KARIN(Waktu Nya Pembalasan)

KARIN(Waktu Nya Pembalasan)
#30/Rencana agar asisten nya pergi.


__ADS_3

Eve menduduk kan tubuh nya menerima segelas air dari Jo. Dirinya berterimakasih.


"Terimakasih" ucap Eve singkat. Eve beralih menatap Pratama yang sedang fokus dengan tugas nya di meja kerja. Seketika dirinya berdiri, tetapi niat nya dicegah oleh Jo, asisten Pratama.


"Anda harus duduk dulu, dokter masih belum datang" kata Jo. Eve menampik tangan Jo. "Tak perlu, aku mau bicara sama Mas Pratama sekarang" dirinya berlalu, berjalan diguntai guntaikan hingga berdiri di samping Pratama.


Ia bungkuk kan badan nya, menempelkan tangan nya di atas tangan Pratama, menggoda nya dengan licik. "Mas..." ia belai rambut Pratama dengan halus. Pratama hanya diam tak menanggapi sama sekali.


Tak mau kalah ia dekatkan bibir ke telinga pria itu. "Hanya sekali ini doang, masa gak mau sama aku" bisik nya pelan. Pratama menutup buku kerja nya.


"Pergi!" tatap tajam nya, menghardik wanita itu untuk pergi dari hadapan nya. Eve masih belum menyerah, "Kenapa... Memang nya salah ku apa...aku sayang lo sama kamu. Kok kamu gitu" Eve sedikit mundur kala Pratama berdiri.


"Jo, kapan dokter nya datang! Lama sekali." tanya Pratama.


"Sepertinya se-"


Tok... Tok... Tok...


Pintu kerja diketuk, Jo segera menghampiri melihat pria paruh baya memakai jaz putih sambil membawa Stetoskop dan kotak berukuran sedang di genggaman tangan nya.


"Permisi... Maaf saya terlambat"ucap dokter itu, Jo mengangguk sekilas mempersilakan dokter untuk masuk ke dalam.


"Siapa yang akan diperiksa?" tanya sang dokter, Jo langsung menunjuk ke seorang wanita yang sedang berdiri di samping Pratama.


Eve yang ditunjuk langsung memasang muka pasi, dirinya berkeringat saat sang dokter sudah ada di depan nya.


"Tolong berbaring dulu, biar saya periksakan"


Eve mengangguk, ia membaringkan badan nya di sofa. Membiarkan sang dokter memeriksa jantung nya yang kini berdetak lebih cepat. Dokter itu mengeluarkan kertas, "Batuk?" tanya dokter, Eve sedikit berpikir, ia menggeleng. "Pilek? Sakit perut?" tanya dokter lagi tapi Eve berkata.


"Sakit perut dok" kata nya, langsung sang dokter mengangguk. Sang dokter memperiksa perut halus Eve, yang bisa dokter itu pikirkan ini hanya sakit perut biasa.

__ADS_1


"Mungkin anda kekurangan makan, ataupun sakit perut biasa. Akan saya kasih resep obat untuk anda. Anda bisa membeli obat ini di apotek apapun. Jangan lupa makan tepat waktu, ini mengorbankan tubuh anda kalau anda hanya diam di rumah tanpa olahraga dan makan." ia diberikan sebuah kertas berisi nama obat apa yang harus ia beli nanti.


"Ya sudah, saya pergi dulu" pamit dokter. Jo mengangguk, Pratama ikut mengangguk.


Akhirnya sang dokter pergi, ia tak perlu perlu lagi berakting pura pura kesakitan. Niat nya ingin menjahili Pratama lebih gila tak jadi karena ada asisten Jo yang senantiasa menunggu, menatap nya atau pun menjaga nya dari atasan nya.


Eve harus membuat Jo pergi sekali lagi.


"Aduh... Aduh..." awalnya tak ada pria yang ada di ruangan ini memperhatikan nya tapi setelah ia berkali kali kesakitan, menahan perut nya erat erat langsung Pratama menghampiri disusul Jo.


"Mas, aku mau minum obat. Bisa gak suruh Jo buat beliin obat buat aku. Perut aku sakit banget mas..." ia peluk erat erat perut nya, menitikkan air sedikit demi sedikit agar mereka berdua percaya.


Jo menggangga kecil, ia menatap Eve dengan perasaan kesal. "Apalagi yang kau rencanakan wanita sialan" pikir Jo. Jo tak ingin meninggalkan Pratama disini, ia tak ingin atasan nya kenapa napa.


"Jo, belikan obat!"


"Ta-tapi" Jo ingin menolak saat ia diberikan kertas resep obat oleh Pratama.


Jo menggeleng.


"Kau tak punya mata hah? Dia kesakitan! Cepat belikan dia obat dan bubur ayam! Cepat Jo! Aku tak mau ada masalah di kantor kita!"


Jo menerima kertas dari atasan nya dengan sangat sangat terpaksa, "Tapi pak-"


"TAK ADA PENOLAKAN!"


Jo langsung hormat, berjalan mundur menuju ke arah pintu, tetapi ia sedikit tertarbrak dengan lemari berukuran kecil. "Aduh..." ia elusi paha nya, langsung menutup pintu ruangan dengan sangat kasar.


"Sial sekali hidup ku" bengis Jo menuju parkiran mobil.


🌺

__ADS_1


Di apotek ia sudah membeli obat untuk wanita yang sudah ia anggap "Hewan Penganggu rumah tangga orang lain", langsung ia berjalan cepat menuju parkiran tapi ia ingat. Dia disuruh membeli bubur ayam. Jo menghela napas lelah, berjalan pelan menuju ke sebuah gerobak biru.


"Pak bubur ayam satu"


"Oh iya mas, di tunggu dulu" Jo akhirnya bisa duduk dengan tenang, merasakan hawa angin di sekeliling nya. Ia mengambil teh di tengah meja.


"Pak, hitung ya saya juga beli teh" ujar Jo meminum teh gelas.


Ia kipas kipaskan tangan nya ke arah wajah nya. Hari ini, hari melelahkan. Di sebrang jalan sana, pandangan nya langsung tertuju pada seorang pria tinggi dengan jaz hitam tipis berada jauh dari dirinya sekarang. Ia memakai sapu tangan putih di kedua tangan nya dan rambut nya juga sedikit panjang.


"Siapa ya dia, kayak kenal" Jo tatap lagi pria itu. Pria yang dipandang tak tahu kalau dirinya di tatap karena dirinya sedang menenteng tas belanjaan.


Alih Jo dihentikan oleh pak penjual yang menyerahkan bubur ayam kepada nya. "Eh iya pak maaf, berapa an ya pak?" Jo mengerluarkan dompet hitam milik nya. "Ditambah teh gelas, semua nya 15k"kata pak penjual.


Jo memgangguk menyerahkan uang nya dan segera pergi dari sini tetapi sebelum ia pergi ia lihat dulu pria tadi yang ia lihat di sebrang jalan sana sudah tak ada lagi.


"Dimana ya dia? Ya sudah lah" usai nya menaiki mobil.


Kantor Metro Jaya.


Terbuka nya lift, ia mencoba mengatur langkah nya agar kesan nya tak tergesa gesa. Tapi langkah nya terhenti saat melihat di pintu depan sana. Pintu kerja ruangan Pratama terlihat istri nya, yaitu Adriana.


Adriana berdiri tegap menatap dari luar, tak tahu wanita itu sedang melihat apa di dalam tapi perasaan Jo sudah tak tenang lagi.


"Mati aku..." Jo sudah membeku di tempat.


.


Dirinya tak tahu apa lagi yang akan terjadi ke depan nya. apapun itu akan ia jalani dengan sepenuh hati. walau bagaimanapun nasib yang ia terima, akan ia coba untuk perjuangkan karena ini juga bukan masalah nya.


sebenarnya untuk apa dia repot repot? Andai wanita itu tak ada.... pelakor yang menganggu hidup atasan nya...

__ADS_1


__ADS_2