KARIN(Waktu Nya Pembalasan)

KARIN(Waktu Nya Pembalasan)
#44/Wanita misterius


__ADS_3

"Haiiii~!!!" seru seorang perempuan bertubuh pendek, berambut coklat panjang. belakang jauh dari seorang cowok,entah siapa lelaki itu.


Ternyata dia Haikal, ia berbalik badan mengelus kepala perempuan itu dengan halus, apalagi dengan senyuman manis milik Haikal membuat si perempuan jatuh hati kepadanya.


"Ih jangan gini dong.... Aku malu jadinya...." ucap nya parau. Haikal malah tertawa kecil, menggeleng pelan di hadapan nya. "Kamu itu sudah cantik dari awal, buat apa malu?" kata nya yang begitu sembrono padahal mereka berdua masih belum punya hubungan apa apa, hanya sebatas teman.


"Ih... Ngapain kamu duduk duduk sini. Kata nya mau ke museum... Jadi gak?" alih perempuan itu karena malu dengan semua ucapan Haikal yang begitu begitu berbahaya. Sampai sampai lengan Haikal di genggam dengan lengan kanan perempuan itu.


Haikal tersenyum, "Aku juga menunggu mu dari tadi. Jadi ke museum sekarang?" tanya Haikal, perempuan itu mengangguk.


Perempuan itu menatap wajah Haikal dari bawah dagu pria itu, "Kapan kau memanggil ku Nana?dan jangan anggap aku anak kecil lagi."


Haikal hanya cengengesan mendengar nya. Mendengar itu dari seorang perempuan yang menyebut dirinya Nana.


"Maaf ya. Aku jadi tak terbiasa"


Nana mengangguk dengan wajah senang, ia malah malu sendiri oleh nya karena dilihat terus. Malah senyum senyum gak jelas si Nana nya.


"Ih udah ih... Jangan dipandang mulu.... Malu aku nanti...." malu nya sampai ingin pergi dari sini daripada harus menahan malu setengah mati gara gara pria itu.


Haikal mengelus puncak kepala Nana.


"Yaudah ayo jangan diam saja disitu" kata Haikal yang sudah masuk mobil lebih dulu. Nana yang tak tersadar dari tadi hanya menunduk nunduk saking malu nya.


Sampai lah Nana dan Haikal di sebuah MUSEUM ALTAR. Untuk masuk ke dalam dibutuhkan karcis per orang, bisa di beli dengan harga 50k. Mereka pun masuk ke dalam dengan berpegangan tangan.


Tanpa sadar di balik tetembokan gedung samping museum, ada wanita misterius dengan kacamata hitam nya, yang mengikuti mereka berdua dari belakang.


Kembali ke Nana dan Haikal yang asik mengantri ke sebuah monumen. Dimana monumen itu adalah yang paling banyak diminati sekitar. Membaca cerita nya saja membuat mereka, para setiap pengunjung menangis tersedu sedu.

__ADS_1


Tak terkecuali dengan Nana yang antusias potret sana, potret sini. Haikal hanya diam ditempat, melirik ke arah Nana yang asiknya dengan kegiatan nya disini.


"HAIKAL HAIKAL!" Nana melambai lambai kan tangan kepada Haikal agar menuju ke arah nya yang cukup jauh dari tempat duduk Haikal sekarang.


Nana berdiri di depan sebuah lukisan yang begitu abstrak. "Bagus ya lukisan nya.... Di lelang gak ya?" kagum Nana melihat lukisan di depan mata nya dengan kedua mata terbinar binar. Haikal tersenyum sinis, "Memang nya kalau di lelang bisa lebih dari 100Juta an. Memang nya Nana mampu bayar lukisan itu?" sindir Haikal. Nana langsung tersenyum lebar, "Haikal ini! Masa lupa kalau aku ini orang kaya!? 100 Juta atau lebih dari 1 Miliar? Itu mah kecil bagiku." jawab Nana bangga.


Haikal langsung meneguk ludah nya kasar, "Oh.. Oh ya- ya. Maaf ya sudah meragukan mu. Tapi lebih baik uang nya kau simpan saja, menolong sesama atau dibuat kebutuhan penting. Nanti pastinya lukisan ini juga kamu buang kan?" tanya Haikal.


Nana langsung terpikirkan dengan ucapan Haikal. "Enggak juga, karena kalau aku suka ya ku suka sampai akhir hayat. Kalau misalnya rusak ya bagaimana lagi, ya harus dibuang. Aku ini orang nya begitu sayang sama barang baru. Walau nanti barang bekas, aku masih sayang sama barang ku." jawab nya.


Nana berdengung sendiri, memainkan kedua kaki nya seperti anak kecil. Haikal tetap stay mengikuti Nana dari belakang.


"AH ITU!!!" teriak Nana menunjuk sebuah patung berukuran sedang terpampang di pojok tembok. "Ayo Haikal!!!" Nana berlari sekencang mungkin menuju yang ia tuju. Haikal sampai kewalahan mengikuti Nana dari belakang.


"Nana tunggu..." Haikal mulai mengatur nafas nya sesaat sudah sampai tujuan. Tanpa rasa bersalah Nana, dari tadi perempuan itu melihat patung berukuran sedang dengan struktur yang unik dan itu membuat nya cukup bahagia.


"Lihat ada sayap nya" tunjuk Nana menunjuk ke arah patung gadis dengan sayap di belakang nya. "Lihat ada tanduk devil nya" tunjuk Nana lagi ke kepala si patung gadis. "Kenapa gadis ini hanya memakai sehelai kain ya? Oh mungkin dia bidadari" kata Nana melihat pakaian si patung yang menurutnya adalah patung suci.


"Kamu jaga sini dulu ya. Aku mau ke toilet, gak lama kok" ijin Nana tanpa ada persetujuan dahulu dari si pria. langsung tuh perempuan berlari kecil ke arah toilet.


Haikal hanya terdiam, termenung. Sembari menatap patung yang begitu Nana sukai. Hanya berpikir sesuatu, sesuatu yang tak ia mengerti. Entah apa itu.


Di Toilet, setelah Nana melakukan tugas buang air kecil nya. Ia menuju ke arah cermin di depan toilet untuk para umum bagi para wanita. Hanya ada dirinya sendirian disini. Hingga tak menyadari ada seseorang yang menyenggol nya.


Seorang wanita dengan kacamata hitam, berambut pendek dan pakaian nya tertutup. Nana langsung menunduk meminta maaf, padahal ini bukan salah nya. Tapi wanita itu tak mengubris Nana dan langsung masuk ke toilet begitu saja.


Nana hanya bisa berpikir positif melihat wanita yang baru saja ia tatap, apalagi tinggi badan nya lebih tinggi dari nya, pakaian nya yang membuat nya terkesan misterius dan banyak lagi hal hal yang tak bisa Nana katakan. Sepertinya.... Ah Nana tak mau memikirkan hal hal seperti itu, ia ingin melanjutkan mencuci tangan.


Tapi tidak setelah ia tak sengaja menginjak sesuatu. Sebuah sapu tangan berwarna biru muda dengan corak mawar putih di tengah nya membuat Nana bertanya tanya. Siapa pemilik sapu tangan yang ia pegang ini? Atau jangan jangan milik wanita misterius tadi? Nanti akan Nana tanyakan. Tapi sayang nya ia harus menunggu si wanita keluar dari toilet.

__ADS_1


Beberapa berlalu pun yang ditunggu tunggu akhirnya datang juga. Wanita dengan jaket coklat itu yang baru saja keluar toilet sedang membenarkan sesuatu di dalam jaket tebal nya. Nana langsung menunduk dengan perasaan dag dig dug, karena dia takut kalau dirinya terjadi apa apa.


"I... Ini sapu tangan anda bukan? Soalnya aku menemukan nya jatuh di samping ku saat kita bersenggolan tadi" kata Nana sudah siap dengan sapu tangan yang ia bawa di kedua tangan nya lalu dihadap kan ke arah wanita itu.


Si wanita langsung melirik ke arah bawah lantai, lalu perhatian nya ke arah sapu tangan biru muda yang jelas jelas miliknya. Ia tak sengaja menjatuhkan sapu tangan nya saat bersenggolan tadi. Hawa nya begitu dingin, rasanya Nana sudah tak kuat kalau kaku terus, berlama lama di sini.


Wanita itu mengambil sapu tangan biru muda nya di telapak tangan Nana. "Terimakasih. Maaf kan aku kalau aku tadi menabrak mu. Terimakasih atas perhatian mu"


Nana langsung menggeleng kencang. "E-enggak kok ini gak terlalu merepotkan. Lagian aku juga mengembalikan barang milik anda dengan senang hati. Tak perlu begitu, aku hanya mengambilkan sapu tangan yang terjatuh di bawah kaki ku. Dan maaf kan saya juga karena.... Pasti sapu tangan mu kotor karena terkena sandal sepatu ku." Nana menundukkan wajah. Tak ada jawaban dari semua ucapan Nana. Wanita itu langsung melewati Nana begitu saja hingga berhenti tak jauh dari tubuh nya.


"Hati hati, karena aku melihat kartu mu yang tidak pernah beruntung." usai wanita misterius itu keluar dari toilet perempuan. Nana mengelus dada nya lega. Akhirnya dia sudah tak perlu khawatir dengan dirinya sendiri.


Hingga terpikirkan dengan ucapan wanita itu tadi. "Maksudnya apa ya?" tanya Nana dari dalam dalam pikiran nya, hingga dia hanya terdiam melamun sampai lupa waktu.


"Ya ampun! Haikal! Aku lupa sama Haikal!!!" Nana segera berlari keluar dari toilet menuju ke pria yang pastinya sedang menunggu nya dari tadi di luar.


Haikal langsung berdiri melihat kedatangan Nana yang lumayan lama.


"Maaf ya.... Aku lama, soalnya aku-" belum saja Nana melanjutkan ucapan nya, dengan sengaja Haikal mengusap samping bibir kecil Nana. Nana sedikit terkejut, berjalan pelan kebelakang. Ia tak tahu harus mengatakan apa setelah melakukan hal yang menurut Nana begitu romantis.


"Ada sebutir air tadi" kata Haikal mencontoh kan nya ke sebelah bibir nya sendiri. Nana hanya ber-oh sahaja.


"Oh gitu... Haha, ya maaf. Yaudah ayo kita keliling lagi" Nana menggandeng Haikal. Kini ia gantian ingin membalas dendam atas perbuatan Haikal yang begitu sembrono hari ini.


Sampai sampai Nana lupa dengan ucapan terkahir dari wanita tadi yang ada di toilet perempuan. .


Sedangkan Karin baru saja sampai. Ia telat 20 menit dari yang dijadwalkan. Lumayan lah, baru saja ini dia memesan karcis. Kini kacamata, dan jaket nya bisa ia lepas. Karena tak banyak juga sih yang mengenal nya disini, jadi keadaan nya pasti di dalam sekarang sudah tak apa apa.


Mari jalankan tugas nya, memata matai mantan pacar nya. Haikal. Dan satu lagi, Karin penasaran siapa perempuan yang dibawa Haikal itu. Anonymous juga tidak menyebutkan namanya, membuat Karin penasaran saja.

__ADS_1


Tapi ia ingin semua nya selesai, ia juga ingin bukti bukti kuat. Kali ini dia tak boleh kalah kepada Haikal. Sungguh ia tekad kan semangat gelora nya.


💐


__ADS_2