena saya juga orang baru disini, itupun saya tahu dari para tetangga," jawab sang ibu menimpali pertanyaan pak Mamun.

__ADS_1


"Baik kalau begitu bu, saya permisi dulu! oh ya terima kasih banyak untuk informasinya," ucap pak Mamun sambil berpamitan untuk pergi.


Pak Mamun pun berjalan ke arah yang ditunjukan sang ibu untuk sampai ke tempat yang di maksud. Sapta yang melihat itu kemudian bergegas pergi dan bersembunyi di tempat lain, agar penyamarannya tidak di ketahui oleh pak Mamun.


Sampai pada tempat yang di maksud, pak Mamun berdiri sambil melihat rumah dengan cat berwarna abu-abu. Ia masuk dan mengetuk pintu rumah itu, berharap ada seseorang di dalamnya.


Berbeda dengan pak Mamun, Sapta yang melihat pak Mamun menghampiri rumah tersebut, sontak wajahnya berubah. Ia penasaran, apa hubungan Rio dan Naya dengan papanya. Posisinya saat itu cukup dekat untuk menguping dan mengetahui seluruh pembicaraan yang ada.


Tok... tok... tok


(suara pintu di ketuk)


"Permisi... pak... bu," ucap pak Mamun yang menunggu jawaban dan sahutan dari dalam rumah, berharap seseorang membukakannya pintu.


Tak lama keluarlah seorang gadis cantik, berkulit putih dengan rambut hitam panjang yang di ikat.


Saat itu Sapta masih terfokus untuk mengetahui ada apa di balik semua teka-teki antara ayahnya dan foto yang dibawa pak Mamun. Pandangannya pun tertuju pada pak Mamun dan rumah yang di kunjunginya itu.


Dengan wajah lelah dan mata yang sayu gadis itu kemudian bertanya pada pak Mamun.


"Ada apa ya pak?" tanya gadis yang baru saja keluar dan membuka pintu rumahnya.


"Apa betul ini rumahnya Rio?" tanya pak Mamun dengan wajah penasaran.


"Perkenalkan bu, saya Mamun! salah satu karyawan Esa Pratama Group, saya di minta petinggi perusahaan untuk mencari pak Rio dan mengajaknya ke rumahnya," ucap pak Mamun menjelaskan pada gadis itu.


"Kira-kira ada apa ya pak, petinggi perusahaan besar seperti itu ingin mencari dan bertemu dengan adik saya?" tanya gadis itu dengan khawatir.


"Untuk masalah itu saya kurang mengerti bu, biar nanti pak Rio saja yang langsung menanyakannya," ucap pak Mamun menjawab pertanyaan gadis itu.


"Begitu ya pak, tapi sayang sekali saat ini adik saya sedang tidak berada di rumah," ucap gadis itu menjelaskan.


"Kalau boleh tahu, kapan ya pak Rio pulang agar saya bisa bertemu dengan beliau!" tanya pak Mamun penasaraan.


"Saya juga kurang tahu pak kapan dia pulang," jawab sang gadis pada pak Mamun.


"Begini saja, bapak bisa tinggalkan nomor ponsel bapak untuk saya sampaikan pada Rio saat pulang nanti, bagaimana?" ucap gadis itu memberi solusi pada pak Mamun saat itu.


"Baik kalau begitu bu, ini nomor ponsel saya," ucap pak Mamun sambil memberikan nomor ponselnya yang sudah ia siapkan pada secarik kertas kecil.


Gadis itu pun kemudian menerimanya, dan berkata sesuatu pada pak Mamun.


"Oh ya maaf pak, saya sampai lupa mempersilakan bapak untuk masuk, ayo silahkan masuk pak!" ajak gadis itu untuk mengajak pak Mamun masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


"Terima kasih bu, lain kali saja! saya masih ada keperluan lain saat ini," ucap pak Mamun yang menolak untuk masuk.


"Baik kalau begitu pak, nanti sepulangnya Rio akan saya sampaikan untuk segera menghubungi bapak," ucap gadis itu dengan senyumannya yang khas.


"Iya bu, saya permisi dulu," ucap pak Mamun berpamitan dan bergegas pergi.


Sapta yang masih tak percaya dengan apa saja yang baru dilihatnya, hingga membuat ia tak sadar bahwa pak Mamun sudah berada tepat dihadapannya dan mengetahui keberadaannya.


"Lho, kok ada pak Sapta disini! sedang apa pak?" tanya pak Mamun yang kaget melihat Sapta yang berdiri di balik tembok.


"Gak sedang apa-apa kok, saya kesini mau ke rumah kekasih saya!" ucap Sapta sambil menunjuk salah satu rumah yang ada di sana.


"Bapak membuntuti saya? atau bapak mendengar semua percakapan saya dengan pak Pratama di ruang kerjanya?" tanya pak Mamun memberondong pada Sapta.


Sapta yang cemas mendengar pertanyaan dari mulut pak Mamun, kemudian menarik kerah baju pak Mamun dan mencengkeramnya.


"Kamu gak usah banyak tanya! seharusnya saya yang tanya, sedang apa kamu disini?" ucap Sapta dengan mata terbelalak dan wajah marahnya pada pak Mamun.


"Saya gak tahu apa-apa pak, saya hanya di minta bapak untuk mencari orang yang ada di foto ini," ucap pak Mamun sambil memberikan sebuah foto.


"Apa hubungan papa dengan orang di foto ini?" tanya Sapta dengan cengkramannya yang semakin kuat pada kerah baju pak Mamun.


"Saya benar-benar tidak tahu pak, silahkan bapak tanya langsung saja pada pak Pratama!" ucap pak Mamun dengan wajah ketakutan.


"Gak perlu! papa gak perlu tahu bahwa aku sudah mengetahui semua ini," ucap Sapta sambil melepaskan kerah baju pak Mamun.


"Saya akan berpura-pura tidak tahu tentang masalah ini, dan saya minta kamu selalu menginformasikan apapun yang kamu tahu tentang rencana papa," ucap Sapta pada pak Mamun yang masih terlihat ketakutan.


"Baik pak..." sahut pak Mamun dengan nada gemetar.


"Awas kalau kamu sampai mengkhianati saya dan menceritakan ini pada papa!" ucap Sapta sambil menunjukan jarinya pada wajah pak Mamun.


"Saya gak akan segan-segan untuk menyingkirkan kamu, sudah sana pergi!" ucap Sapta kembali sambil mendorong tubuh pak Mamun hingga tersungkur ke tanha.


Pak Mamun yang terlihat ketakutan dengan sikap Sapta, kemudian lari dan bergegas pergi. Bagaimana tidak, Sapta di kenal bertolak belakang dengan sikap papanya.


Semua orang di kantor sudah mengetahui sikap buruknya selama ini. Ia dikenal pemarah, egois, arogan dan suka bergonta-ganti pasangan.


Melihat pak Mamun sudah berlalu dari pandangannya, Sapta pun berjalan ke arah rumah Naya, kekasih hatinya selama ini.


Tok... tok.. tok...


(suara pintu di ketuk)

__ADS_1


__ADS_2