
Sesampainya di kantor, aku melakukan pekerjaan seperti hari-hari biasanya, tidak ada yg aneh atau pun spesial bagiku. Hingga tiba pada saatnya jam pulang kantor, terdengar nada pesan pada handphoneku.
"Aku tunggu kamu di luar kantor ya!" ucap Amel dalam pesannya.
"Oke." balasku singkat.
Saat aku menuju area parkir, terlihat Amel berdiri di dekat mobilku.
"Ada apa Mel?" tanyaku
"Aku boleh ikut kamu ke tempat kost gak? hari ini aku gak mau pulang cepat ke rumah." jelas Amel padaku.
"Lho, memangnya ada masalah apa kamu di rumah?" tanyaku penasaran.
" Sebenarnya sih gak ada masalah apa-apa, cuma lagi bosen aja ada di rumah."
"Gimana boleh kan aku ikut ke tempat kost kamu?" tanya Amel lagi.
"Aduh gimana ya, aku juga bingung mesti bilang boleh atah enggak, karena setahuku teman-teman kostku belum pernah ada yang bawa cewek kesana." jelasku pada Amel.
"Aku khawatir ini akan menjadi masalah bagi kita dan ibu kost nantinya." ucapku dengan khawatir.
"Gak akan sampai terlalu malam kok aku disana!, aku janji." jelas Amel padaku.
"Ya sudah, terserah kamu saja." ucapku singkat.
Ku lajukan segera mobilku menuju rumah kost bersama Amel. Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya aku dan Amel tiba.
"Kamu tunggu disini!, aku mau menyimpan tas kemudian mengganti baju." ucapku pada Amel.
"Oke, jangan lama-lama ya!, aku takut sendirian di luar sini." ucap Amel padaku.
Aku hanya menganggukan kepala ku pada Amel, yang berarti mengerti dan setuju.
"Kamu mau minum apa Mel?" tanyaku pada Amel setelah selesai mandi dan mengganti baju.
"Air putih biasa aja deh." jawab Amel.
__ADS_1
"Sebentar, aku ambilkan dulu." ucapku pada Amel.
"Kamu tidur 1 kamar sendiri?" tanya Amel.
"Iya." jawabku sambil memberikan gelas berisi air minum kepada Amel.
"Kamu gak mau jujur, kenapa kamu gak mau pulang dan lebih memilih datang kesini?" tanyaku pada Amel.
"Aku cuma lagi gak ingin ketemu sama papa mama, tiap ketemu selalu saja yang ditanya itu terus." jelas Amel padaku.
"Memangnya ditanya apa?" tanyaku dengan heran.
"Mana pacar kamu, kenalin sama mama papa!" jelas Amel padaku.
"Kalau memang ada pun ga akan aku sembunyiin dari mereka, tetapi kan kenyataannya aku belum punya, ga mungkin kan aku bawa sembarang orang terus aku bilang sama mereka kalau itu pacar aku." jelas Amel menambahkan.
"Iya kamu benar Mel, gak perlu kamu lakuin itu untuk sekedar membuat mereka tenang, justru kamu malah akan mengecewakan mereka seandainya mereka tahu kamu hanya berbohong." ucapku pada Amel.
"Mel... sebenarnya kamu bukan belum ada, tetapi kamu belum membuka hati kamu untuk orang lain."
"Hati kamu masih terfokus pada seseorang yang kamu pilih, tanpa kamu sadari kamu menutup hati kamu untuk yang lain, makanya sebanyak apapun pria yang mendekati kamu, gak akan pernah kamu lihat." ungkapku pada Amel.
"Jadi maksud kamu, aku harus lupain kamu dan membuka hati untuk yang lain, begitu?" ucap Amel dengan nada setengah emosi.
"Itu kan saran aku, kamu mau coba ya silahkan dan kalau pun kamu keberatan ya gak masalah juga, kan kamu yang jalani nantinya!" ucapku menjelaskan.
"Aku bukan gak mau membuka hati aku untuk orang lain Yo, tapi aku takut mereka gak akan bisa terima kekurangan aku." ucap Amel sambil menundukan kepalanya.
"Mel, setiap orang masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan!, nah tugas kita sebagai manusia adalah saling menerima kekurangan orang lain." ucapku pada Amel.
"Itu kan kamu, bukan orang lain!" sahut Amel.
"Memangnya kekurangan kamu yang mana sampai-sampai kamu takut orang lain gak akan menerima kekurangan kamu?" tanyaku pada Amel.
"Sebenarnya aku..... aku...
"Hmmm.... aku gak sanggup ceritain ini sama kamu, aku malu!" ucap Amel dengan gugupnya.
__ADS_1
"Sebenarnya apa?, jelasin sama aku Mel, jangan buat aku penasaran seperti ini!" ucapku pada Amel.
"Sebenarnya aku sudah ternoda Yo." ungkap Amel sambil menesteskan air mata.
"Ini kekuranganku yang gak akan bisa pria lain untuk terima aku apa adanya." ucap Amel yang semakin tak kuasa menahan tangisnya.
"Siapa pelakunya Mel?, pacar kamu? Apa aku kenal orangnya?" tanyaku bertubi-tubi pada Amel.
"Kamu gak akan kenal orang itu Yo, dia teman saat SMA ku dulu yang juga adalah tetangga satu komplek dengan rumahku." ungkap Amel.
"Jadi kejadian itu sudah lama?, dan kamu baru cerita jujur!" tanyaku pada Amel.
"Aku takut kamu jauhi aku karena kekurangan yang aku miliki Yo, aku gak mau kehilangan kamu!" ucap Amel sambil tersedu-sedu.
"Terus dimana sekarang laki-laki be**t itu?" tanyaku dengan nada kesal.
"Aku gak tau dimana dia sekarang, semenjak itu dia pindah rumah dan menghilang." ucap Amel.
"Aku bingung sama kamu, bisa-bisanya kamu percaya dan memberikan kesucian kamu pada pria tidak bertanggung jawab itu." tanyaku heran.
Amel pun langsung menceritakan asal mula kejadian menyakitkan itu kepadaku, sambil sesekali mengusap air mata yang jatuh di pipinya.
"Saat itu aku menerima pesan darinya, bahwa dia sedang sakit dan tidak ada orang yang mengurusnya di rumah karena orang tuanya sibuk bekerja, Asisten rumah tangganya pun sedang pulang kampung." "Akhirnya aku segera menuju ke rumahnya yang tak jauh dari rumahku." ungkap Amel padaku.
" Sesampainya disana, kulihat dia berbaring lemah tidak berdaya di kamarnya, lalu segera ku masuk dan menghampirinya untuk menanyakan keadaannya, namun saat aku telah memasuki kamarnya, aku sangat kaget ketika tiba-tiba ia terbangun dari ranjangnya dan terlihat sehat." lanjut ungkap Amel padaku.
"Ia berdiri lalu mengunci pintu kamarnya saat itu dan langsung mendorongku ke ranjangnya." cerita Amel sambil tersedu-sedu.
"Aku pun berteriak karena kaget dan merasa takut, namun ia langsung membekap mulutku agar suara teriakanku tak terdengar oleh orang lain." Dia lalu berbisik di telingaku agar aku diam dan menikmati semuanya, dia juga mengancam akan membunuhku apabila aku tidak menuruti kemauannya." ungkap Amel yang tak kuasa menahan tangisnya.
"Satu persatu kancing bajuku dibuka dengan paksa olehnya, aku pun tak kuasa melawan dan berteriak karena seluruh tangan dan tubuhnya telah menguasai tubuhku."
"Saat dia melepasakan seluruh pakaiannya, segera aku berlari untuk menggapai pintu, namun ia langsung menarik kembali tanganku dan melemparku kembali ke ranjangnya." ungkap Amel melanjutkan.
"Saat itu aku semakin lemas dan tak berdaya lagi untuk melawan dan memberontaknya. Ia akhirnya mulai menggerayangi seluruh tubuhku dan melepaskan seluruh pakaian yang ku kenakan."
"Saat itu lah terjadi kejadian menyakitkan dalam hidupku, aku ternoda." ungkap Amel sambil terisak-isak.
__ADS_1
"Setelah semuanya terjadi, dengan santainya dia katakan bahwa ini semua hanya kecelakaan dan diluar dugaannya, dia mengancam akan mencari dan membunuhku apabila aku mengatakannya kepada kedua orang tuaku dan yang lainnya." ungkap Amel menambahkan.
"Jadi saat itu aku hanya bisa pasrah dan menerima semua kejadian itu sebagai nasibku." ucap Amel.