Kania

Kania
16. KENYATAAN PAHIT


__ADS_3

"NGGAK MUNGKIN...!! KALIAN PASTI .!!"ucap Bu Linda histeris sambil mencengkram rambut nya menggunakan kedua tangan nya kencang.


Pak satya yang melihat istrinya histeris pun langsung memeluk sang istri dengan erat, guna memberi kan ketenangan pada istrinya itu.


" Kamu tenang dulu..! Kita bicara kan baik baik " ucap pak satya lembut.


"Sudah cukup! Aku tidak mau dengar omong kosong kalian lagi! Aku mau pulang! Ucap Bu Linda hendak berbalik ingin pulang"


Saat berbalik hendak melangkah ke arah pintu Bu Linda menenggang seketika ketika melihat di sana ada Kania yang sedang berdiri di pintu dengan muka pucat pasi, dan penuh air mata.


********


Kania mendekati pintu nomer 306 itu dengan perasaan deg degan.


Dia mendekat memegang kenop pintu dan memutarnya perlahan membuat pintu terbuka sedikit, baru saja Kania melangkahkan kaki nya selangkah di depan pintu dia sudah mendengar kenyataan pahit tentang hidup nya .


Bagaikan kehilangan nyawanya Kania diam mematung seakan tidak percaya dengan kenyataan sekarang.


Muka nya pucat pasi dengan tangan menggenggam handle pintu dengan lebih erat lagi guna untuk membantu menopang tubuh nya yang mungkin sudah tidak bertenaga itu .


Arka yang sedari tadi celingukan mencari Gladys kini menatap kania dan dia mengernyit heran melihat Kania diam seperti patung tanpa nyawa itu.


Dengan perasaan khawatir arka pun menghampiri Kania dan memegang bahu Kania berusaha menyadarkan, tapi arka pun mematung di tempat setelah mendengar cerita di dalam kaget dan syok .


Arka melirik Kania sebentar berusaha menyadarkan Kania dari keterpakuan nya.


Melihat Kania yang lemas di depan pintu arka pun memeluk Kania dari belakang guna memberi kekuatan pada Kania untuk kuat menghadapi kenyataan ini.


Kania tidak dapat merasakan apapun selain merasakan hatinya yang hampa saat ini, saat dia mengetahui kalau dia bukan anak dari papah dan mamah nya.


Setetes dua tetes sampai tangispun tak terbendung lagi mengalir dengan deras, Kania masih seperti patung yang belum bergerak dari tempat nya.


Tak lama pun terdengar suara teriakan mamah Linda dari dalam , menyangkal semua kenyataan pahit itu , dia pun menangis histeris tidak percaya kalau anak yang selama ini dia rawat dia asuh ternyata bukan darah daging nya sendiri.

__ADS_1


Saat mamah nya membalikan badan hendak melangkah keluar, mamahnya diam mematung saat melihat Kania berada di depan pintu dengan keadaan syok luar biasa , semua yang ada didalam ruangan itu pun sama syok nya dengan Bu Linda.


"Kania sayang ... Kania anak mamah... " Ucap mamah Linda sambil menghampiri Kania dan menarik Kania ke dalam pelukan nya.


Mereka terus berpelukan sambil terduduk di lantai dan menangis histeris mendengar kenyataan ini.


Bu Linda terus saja memeluk Kania erat merecau bahwa Kania adalah anak nya, kania adalah darah daging nya, sampai Bu Linda tak sadarkan diri di pelukan Kania.


Membuat Kania dan orang orang yang ada di ruangan itu pun panik dan segera memanggil suster yang lewat untuk di bantu membawa brangkar begitu pun dengan wanita remaja yang baru saja datang dari kantin rumah sakit begitu kaget kalau di depan kamar ibu nya sangat ramaiĀ  dan sepertinya baru saja terjadi sesuatu yang menguras emosi dan air mata.


**************


"Bagaimana dokter keadaan istri saya? Ucap pak satya panik saat melihat dokter baru saja keluar dari UGD ."


"Istri anda mengalami syok, kelelahan, dan banyak pikiran. Mungkin akan sadar beberapa jam lagi. Kalau begitu saya permisi dulu". Ucap dokter tampan itu sambil pamit berlalu.


"Kania kamu mau masuk sama papah? Ucap papahnya, dia pun sama khawatirnya dengan anaknya karna sedari tadi Kania Hanya diam melamun ."


Pak satya pun menghampiri sang anak yang masih diam melamun entah memikirkan apa, dia duduk di samping kursi tunggu yang ada di depan ruang UGD itu sambil memegang kedua bahu sang anak .


Kania yang mendengar penjelasan papahnya pun kembali menangis hebat badan nya pun bergetar karna gejolak emosi dalam dirinya.


Papahnya pun buru buru menarik Kania kedalam pelukan nya , mencoba menenangkan anaknya itu.


Walaupun papahnya berusaha keras untuk tidak menangis di depan anak nya, berusaha untuk tidak terisak mengingat anaknya sudah tahu rahasia besarnya selama ini.


Dia tidak mau munafik, dia sangat takut kehilangan anak semata wayang nya ini .


Takut jika suatu saat anaknya akan pergi meninggalkannya dan memilih untuk tinggal bersama ibu kandung nya .


Tak terasa air mata yang sejak tadi di tahan tahan pun akhirnya menetes keluar mengingat kemungkinan kemungkinan yang akan terjadi kedepannya , dia belum siap jika anak nya akan lebih memilih keluarga kandung nya di banding dirinya dan istrinya .


"Kania janji sama papah ? Kania jangan pergi ninggalin mamah dan papah ya! Walaupun nanti kamu mau tinggal dengan ibu kandung mu, kamu harus ingat kalau rumah papah dan mamah akan selalu terbuka untuk kamu nak!. Ucap pak dathaasih memeluk anaknya erat dan menangis.

__ADS_1


" Papah ngomong apa sih!.. aku anak mamah dan papah !.. sampai kapan pun akan seperti itu." Ucap Kania tidak terima dan lebih mengeratkan pelukan satu sama lain nya .


************


S


ekarang Kania sedang berada di depan kamar inap nomer 306.


Dia menimang Minang hendak masuk atau tidak.


Setelah dia mengobrol dengan papah nya tadi, dia izin pamit untuk pergi ke kantin dengan alasan ingin membeli minuman, sedangkan papah nya berjaga di ruangan mamahnya yang belum sadarkan diri.


Mengenai soal arka tadi dia pamit hendak pergi ke tempat Tante nya terlebih dahulu, nanti setelah urusan nya selesai dia akan kembali ke rumah sakit ini walaupun sudah Kania larang.


Setelah sekian lama ia berdiri di depan pintu , akhirnya dia memutuskan untuk tidak jadi masuk saja, saat dia hendak berbalik dan melangkah pergi tiba tiba pintu itu terbuka dari dalam.


"Kania.. ??" Ucap Gladys yang baru saja keluar dari dalam.


Kania yang baru satu langkah berjalan pun akhirnya berhenti karena mendengar panggilan dari seseorang itu.


Dia berbalik dan menatap sebentar pada gadis itu, menelisik seluruh wajah nya apakah ada kemiripan dengan nya atau tidak.


Gladys pun melakukan hal yang sama, dia menatap Kania dengan tatapan tak percaya dan berkaca kaca, apa benar dia adalah kakak nya, sodara kandung nya?


"Mau masuk? Ucap Gladys pelan menawarkan Kania untuk menjenguk mamahnya."


"Gak usah ." Ucap Kania cepat terkesan ketus, karna dia tidak tahu harus menjawab apa sangking gugup nya, jadi dia refleks menjawab agak keras.


"Oh.. " ucap Gladys tersenyum kecut sambil menunduk .


Kania yang melihat perubahan ekspresi dari Gladys pun merutuki mulutnya yang bisa berkata keras seperti itu


"Bisa kita bicara sebentar? " Ucap Gladys ragu ragu.

__ADS_1


Dengan pertimbangan yang cukup lama , akhirnya Kania bersedia berbicara dengan Gladys , membuat Gladys menghembuskan nafas nya lega.


__ADS_2