
Nana terus menggandeng lengan Haikal kemanapun ia pergi. Hingga di depan lukisan indah yang membuat perempuan itu terpikat, dengan mengfoto foto lukisan itu terus menerus.
"Bagus gak potretan ku?" tanya Nana menunjuk kan hasil potretan nya ke arah Haikal yang hanya diangguki saja. "Oh ya? Kamu gak apa apa kan kalau nunggu sebentar. Kamu bisa duduk dulu kok, aku biar disini saja dahulu" pinta Nana, Haikal seketika lega. Akhirnya dia bisa bebas dengan duduk duduk santai.
Haikal terus memandangi Nana dari belakang punggung nya. Kedua mata lancip nya menuju ke arah wajah Nana yang begitu senang. Tersenyum, bahagia, berbunga bunga. Bahkan sejak ia kenal dengan Nana tak ada sedikit pun yang namanya kesedihan, marah, cemberut maupun apapun itu.
Nana terus bahagia, orang menganggap nya seperti berjalan dalam jalan yang mudah. Penuh tertawa, senyum, dan bahagia.
Haikal sedikit iri dengan perempuan itu.
Dari balik tembok, Karin sudah mengetahui keberadaan Haikal. Benar memang mereka ada disebelah utara, dan Karin juga turut melihat seorang perempuan yang asik dengan kegiatan nya sendiri. Sedangkan Haikal menunggu perempuan itu dengan wajah lesu.
Setelah ini apa? Apa yang harus Karin lakukan setelah melihat hal seperti ini di kedua mata nya. Apa iya ,dia harus memarahi Haikal di tempat umum? Atau difoto/vidio saja untuk bukti.
Ya begitu saja, Karin juga tak mau mencari keributan di dalam Museum. Galeri di HandPhone nya Karin juga sudah menyimpan banyak nya beberapa foto dan vidio berisi mereka berdua. Ingin berniat pergi, karena merasa tugas nya sudah selesai.
Mas N menelepon nya lagi. Langsung Karin angkat telepon nya, "Halo? Ada apa Mas N? Bukannya sudah selesai ya? Aku juga sudah mempunyai bukti banyak nih." ucap Karin dengan penuh percaya diri. Disana Mas N tak ada jawaban sama sekali, berpikir kalau Mas N hanya iseng menelepon nya.
"Bukti kalau hanya foto atau vidio itu tak bisa membuktikan semua itu. Bagaimana kalau itu adiknya bukan pacar nya? Siapa yang salah sangka? Aku atau kamu. Lebih baik tanyakan yang sebenarnya kepada dia sekarang. Tak usah bertele tele dan cepat lah!!!" sentak Mas N. Karin sampai terbengong sendiri dengan perintah Mas N. Yang entah kenapa ia jadi berdegup kencang sekarang.
Ada rasa tak memungkin kan dan ada rasa percaya diri di hati nya, mereka seimbang. Karin tak tahu harus memilih yang mana.
Kalau di rumah nya dia bisa memarahi habis habisan ke Haikal. Tapi kalau disini, Karin sedikit takut kalau ia terjadi apa apa. Pastinya Haikal lebih kuat dari dirinya, bisa bisa ia dimalukan karena Karin datang datang dengan marah marah malah jatuh tersungkur karena tamparan Haikal.
Berbagai macam hal yang tidak tidak akan terjadi terlintas di pikiran nya. Disini juga tak ada Alan, Paman Jordan maupun Papa nya. Ia harus menghadapi Haikal sendiri itu saja sangat susah, masa ia harus berdiri terus disini sambil menatap Haikal bermesraan dengan seorang perempuan.
"Kamu takut?" tebak Mas N, yang membuat Karin terkejut karena telepon nya yang ternyata belum ia matikan. Apalagi suara Mas N begitu terdengar mengerikan, apalagi saat mengatakan hal seperti itu.
Karin langsung memosisikan hp ke telinga nya. "Enggak kata siapa? Aku berani menghampiri nya... Cuma aku-" ucapan Karin di potong sama ucapan Mas N yang begitu benar ada nya.
"Takut kalau akan terjadi apa apa nanti pada dirimu?" jawab Mas N, membuat Karin meneguk ludah nya dengan begitu susah hingga tubuh nya sudah bergemetar tak karuan.
Tapi semaksimal mungkin Karin tak ingin menunjukan rasa gugup nya itu. Dirinya berusaha untuk menepis ucapan Mas N, agar semua ucapan Mas N tak benar ada nya.
"Eng-enggak ya! Kata siapa? Oke aku berani menghampiri Haikal. Siapa yang takut?!" Karin mulai memajukan langkah nya, berjalan menuju ke arah Haikal yang sedang menggandeng perempuan dengan berambut panjang nya.
"Haikal" panggil Karin dari dekat tepat pas di belakang punggung Haikal. Haikal sedikit terkejut, merasa mengenali suara yang memanggil nya dari belakang. Wajah nya seketika pucat pasi.
"Bukannya kalau dia ketahuan seperti itu, tak akan berani melawan?" kata Mas N.
__ADS_1
"Haikal juga sudah memberimu janji manis bukan? Sekarang labrak dia. Kenapa dia malah berjalan dengan perempuan lain, padahal ucapan nya kemarin kemarin masih mengidam idam kan mu" kata Mas N.
"Tenang saja, tak usah takut. Dia tak akan melawan mu saat sudah terpojok. Buat dirinya terus terpojok, agar dia jujur dengan situasi saat ini. Kalau kau mundur, kau tak akan menemukan apa itu (kebenaran) mengerti?" kata Mas N.
"Jangan gegabah" kata Mas N terakhir kali nya.
Karin mengikuti kata kata Mas N tadi sebelum ia menjalankan perintah nya. Digenggam nya erat hp nya, telepon nya kepada Mas N masih belum terputus.
Dengan hati yang berdegup kencang membuat tekad nya tak turun, ia malah menginginkan apa jawaban dari Haikal yang sekarang menatap nya dengan wajah kaku.
"Haikal siapa itu?" tanya Karin menunjuk seorang perempuan yang sedang menggandeng erat lengan Haikal. Dan perempuan itu yang ditunjuk malah kebingungan dengan kehadiran Karin. "Dia siapa Haikal?" tanya perempuan itu balik, Haikal hanya diam tak bisa menjawab salah satu dari mereka. Karena situasi seperti ini menurutnya sangat genting.
"Haikal dia siapa??? Kamu kenal sama dia?" tanya perempuan itu, menatap Karin dengan tatapan tak suka. Tanpa berpikir panjang, Karin memegang tangan Haikal begitu saja, membuat perempuan itu melotot keheranan.
Dengan kasar perempuan itu mendorong Karin, tapi dorongan nya tak begitu terasa. Karin melanjutkan aksinya lebih dekat dengan Haikal. "Dia siapa Haikal? Jawab! Kamu gak menginginkan aku lagi? Atau bagaimana? Kamu jalan sama perempuan lain!? Mana mesra lagi." balas Karin dengan sindiran senyum tajam kepada perempuan dengan wajah muka padam memerah, menatap nya.
"KAMU SIAPA SIH??? DASAR WANITA GILA, TANTE GAK USAH GANGGU HUBUNGAN KITA, BISA GAK SIH? YA NANA TAU KALAU HAIKAL ITU TAMPAN, TAPI GAK GINI JUGA. DASAR TANTE TANTE GAK TAU MALU!"
Dengan kesal Nana si perempuan yang dari tadi di sebelah Haikal menjulurkan lidah ke bawah. Karin membuka mulut nya tak percaya karena dia disebut dengan tante, padahal dia belum menikah sama sekali. Ya memang wajah wajah Karin seperti tante tante girang.
"Hei! Jangan sembrono ya! Masih kecil juga kamu gak usah ikut campur! Aku hanya mau bicara sama Haikal. Bukan kamu yang kayak kompor!!!"
Nana dan Karin saling menatap dengan tatapan berapi api. Mereka berdua tak mau mengalah, bahkan tangan Haikal di tarik tarik. Ke kanan, ke kiri membuat Haikal pusing sendiri.
"Tante-Tante jangan sok sok an ya! Haikal itu pacar ku. Tante itu siapa nya Haikal sih!? Dia kenalan mu atau bagaimana? lebih baik kawin sana tante! Ini nih tante nya kelamaan jomblo,jadi gini." ejek Nana menjulurkan jari tengah nya yang disensor. Karin mulai marah dengan perempuan pendek itu, mulai menarik rambut panjang Nana menghadap ke depan, membuat kepala Nana akan jatuh ke bawah. Nana merintih kesakitan, mencoba melepaskan genggaman yang begitu kencang gara gara Karin sendiri.
Perhatian pun mulai tertuju kepada mereka berdua, semua sorai sorai orang yang tadinya fokus dengan kegiatan masing masing mulai menyiapkan kamera untuk mengambil foto maupun vidio yang nantinya disebar di para khalayak internet.
"Eh bukannya itu anak nya Pak Pratama dan Bu Adriana ya? Kenapa dia membuat keributan?"
"Iya juga, dia yang viral itu kan!"
"Kenapa dia tiba tiba mencari kerusuhan di sini? Sampai menarik narik rambut seorang gadis yang kelihatan nya polos itu?"
"Mengerikan, ayo kita sebar"
"Benar benar keluarga Pratama semua nya selalu ada masalah"
"Benar, benar, benar"
__ADS_1
Para manusia yang ada disini semua nya mulai menyalakan cahaya kamera. Memotret pemandangan tak layak itu untuk dijadikan bahan omongan di internet. Tak hanya itu, flash hp sengaja dinyalakan agar kejadian ini menjadi terang benderang tanpa ada kegelapan.
Karin dan Nana berteriak satu sama lain, menjambak, menginjak, saling menampar bahkan Karin sampai sampai ingin memberi bogeman mentah kepada perempuan itu.
"DAS*R KAU!!!" teriak Karin mulai ancang ancang dengan pukulan nya, tapi yang malah mengejutkan nya adalah Haikal lah yang menerima bogeman mentah dari Karin, apalagi pas mengenai perut pria itu. Haikal memegang i perut nya sendiri, terduduk lemas karena bogeman mentah dari Karin.
Karin seakan tak percaya dan mulai menatap sekitar, dan sadar bahwa dia dari tadi sudah disorot oleh mereka semua.
"Wah dia berhenti"
"Menakutkan..."
"Monster"
"Ya ampun dia menatap ku, takut sekali..."
Dengan rambut, pakaian dan semua nya yang acak acakan tak beraturan. Karin menunduk malu sendiri dengan apa yang ia perbuat.
"Jangan membuat keributan, karena itu tak menyelesaikan semua masalah mu" Karin mulai teringat dengan kalimat yang Mas N ucap kan tadi. Bodoh nya Karin malah membuat keputusan nya sendiri tanpa berpikir akibat yang akan menimpa nya.
Cekrek...
Cekrek.....
Cekrek....
Karin menutupi pandangan nya karena cahaya silau menghampiri nya berkali kali.
Suara kamera dan suara HP mereka semua terdengar, Karin merenggut kesal menggigit bawah bibir nya dengan rasa menyesal.
"HAIKALLL!!!!" Nana teriak histeris, memegang i bagian perut Haikal yang kini berdarah gara gara Karin. Dengan tatapan sendu Haikal terus menatap Karin dengan senyuman kecil nya.
Karin langsung dingin panas, seingat nya dia hanya memberi bogeman saja, pasti ada yang salah. Pukulan nya juga tak sekeras itu sampai sampai membuat Haikal yang pastinya tak sampai berdarah, tapi kenapa baju Haikal bagian perut nya terdapat darah? Apa dia sengaja?.
Haikal malah tersenyum jahat kepadanya. Apa yang sudah Karin lakukan, adalah salah besar. Karena Haikal sudah menjebak nya sedari tadi.
Tatapan nya mulai menuju ke arah perempuan yang terus memegang perut Haikal tanpa henti. "Dia dimanfaatkan" ucap Karin lirih dalam hati. Sudah mengerti apa yang sudah Haikal rencanakan sebenarnya , perempuan itu tak ber salah sama sekali.
Perempuan itu memang polos, baik hati dan sudah dimanfaatkan Haikal sejak pertemuan nya dengan Nana. Andai Karin menyadari itu dari tadi, bahwa Haikal tetap lah Pria paling Br*ngs*k sedunia.
__ADS_1
"TANGGUNG JAWAB!!!!" Nana berteriak dengan histeris ke arah Karin , Karin terduduk lemas. Merutuki nasib yang sudah ia lakukan.
Kucing putih entah datang dari mana menatap segerombolan kerumunan yang ada di hadapan nya. Tatapan kucing itu hanya menampilkan tatapan datar, kucing putih itu pun langsung pergi. Sampai Karin tak menyadari kalau Mas (N) melihat, menatap nya jauh dari kerumunan.