
Karin Pov π
Aku sedang menjalani tugas ku. Kalian pasti sudah tahu kalau aku sedang memata matai seseorang. Tapi orang yang kucari tak ada di sini, maksud ku tak ada di depan mata ku pas saat ini. Karena Museum ini begitu luas mungkin saja Haikal dengan pacar baru nya sedang tidak ada di sebelah sini.
Tapi aku juga tak yakin kalau yang (N) kata kan itu benar atau tidak. Karena dari tadi ku cari cari mereka tak ada, apa mungkin mata ku saja yang tak jeli?.
Tapi pikirkan nanti dulu, aku mau mempotret potret benda benda cantik yang ada di dalam rak kaca panjang di depan ku ini. Wahhh.... Benar benar bentuk nya begitu indah, begitu memesona, walau berbentuk hewan kecil. Tapi siapa yang tak akan suka dengan kucing? imut, kecil dengan bentuk sedetail dan semirip yang asli nya..
Semua nya yang ada di dalam rak kaca hanya lah hewan hewan an kecil. Aku merasa ingin membeli satu, mereka seperti figur yang cocok dipajang di rak kamar ku. Kalau di beli boleh gak ya? Aku menginginkan kucing imut kecil ini...
Lihat saja aku foto foto terus para kucing kucing kecil ini. Warna mereka berbeda beda, tapi aku suka sama yang warna nya putih. Menurut ku kucing itu yang warna nya putih sama seperti asli nya, tapi berbentuk kecil. Aku suka kucing putih!!! Oh ya aku juga suka sama kucing kuning... Di sini kan hanya ada 4 kucing, hitam, putih, kuning dan belang. Yang paling aku suka hanya putih,dan kuning. Tak ada selain itu.
Habis berpulang dari Museum aku ingin beli kucing asli. Soalnya aku benar benar mengidamkan hewan imut, bersih di rumah ku. Dari dulu saja Mam gak ngebolehin aku nge rawat kucing, anjing atau hewan yang imut imut itu. Mam selalu bilang "Jangan Karin! Mereka berbulu lebat! Kau itu kan gampang sakit! Batuk pilek lah. Kalau monyet atau landak tak apa apa. Ular pun boleh, pokok nya jangan kucing!!! Ingat itu, sampai kau besar!" kata ku sambil menirukan nada Mam yang biasa biasanya. Mama pernah mengatakan itu kepada ku saat umur 9 tahun dulu. Jelas aku masih mengingat nya, orang di suruh mengingat. Mana mungkin dilupakan.
Ya nanti saja lah dipikirkan. Aku juga jarang mengelus kucing, pernah sih. Pas itu saat SMP atau SD kalau tidak salah sedang mengerjakan tugas kelompok di rumah teman. Begitu iri nya aku pas itu karena hampir semua teman ku punya peliharaan masing masing untuk menenangkan hati. Kan aku juga mau, mempunyai peliharaan lucu. Bukan monyet, ular atau landak.... Bukannya lucu tapi malah menyeramkan.
...ΰΌΆβ’βββ§ββ...
Ternyata Museum ini random juga, ada hewan, ada patung buah, ada patung manusia, ada tumbuhan berbentuk patung juga. Semua di panjang disini tanpa ada tersisa dengan pelindung mereka masing masing.
Kenapa hewan bisa dipajang di Museum ya? Aku penasaran kenapa patung hewan dan patung tumbuhan juga di pajang. Aku kira disini hanya ada patung patung para pahlawan tanda jasa, ternyata patung manusia nya juga ada yang lain selain itu.
Tentang seni nya lah, kecantikan nya, struktur patung nya, keluwesan yang sepertinya tak dapat dibuat dengan mudah. Pokok nya semua patung yang ada di sini adalah "Seni". Aku sedikit bangga dengan diriku yang sudah mengikuti ucapan "N" itu untuk ke Museum.
Museum? Ke sini!? Tunggu dulu. Ada yang aku lupakan. Sesuatu atau.... Tunggu ya Hp ku berbunyi. Untung saja di Museum Altar ini boleh membawa masuk HandPhone.
"Halo" aku mengangkat panggilan orang yang tak ku kenal.
__ADS_1
"Kenapa kau hanya diam saja! Dimana target mu?, bodoh!"
Tiba tiba saja aku dibentak seperti itu oleh si penelepon. Jelas aku marah, kenapa dia marah marah? Padahal aku tak salah apa apa.
"Siapa sih kamu!? Gak jelas." saat ku mau mematikan telepon, si penelepon pun menjelaskan dirinya ber inisial "N".
"Hah? Kok kamu tau kalau aku sedang bekerja sama dengan (N)? Kamu siapa?" selisik ku penuh curiga.
Si penelepon langsung mengaku dirinya adalah (N). Loh bukannya nomor ku tadi diblokir? Kenapa dia bisa menelepon ku? Apa benar?.
Saat kulihat lagi, benar saja itu nomor inisial (N). Dia sudah membuka blokiran nya.
Oh jadi begini suara nya, seperti suara seorang lelaki. Tapi aku tak tau siapa (N) sebenarnya.
"Maaf Pak N, saya tidak tau. Saya kehilangan jejak mereka, kapan kapan saja ya Pak N, saya datang ke Museum ini" akhirnya saat benar benar mau mematikan telepon ku.
"Temui dia di toilet perempuan. Secepatnya, dia pacar dari Haikal. Dan satu lagi! Aku masih belum menikah! Panggil aku Mas! Jangan Pak! Aku tak setua itu, Bod*h!" kasar nya Pak N eh Mas N. Sampai mengucapkan hal kasar di akhir kalimat. Aku hanya mengiyakan dan langsung berlari memanggil seorang pemandu Museum.
"Kak...kakak" panggil ku dari kejauhan melihat seorang pemandu di Museum ini.
"Iya ada yang bisa saya bantu?" tanya si pemandu, aku pun langsung menanyakan dimana toilet perempuan nya. Si pemandu menjawab katanya ada 2 tempat toilet perempuan, di kanan gedung dan di kiri gedung. Aku langsung memucat, bagaimana aku bisa secepat Halilintar kalau posisi toilet masing masing nya begitu jauh.
Aku langsung kembali ke teleponan. "Mas N! Dimana toilet nya... Di kiri atau kanan?" lebih baik aku cari aman daripada gegabah memutuskan nya sendiri. Lebih baik nya aku menanyakan langsung ke Mas N.
"Di toilet perempuan, sebelah kanan. Cepat! Tak ada waktu lagi! Perempuan itu hanya buang air kecil"
Aku langsung berlari menuju ke arah toilet kanan di depan jauh sana. Nafas ku sudah berat, karena aku berlari sekencang kencang mungkin. Akhir akhir ini aku tidak jogging. Jadinya begini hasil nya, aku kelelahan sendiri.
__ADS_1
"Hah... Hah" aku ngos ngosan sendiri, memegang tembok depan toilet sebagai penahanan tubuh. Langsung aku berjalan masuk ke dalam dengan langkah hati hati.
Dengan menelan ludah ku yang begitu susah ku telan langsung saja ku telepon Mas N. "Mas, nama perempaun nya siapa- hosh... Hosh..." bukannya memberi jawaban atas pertanyaan ku malah dibentak sama Mas N.
"DASAR KAMU INI BAGAIMANA SIH! ITU TOILET SEBELAH KIRI!!! KAMU GILA APA! JANGAN MASUK KE TOILET LAKI LAKI! CEPAT KELUAR!"
Aku membuka mata, mengerjapkan mata ku berkali kali. Ku lihat sekeliling ini. Benar saja ini adalah toilet untuk laki laki, papan toilet mereka dipasang di tembok tentu saja aku tau ini adalah toilet laki laki. Tunggu? Toilet laki laki???
Langsung aku keluar, ternyata di sebelah nya toilet perempuan. Tapi malu juga, untung saja tak ada orang. Aku salah lihat, kukira itu toilet perempuan... Dan aku salah lagi, dan begitu bodoh nya aku malah menuju ke arah toilet gedung kiri.
Terlalu ter gesa gesa nya aku, hingga buta arah dan salah arahan. Ya ampun... Pasti Mas N marah ke aku. Ku angkat lagi telepon ku, dengan tubuh yang sudah gemetaran aku tak tau lagi harus apa.
"Mas N.... Aku haru ngapain sekarang?. Aku tak tahu lagi dimana mereka..." gagap ku sudah panas dingin di depan toilet sini.
Disana terdapat helaan napas, "Pergi ke sebelah utara sana. Mereka berfoto foto ria dengan para Lukisan." pinta Mas N. Aku terkejut, "Di Museum ini ada Lukisan Mas N???dari tadi aku tak lihat"
"TENTU SAJA!! BEBERAPA LUKISAN ADA DI SEBELAH UTARA....KAU MEMANG SOK TAHU, BELUM MENJELAJAHI SEISI MUSEUM SUDAH SOK TAU KAU!!!!"
Aku langsung berdegup kencang sendiri, malu sendiri karena sudah sok paham. "Be... Begitu ya Mas N. Maaf maaf, aku segera ke arah utara sekarang. Mas N juga harus bantu aku buat tahan mereka tetap di tempat! Jangan lah aku sendirian saja melakukan tugas ku!"
Disana hanya ada deheman, "Iya sana cepat pergi, mereka akan pulang saat jam 15.45. Sana, sebelum terlambat!"
Aku langsung memasang hormat, untung saja tak ada siapa siapa di depan toilet. Disangka aneh aneh nanti aku. "AIYA KAPTEN!" seru ku berlari menuju ke arah utara yang diperintahkan oleh Mas N.
"Cukup melelahkan. Tapi aku harus berusaha demi kehidupan ku selanjut nya" mantap ku dalam hati.
END POV π
__ADS_1