Kakakku Wanita Yang Ku Cintai

Kakakku Wanita Yang Ku Cintai
Episode 24. Ancaman


__ADS_3

Kakak kangen kamu Yo, coba kamu ada di sini!" ucap Naya secara tidak sadar dalam lamunannya.


Ungkapan Naya tentu saja membuat Sapta kaget, pasalnya Sapta baru mengetahui bahwa ternyata Rio bukanlah adik kandung dari Naya kekasihnya, melainkan hanya seorang adik angkat.


Rasa cemburu dan marah menyelimuti perasaan Sapta malam itu. Wanita yang sangat ia cintai kini rindu dengan seorang pria yang tentu saja bukan bagian dari keluarganya.


Tanpa memperdulikan santapannya yang masih tersisa, Sapta menarik tangan Naya dengan kasar. Ia juga tidak menghiraukan pandangan dan tatapan dari orang yang berada di sekelilingnya.


"Ayo ikut aku!" ucap Sapta sambil menarik lengan Naya dengan cepat.


Naya yang kaget dan tidak nyaman dengan sikap Sapta mencoba melepaskan genggaman itu.


"Sapta apaan sih kamu? lepasin tangan aku, sakit....!" ucap Naya sambil berusaha melepaskan tangannya.


Tanpa menghiraukan perkataan Naya, Sapta terus menarik lengannya dan menyuruhnya masuk ke mobil.


"Cepat masuk!" ucap Sapta sambil membuka pintu mobil dan mendorong Naya ke dalam.


Dorongan dan tenaga Sapta, cukup membuat Naya tersungkur di jok mobilnya.


"Sapta kamu kasar banget sama aku! aku gak suka diperlakukan seperti ini!" ucap Naya sambil berteriak ke arah Sapta.


"Kalau kamu gak suka aku seperti ini, jangan pernah sebut nama pria lain di depan ku, ngerti kamu..!" ucap Sapta dengan penuh emosi.


"Apa sih maksud Sapta? Memangnya aku sebut nama siapa?" tanya Naya dengan wajah bingung, ia masih tidak menyadari apa yang telah di katakannya tadi.


Sapta pun terlihat kembali ke tempat makan itu dan menyelesaikan pembayarannya. Tak lama kemudian ia berjalan menghampiri mobilnya dan masuk.


Dengan perasaan emosi, ia mencengkeram kedua pipi Naya dengan tangannya. Naya yang kala itu bingung dan takut dengan sikap Sapta, hanya bisa pasrah dan tidak melakukan perlawanan apa-apa.


"Jangan pernah coba main-main denganku kalau kamu mau tetap aku bersikap sewajarnya, karena aku bisa lebih buruk dari ini!" ucap Sapta sambil mencengkeram kedua pipi Naya.


Mendengar ancaman Sapta padanya, Naya pun berusaha membalasnya agar tidak terlihat bahwa saat itu ia sedang merasakan ketakutan.


"Lepasin aku Sap...! jangan pernah ancam aku seperti ini karena saat ini aku bukan siapa-siapa buat kamu!" ucap Naya sambil menghempaskan tangan Sapta dari wajahnya.

__ADS_1


"Sekarang antarkan aku pulang atau aku akan pulang sendiri ke rumah!" ucap Naya sambil menatap tajam pada Sapta.


Sapta yang khawatir dengan kekasihnya, tentu saja tidak ingin membiarkan ia pulang ke rumah seorang diri. Ia pun kemudian mengantarkan Naya hingga ke rumahnya.


Dengan rasa penasaran, Sapta akhirnya nekat bertanya pada Naya tentang siapa Rio sebenarnya. Ia juga menanyakan status Rio dalam keluarganya.


"Siapa sebenarnya Rio itu?" tanya Sapta singkat.


"Pertanyaan yang aneh! kamu tahu betul kalau Rio adalah adik kandungku," jawab Naya dengan hati tak tenang.


"Kamu masih gak mau jujur sama aku? sekarang aku minta kamu kasih tahu aku, siapa Rio itu dan apa statusnya dalam keluarga kamu?" ucap Sapta dengan nada setengah emosi.


Naya yang bingung mendengar pertanyaan Sapta, berusaha tetap terlihat tenang dan mencoba untuk menutupinya.


"Maksud kamu apa sih? aku gak ngerti!" ucap Naya dengan perasaan was-was.


"Rio bukan adik kandung kamu kan? dia hanya anak buangan yang kehadirannya tidak diharapkan oleh orang tuanya, tetapi bisa-bisanya kamu bilang dia adik!" ucap Sapta dengan wajah penuh emosi.


Perkataan Sapta tentu membuat Naya kaget, dari mana Sapta tahu semua itu. Ia mencoba mengingat-ngingat, apakah ia pernah menceritakan masalah itu pada Sapta.


Naya hanya terdiam mendengar pertanyaan Sapta, ia bingung harus menjawab apa.


"Ternyata benar dugaanku, Rio hanyalah anak yang tidak di harapkan, bisa jadi kan dia itu anak haram!" ucap Sapta dengan mengerutkan senyumnya.


"Cukup Sapta..! kamu sudah benar-benar keterlaluan, aku gak nyangka sebelumnya kamu orang seperti ini," ucap Naya menatap Sapta yang sedang mengemudi.


"Kenapa, kamu kaget?" tanya Sapta.


"Iya, aku menyesal sudah berhubungan dengan orang tidak beradab seperti kamu!" ucap Naya dengan penuh amarah dan penyesalan.


"Lalu kamu bisa apa dengan rasa penyesalan itu?" tanya Sapta dengan nada meledek.


"Kamu mau tau aku bisa apa? aku bisa membatalkan rencana pertunangan kita, aku gak mau menikah dengan pria kasar dan tidak berperasaan seperti kamu!" ungkap Naya pada Sapta tanpa ragu sedikit pun dari dalam hatinya.


Naya merasa keputusannya adalah hal yang tepat untuknya. Tanpa memikirkan apapun, dengan yakin ia mengatakan itu pada Sapta.

__ADS_1


"Batal..? gak semudah itu sayangku, aku pastikan kamu akan memohon memintaku untuk tetap melanjutkan rencana pertunangan kita," ucap Sapta dengan penuh keyakinan.


"Itu gak mungkin aku lakuin Sap, hanya wanita bodoh yang tetap mempertahankan hubungannya dengan pria kasar dan tidak berperasaan seperti kamu," ucap Naya menimpali pernyataan Sapta.


"Kita lihat saja nanti, ucapan aku atau keyakinan kamu yang akan terbukti," ucap Sapta dengan senyum liciknya.


Setelah menempuh beberapa menit perjalanan, akhirnya Naya tiba di rumahnya. Ia pun bersiap untuk turun dan keluar dari mobil Sapta.


"Tunggu!" ucap Sapta sambil menarik lengan Naya yang hendak turun.


"Aku ingatkan kamu untuk tidak macam-macam denganku, karena kamu akan rasakan akibatnya nanti." ucap Sapta mengancam Naya.


"Aku sama sekali gak takut ancaman kamu, silahkan kamu lakuin apa yang kamu mau, karena aku juga akan lakuin apa yang menurut aku benar," sahut Naya menimpali perkataan Sapta sambil melepaskan tangan Sapta yang masih menahan lengannya.


Naya pun kemudian turun dan keluar dari mobil, sementara Sapta terus memperhatikan Naya hingga kekasihnya itu masuk ke dalam rumahnya.


"Kamu benar-benar membuat aku penasaran dan tertantang, kamu harus tau Nay kalau aku gak suka orang atau apapun yang ku miliki jatuh ke tangan orang lain," gumam Sapta dalam hati.


Setelah Naya hilang dari pandangannya, Sapta kemudian bergegas pulang. Sepanjang perjalanan pulang, Sapta hanya menggerutu seorang diri, ia menyesali atas sikap Naya yang berusaha melindungi Rio, ia juga tak percaya bahwa papanya memiliki hubungan dengan Rio.


"Sial.... loe udah mati tapi tetap aja ngusik kehidupan gue! kenapa loe ga hidup tenang aja di sana Yo!" ucap Sapta sambil tertawa cekikikan.


Kediaman Amel, Minggu pukul 23.17


Amel terus berusaha menghubungi ponsel Rio yang sedari malam tidak aktif. Ia merasakan firasat yang tidak baik terjadi pada Rio.


Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, silahkan coba beberapa saat lagi.


The number you have dialed is not active, please try again later.


(keterangan yang terdengar saat nomor telepon tidak aktif).


"Kok masih gak aktif juga ya," ucap Amel dengan wajah cemas.


To be continue......

__ADS_1


__ADS_2