KARIN(Waktu Nya Pembalasan)

KARIN(Waktu Nya Pembalasan)
#40/ Tak berhak anda mengetahui hal pribadi orang lain.


__ADS_3

Begitu kesal, wanita itu berlari di hadapan sekumpulan kelompok dengan dihalangi gerbang besar tinggi di hadapan nya. Ia mengamuk, menumpahkan air liur nya sana sini, tapi sekelompok manusia menyebalkan yang ada di depan rumah nya tak mau pergi juga dari sini, ia tak punya cara lain. Selain memaksa mereka dengan sapu ijuk di sebelah pos satpam.


"KALIAN SEMUA PERGI!!!"


"AKU TAK BILANG YA! KALAU BESOK DIBOLEHKAN!"


"DENGAR TIDAK??? KALIAN TAK PUNYA TELINGA ATAU BAGAIMANA???"


"AKU BILANG SEMUA NYA PERGI!!!"


Bahkan paman Jordan saja sampai mengelus punggung keponakan nya agar tetap dalam kondisi sabar, tapi tak bisa. Karin sudah muak dengan para wartawan yang jumlah nya makin banyak.


Mereka malah membalas Karin, pemilik rumah ini dengan kata kata kasar juga. Memaksa orang orang yang ada di dalam rumah untuk keluar. Mereka benar benar kalau tidak di beritahu pun mereka masih sama seperti ini.


Suara nya seakan tercekat, ia berteriak sedari tadi. Tapi kelakuan mereka semua tak henti henti, dimana para satpam? Bukannya mengurusi mereka semua malah tak ada di sini untuk membantu nya. Ia bertanya tanya, ini terjadi saat jam berapa? Perasaan tadi pagi sekali mereka masih belum ada.


Itu bukan lah yang ia pikirkan sekarang, yang harus ia lakukan... Bagaimana cara mengusir manusia yang jumlah nya tambah banyak ini? Apa iya, dia harus memanggil Papa nya datang turun tangan disini?? Karena hanya papa nya lah yang bisa mengurus semua ini.


Tapi bagaimana? Siapa yang akan mengurus semua ini? Para pria nekat yang memanjat manjat gerbang Mansion, dengan sapu ijuk beberapa kali dirinya menghalangi para kaki kaki setan yang akan meloncat ke dalam. Mulai lah kedua mata nya mencari sekeliling, ia coba mencari seseorang yang mungkin bisa membantu nya.


Paman Jordan juga sibuk karena menahan gerbang terus menerus agar tidak terbuka, Karin juga sibuk dengan kaki kaki manusia busuk di luar. Hingga ia bertemu dengan asisten nya yang baru saja sadar dengan kejadian disini, segera ia panggil.


Alan pun kemari dengan membawa Gembor(penyiram tanaman). Di taruh nya gembor plastik itu di aspal lalu mengangguk saat Karin menyuruh Alan untuk mengerjakan sesuai apa yang dirinya katakan. Alan pun berlari masuk ke dalam Mansion menemui nyonya dan tuan rumah.


Hingga ia melihat 2 orang yang ia cari, dengan membungkuk kan badan mereka berdua dibuat kaget dengan asisten Pratama dulunya yang sekarang menjadi asisten anak nya. Alan kesini dengan berlari sambil mengatur nafas nya yang tak teratur.


"Tuan... Nyonya... Di depan ada... Sekumpulan wartawan yang-"


Tapi tak diduga mereka berdua sudah tau, Pratama sudah mengetahui itu dari jendela dapur yang arah nya juga ke gerbang sana. Jadi niat Pratama ingin pergi lewat belakang rumah bersama istrinya, tapi dihalangi Alan yang begitu cepat hingga mereka tak menyadari kalau Alan ada di depan mereka.


"Ada apa ini Alan?"


Tuan Pratama merasa menyembunyikan sesuatu yang tentu saja bisa diketahui oleh Alan, ia tahu kalau majikan nya akan pergi dengan mobil melewati jalur belakang. Hanya Alan tak rela kalau anak mereka ditinggal begitu saja di depan, dengan kerusuhan yang dibuat oleh para kedua pasangan ini yang seharusnya tak ada sangkut pautnya dengan anak mereka.


"Di depan Anak anda sedang kerepo-" tapi ucapan nya di potong.


"Aku sudah memanggil BodyGuard ke depan rumah melewati jalur belakang juga. Jadi sabar, aku juga tak tinggal diam sebenarnya, mangkannya jangan salah paham dulu..." kata Pratama membuat Alan seketika terbungkam.


Percaya atau tidak, kita lihat saja nanti.

__ADS_1


Kembali ke depan gerbang Mansion, masih saja sekelompok wartawan itu tak mau angkat kaki dari sini. Mereka masih kekeh dengan kepercayaan mereka, sebenarnya apa yang mereka inginkan? Apakah bukti nyata dari yang mereka dengar kemarin malam? Belum saja beberapa jam berita ini sudah menyebar.


Tentang anak nya lah, tentang pelakor yang mengganggu rumah tangga keluarga ini lah, rahasia yang disembunyikan kediaman Pratama, dan sebagainya. Mereka mengada ada dengan memalsukan berita, sebagian asli sebagian nya tidak.


"Kami ingin berita yang sebenarnya, tolong untuk kali ini beri kami kesempatan untuk mewancarai kalian! Kami mohon! Kami juga butuh pembuktian!!!" kata salah satu wartawan, dijawab oleh semua antek antek nya.


"BETUL!!!"


"BETUL!!!"


"BENAR!!!"


Karin menutup kedua telinga nya rapat rapat saat mic para wartawan di luar mengarah ke wajah nya. Dirinya sudah tak tahan, kalau ini tak diselsaikan dengan cepat ini tak ada habis nya.


"Paman, aku menyerah. Buka saja gerbang nya" lirih Karin melemparkan sapu ijuk yang ia genggam ke belakang tubuh nya. Tanda dirinya sudah menyerah menghadapi semua ini.


Paman yang tak terima langsung berteriak, "KENAPA!!! PAMAN TAK MAU MENYERAH BEGITU SAJA! PAMAN INGIN KARIN JUGA BERJUANG! BERJUANG DAN BERJUANG!TAK ADA KATA MENYERAH!!!"


Karin menggeleng dengan senyuman sinis, "Paman, tolong jangan seperti sinetron sinetron yang di tv tv itu. Tak apa, aku akan menerima semua konsekuesi nya, yang terpenting semua ini selesai dengan cepat. Aku tak ingin keributan sebenarnya, hanya itu. Apa tak bisa?" keluh nya dengan wajah lesu, dirinya juga tak mau ini semua terjadi. Tapi kalau dihindari itu bukan lah sebuah tanggung jawab, tak apa hanya kali ini saja.


"Kumohon paman, buka gerbang nya ya."


Jordan meneguk ludah nya kasar, ia tak tahu harus berkata apa lagi. Tapi karena itu permintaan keponakan nya, dia juga tak punya cara lain selain menuruti.


"Papa..." pikir Karin setelah mendengar teriakan pria di dalam mobil yang ada di belakang sana.


Seketika deretan kelompok itu membelah, mengosong kan tengah tengah mereka memperlihatkan sebuah mobil hitam dengan seseorang di dalam nya.


"Apa aku harus berkata 100× ke kalian semua!?aku juga sudah konfirmasi dengan para atasan kalian semua!!?, kau dari CVSEMENTER kan? Dan kau! Dari AVKM kan? Aku sudah bilang kepada atasan kalian!!!. Yang sekarang sedang mengurus surat-surat resign kalian semua! Aku tahu wajah kalian bahkan tempat kerja kalian. 1 sampai 10 kalau kalian tak kunjung pergi dari sini, jadi kalian sah dengan akibat yang men datang nanti" ancam Pratama mengepalkan tangan nya kuat kuat.


Pratama mulai menunjukkan kedua telapak tangan nya ke arah mereka semua, melipat perlahan semua jari nya hingga meng hitung mundur angka 10-1. Ada satu laki laki yang menunjuk dirinya sendiri dan memajukan diri ke arah mobil hitam milik Pratama. Secara lelaki itu tak terima dengan perkataan Pratama, mulai lah ia bicara.


"Anda tak berhak mengusir kita semua dari pekerjaan kami. Anda juga tak berhak membuat kami menderita, memang anda adalah Boss terkenal, tapi kalau masalah meng-resign karyawan yang bukan dari kantor anda itu sudah menjadi tindak pidana dengan pernyataan (sudah semena mena) itu menurut saya dan untuk lainnya, pasti begitu" kata laki laki itu yang membuat Karin geram, ingin memarahi laki laki itu tapi bahu nya di cengkram oleh Paman nya untuk jangan ikut campur dulu.


"Oh ya? Lalu bagaimana dengan hal pribadi saya? Yang jelas jelas bukan urusan anda sekalian. Urusan ataupun masalah saya hanya sumber uang untuk berita anda bukan???. Banyak sekali konspirasi yang tidak-tidak malah dimasukkan ke berita anda. Karyawan macam apa kalian yang tak tahu diri dengan menunggu saya dan keluarga saya di depan rumah? Apakah anda sekalian punya harga diri?" balas Pratama.


Seketika laki laki itu terbungkam dengan ucapan pria itu. "Saya akan mengatakan masalah saya atau tidak itu bukan urusan kalian kan?! Lebih baik aku cari pengacara yang lebih diandalkan daripada kalian semua yang tak becus, tak tahu diri dan tak menangkap omongan ku dengan benar. Sebenarnya kalian tak cocok jadi wartawan, lebih baik kalian jadi penjual pasar sana. Suara berisik kalian cocok sama para para penjual tradisional" Pratama sedikit tertawa mengejek dengan ucapan nya sendiri tetapi tak lama dari itu ia memasang wajah kaku dengan tatapan tajam menusuk mereka semua.


"Tenang saja tentang urusan ku, kalian akan tahu sendiri nanti" usai nya menutup kaca mobil, melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang meninggalkan mereka semua dengan para bodyguard yang sudah ia persiapkan dari tadi.

__ADS_1


"Ke-ke-" Karin tergagap sendiri melihat para BodyGuard besar besar berdiri di sana dengan tangan di kepal kan dan mengarahkan ke para wartawan itu. Para wartawan yang ketakutan dengan para BodyGuard yang jumlah nya ada empat itu langsung melarikan diri dari sini.


Ada yang lari ada yang terbeku menatap para BodyGuard seram seram dihadapan mereka mempermainkan punggung, leher dan tangan mereka hingga beebunyi.


Kretek-kretek-kretek


Mereka semua mulai kabur terbirit birit, Karin dan paman Jordan tertawa terbahak bahak melihat mereka semua ketakutan dengan BodyGuard yang di pesan papa nya.


"Kok... Hahahaha, ya ampun.... Aduh aduh mulut ku jadi sakit karena tertawa terus.... Hahaha, Ya ampun...."


Ke empat BodyGuard yang tubuh nya sama sama besar dengan Paman nya Karin mulai saling berjabat tangan.


"Kalian ini telat sekali, kita hampir menyerah tadi. Jangan ada mereka lagi ya disini, aku capek. Tubuh ku gak tahan sama mereka semua yang kayak kerasukan iblis." ucap Karin yang diangguki mereka ber empat.


Jordan dan Karin saling tatap menatap dan tertawa dengan rasa kepuasan.


"Tenang saja nona, tuan. Mereja tak akan kembali lagi. Kita akan berjaga di luar sini 24jam full, anda akan tidur nyenyak selanjutnya" kata salah satu BodyGuard, Karin mengangguk sekilas dan tak sadar kalau ia mulai kecapekan dengan nampak nya peluh keringat di wajah nya.


"Huh? Paman?!" Karin terkaget dirinya digendong ala bridal style sama Paman nya sendiri. "Kamu capek kan? Biar Paman bawa kamu ke kamar"


Karin langsung memasang muka pasi, menggerak kan tubuh nya sana sini. Tapi tidak bisa karena tubuh Paman nya jauh lebih besar daripada dirinya, "PAMAN LEPASIN!!!"


Paman Jordan malah tertawa dengan aksi nya, tak membiarkan keponakan nya kecapekan hanya ini yang bisa ia lakukan.


"Tersenyum lah~"


Sedetik itu ia langsung terhenti, menuruti ucapan paman nya. Langsung di senyumkan nya bibir nya hingga melengkung ke atas. "Iya gara gara paman, aku jadi senang... Hehe".


‧͙⁺˚*・༓☾ ☽༓・*˚⁺‧͙


Di masa depan, ia kesepian. Tak ada yang menemani nya. Satu pun. Layak nya pembantu semua nya ia lakukan. Menyapu, mencuci baju, mengepel, memasak, mengurus anak semua ia lakukan. Senyuman kecut yang ia perlihat kan pada saat itu.


Tak punya banyak teman, bermain sendiri saat Tasya anak nya sedang sekolah. Menghibur diri dengan bercakap cakap ala ala ibu syukuran. Di masa depan tak ada yang namanya keseruan seperti yang ia alami di masa lalu atau (sekarang).


"Masa bodoh? Mana ada dunia yang bisa ke masa lalu?" Zern, camkan itu. Karena dirimu, wanita ini berterimakasih. Terimakasih sudah mengabulkan permintaan yang terasa sia sia ini kepada nya.


Ingin berterimakasih, tapi ingat kalau Zern juga penjahat. Jadi, Zern ada hadiah khusus kalau kau ingin tahu, Karin akan memberi mu sesuatu yang sangat spesial.


Ya memang kalau kau masih ada di dunia ini.

__ADS_1


"Btw, Alan dimana ya?" gumam Karin mencari sana sini saat ia akan dibawa menuju ke kamar.


#


__ADS_2