
"Selamat sore bu, kami dari kepolisian resor Fatmawati! betul ini dengan kediaman ibu Naya?" tanya salah seorang polisi pada Amel.
Naya yang mengetahui kedatangan polisi ke rumahnya, bergegas lari menghampiri. Ia berharap polisi itu membawa kabar baik tentang adiknya.
"Saya Naya pak, kakaknya Rio! bagaimana perkembangan kasusnya pak? apakah sudah ditemukan kabar tentang adik saya?" tanya Naya memberondong kedua polisi yang berdiri di depan pintu rumahnya.
"Kami sudah selidiki dari saksi yang ada, bahwa adik ibu memang sudah dalam perjalanan pulang malam itu, kemungkinan adanya kecelakaan lalu lintas masih kami cari tahu bu," ucap polisi menjelaskan.
Tiba-tiba saja Naya yang berdiri di tengah pintu, terjatuh tak sadarkan diri. Amel yang terkejut, langsung meminta kedua polisi untuk membawa Naya ke dalam.
"Ya ampun kak Naya, pak... pak.. tolong angkat kakak saya dan bawa ke dalam ya!" ucap Amel meminta tolong kepada kedua polisi saat itu.
"Di sofa saja pak, sebentar saya ambilkan bantal dulu," ucap Amel yang berlari ke kamar Naya untuk mengambilkannya bantal.
Kedua polisi kemudian meletakan Naya di atas sofa, dengan bantal sebagai alas kepalanya.
"Jadi ada dugaan kalau Rio mengalami kecelakaan pak?" tanya Amel dengan wajah penasaran.
"Ada kemungkinan seperti itu bu, tapi saat ini kami masih berkoordinasi dengan polres sekitar untuk bekerja sama mencari informasi yang di butuhkan," jawab salah seorang polisi pada Amel.
"Semoga dugaan ini salah ya pak," ucap Amel dengan raut wajah sedih.
"Ibu berdoa saja, semoga tidak terjadi apa-apa dengan pak Rio! oh iya bu, ibu ada minyak angin atau aroma terapi? kalau ada tolong ambilkan bu," ucap salah seorang polisi yang terduduk di samping Naya.
"Sebentar saya cari dulu pak!" ucap Amel yang langsung bergegas mencari ke kamar Naya.
Tak menunggu berapa lama, Amel pun keluar membawa sebotol aroma terapi.
"Ini pak," ucap Amel sambil menyodorkan sebotol aroma terapi yang di ambilnya.
Salah seorang polisi tersebut kemudian mengoleskan aroma terapi tersebut di tangannya, lalu di dekatkannya pada hidung Naya.
Usaha polisi tersebut berhasil untuk membangunkan Naya dari pingsannya. Namun saat tersadar Naya kembali mengingat adiknya dan menangis tanpa memperdulikan keberadaan orang di sekelilingnya.
__ADS_1
Tangisannya merupakan ungkapan kasih sayangnya pada Rio, tak peduli itu adik angkat atau kandung baginya. Dalam benaknya Rio tetaplah adik kecilnya yang selama ini ia urus setelah bapak dan ibunya wafat.
"Rio.... kamu dimana Yo? cepat pulang..!" ucap Naya dengan terisak-isak.
Air matanya yang terus mengalir, mengisyaratkan kesedihan dan kekhawatiran yang mendalam. Melihat hal itu Amel berusaha menenangkan Naya dalam tangisnya.
"Sudah kak, kakak jangan terus-terusan bersedih seperti ini! semoga ini memang hanya dugaan awal saja kak," ucap Amel menenangkan keadaan Naya.
Kedua polisi yang berada di rumahnya akhirnya berpamitan pada Amel dan Naya setelah menyampaikan adanya informasi dugaan tentang kecelakaan Rio.
"Baik bu, kami permisi dulu! segera akan kami kabari ibu lagi saat menemukan fakta terbaru," pamit polisi dan bergegas keluar dari rumah Naya.
Saat polisi baru saja keluar dari rumahnya, tiba-tiba saja Sapta muncul dari balik pintu.
"Ada apa polisi sampai datang kesini?" tanya Sapta dengan mata memandangi kedua polisi tersebut.
Amel pun menimpali pertanyaan Sapta.
"Ada kemungkinan Rio kecelakaan dalam perjalanan pulang ke sini," ucap Amel sambil melirik Sapta yang berdiri di depan pintu.
Melihat respon Sapta yang tidak biasa, Amel menarik Sapta keluar, sementara Naya masih berbaring di sofa dengan raut wajah sedih.
"Aku curiga kamu ada di balik masalah ini, kalau sampai aku tahu kamu benar-benar menyakiti Rio, aku gak akan tinggal diam," ucap Amel dengan tatapan tajam pada Sapta.
"Kalau benar aku ada kaitannya dengan hilangnya Rio, kamu mau apa Mel? mengurus janin dalam kandunganmu saja kamu tidak becus! sekarang kamu mau mengancamku?" ucap Sapta dengan nada sinis.
"Aku memang bodoh tidak bisa menjaga kehormatan dan janinku saat itu, tapi tidak untuk kali ini Sap! aku akan cari tahu kebusukan apa lagi yang kamu perbuat pada Rio, terlebih itu adalah adik dari calon tunanganmu," ucap Amel dengan mata memerah.
"Jangan coba mengusik dan merusak citraku di depan Naya, kamu akan tahu akibatnya nanti!" ucap Sapta mengancam Amel.
"Kamu juga perlu tahu satu hal Sap, aku bukan wanita lemah yang mudah kamu ancam dan tindas seperti dugaanmu, jadi simpan ancamanmu itu!" ucap Amel sambil berlalu meninggalkan Sapta.
"Tunggu....." ucap Sapta menarik tangan Amel dengan cepat. Tubuh Amel pun terbanting dalam pelukan Sapta, Amel berusaha melepaskan diri namun ia sadar tak mampu melawan tenaga seorang pria.
__ADS_1
"Lepas Sap! atau aku akan teriak agar orang-orang tahu," ancam Amel pada Sapta.
"Kamu masih manis seperti dulu Mel, beberapa tahun yang lalu," ucap Sapta sambil tersenyum menggoda.
"Tutup mulutmu, aku gak sudi mengingat hal menjijikan itu!" ucap Amel dengan nada emosi.
"Gak perlu marah-marah begitu cantik, aku cuma minta satu hal dari kamu, jangan pernah ceritakan masa lalu kita pada Naya atau aku akan mengulang kejadian waktu itu," ucap Sapta pada Amel yang masih dalam pelukannya.
Mendengar ancaman dari Sapta, Amel tersulut emosi. Ia pun menginjak kaki Sapta berulang kali dengan sepatu heelsnya hingga Sapta berteriak kesakitan.
"Aww... sakit Mel," teriak Sapta.
Perlawanan dari Amel tak membuat Sapta melepaskan pelukannya. Hingga mereka berdua kaget saat pintu terbuka lebar.
"Kalian sedang apa?" tanya Naya dengan eskpresi terkejut melihat calon tunangannya sedang memeluk Amel dari belakang.
Sapta yang kaget dengan Naya yang tiba-tiba keluar, akhirnya melepaskan pelukannya pada Amel dan bersikap salah tingkah di depan Naya.
"Gak apa-apa sayang, aku cuma sedang bercanda sama Amel, sudah lama kami tak sedekat ini setelah masa SMA dulu," ucap Sapta beralasan dan melakukan pembelaan.
"Bisa-bisanya kalian bercanda di saat keadaan seperti ini? Apa pantas kalian bercanda dengan berpelukan seperti itu?" ucap Naya meninggalkan Amel dan Sapta dengan air mata yang sudah membendung.
Amel dan Sapta pun mengejar Naya ke dalam. Mereka melakukan pembelaan masing-masing pada Naya agar Naya mau mempercayainya.
"Ini semua gak seperti yang kak Naya pikir kak! aku gak ada apa-apa sama Sapta, kakak tahu betul aku sangat mencintai Rio," ucap Amel yang terduduk di sebelah Naya.
"Amel benar sayang, ini gak seperti yang kamu bayangin! mana mungkin aku mengkhianati kamu sementara acara pertunangan kita tinggal menghitung hari," ucap Sapta membela diri.
"Gak akan ada pertunangan Sap!" ucap Naya sambil memalingkan wajahnya dari Sapta
Pernyataan Naya tentu saja membuat Sapta dan Amel tersentak. Mereka berdua heran, mengapa Naya mengatakan hal itu.
To be continue....
__ADS_1
Di tunggu kelanjutannya ya readers, biar gak penasaran dan terbawa mimpi, happy reading ❤❤