
Setelah melalui perjalanan kurang lebih 1 jam 20 menit, akhirnya aku tiba di kantor. Ya, macet perjalanan adalah hal umum yang aku rasakan setiap harinya.
Kulewati pintu utama dan terdengar sapaan dari salah satu karyawanku.
"Selamat pagi Pak." sapa salah seorang teller di kantor ku. Amelia namanya.
"Selamat pagi Mel." sahut aku kemudian.
Segera ku memasuki ruang kerjaku yang berada di belakang teller.
Krek... aku menarik kursiku dan meletakan tas di atas mejaku, ku lihat ada sebuah pesan yang ditulis di atas kertas kecil.
"Diminum ya kopinya!" tulis Amelia dalam suratnya.
"Amel lagi!, kamu benar-benar pantang menyerah ya Mel!"
"Padahal kamu tahu bagaimana aku, tapi kamu tetap bertahan dengan keyakinanmu itu." ucapku dalam hati sambil meminum kopi yang dibuat Amel.
Saat itu aku ingat pesan kak Naya, agar aku segera mengabarinya sesampainya aku di kantor.
"Aku sudah sampai di kantor kak." isi pesanku pada kak Naya.
Dalam hitungan detik pesan yang ku kirimkan, langsung dibalas olehnya.
"Syukurlah kalau begitu, ingat pesan kakak tadi, kamu harus selalu jaga kesehatan." ucap kak Naya dalam pesannya.
"Iya kak." balasku sambil tersenyum.
"Perhatian kakak ini yang buat aku merasa spesial kak."
"Sikap acuh dan dinginku hanya topeng, agar aku bisa terus seperti ini, memendam rasa tanpa kakak tahu." gumamku dalam hati.
"Oh ya, kakak lupa kasih tahu kamu kalau Jumat pekan ini adalah peringatan 12 tahun meninggalnya bapak dan ibu, kalau bisa kamu pulang lebih awal ya biar bisa bantu kakak untuk siapin segala sesuatunya." pinta kakak dalam pesannya.
"Iya kak, aku usahakan ya." jawabku pada pesan kakak.
"Ya sudah, kakak mau melanjutkan pekerjaan kakak dulu."
"Selamat bekerja ya Yo." ucap kak Naya dalam pesannya.
"Selamat bekerja juga kak." balasku pada pesan kak Naya.
Melihat tumpukan dokumen di meja kerjaku, aku pun segera menyelesaikannya hingga tak terasa waktu sudah memasuki jam makan siang. Ku letakan seluruh pekerjaanku dan menuju ke kantin kantorku yang berada di lantai dasar.
Tiba-tiba saja, masuk sebuah pesan ke handphoneku.
"Aku sudah di kantin ya, aku tunggu kamu disini!" jelas bunyi pesan Amel padaku."
"Oke!" jawabku dengan singkat.
__ADS_1
Sesampainya di kantin, aku mencari keberadaan Amel. Lalu terlihat dari kejauhan, Amel melambaikan tangannya padaku. Ku langkahkan kakiku menghampirinya.
"Kamu belum pesan makan?" tanyaku.
"Sudah, tinggal menunggu diantar saja." jelas Amel.
"Oke, aku pesan makananku dulu." ucapku pada Amel.
(Aku memesan 1 batagor dan 1 juice mangga saat itu).
"Aku perlu bicara serius sama kamu." ucap Amel padaku.
"Silahkan, bicara aja langsung Mel." sahutku pada Amel.
"Aku mau tanya sama kamu, sejauh ini apa arti aku buat kamu Yo?" tanya Amel.
"Kenapa kamu terus-terusan bersikap dingin dan acuh padaku?" tanya Amel kembali.
"Sampai saat ini kamu tetap temanku Mel dan akan selamanya seperti itu." jawabku pada Amel.
"Kamu kenal baik denganku, kamu pasti tahu betul bahwa itu memang karakterku pada semua orang tanpa terkecuali." tambahku.
"Cuma teman?, hanya itu?" tanya Amel penasaran.
"Lalu kamu mau aku jawab apa Mel?" tanyaku kembali pada Amel.
"Aku tak pernah memintamu untuk mencintai aku, dan sekarang tiba-tiba kamu tanya itu." tambahku.
"Apa gak perlu ulangi penjelasanku tadi kan Mel?" tanyaku pada Amel.
"Gak perlu kok, aku udah dengar dan mengerti maksud kamu." ucap Amel dengan suara berat dan gemetar.
Matanya terlihat mulai memerah karena menahan air mata. Tiba-tiba saja air matanya terjatuh melewati pipinya.
"Apa kamu punya pacar?, atau wanita lain yang kamu cintai?" tanyanya sambil tersedu-sedu.
"Gak ada Mel, aku cuma belum ingin memikirkan hal itu." jawabku pada Amel yang saat itu tangisnya mulai pecah.
Aku minta maaf Mel, membuat kamu sampai meneteskan air matamu. Aku hanya tidak ingin kamu semakin berharap padaku yang tidak bisa membalas perasaanmu.
"Ya sudah kalau memang begitu, aku minta maaf sudah salah mengartikan kedekatan kita." ucap Amel sambil meninggalkan aku yang kala itu masih terduduk di
kantin.
"Ini makanannya belum kamu makan Mel!, Amel.... " panggilku pada Amel yang terus berjalan meninggalkan kantin.
"Aku tau ini menyakitkan untukmu, tapi aku benar-benar tidak bisa mencintai kamu Mel, kamu hanya teman untukku." ucapku dalam hati.
"Aku memang memiliki wanita lain yang sudah mengisi hatiku, yaa dia adalah kakakku." tambahku dalam hati.
__ADS_1
Ku selesaikan makanku dan segera kembali ke kantor, karena waktu istirahat jam makan siang sudah hampir selesai. Setibanya di kantor, aku melihat Amel sedang termenung dengan tatapannya yang kosong. Aku menjadi semakin merasa bersalah karenanya.
Sesekali kulihat Amel dari balik tirai di ruanganku.
"Kamu wanita kuat Mel." ucapku.
"Kamu bisa memisahkan antara masalah pribadimu dan tanggung jawabmu terhadap pekerjaan."
"Di saat seperti ini pun, kamu tetap terlihat profesional menangani setiap nasabah yang datang." tambahku
Aku pun kembali duduk dan melanjutkan pekerjaanku yang sempat tertunda.
Beberapa kali ku pandangi layar handphone dan menunggu pesan kak Naya.
"Apa aku saja yang mulai mengirimkan pesan padanya." gumamku dalam hati.
"Arrghh... biar aku tunggu kak Naya saja." ucapku
"Tapi rasanya gak masalah kalau aku harus memulainya lebih dulu." tambahku lagi.
Akhirnya aku pun meraih handphoneku, sekedar mengirimkan pesan untuk melepas rindu.
"Sedang sibuk kak?" tanyaku lewat pesan yang kukirimkan padanya.
Ku tunggu balasan dari kak Naya, namun setelah menunggu hampir 30 menit lamanya, pesanku tidak juga terbaca olehnya.
Ku pandangi terus handphoneku, berharap kak Naya segera membalas pesanku.
"Lebih baik aku hapus lagi saja pesannya!" ucapku bimbang.
Aku pun segera menghapus pesan yang telah ku kirimkan kepada kak Naya. Ku tarik kembali pesanku agar ia tidak dapat membacanya. Tidak berapa lama saat aku sudah menghapus pesanku, tiba-tiba dering pesanku berbunyi.
"Kok pesannya kamu hapus lagi Yo!, ada apa?" tanya kak Naya.
"Kamu baik-baik saja kan?" tambah kak Naya bertanya.padaku.
"Aku baik-baik saja kak, tadi aku salah kirim pesan makanya segera ku hapus kembali saat tahu pesan yang kukirimkan salah." jelasku pada kak Naya.
"Oh... kakak pikir ada apa." balas kak Naya.
"Ya sudah kalau begitu." balas kak Naya lagi.
"Iya kak." jawabku singkat.
"Haaah... kenapa aku ceroboh banget ya!, pesan yang sudah kukirimkan malah kuhapus lagi dan buat kak Naya curiga." ucapku saat itu.
"Ah sudahlah.. kak Naya juga akan percaya saat aku bilang kalau aku salah mengirimkan pesan." ucapku dalam hati.
Banyaknya pekerjaan hari ini membuatku sibuk hingga waktunya pulang tiba. Segera ku rapikan mejaku dan ku ambil tasku untuk keluar dari ruangan. Tak seperti yang biasa kulihat, saat ini meja Amel sudah kosong. Ya Amel sudah pulang lebih dulu.
__ADS_1
"Semoga saat ini kamu akan akan tetap baik-baik saja Mel." ucapku berharap.
Ku nyalakan mobil dan bergegas pulang ke rumah kostku yang jaraknya hanya sekitar 3 km saja dari kantor.