KARIN(Waktu Nya Pembalasan)

KARIN(Waktu Nya Pembalasan)
#42/Eve tergila gila dengan cinta nya.


__ADS_3

Sehabis Meeting dengan para petinggi kota, seluruh bagian tubuh nya remuk semua. Dari tadi saat Meeting ia belum menyempatkan duduk, berdiri terus menjelaskan proyek nya. Kini peluh keringat nya makin basah, ia kipaskan wajah nya beberapa kali. Lupa ada AC, langsung saja alat itu ia hidupkan.


"Pa." panggil seorang wanita yang sedari tadi duduk di ruang kerja nya, Pratama menoleh ke wanita itu. Ia baru sadar kalau disini juga ada istrinya, sampai lupa kalau dia sengaja membawa istrinya ke kantor.


Adriana dengan wajah cemberut memasang wajah jutek ke arah suami nya. "Aku itu juga kerja Mas! Kenapa aku harus di kekam disini sih??? Sesi Pemotretan ku mau habis kalau begini terus! Mbak Nayla marah nanti kepada ku!! Pokok nya aku mau pergi." Adriana berdiri siap siap pergi dari tempat ini. Tapi jalan nya dihalangi oleh Pratama yang sudah berdiri di hadapan nya, tak segan segan memeluk istrinya erat erat.


"Jangan pergi dulu ya... Please. Cuma hari ini saja. Kamu gak takut kalau Papa terjadi apa apa lagi hari ini, hm?" rujuk Pratama mengelus pelan puncak rambut istrinya. Adriana sedikit tertawa, "Apaan sih Pa, gak bakal terjadi apa apa kok. Kalau ada masalah sama wanita ular itu, Mama tetap percaya kok sama papa. Lagian papa ini aneh aneh saja, kayak takut saja sama dia. Dia kan sama-sama manusia, gak usah takut kali..." kata Adriana melepas kan tangan suami nya dari kepala nya.


Pratama hanya tergagap sendiri, ia malu malu kucing. Ingin membalas ucapan istrinya tapi ia sedikit teringat dengan pesan anak nya yang belum ia baca saat Meeting tadi.


Raut muka sedih yang Pratama pancarkan membuat Adriana penasaran dengan isi chat yang baru saja pria itu baca. "Ada apa Pa?" tanya Adriana mencoba melihat isi pesan di hp yang di genggam suami nya.


"Jordan"


Adriana menautkan alis sebelah nya, "Jordan kenapa?" tanya Adriana yang dijawab Pratama "Jordan pingsan tadi di rumah, Papa diberitahu sama Karin kalau Jordan tak baik baik saja"


Adriana langsung memasang muka panik, "Lalu... Bagaimana keadaan Jordan? Papa balas chat nya bagaimana? Apa gara gara tak sarapan tadi pagi, tapi Jordan gak kenapa napa kan???" Adriana malah panik sendiri, hati nya sudah bergetar hebat mendengar adik kandung nya pingsan tadi pagi.


"Tak apa apa, dokter sudah ada di rumah. Mungkin Jordan hanya kecapekan, tak perlu khawatir"


"Aku harus pulang, Pa aku harus pulang ke rumah. Mama khawatir sama Jordan, Jordan itu... Jordan itu anak nya... Akh... Sifat nya sama saja dengan Ibu"


Pratama hanya bisa menepuk nepuk pelan punggung istrinya agar tetap bersabar. "Tak usah khawatir sayang, di rumah ada Karin, Alan dan para pembantu lainnya. Pasti Jordan dijaga dengan baik disana. Aku mau kamu tetap disini ya, temani aku. Hanya sehari saja, aku memang egois. Tapi bisa tidak Ma sesi pemotretan waktunya diundur besok?. Hanya hari ini, besok gak lagi..." mohon Pratama dengan muka di melas kan.


Adriana menghela napas gusar, dirinya hanya bisa mengangguk. Sesekali dia menuruti perkataan suaminya, apalagi akhir akhir ini dia jarang berbincang bincang dengan suami nya dikarenakan padatnya pekerjaan.


Lagipun hanya sekali, tak apa hanya hari ini saja. Adriana malah gemas melihat suami nya meminta minta seperti anak kecil, mungkin dipikirannya Eve adalah makhluk jahat. Dari tadi saja Adriana tertawa kecil.


Ia juga khawatir dengan adiknya, ia takut adiknya terjadi apa apa. "Pokoknya nanti harus ada kabar dari Jordan! Telepon atau apalah, pokoknya aku harus mendapat kabar kalau Jordan sudah tak apa apa" ketus Adriana yang diangguki Pratama.


"Ya sudah kamu duduk dulu, aku mau menjelaskan sesuatu sama Karin. Karena Karin dari tadi chat nya meragukan ku katanya gak ku kasih makan, padahal kemauan nya sendiri yang gak mau sarapan sama sekali"


Adriana mengangguk sekilas, duduk kembali di sofa ruang kerja. Melihat terus suami nya yang berdiri sambil berkutat dengan hp nya. "Ya ampun, kenapa ini semua bisa terjadi..."

__ADS_1


Beberapa menit pun berlalu, Adriana tersenyum saat suami nya mencium pipi kanan nya secara tiba tiba. "Apasih kamu Pa, untung gak ada siapa siapa" malu nya mengalihkan wajah nya. Pratama hanya cengengesan tak jelas, sedikit tersenyum dengan kelakuan yang ia perbuat tadi.


Hingga beberapa kali ketukan terdengar, Pratama mengira asisten nya, Jo yang datang. Tapi tak ada suara sama sekali dari luar, penasaran Pratama segera mengecek siapa yang ada di luar tapi dicegah oleh istrinya.


Adriana menyuruh suami nya untuk tetap stay di belakang nya, biar dirinya lah yang mengecek siapa di luar. Takut terjadi apa-apa. Setelah dibuka seorang wanita tiba tiba melemparkan diri, memeluk kedua bahu Adriana tiba tiba.


Eve, yang langsung membuka mata terkejut tak main. dengan sangat kasar mendorong Adriana jatuh kebelakang, untung saja ada Pratama berada di belakang nya langsung menahan istrinya. Tak terima Istrinya diperlakukan seperti ini, langsung ia cari wajah seseorang yang sudah seenak nya dengan keluarga nya.


Yang didapati adalah Eve gila sendiri dengan mengibas ngibaskan kedua tangan nya ke Dress ketat milik nya, bisa dibilang dia merasa jijik sambil pura pura muntah di hadapan mereka berdua.


Eve menatap kesal ke arah Adriana, tak ada rasa malu malu nya, kedua tangan ia lekuk ke dalam. "Kenapa you ada disini? Jadi jijik aku malah meluk kamu! Seharusnya Mas Pratama! Bukan kamu! Dasar kau!!"


Adriana langsung menapuk mulut wanita itu dengan sangat keras. Kemarin dia masih sabar atas kelakuan mantan adik tiri suami nya, tapi sekarang perkataan nya makin menjadi jadi. Pratama mencoba menenangkan suasana agar tak terjadi kericuhan di kantor.


Eve memegang mulut nya sendiri, rasanya begitu kesal melihat pria yang ia cintai malah membela perempuan lain, pikir nya.


"Kenapa sih! Kamu itu kalau gak suka sama saya bilang! Ganggu kehidupan ku saja! Memang nya kamu siapa? Istri kontrak nya aja bangga"


"HAHAHAHAHAHA, Mas~Mas~Kenapa kamu gak sadar sih???? Dari dulu aku duluan yang suka sama kamu! Dia yang ******! Dia Pelakor! Selalu aja nyalahin aku! Padahal aku juga sayang sama kamu! Aku gak bakal gini kalau- akhhh.... Sa-Sakit!!!"


Adriana menarik rambut panjang Eve ke atas, hingga puncak rambut milik Eve akan rontok dibuat nya. Dengan sangat kesal Eve juga akan membalas perbuatan wanita itu tapi dihalangi oleh tangan Adriana yang satu nya yang sudah menggenggam tangan Eve lebih duluan.


"Dasar tak tahu diri, aku sudah punya Anak!. Kemarin aku sudah berkata dengan sejujur nya kan? Dimana telinga mu dipasang? Apa masih di rumah? Aku penasaran, kamu memang benar benar sakit jiwa."


Adriana menjongkokkan tubuh nya, Eve tersungkur kebawah dengan rambut yang ada di genggaman Adriana.


"Sepertinya kamu masih belum puas, atau memang pura pura tak tahu?. Dasar gila, ke rumah sakit sana" ejek nya mendorong kepala Eve ke belakang.


Sekarang dengan keadaan Eve yang berantakan dia masih terdiam, terduduk di tempat dengan perasaan bercamuk kekesalan. Ia kesal dengan wanita yang sudah merebut "Calon Laki-Laki" nya.


Eve mengamuk hebat tak terima di ejek.


"SEHARUSNYA KAU YANG GILA! AKU TAK GILA! KAU YANG GILA!!!" Eve berdiri ingin melawan wanita yang ada di depan mata nya "Wanita songong" kata Eve, tapi tubuh nya di tahan oleh Jo dari belakang yang melihat kejadian hebat dari dalam lift.

__ADS_1


Jo menarik mundur Eve, Pratama menghampiri asisten nya. "Aku takut terjadi apa apa disini. Aku menyuruh mu Jo, bawa dia ke Rumah Sakit Jiwa"


Jo hanya terbengong, "Apa? Bukannya wanita tak tahu diri seperti ini harus dibawa ke Kantor Polisi?" sindir Jo.


Dari belakang Adriana menghampiri Jo dan suami nya. "Jo, bawa saja dia ke Rumah Sakit Jiwa, tenang saja biaya nya bisa kita atasi." suruh Adriana. Eve yang mendengar nya berteriak, berkata bahwa (Aku tak gila, yang gila adalah Wanita itu).


Jo langsung berpikir, bagaimana dia bisa membawa wanita gila di genggaman nya ini?, suka bergerak gerak begitu dibawa ke Rumah Sakit Jiwa? Tangan nya yang nanti jadi korban cakar nya.


"Pak, tolong panggilkan se siapa pun untuk membantu saya. Saya tak bisa sendiri... Kalau begini saya yang gila nanti..." keluh Jo yang ditanggapi Eve, "DASAR SIAPA YANG GILA!!! AKU TAK GILA BODOH!!"


Adriana langsung menampar Eve, dengan kedua mata yang disipitkan ada rasa kekesalan dan rasa kasihan ke wanita yang bernama Eve ini. "Kalau kau tak gila, tak usah berlagak seperti orang terobsesi begitu. Saya tak suka, dengan caramu yang tak begitu elegan sama sekali. Kau tak pantas menjadi saingan ku, gila hanya untuk orang yang gak waras. Kau mau termasuk mereka itu? Dasar gila, kau orang gila dalam percintaan mu. Untuk itu sembuh adalah jalan untuk mu, aku akan menunggu mu keluar dalam keadaan tersenyum. Hingga kita bisa seperti dulu..." Adriana tersenyum dihadapan nya, mengenang dirinya dengan Eve saat ia masih kuliah sedang kan Eve masih sekolah SMA, mereka bercanda, tawa bersama, dan bermain saat ada luang waktu.


Tapi semua kebahagiaan itu hanyalah kebohongan nya untuk mendapat kan pacar Adriana, Pratama. Hah... Masa lalu anak muda memang membingungkan, ia tak mau lagi mengingat ingat kejadian terdahulu lagi.


"HAH!!! YA MEMANG ITU KAU MUDAH DIMANFAATKAN! HAHAHAHA, KAU KIRA KITA ITU TEMAN? KAU MENGANGGAP KU APA? ADIK? SUNGGUH??? ADIK??? HAHAHAHAHAHA, LUCU.... BAHKAN SAAT AKU MENGAMBIL CIUMAN PERTAMA MAS PRATAMA KAU HANYA BIASA BIASA SAJA!!! YA ITU KA- EMMMHHH.... MHHH"


Mulut Eve langsung di tutup sama selotip coklat berukuran besar. Kini tubuh Eve digotong oleh beberapa BodyGuard menuju ke depan, Jo langsung menghampiri Adriana yang terdiam saat mendengar ucapan terakhir dari wanita itu.


"A-anda tak apa bu?" tanya Jo yang begitu khawatir dengan Adriana setelah mendengar kata yang begitu gawat di dengar oleh istri Atasan nya sendiri.


Dibelakang Pratama hanya diam sedari tadi setelah puas menampar Eve. Dia juga baru saja memanggil beberapa BodyGuard nya. Dengan langkah gugup, Pratama tak tahu harus berkata apa apa setelah mendengar ucapan Eve tadi yang memang benar benar terjadi di masa lalu.


"Mama sudah tau kok, dari dulu bahkan." Adriana membalik kan badan, "Bahkan kamu sudah menjelaskan semua nya dulu. Kalau ciuman kalian hanya sebatas tak kesengajaan bukan? Aku juga tahu kalau kamu tiba tiba dicium itu juga... Yah pokok nya itu masa lalu, Pa. Sekarang tak ada lagi gangguan di keluarga ini" jelas Adriana bertele tele mencoba tak mencari keributan lagi.


"Eh Papa!!! Papa ngapain!!!"


Tubuh nya tiba tiba di gendong, dibawa lagi masuk ke dalam. Sebelum menutup pintu, kedua mata nya menatap Jo dengan kilatan tajam. "Jangan lupa pantau terus wanita itu di rumah sakit jiwa sana. Jangan sampai dia menganggu ketenangan kita lagi, terakhir jangan di depan pintu, kau akan mendengar pembicaraan kita nanti"


BRAK-


Pintu di tutup dengan keras, Jo mengeruk tengkuk kepala nya yang tak gatal. "Nasib. Nasib punya Atasan seperti ini" kata nya, berlekas pergi dari sini menggunakan lift menuju ke bawah.


"Dari rupa rupa wanita itu memang pantas sih disebut wanita Gila" kata nya hingga tersenyum sinis, menurutnya itu terlihat lucu melihat rupa Eve yang berantakan tadi seperti benar benar Orang Gila akan cinta.

__ADS_1


__ADS_2