
"Gak biasa-biasanya Rio mematikan ponselnya selama ini, kemana ya dia?" gumam Amel dalam hati.
"Kalau aja aku punya nomor kak Naya, mungkin aku sudah menanyakan tentang Rio padanya," ucap Amel sambil menatap layar ponselnya.
Malam yang larut membuat Amel tak kuasa menahan kantuknya, ia bergegas naik ke ranjang dan tidur.
Hooaamm....
(menguap)
"Huh.. lebih baik aku segera tidur sekarang, semoga saja besok aku bertemu dengannya di kantor," ucap Amel sambil menarik selimut ke tubuhnya.
Malam pun berganti pagi, kicau burung terdengar merdu di telinga. Sinar mentari yang tampak masuk melalui jendela seolah membangunkan tidur lelapnya. Terdengar ketukan dari balik pintu kamarnya.
Tok... tok... tok...
(suara pintu di ketuk)
"Non... non Amel ayo bangun, ini sudah jam 06.30 non!" panggil bi Asih pada Amel yang masih tertidur di atas ranjangnya.
Panggilan asisten rumah tangganya tidak sama sekali membangunkan tidur Amel saat itu. Bi Asih kemudian mencoba membangunkan kembali dengan mengetuk pintunya lebih keras.
Tok... tok... tok...
(suara pintu di ketuk)
"Non Amel ayo bangun, ini sudah jam 07.30! bukankah non kerja hari ini, non sudah kesiangan lho," ucap bi Asih dari balik pintu kamar Amel.
Mendengar panggilan bi Asih, Amel segera menyingkap selimut dari tubuhnya.
"Apa bi, jam 07.30? kenapa bibi gak bangunin aku dari tadi sih bi, aku kan jadi kesiangan nih!" gerutu Amel dari dalam kamarnya.
Amel pun segera beranjak dari ranjangnya dan mencari ponselnya.
"Ahhh... syukurlah ternyata baru jam 06.38," ucap Amel dengan menarik nafas panjangnya.
Membangunkan dengan trik seperti ini adalah andalan terakhir bi Asih apabila majikannya itu masih sulit untuk dibangunkan, ia akan mengatakan bahwa saat itu sudah sangat siang. Tak menunggu lama, majikannya pun bangun dan keluar dari kamarnya.
Setelah Amel sudah siap dengan pakaian kerjanya, ia bergegas ke dapur menghampiri bi Asih yang tengah menyiapkan sarapan untuk keluarga Amel.
"Bi, aku minta maaf ya, bibi harus repot-repot bangunin aku, jangan kapok ya bi buat bangunin aku," pinta Amel pada bi Asih dengan wajah memelas.
"Bibi gak akan kapok, justru bibi yang minta maaf harus berbohong sama non Amel! habis kalau bibi gak bohong, non suka susah dibanguninya," ucap bi Asih beralasan.
__ADS_1
"Iya gak masalah bi, oh iya aku langsung berangkat bi soalnya ini sudah siang banget!" ucap Amel sambil melihat waktu pada jam tangannya.
"Non gak sarapan dulu?" tanya bi Asih
"Gak bi, aku berangkat ya!" jawab Amel sambil berlalu dan pergi dari ruang dapur.
Sesampainya di kantor Amel menyimpan tas di mejanya, ia pun duduk di kursi tempatnya bekerja. Tatapan matanya hanya tertuju pada arah pintu masuk, ia berharap dapat melihat dan mengurangi kecemasannya pada Rio, sang pria idaman hatinya.
Hingga memasuki jam kerja, Amel masih juga tak melihat kedatangan Rio di kantornya. Kecemasan Amel semakin menjadi, ia pun akhirnya berencana untuk mendatangi rumah Rio sepulangnya bekerja sore nanti.
Rutinitas pekerjaan, Amel lakukan dengan profesional hingga sore tiba, walaupun hatinya penuh dengan kekhawatiran namun ia bisa mengesampingkan semua itu agar pekerjaannya tak terganggu.
Setibanya pukul 16.15 Amel bersiap-siap untuk pergi ke rumah Rio, ia penasaran mengapa hari itu Rio tidak masuk bekerja. Dalam perjalanan menuju rumah Rio, hatinya tak karuan, rasa cemas dan takut melanda pikirannya.
"Akhirnya sampai juga," ucap Amel saraya turun dari kendaraan, tepat di depan rumah Rio.
Tok... tok... tok...
(suara pintu di ketuk)
"Permisi.... Rio.. ini aku Amel," panggil Amel dari luar rumah.
Tiba-tiba keluarlah seorang wanita cantik. Ya, itu kak Naya, kakak perempuan Rio.
"Rio? Rio kenapa kak?" tanya Amel dengan raut wajah kaget.
"Sini yuk, kamu masuk dulu biar kita tenang ngobrolnya," ucap Naya sambil menarik tangan Amel untuk ikut masuk ke dalam bersamanya.
"Kakak mau tanya sama kamu, waktu malam itu apakah Rio mengantarkan kamu sampai ke rumah?" tanya Naya pada Amel.
"Iya kak, Rio antar aku sampai ke rumah! bahkan dia sempat ngobrol juga sama mama papa, memangnya ada apa kak sama Rio?" tanya Amel dengan wajah penasaran.
"Setelah Rio mengantar kamu pulang malam itu, dia belum juga kembali Mel, apa dia gak bilang sesuatu sama kamu?" tanya Naya pada Amel.
"Engga kak, dia gak bilang apa-apa sama aku! malam itu juga ga terjadi apa-apa, dan mama papa bilang sama aku kalau Rio saat itu sudah berpamitan untuk pulang," ucap Amel menjelaskan kronologi malam terakhir bertemu Rio.
"Kakak bingung harus kemana cari Rio, ini sudah 3 hari Mel, kakak harus bagaimana sekarang?" ucap Naya dengan tangis di wajahnya, kekhawatiran pada adiknya membuat ia terlihat pucat dan stres.
"Kakak tenang dulu ya kak, aku akan berusaha bantu kakak mencari Rio," ucap Amel menenangkan Naya yang tengah menangis di sampingnya.
"Kakak gak mau kehilangan dia Mel, hanya dia yang kakak punya sekarang," ucap Naya sambil terisak-isak.
"Iya kak, aku paham perasaan kakak! kita berdoa ya kak semoga Rio baik-baik aja saat ini," ucap Amel sambil memeluk dan mengusap punggung Naya.
__ADS_1
"Oh ya, kakak sudah coba lapor ke kantor polisi?" tanya Amel dengan antusias.
"Sudah malam kemarin, tapi sampai saat ini belum ada kabar lagi dari pihak kepolisian," jawab Naya dengan tangisnya yang semakin tak terbendung.
Melihat keadaan Naya, Amel pun merasa iba. Ia menghubungi kedua orang tuanya untuk meminta izin menginap dan menemani Naya.
"Halo.... ma aku mau minta izin sama mama, aku mau menemani kak Naya di rumahnya, mungkin aku gak akan pulang beberapa hari ini, boleh kan ma?" ucap Amel dalam telponnya.
Mama Amel yang mendengar permintaan putrinya, tentu kaget. Ia kemudian bertanya siapa Naya itu dan kenapa putrinya ingin menemaninya.
"Menginap? untuk apa kamu menginap Mel? siapa Naya itu?" tanya mama Amel dengan memberondong.
"Kak Naya adalah kakaknya Rio ma, aku mau menemani kak Naya mencari Rio, mama mau tau gak? semenjak Rio pulang dari rumah kita malam itu, Rio belum pulang ke rumahnya ma!" ucap Amel menceritakan tentang Rio pada mamanya.
"Kamu serius Mel? Rio belum pulang ke rumahnya? Mungkin gak dia menginap di rumah temannya?" tanya mama Amel terkejut.
"Aku juga belum tahu mah, ini juga aku baru tau kabar Rio dari kak Naya," jawab Amel pada mamanya.
"Ya sudah, mama izinkan kamu menginap di sana, nanti kabari mama ya kalau ada info terbaru tentang Rio," ucap mama Amel dalam telponnya.
"Iya mah, aku pasti kabari mama kok," ucap Amel.
"Ya sudah, mama mau lanjut kerja dulu! baik-baik kamu di sana dan jaga kesehatan ya," pesan mama Amel pada putri semata wayangnya.
"Iya ma, terima kasih," ucap Amel sebelum panggilan telponnya di akhiri.
Amel pun kembali fokus pada keadaan Naya saat itu, ia ikut prihatin melihat Naya yang pucat dan terlihat lebih kurus dari sebelumnya.
Tiba-tiba saja....
Tok... tok... tok...
(suara pintu di ketuk)
"Permisi...." terdengar suara dari balik pintu.
"Tunggu sebentar," sahut Amel terbangun dari duduknya dan menghampiri pintu.
Saat Amel membuka pintu, ia terkejut karena melihat dua orang polisi tengah berdiri di hadapannya. Pikiran tentang Rio berkecamuk di benaknya, ia penasaran informasi apa yang di bawa ke dua polisi tersebut tentang Rio, sang kekasih hatinya.
To be continue....
Tetap di sini ya reader ❤❤
__ADS_1