
Setiba di kamar kostku, kubaringkan tubuhku di atas ranjang. Ku buka handphone dan ku lihat galeri foto yang penuh dengan foto kak Naya.
"Andai saja kamu bukan kakak angkatku, aku tidak akan sungkan untuk menyatakan semua perasaanku ini." ucapku dalam hati.
Imajinasiku membawa pikiranku ke alam bawah sadar, berharap kak Naya adalah wanita milikku.
Terdengar suara langkah kaki dengan menggunakan high heels dari depan kamar kostku. Rasanya aku mengenal suara hentakan kaki itu, ku hampiri dan ku buka pintu kamar kostku.
"Ini cuma mimpi kah?, atau memang kak Naya benar-benar datang untukku?" ucapku dengan sukacita.
"Ya, ini benar-benar dia, tapi untuk apa kak Naya datang semalam ini ke tempat kostku?" tanya ku dengan penasaran.
"Yo, kamu sudah mau tidur ya?, kakak ganggu waktu istirahat kamu dong!" ucap kak Naya padaku.
"Engga sama sekali kok kak" sahut ku dengan tergesa-gesa.
"Wah.... cantik sekali kak Naya pakai dress seperti itu, ga seperti biasanya berpenampilan secantik ini." ucapku dalam hati.
Ya, ku lihat kak Naya mengenakan dress berwarna cream muda setinggi lutut dan memakai heels dilengkapi manik yang sangat cantik, membuatnya semakin anggun di mataku.
"Gak biasa-biasanya kakak rapi dan cantik seperti ini!, biasanya juga dengan daster dan sandal jepit kesayangan itu, memangnya mau kemana sih?" tanyaku penasaran.
"Ishh... teganya kamu bilang gitu sama kakak!, kakak berpenampilan seperti ini sengaja untuk menemui kamu." ucap kak Naya sambil memegang tanganku.
"Hah.... a... apa?, aku gak salah dengar kak?" tanyaku kembali.
"Kok kamu kaya gak yakin begitu sih, ya sudah kakak mau pulang saja kalau begitu." ucap kak Naya sambil meninggalkanku.
"Jangan kak!, aku senang kakak disini bersamaku." jawabku dengan tegas.
"Nah gitu dong, boleh kan kakak duduk disebelah kamu?" tanya kak Naya.
"Booo... boleh kak." jawabku dengan suara gemetar.
Tiba-tiba saja tangan kak Naya meraih kedua pipiku dan mengusapnya dengan lembut.
"Kakak mau apa?" tanyaku dengan hati yang berdebar.
"Kakak mau kamu." jawabnya padaku.
"Aku gak ngerti maksud kakak, kenapa kak Naya melakukan ini?" tanyaku lagi.
"Jangan pura-pura sama kakak, kakak tau kalau kamu mau kakak seperti ini kan?" ucap kak Naya sambil menekan rahang pipiku.
"Kakak harap kamu gak sia-siakan kedatangan kakak kesini." ucap kak Naya.
__ADS_1
Tiba-tiba bibir ka Naya mencium bibirku dengan cepat sambil menggigitnya perlahan. Aku yang semakin terbawa suasana hingga tak sadar jemariku mulai nakal dan membuka resleting dressnya.
Nafsu birahiku menggebu-gebu, ingin rasanya resleting ini segera terbuka.
"Kok susah dibuka sih?" tanyaku heran.
"Kenapa resletingnya harus macet!" ucapku kesal.
Kak Naya yang tak menjawab pertanyaanku masih asyik memainkan tangannya di tubuhku. Aku pun masih berusaha membuka resletingnya yang macet.
Tiba-tiba.....
"Mas.... Mas Rio, sudah bangun belum ya?, ini sudah adzan subuh." panggil seseorang yang suaranya agak samar-samar.
"Aduh... ada ibu kost datang, bagaimana kalau dia tahu bahwa di kamarku aku bersama seorang wanita." ucapku ketakutan.
Aku pun melanjutkan aksi ku, namun masih sibuk membuka resleting baju yang macet.
"Ayo bangun mas!, nanti kesiangan lagi seperti waktu itu." ucap suara itu kembali.
Aku pun segera sadar dan terbangun dari tidurku, setelah mendengar suara ibu kost memanggilku dan mengucapkan kata kesiangan.
"Iya bu, saya sudah bangun, terima kasih ya." sahutku dari dalam kamar.
"Arggghhh........ jadi itu hanya mimpi." ucapku sambil terduduk di ranjang.
"Aiiishh.... kenapa aku bisa punya mimpi mesum seperti itu?" ucapku sambil malu-malu.
"Kenapa bisa mimpi itu terasa begitu nyata ya?" ucapku menambahkan.
"Untung saja ibu kost segera membangunkanku, kalau tidak aku masih sibuk membuka resleting bantal ini hingga aku terlambat sampai kantor." keluhku sambil memegangi bantal yang kupeluk dalam mimpiku.
Segera ku menuju ke kamar mandi yang berada di balik kamar kostku.
"Haduuh... untung saja itu hanya mimpi, aku gak tau harus bersikap seperti apa di depan kak Naya saat aku bertemu dengannya nanti." ucapku sambil membuka seluruh pakaian yang ku kenakan.
"Tapi kenapa bisa mimpiku semesum itu ya?" tanyaku dengan heran.
"Ah sudahlah, itu kan hanya mimpi, aku tidak benar-benar melakukan perbuatan mesum itu dengan kak Naya." ucapku sambil mengolesi tubuhku dengan sabun.
Tookk... tookk... tookk...
(Suara pintu kamar mandiku di ketuk)
"Mas Rio... mas.... nanti setelah selesai mandinya, segera sarapan ya, ibu sudah buatkan sarapan untuk kalian semua." panggil bu kost padaku.
__ADS_1
"Iya bu." jawabku singkat saat itu.
Setelah selesai mengoles sabun pada seluruh tubuhku, aku pun langsung membasuhnya dengan air. Ku bergegas masuk ke kamar dan mengenakan kemeja kerjaku.
"Kalau di lihat-lihat kamu tampan juga Ya." ucapku sambil melihat diriku di depan cermin.
"Pantas saja Amel cinta mati padamu" tambahku dengan percaya diri.
Selesai merapikan penampilanku, aku berjalan menuju ruang makan rumah ibu kost yang berada di depan tempat kostku.
"Selamat pagi semua." salamku pada semua orang yang berada di ruangan itu.
"Pagi juga mas Rio."
"Ayo silahkan duduk mas!" seru ibu kost padaku.
"Baik bu, terima kasih." jawabku pada ibu kost.
"Loe kesiangan ya?" tanya salah satu teman kostku, Ilham namanya.
"Iya nih, sampe-sampe si ibu bangunin juga ga sadar." jawabku pada Ilham.
"Mimpi apaan sih Loe, sampe kesiangan begitu?, mimpi mesum jangan-jangan!" ucap Ilham padaku.
"Husst... pagi-pagi kok udah ngomongin yang enggak-enggak, ayo cepat di makan sarapannya!" seru bu kost pada kami semua yang berada di ruang makan itu.
"Ahh... apaan sih loe." sahutku pada Ilham dengan gugup.
"Sudah-sudah, ayo di lanjut makannya." pinta ibu kost.
Ibu kost memang selalu memperhatikan kami semua (anak kostnya dengan baik). Bagi ibu kost, kami bagaikan putranya sendiri. Ya, salah satu putra ibu kost bekerja di luar daerah dan harus tinggal kost disana. Itulah mengapa, ibu kost memperlakukan kami seperti putranya sendiri.
Setelah menyelesaikan sarapan pagiku, aku segera mengambil tas dan kunci mobilku yang masih berada di dalam kamar kostku.
"Sarapannya sudah selesai mas Rio?, ayo ditambah lagi sarapannya!" ucap ibu kost padaku.
"Sudah cukup bu, terima kasih untuk sarapannya."
"Saya pamit berangkat bu." ucapku pada ibu kost.
"Bro... gua jalan dulu!" pamitku pada teman kostku yang lain.
"Hati-hati mas Rio!" pesan ibu kost padaku.
"Oke, hati-hati loe." sahut teman kostku.
__ADS_1
Aku berjalan menuju halaman parkir, kemudian menyalakan mobil untuk bersiap-siap berangkat ke kantor.
"Aduh... sudah siang ya, bisa-bisa aku terlambat lagi sampai di kantor!" ucapku kaget saat melihat jam pada ponselku.