KARIN(Waktu Nya Pembalasan)

KARIN(Waktu Nya Pembalasan)
#21/Bunga yang begitu berbahaya, seperti yang memberikan nya.


__ADS_3

"kalau seperti ini... tugas yang harus dikerjakan Parlementer itu..." Karin mengangkat kedua kaki nya ke atas saat ia tidur berbaring, tidur tengkurap kepala nya mendongak ke atas sambil baca baca buku yang akan habis ia baca.


"Apa guru delima tak datang kesini lagi?" tanya Karin dalam benak merindukan guru Delima yang katanya akan masuk 3 hari sekali. "Ih... mau habis buku nya... aku mau guru cepat cepat datang kesini!" rengek Karin seperti anak kecil.


Karin membalik kan tubuh nya menjadi posisi yang lebih baik kata paman Jordan tidur dengan posisi tengkurap adalah hal yang tidak baik, apalagi untuk jantung.


Ia suka tengkurap tapi akan ia biasakan tak kan tengkurap lagi karena memang jantung nya agak sakit setelah melakukan itu.


Setelah berfokus kan dengan buku, Karin berpikir apa ia ke ruang PK sekarang ya?. Mungkin paman Jordan sedang menunggu di sana. Dari tadi ia belum mengunjungi ruang PK sama sekali. Tapi juga rasanya malas buat gerak tapi ya bagaimana lagi, Karin harus semangat! titik menyerah bukan jalan nya, yang harus ia lakukan adalah menjalani nya dengan baik.


Berdiri dari ranjang, memakai seragam olahraga dan bersiap datang ke ruang PK dengan berlari kecil. Sambil berlari kecil ia mendengar kan lagu melewati earphone,rasanya menenangkan.


Sambil mendengar, sambil Karin ikuti sedikit sedikit, ia bersenandung sedikit. Tak peduli dengan para pembantu yang tertawa kecil melihat kelakuan Karin.


"Aku tau kau memang bukan milik ku~kau tak perlu ada rasa simpati, tinggalkan aku sendiri~hmm" bernyanyi nyanyi sendiri sambil menggoyang goyangkan pinggul ke kanan kiri, seakan membuat dunia sendiri.

__ADS_1


"Hm~hm~hm~" Karin menari nari sana sini hingga sampai di depan ruang PK. Tak sadar kalau Alan dari tadi meneriaki Karin yang tak mendengar kan panggilan Alan sama sekali, hingga yang kelima kali nya.


"NONA!!!!" teriak Alan yang sudah capek memanggil Karin terus menerus tapi tak dapat jawaban sama sekali. langsung Karin mencopot earphone nya dan tersenyum tanpa rasa bersalah.


"Eh sorry, ada apa Alan?"tanya Karin memiringkan kepala nya sedikit. Alan langsung mengelus dada nya pelan, untung saja Karin tak menderita tuli. Ternyata gara gara earphone. Alan tak tahu, soalnya earphone milik nya tertutupi oleh rambut tebal nya.


"Nona sudah saya pastikan coklat yang diberikan Haikal kemarin, 100% aman tanpa ada nya racun di dalam nya. Tetapi saat saya mengecek bunga yang diberikan Haikal kemarin, bunga itu terdapat serbuk berbahaya"


Karin langsung mengarahkan badan nya ke arah Alan "Maksudmu? coklat nya tak ada racun sama sekali tapi bunga nya ada serbuk berbahaya? berapa persen berbahaya nya bunga itu? apakah bisa sampai meninggal?" tanya Karin yang mulai menserius kan tirus wajah nya.


Langsung Alan melihat data yang berada di ipad yang ia genggam "Tak se berbahaya itu sebenar nya nona, tapi kalau dihirup terlalu dalam, apalagi di rawat di dalam rumah. Serbuk akan menyebar dan menular ke orang lain. gejala awal pilek, batuk dan sesak nafas lalu dibarengi gatal gatal di tubuh. Biasa seperti itu akan sembuh dengan waktu yang cukup lama, tapi kalau ada perawatan yang konsisten. Pasti beberapa hari akan sembuh, jadi berbahaya atau tidak menurut saya 50% iya, karena saat sesak nafas maupun gatal gatal itu memengaruhi tubuh seseorang dari dalam maupun luar" kata Alan menjelaskan tentang apa yang sudah ia teliti di Lab bersama Profesor yang tak banyak diketahui semua orang.


"Kalau kau tak suka bilang saja tak apa"


Alan membungkuk kan badan "Saya sekarang akan menjadi asisten anda untuk selama lama nya nona, tuan Pratama yang meminta ini kepada saya. Jadi saya tak keberatan disuruh apapun oleh anda, karena saya sudah terbiasa" ungkap Alan sudah mengatakan dengan jujur karena Karin merasa jengkel dengan Alan sebenarnya. kan, Alan asisten papa nya kenapa malah melayani nya? apakah papa menaruh kepercayaan Alan kepada karin? karin tak tahu semua ini. Mangkannya dia sering ada disini, selalu ada disisi Karin dan selalu membantu nya dalam kesusahan seperti sekarang, Alan benar benar sangat membantu.

__ADS_1


"Kalau begitu kamu beneran jadi asisten ku selamanya? aku tak percaya. Tapi aku percaya dengan mu, terimakasih ya, sudah mau membantu ku. Aku berterimakasih dengan mu, Alan" ucap Karin mengucapkan terimakasih sambil menepuk lengan Alan pelan.


"Sama sama nona, tentu saya akan ada di sisi anda selama lama nya, sampai salah satu akhir hayat"


Karin tersenyum untuk tanggapan, mengingat dulu dia dan Alan jarang berbicara. Saat dirinya SMP kelas 3 Alan pernah menawarkan permen kepada nya, tapi dia menolak pemberian nya dan bersembunyi di balik tubuh mama. Hingga sekarang Karin tak sadar kalau ia sudah akrab dengan Alan sekarang, tak kan Karin sia siakan kebaikan Alan.


"Kalau begitu apa ada barang bukti yang kamu temukan??? barang kejahatan Haikal atau apapun itu?"


Alan langsung mendekat ke arah Karin, memperlihatkan iPad nya "Ini adalah rekaman yang di rekam anak buah saya, namanya J dia merekam Haikal yang kesal karena ia harus membayar denda atas lecet nya mobil yang ia sewa. Dan saat dirumah J , merekam suara Haikal yang terus mengumpat dengan ucapan kasar" Alan memegang ipad nya yang dilihat Karin dengan sangat seksama.


"Ini belum jadi barang bukti besar, tapi bisa ku serahkan ke Papa Kama.... Alan! simpan itu. Aku mau tanya jam berapa Papa pulang kerja? dan Mama,kapan mama pulang dari Pemotretan?" tanya Karin, Alan melihat jam tangan nya "Mungkin jam 23.00 nona, itu paling umum"


Karin berpikir "Hmm... cukup lama ya... tak apa sih lagian tak usah terlalu terburu buru untuk mendapatkan jawaban" Karin menampak kan senyum manis melihat ke arah Alan yang ikut tersenyum tipis. Karin tak salah lihat, Alan tersenyum ke arah nya. Tapi saat dilihat lagi Alan memasang wajah datar lagi jadi mungkin saja itu khayalan nya.


"Kalau begitu suruh si J itu untuk cari bukti yang lebih kuat! ah bagaimana tentang bunga yang diberi serbuk berbahaya??? selidiki apa benar dia yang menaruh serbuk itu ke bunga yang diberi kepadaku. Karena kita tidak mempunyai vidio Haikal memberi ku bunga jadi selidiki lagi,buat Haikal mengakui yang sejujurnya. Selidiki juga tentang itu Alan! aku tak mau satu pun lolos dari ku, apapun itu! oh ya kalau coklat nya masih ada makan saja dengan anak buah mu. aku tak butuh" usai Karin melanjutkan berjalan masuk ke ruang PK.

__ADS_1


Alan menatap Karin dari kejauhan sambil memasang wajah datar. Pergi dari luar ruangan menuju ke belakang rumah.Melihat anjing anjing liar yang berkeliaran. Alan tak memberikan kepada anak buah nya maupun memakan nya melainkan memberikan kepada Anjing terlantar yang ada di depan nya sana.


Alan tersenyum sembari mengelus kepala si anjing yang suka sekali dengan coklat pemberian Haikal. Walau mungkin tak selera anjing itu tapi anjing itu terlihat sangat kelaparan.


__ADS_2