KARIN(Waktu Nya Pembalasan)

KARIN(Waktu Nya Pembalasan)
#35/Tak ada jawaban bahkan keberadaan nya.


__ADS_3

Di kamar milik Karin.


Ia sudah siap dengan dress pilihan nya, walau hanya pergi ke restoran tapi ini seperti berlebihan saja. Yang penting cepat selesai lah.


Wanita itu membuka pintu, dibuat spot jantung oleh Alan karena berdiri di depan pintu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, langsung saja ia hardik asisten nya agar ikut kaget. Tapi karena namanya manusia kulkas, kaget pun tak ada suara.


"Haduh... Kamu ini gimana sih! Jangan ngaggetin bisa gak sih! Selalu aja.... Capek aku tuh..." hardik nya, Alan hanya meminta maaf.


"Ya ulangi saja minta maaf mu sampai abad ke-100" gumam nya agak kesal.


"Maaf nona ini mendadak, setelah ini anda akan berangkat bukan? jadi saya pikir memberitahu ini semua lebih awal agar lebih cepat dan lebih baik"


Karin sengaja menggaruk kuping nya "Ya sudah. Apa yang mau kau katakan. Cepat mama menunggu ku dibawah"


Alan mendekat, menampilkan Ipad milik nya. "Ini adalah data dimana serbuk bunga yang beracun itu dibuat. Ternyata dari bahan organik, seharusnya ini bukan racun melainkan obat untuk hewan perairan, tapi karena obat itu berbahaya bagi manusia apalagi berbentuk serbuk. Obat itu sudah tidak legal lagi disini jadi tak ada seseorang lagi yang berjualan obat itu lagi disini"


Karin berpikir, "Obat hewan? Tapi kenapa? Kalau memang tidak legal, dan tidak ada yang menjual nya. Bagaimana Haikal bisa mendapatkan nya? Dia tidak sekaya itu!"


Alan membisik kan sesuatu, "Apakah menurut anda ada pihak kedua?" ucap Alan yang membuat Karin terkejut.


"Pihak kedua?" gumam nya memikirkan seorang lain yang bisa saja membantu rencana Haikal di luar. Dirinya langsung menepuk kan tangan beberapa kali, "Oh kalau begitu pihak kedua tidak ada disini! Melainkan pihak kedua ada di luar negara. Aku yakin obat ini memang tak ada di negara Indonesia tapi ada di negara lain dan obat yang kamu maksud itu di negara itu atau dibolehkan-Legal!" ujar Karin.


Alan langsung menampilkan senyum yang nyata dan bisa dilihat oleh wanita itu dengan sangat jelas.


"Tadi Alan tersenyum?" pikir nya, ia melihat nya lagi, Alan masih tersenyum. "Syukurlah dia bukan kulkas, tapi agak menakutkan dengan senyuman nya" takut nya dalam hati melihat Alan semakin tersenyum lebar.


"Ya... Ya kalau gitu terus pantau dia aku tak mau satupun ketinggalan info darinya. Tapi cari dulu tentang bukti bukti kalau Haikal adalah orang keji" perintah Karin, Alan mengangguk.


"Tentu nona, saya akan terus melakukan tugas saya" kata Alan menunduk kan wajah nya. Karin terbangga dan memuji nya, "Bagus Alan, hanya itu saja kan aku tak mau terlambat, soalnya mama ku pasti sudah menunggu ku dari tadi di bawah"


Alan hanya mengangguk sepintas, "Tentu nona tak ada informasi lagi selain itu, secepatnya akan saya beritahu", Karin ikut mengangguk.

__ADS_1


Wanita itu pun berjalan melewati asisten nya, berniat turun ke bawah. Alan tak di tinggal, ia malah mengikuti majikan nya dari belakang.


Di ruang tamu terlihat seorang wanita berdiri dengan paras nya yang tentu cantik, pakaian yang ia pakai begitu sopan dan elegan. Karin sampai terpana melihat nya, tak menyangka mama nya yang rambut nya di gelung, lalu dibentuk bunga dan menyisakan beberapa helai itu seperti perempuan kalem. Segera ia berlari menghampiri mam, untung saja dress nya tak terlalu ketat, kalau tidak ia tak bisa lari sekencang ini.


"Maaf ma, aku lama..." Karin kecapekan, dia lari dengan penuh semangat tadi. "Tak apa, ayo" tapi kaki mama nya berhenti bergerak karena asisten nya suaminya ada di belakang anak nya.


"Alan masa mau ikut?" tanya mam yang membuat Karin bingung dengan pertanyaan mam. Ia langsung memalingkan wajah ke belakang dia melihat Alan yang berdiri tegak lurus dengan wajah datar.


"Alan akan mengantarkan kita sampai depan gerbang sana. Gak apa apa kan?" pinta Karin mama hanya ber-oh lalu mengiyakan. Mereka berdua pun segera menuju ke depan gerbang dengan langkah cepat karena jam sudah menunjukan pukul 12.08 .


Di depan gerbang mereka berdua menaiki mobil milik Karin yang memang sudah disiapkan oleh paman Jordan di depan sana. Karin sebagai supir di mobil nya, mama nya ada di samping nya sedia minuman dan kotak makan kecil yang mungkin saja isinya makanan.


Ia melambai lambaikan tangan sebelum pergi, ke arah Alan yang ikut melambaikan tangan datar. Karin putar mobil nya lalu ia lajukan dengan kecepatan sedang, di jalan ia melihat dari spion kaca kalau mam Adriana sedang termenung, tak ingin memikirkan apapun lagi. Tapi telinga nya kesana kesini mendangar wanita di samping nya memakan semangka dari kotak kecil yang ia bawa.


"Kenapa mama bawa semangka yang dipotong potong?" tanya Karin terheran, bukannya di restoran tak boleh bawa makanan. Mama langsung melihat bekal kotak miliknya lalu mengambil air minum di jok depan, ia minum karena terhaus.


"Di rumah belum makan? Belum minum?" tanya Karin, mama dilihat hanya terdiam ia melanjutkan memakan semangka nya. "Ini adalah bekal kalau di perjalanan mam gugup terus, mama sedikit tak punya nyali Karin. Kalau mam mempunyai perasaan tak enak, mama makan yang segar segar biar menyejukkan pikiran mama." jelas nya menyendok semangka lalu melahap nya.


"Kamu mau?" tawar mam menyodorkan kotak makan nya, ke anak nya yang langsung meminta mama nya untuk menyuapi nya saja. Padahal ia bisa makan sendiri dengan tangan kanan nya yang sedang memegang setir tapi karena ia malas untuk melepas sebelah tangan nya, lebih baik ia minta di suapkan. Mama pun mengangguk, menyuapi anak tercinta nya dengan semangka.


Mobil akan sampai di restoran dan jam menunjukan pukul 12.35. Mereka berdua tidak sabar untuk bertemu dengan wanita yang bernama "Eve" itu , kedua hati mereka sudah mereka siapkan. Nyali mereka berdua langsung kembali, apalagi Karin yang tak sabar ingin melihat bagaimana wajah seorang wanita yang sudah menggoda papa nya.


🚘


Sesampainya di Restoran Tokis tengah Kota, mereka berdua memesan meja berisi 3 orang dan menduduki area meja itu terlebih dahulu. Mama mengetik sesuatu di hp nya yang mungkin saja memberitahu dimana keberadaan mereka. Dan tak ada jawaban Eve dari tadi, hanya dibaca saja.


Beberapa jam berlalu, 13.00.....14.00....15.00. 3 jam dilalui, Makanan mereka berdua pun sudah habis dari tadi tapi mereka masih belum menemukan wanita itu sama sekali disini.


Karin heran, apa Eve menganggap chat dari orang yang tidak dikenal itu mencurigakan? Atau mam beritahu saja sebenarnya? Kalau yang di chat itu adalah istri dari pria yang ia goda.


"Maa, lama sekali sih ditunggu dari tadi kok gak datang datang. Lama ma, mending mama chat aja deh, Eve itu kalau yang ngechat dia adalah mama. Kalau begini pasti wanita itu mengira mama adalah orang jahat. Dan lagi, disini kita makan dari tadi. Perut ku udah agak besar nih..." keluh nya memegang i perut nya sedari tadi, ia sudah kekenyangan jadi tak kuat lagi memakan makanan porsi besar di restoran ini.

__ADS_1


Mam langsung melihat hp nya dan mengetik sesuatu.


(Aku mengajak mu ke restoran Tokis (tengah Kota) untuk mengajak mu makan dan berbicara sesuatu)


(Datanglah, jam 13.00 harus sampai)


Itu pesan yang Adriana kirim tadi. Lalu ia mengirimkan pesan lagi.


(Saya belum memperkenalkan diri namaku Adriana aku selaku istri dari Pak Pratama bos besar di perusahaan Metro Jaya)


(Kudengar dari suami ku kau berusaha merebut nya ya? Kalau berani terima lah permintaan ku)


(Sekarang aku tidak di restoran Tokis karena kamu tidak ada, hari pun juga makin sore, aku ingin mengajak mu makan malam di Resto Cahaya saja dengan penerangan dimana mana, pasti kamu tahu itu dimana. Karena Resto Cahaya terkenal belakangan ini)


(Kita hanya berbicara santai tenang saja)


Terakhir ia memakai emot senyum dengan lingkaran biru di atas nya, (😇) menandakan perang (Speaking women 4 eye) akan terjadi. Mam berdiri membersihkan baju nya yang sudah ter kena noda makanan.


"Ayo pulang" mam berdiri memanggil pelayan di sini ingin membayar makanan. Pelayan datang, menerima uang dari mama dan sengaja memberi tip lebih.


Karin berdiri ia mengusap mulut nya menggunakan tisu yang disedikan "Pulang? Padahal dia belum datang loh!" geger nya mendekati mam Adriana.


"Kita berganti tempat di Resto Cahaya, nanti malam kita makan malam di Resto lain. Tak apa kan? ini memang hadiah yang mam sengaja untuk mu"


Karin sedikit terbengong, "Lah ulang tahun ku masih minggu depan ma" ulas Karin, mam hanya tersenyum "Gak apa apa , ini bukan hadiah ulang tahun mu, hadiah ulang tahun mu itu beda nanti" kata Adriana, Karin mengangguk.


"Yasudah ayo ma kita berganti baju dulu, lihat baju kita belepotan semua karena makanan kuah ini" tunjuk nya ke meja makan penuh makanan yang belum dibereskan.


Mereka berdua segera keluar dari restoran dan pergi dari sini sambil mengendarai mobil.


Tak di duga ada seorang pria tua memakai koran sebagai menutupi pandangan wajah nya sambil mengesap rokok di mulutnya. Dari tadi pria itu melihat mereka berdua dari jauh.

__ADS_1


"Rupanya kau sudah besar" ucap nya pelan dengan senyuman tajam nya. "Aku menungggu mu" usai nya ikut meninggalkan restoran ini.


.


__ADS_2