
Kriiing..... kriiing..... kriiing.....
Dering alarm pada handphone ku berbunyi, aku pun bergegas bangun untuk bersiap-siap berangkat bekerja.
"Argghh.....kenapa seluruh tulang ini rasanya mau copot?" gumam diriku sambil bergegas turun dari ranjangku.
Krek.... terdengar suara pintu depan kamarku dibuka.
"Baru bangun kamu Yo?" tanya kak Naya.
"Iya kak" jawabku singkat.
"Ya Tuhan, sungguh indah ciptaanmu, memandanginya saja aku tak ingin untuk berkedip dan melewatkannya." ucapku dalam hati.
Bahkan melihat kak Naya hanya menggunakan daster berbunga dengan sandal jepit ciri khasnya itu bagiku bak putri cantik dalam negeri dongeng.
"Heii... kamu ko ngeliatin kakak begitu Yo?, kenapa, ada yang aneh sama kakak ?" tanya kakak padaku".
"Hihii.... kakak tuh jorok ya, lihat deh di cermin, apa yang menempel di pipi kakak itu." ucapku pada kak Naya.
"Ihh... ya ampun.... hahaha... "
tawa kakak sambil membersihkan pipinya dengan sehelai tissue basah.
"Makanya kak, mandi pagi-pagi biar keliatan cantik kaya cewek-cewek di luar sana." ucapku pada kak Naya.
"Siapa tahu kalau kakak mandi dan terlihat cantik, ada pangeran tampan dan berkuda yang akan melamar kakak." ucapku meledek.
"Hahah.... bisa aja kamu Yo, nih kakak kasih tau ya, kakak tuh mandi gak mandi memang udah cantik kok, liat aja Sapta yang terus-terusan dekati kakak." sahut kak Naya sambil merapikan ikatan rambutnya.
"Sapta tuh ketipu kak, coba dia tahu kakak jarang mandi kaya gini, mungkin juga dia kapok dekati kakak." ucapku.
"Aku sih nih kak kalau jadi Sapta, mikir lagi deh buat dekati kakak, udah jarang mandi, terus di rumah sukanya dasteran dan pakai sendal jepit, gak banget deh kak." ucapku meledek.
"Biarin aja, lagipula kamu juga bukan tipe kakak kok, jadi ngapain harus cantik-cantik di rumah." ucap kakak sambil menjulurkan lidahnya dan meledekku.
"Jangan meledek kakak begitu kamu Yo, siapa tahu jodoh kamu juga nanti jarang mandi kaya kakak, atau malah bisa jadi yang gak pernah mandi... hahahah...." ledek kak Naya padaku.
"Itu sih ga mungkin banget kak, memang masih ada ya cewek jorok selain kakak di dunia ini?" balasku meledek kak Naya.
"Isshh.... masih jomblo aja udah berani ledekin kakak ya." ucap kak Naya.
"Eiitsss... kakak salah, aku bukan jomblo kak tapi memang prinsip aku untuk ga pacaran dulu." sahutku.
__ADS_1
"Lagipula aku masih belum menemukan cewek yang pas dan sesuai dengan typeku kak" aku menambahkan lagi.
"Prinsip atau gak laku nih" ucap kak Naya.
"Terserah kak Naya aja deh, aku mau siap-siap mandi dulu." Ucapku pada kak Naya.
"Iya sana mandi, biar cepat punya pacar dan gak jomblo terus." teriak kak Naya padaku.
Aku yang tidak menghiraukan ucapan kak Naya, langsung bergegas menuju kamar mandi.
"Kakak memang jarang mandi, tapi bagiku itu ga mempengaruhi perasaanku pada kakak." gumamku dalam hati.
Aku tidak tahu kapan perasaanku pada kak Naya mulai tumbuh, yang aku tahu kini perasaan itu semakin bertambah setiap harinya. Ku sembunyikan semua perasaan itu dengan sikap cuek dan dinginku.
Setelah aku selesai mandi, aku pun segera mengambil kemeja kerjaku yang sudah kakak siapkan di dalam lemari kamarku.
"Yo.... kakak sudah siapin sarapan ya untuk kamu, sebelum berangkat kamu makan dulu!" teriak kakak dari arah dapur."
"Iya kak, nanti aku makan sarapannya." jawabku dari kamar.
Aku yang telah mengenakan kemeja kerjaku, langsung menuju ruang makan untuk menyantap sarapan yang telah kakak sediakan. Saat ku sedang menyantap sarapan pagiku, terdengar dering nada pesan dari handphone kak Naya.
Tuuttt.... turuutuutt .. turuuutut....
"Ini ada pesan dari Sapta." ucapku dengan perasaan cemburu.
Kak Naya pun langsung meraih handphonenya yang ia letakan di atas meja makan.
"Makannya yang lahap ya, kakak sengaja buatin nasi goreng kesukaan kamu biar kamu bisa makan dengan lahap." ucap ka Naya sambil memperhatikanku.
"Iya kak, makasih." jawabku singkat.
"Kamu selalu jaga kesehatan ya Yo, sempatkan sarapan pagi sebelum bekerja." pesan kak Naya padaku.
"Kakak ga perlu khawatir berlebihan, aku bukan lagi anak kecil yang harus kakak khawatirin seperti itu." ucapku pada kak Naya.
"Justru karena kamu jauh dari kakak, kakak selalu khawatir dengan keadaan kamu, kakak takut kamu sampai telat makan dan sakit." ucap kakak padaku.
"Apalagi sekarang cuma tinggal kamu yang kakak punya." ucap kakak dengan raut muka sedih.
"Kakak tenang saja dan gak perlu khawatir lagi, aku akan jaga kesehatanku dengan baik kak." ucapku menenangkan kak Naya.
Tiba-tiba kakak menarik kursi di sebelahku dan duduk di sampingku.
__ADS_1
"Aduh Yo, kamu ga pake minyak rambut ya." tanya kak Naya.
"Belum sempet ka, tadi Rio langsung kesini setelah pakai baju" jawab diriku.
"Kemeja kamu juga keliatan kusut deh, sini buka dulu kemejanya biar kakak setrika dulu." ucap kak Naya.
"Enggak perlu kak, lagi pula ini sudah hampir jam 06.00 pagi, Rio khawatir nanti terlambat sampai kantor." ucapku pada kak Naya.
"Enggak akan lama ko !, ayo cepat dibuka dulu kemejanya." ucap kaka dengan nada memaksa.
Tangan kak Naya tiba-tiba memegang kancing kemejaku dan membukanya satu- persatu. Perasaanku semakin tak karuan saat kak Naya hanya terfokus padaku.
Dag.... dig.... dug....
Detak jantung ini terasa bagaikan dentuman yang terdengar hingga telingaku. Bagi seorang adik dan kakak kandung, mungkin hal ini akan terasa biasa saja, namun bagiku hal ini membuatku canggung dan merasa tidak nyaman.
"Kenapa terasa lama sekali kak Naya membuka semua kancing kemejaku." tanya ku dalam hati."
"Biar aku saja kak yang melepaskan." ucapku pada kak Naya.
"Ya sudah cepat buka dan berikan kemejanya pada kakak, nanti kamu semakin terlambat." ungkap kak Naya.
"Ini kemejaku kak!" ucapku sambil memberikan kemeja yang sudah kulepaskan.
Tidak lama berselang, akhirnya kakak memberikan kembali kemeja yang telah kakak setrika padaku. Segera ku pakai kembali dan langsung berpamitan padanya.
"Kak, aku berangkat." ucapku sambil bergegas ke garasi dan menyalakan mobil.
"Oke Yo, hati-hati ya, kabari kakak segera sesampainya kamu di kantor." teriak kakak dari dalam rumah.
Saat aku baru memasuki mobil dan hendak berangkat, tiba-tiba dari arah belakang muncul mobil yang hendak parkir di depan halaman rumahku.
"Mobil siapa itu?" tanyaku dalam hati.
Keluarlah seorang laki-laki berpostur tinggi dan mengenakan kaca mata dari mobil itu.
"Ohh... Sapta!" ucapku sambil mengerutkan dahi.
"Apa dia tidak punya pekerjaan ya, sepagi ini sudah menjemput kak Naya."
"Padahal kakak juga bisa untuk pergi sendiri tanpa harus diantar olehnya, jarak tempat kakak bekerja juga tidak terlalu jauh dari sini." ucapku sambil menggerutu.
"Ah... sudahlah, itu kan urusan mereka, aku bisa apa!" ucapku dalam hati.
__ADS_1
Segera ku tancap gas mobilku dan bergegas berangkat ke kantor, karena aku tak ingin melihat kedekatan kakak dan Sapta yang hanya akan menyakiti hatiku.