
"Jadi? Kamu lebih memihak mas Pratama daripada KAKAK mu?" ucap Adriana tak terima dengan ucapan adiknya, Jordan yang sama seperti yang dikatakan anak nya, Karin.
"Tapi kak, kita juga tidak akan tahu. Aku percaya sama Karin, gak mungkin kan kak Pratama selingkuh di belakang kakak. Kakak harusnya tau bagaimana sifat suami kakak"
Adriana menggeleng tak setuju, "Jelas jelas! Jelas-jelas aku lihat pakai kedua mata ku sendiri. Masa mata ku berbohong, mata ku juga tidak minus. Memang nya kau tau apa tentang mas Pratama?" selidik Adriana tak kalah tajam. Ia sudah berpegang teguh dengan keyakinan nya.
"Ma, percaya deh sama kita. Papa gak mungkin melakukan itu. Papa itu orang nya baik, Papa... Papa sayang sama mama, aku,dan keluarga" tambah Karin.
Adriana beralih menatap anak nya, "Hah? Oh ya? Mama gak percaya tuh. Memang nya kamu tau apa tentang papa? Gak tau apa apa kan? Tau nya pas kamu sudah lahir. Terus mama tanya, memang nya kamu tau sifat papa mu sebelum kamu dilahirkan? Hm?"
Karin langsung tak bisa menjawab ucapan Adriana, ia lebih memilih diam. "Katamu kita gak bertengkar, tapi kok kita kesan nya bertengkar. Kamu mengejek atau apa?" amuk mam Adriana.
Karin menggeleng cepat "Enggak ma, aku juga gak pengen ini terjadi. Kenapa mam-"
Tapi mulut nya dibungkam oleh sebuah tangan mama. "Salah? Kenapa bisa kamu tidak percaya dengan mama? Kamu anak ku kan? Kamu juga udah besar. Seharusnya kamu bisa memilih mana yang benar mana yang salah! Kenapa selalu saja dari dulu kamu lebih memihak papa mu. Sedangkan mama? Kapan kamu memilih mama!"
Ia pun terdiam seribu kata, tersirat kesedihan di dalam hati nya. Hatinya sudah merasakan tak enak. Mendengar perkataan mam nya ada salah nya ada benarnya.
"Engg-"
"Padahal mama sudah melahirkan kamu. Mama sudah memberi mu asi beberapa tahun. Mama sayang sama kamu. Jaga kamu kemana mana. Tapi, ini balasan mu?."
Hidung mam memerah, kedua mata nya berlinang air mata. Dirinya sangat sedih karena tak ada yang memihak nya. Ia ingin menangis, Jordan, adiknya dan Karin anak perempuan nya tak ada yang mau menaruh kepercayaan kepada nya.
Karin menghela napas gusar, ia hanya bisa mengangguk. "Ya sudah". Mam langsung menengok ke arah Karin.
"Ya sudah, aku akan memihak mama sekarang. Tapi dengan satu syarat, mama harus bicara dulu sama papa" ujar Karin. Adriana berpikir, "Tapi, mam gak mau, mam takut kalau terjadi apa apa seperti yang di sinetron sinetron itu"
Karin mencoba meyakinkan mam Adriana, "Mama yang ku kenal gak takut sama apapun. Mama pernah bilang gitu kan ke aku? Coba buktiin-"
Yang ditanya hanya ling-lang-ling-lung sendiri, ia berpikir kapan ia mengatakan itu kepada anak nya. Tak ingin harga diri nya di rendahi, mam mencoba semangat kembali.
"Oke, mam siap. Mama akan kembali ke kantor dan menampar nya bertubi tubi di depan mu, Karin!" mantap mam Adriana penuh keyakinan.
Karin langsung tertawa kecil, "Iya, aku paham kok ma"
__ADS_1
Dirinya melihat gejolak semangat muncul lagi di tubuh mama nya. Ia turut senang melihat nya, tapi juga turut sedih akan terjadi peperangan ke- entah berapa nanti.
Bunyi hp Karin berbunyi, segera ia berdiri dan mengangkat nya tanpa tahu siapa penelepon yang sedang ia terima.
"Karin. Mama pulang kan di rumah?"
Suara ini, suara papa Pratama. Niat Karin sih ingin menelepon papa nya terlebih dahulu karena papa nya menelepon dirinya lebih duluan, tak apa ia bisa membicarakan nya sekarang.
"Iya, mama ada di rumah. Nangis tuh, katanya papa selingkuh"
Disana tak ada jawaban, membuat kerutan alis di wajah Karin. Apa benar papa nya berselingkuh?
"Kamu salah paham Karin. Sudah kuduga, aku akan segera ke rumah. Papa akan jelaskan semua nya"
Panggilan telepon diputuskan saat Karin ingin bertanya sesuatu.
"Ya semoga saja benar ada-.... Yah telepon nya mati"
Dirinya menengok ke belakang melihat mam dan paman berbicara satu sama lain. Karin menghampiri kedua orang itu.
"Pa-,eh ma maksudnya mau makan sesuatu? Biar perasaan mama tenang. Biar aku ambil in di dapur, bagaimana?mama mau kue gak?" ujar Karin.
Tapi yang ditanya malah diam di tempat.
"Ma"
"Eh iya, iya Karin ambilkan. Mama ingin makan yang manis manis agar otak mama lancar nanti"
Karin tersenyum simpul. "Tunggu sebentar ya, paman jagain mama ya" kata Karin menatap paman Jordan yang mengacungkan jempol ke arah nya.
Karin pun berlalu meninggalkan mereka berdua yang sendirian.
🐤
Di dapur ia bertemu dengan Nina, pembantu perempuan yang dulu pernah diceritakan oleh papa, karena kue nya yang bisa terbilang sangat enak.
__ADS_1
"Nona" Nina yang tersadar langsung berdiri dari lantai karena membersihkan bekas kotor di lantai.
"Maaf, aku menganggu mu ya?" tanya Karin hati hati melihat lantai masih basah.
"Tak apa nona, saya tidak kerepotan kok. Mari saya antarkan. Anda mau minum sesuatu? Makan sesuatu? Biar saya buatkan"
Karin mengangguk senang. Ia menunggu, berpikir apa ya yang akan dibuat pembantu cantik ini. Tapi ia juga tak boleh lama lama disini, ia harus segera ke ruang PK teringat mama nya masih ada di sana.
"Aku ingin kue, terserah kue apapun itu yang penting enak dimakan. 4 piring ya. Sama secangkir teh hangat bisa kan? Soalnya aku masih ada keperluan di depan"
Nina membalikkan badan, dirinya mengangguk. "Tentu nona, saya akan buatkan lalu mengantar nya ke ruangan....." pikir Nina karena ia tak tau sajian nya akan diantar kemana.
"Di ruang Pk"
"Oh ruang baru itu. Siap nona, secepatnya akan saya antarkan" kata Nina. Karin sedikit tertawa, "Gak perlu terburu buru kamu bersihin lantai dulu pun tak apa. Pokok nya sajian nya sudah ada di meja ruang PK ku"
"Tentu nona"
"Aku pergi ya"
"Siap nona"
Karin berlari pergi dari dapur, tubuh nya sudah terbiasa. Ia sudah tak sesak lagi seperti dulu dimana awal berlari sana sini selalu sesak nafas. Akhirnya ampai di ruang PK, ia melihat tak ada siapapun di dalam.
"Dimana ya? Apa keluar?" ia mengecek sana sini tapi tak ada hawa hawa keberadaan mam dan paman nya.
"Di ruang tamu kali" gumam nya, segera dirinya berlari kencang menuju ruang tamu. Tapi kesan nya dia terlambat, karena.
PLAK
Suara nya nyaring terdengar, Karin sampai kaget mendengar nya. Dilihat, pipi kanan papa Pratama memerah.
"MAMA!!!" segera Karin berlari memeluk mama nya dari belakang agar tak timbul pertengkaran.
🙄
__ADS_1