Kakakku Wanita Yang Ku Cintai

Kakakku Wanita Yang Ku Cintai
Episode 18. Amnesia dan lumpuh saraf motorik


__ADS_3

Ku coba berusaha untuk sekedar menggerakan tanganku namun terasa begitu berat dan sakit sekali. Terlihat samar noda darah di pakaian yang ku kenakan, ya pandanganku mulai kabur pada sesuatu di sekelilingku, aku tak bisa melihat dengan jelas saat itu.


"Tolong... tolong... " suaraku lirih meminta pertolongan pada siapapun yang berada dekat dengan keberadaanku.


"Tolong... tolong... tolong saya!" suaraku terus saja meminta pertolongan, berharap seseorang dapat mendengar dan segera menolong keadaanku.


Semakin lama aku berharap ada pertolongan yang datang, semakin terasa tetesan darah melewati keningku dan jatuh tepat di wajahku.


"Aku tak sanggup lagi bertahan," ucapku dengan suara melemah dan pandangan yang semakin redup.


Dadaku terasa sesak dan semakin sulit untuk bernafas. Entah berapa lama setelah aku mengalami pingsan karena kejadian itu, terdengar percakapan yang dilakukan oleh dua orang.


"Saya kurang tau identitasnya pak dokter! saya hanya menemukan anak ini di dasar jurang ketika saya sedang hendak pulang ke rumah," ucap orang tersebut kepada dokter dalam percakapannya.


"Baiklah pak, kalau begitu nanti saya meminta informasi kembali pada pihak berwajib tentang identitasnya," ucap sang dokter pada orang tersebut.


"Pak dokter, kalau saya boleh tahu, apa ada masalah serius dengan keadaan anak ini?" tanyanya kepada dokter.


"Dia mengalamni amnesia jenis Retrograde pak, dia tidak akan mengingat masa lalunya karena cedera otak yang dialaminya setelah kecelakaan itu," jawab dokter kepada lawan bicaranya itu.


"Apa itu tidak bisa disembuhkan Dok?" tanya orang itu kembali.


"Bisa saja, namun dengan terapi intensif, namun saya perlu menginformasikan keadaan ini kepada keluarganya terlebih dahulu," jelas sang dokter pada orang tersebut.


"Semoga saja pihak kepolisian menemukan kartu indentitasnya ya dok, agar bisa segera memberi tahu keluarganya," ucap orang tersebut pada dokter.


Mendengar percakapan mereka berdua, rasanya ingin sekali aku bangun dan menanyakan apa yang terjadi.


Tiba-tiba saja,


"Dok.... dok.... lihat pasien ini sudah sadar, saya melihat tangannya sudah bergerak-gerak," ucap suara tersebut pada sang dokter.


"Baik, saya cek dulu ya pak," ucap dokter kepada orang tersebut.

__ADS_1


Dengan pandangan yang sedikit remang-remang aku pun melihat keadaan sekitarku, di sana ada seorang dokter dan satu orang lelaki tua terlihat berdiri di sampingnya.


"Saya ada di rumah sakit dok! apa yang terjadi dengan saya?" tanyaku heran pada dokter.


"Anda tenang dulu, tidak perlu memaksakan untuk bangun ataupun duduk," ucap dokter kepadaku yang sedang berusaha untuk bangun dan beranjak dari tidurku.


Saat hendak bangun, kakiku terasa sangat sulit untuk bergerak. Aku pun terus mencoba menggerakannya kembali, namun tetap saja tidak berhasil.


"Dok, ada apa ini dengan kaki saya? kenapa tidak bisa di gerakkan?" tanyaku dengan heran.


"Sebentar saya cek dulu," ucap sang dokter sambil memukul-mukul kedua kakiku secara bergantian.


"Apa terasa sakit?" tanya sang dokter padaku.


Mendengar pertanyaan itu, aku hanya menggelengkan kepalaku sebagai jawaban. Sang dokter yang melihat tanggapanku atas pertanyaannya, tiba-tiba menghela nafasnya dan berkata sesuatu padaku.


"Terdapat kerusakan saraf motorik di kedua kaki anda akibat kecelakaan itu," jelas sang dokter padaku dengan tatapan ibanya.


"Saya lumpuh dok? lalu seumur hidup, saya akan selalu duduk di kursi roda?" tanyaku kembali


"Semoga saja dengan penyembuhan dan pemulihan yang di lakukan dapat memperbaiki adanya kerusakan saraf motorik tersebut," tambah dokter sambil mengusap dan menepuk lenganku.


"Apa kamu tidak mengingat apapun tentang keluarga dan orang terdekatmu?" tanya sang dokter penasaran.


"Entah dok, saya benar-benar tidak mengenal dan mengingatnya," ucapku sambil berusaha mengingat hari sebelum kejadian itu.


"Anda tidak perlu memaksakan untuk mengingatnya, saat ini anda lebih butuh istirahat untuk memulihkan tubuh pasca kecelakaan itu," ucap dokter padaku.


Sesekali bapak tua di samping dokter memandangiku, aku penasaran dengan orang tua itu. Siapakah dan apakah hubungannya denganku.


"Bapak ini siapa ya, apa hubungan bapak dengan saya?" tanyaku padanya dengan harapan aku mendapat petunjuk siapa diriku sebenarnya.


"Bapak adalah orang yang membawa kamu ke rumah sakit ini, kamu bapak temukan di dalam mobil setelah kecelakaan itu terjadi," ucap sang bapak menjelaskan padaku.

__ADS_1


"Begitu rupanya, apa bapak benar-benar tidak mengenal saya? saya bingung harus kemana mencari tahu tentang asal-usul saya," ucapku dengan wajah bingung.


"Bapak juga ingin membantu, tetapi apa yang bisa bapak lakukan untuk bisa membantumu nak?" ucap bapak dengan tampang ibanya melihatku.


"Sekarang kita serahkan semuanya pada kepolisian, semoga mereka dapat menemukan identitas untuk membantu anda segera menemukan keluarga anda," ucap dokter padaku.


"Baiklah saya permisi dulu," pamit dokter padaku dan bapak di ruangan itu.


Dokter itu pun pergi berlalu meninggalkan aku bersama bapak tua yang pakaiannya terlihat lusuh.


"Bapak kenapa mau menolong saya dan tidak membiarkan saya untuk mati saja, percuma saya hidup dengan keadaan kaki seperti ini," ucapku lirih diiringi tangisan yang putus asa.


"Bapak tidak sengaja menemukanmu saat sedang hendak pulang ke rumah, awalnya bapak ragu untuk menolong karena alasan biaya perawatan dan pengobatan selama kamu berada di rumah sakit yang mungkin tidak sedikit, namun bapak teringat pada kejadian dimana anak dan istri bapak meninggal saat kecelakaan 2 tahun lalu," cerita sang bapak padaku tentang kejadian masa lalunya yang merenggut nyawa anak dan istrinya itu.


"Lalu bagaimana saya harus membayar biaya rumah sakit ini pak? saya sendiri tidak punya uang sama sekali untuk digunakan membayar biaya perawatan ini," ucapku bingung.


"Kamu tenang saja, bapak ada sedikit tabungan yang bapak simpan di rumah, rencananya bapak akan gunakan uang itu untuk pergi ke tanah suci." ucap sang bapak menenangkanku.


"Bapak akan pulang dulu, untuk mengambil uang itu dan segera kembali kesini," ucapnya padaku dan bergegas keluar dari ruangan tempatku di rawat.


Beberapa x suster masuk ke ruangan rawatku untuk melihat keadaanku dan mengganti cairan infusan yang hampir habis. Pandanganku tertuju pada pintu yang menunggu bapak tua itu kembali, aku sangat bergantung dan berharap padanya karena aku tidak memiliki siapa-siapa saat ini untuk ku mintai tolong.


Setelah senja menyapa, akhirnya seseorang yang ku tunggu datang.


"Bapak kenapa lama sekali?" tanyaku pada bapak tua itu.


"Bapak tidak memiliki kendaraan jadi bapak harus berjalan 4 km untuk sampai ke rumah," jelas sang bapak padaku dengan wajahnya yang terlihat sangat kelelahan.


"Lalu bapak berjalan kaki pulang dan pergi? kenapa bapak tidak naik angkutan umum saja?" tanyaku heran.


"Bapak sudah terbiasa hidup keras jadi hal ini tidak masalah untuk bapak, lagi pula bapak berpikir kamu akan lebih membutuhkan uang ini, jadi sebisa mungkin bapak menghematnya," ucap bapak yang membuat hatiku bergetar mendengar kebaikan dan ketulusan hatinya itu.


"Saya akan ingat kebaikan bapak, semoga saya bisa mengingat kembali masa lalu saya dan membalas segala kebaikan bapak," ucapku sambil meneteskan air mata.

__ADS_1


"Tidak perlu memikirkan tentang balas membalas, yang terpenting saat ini kamu segera pulih dan bisa keluar dari rumah sakit," ucap bapak tua padaku.


Aku menganggukan kepalaku dan tersenyum ke arahnya. Melihat kerutan di wajahnya dan uban yang memenuhi seluruh rambutnya, rasanya aku tak tega menerima bantuannya tetapi apalah daya, saat ini aku tak bisa melakukan apa-apa.


__ADS_2