KARIN(Waktu Nya Pembalasan)

KARIN(Waktu Nya Pembalasan)
#47/Kau takut? tapi itu bukan salah ku!.


__ADS_3

Atas kejadian tadi, para penjaga Museum mulai membawa Haikal, Karin dan Nana ikut ke rumah sakit. Nana menemani Haikal di ambulans, sedangkan Karin dibawa dulu ke kantor polis, sekarang dia terduduk diam di mobil polisi.


Sesampai nya di rumah sakit, Haikal langsung di bawa ke UGD dan di periksakan. Nana mondar mandir tak karuan, ia khawatir sendiri kalau Haikal, pria yang ia cintai terjadi apa apa.


Akhirnya yang bisa Nana lakukan hanyalah duduk, menunggu informasi lebih lanjut dari dalam. Perempuan itu menggigit jari nya kesal, dengan kejadian yang menimpa nya tadi ia terus menyalah kan dirinya sendiri.


Kenapa tak dirinya? Kenapa harus Haikal? Padahal dirinya yang bertengkar dengan tante tante itu tapi malah Haikal yang dapat imbas nya. Memang Nana tak dapat jawaban dari Haikal siapa tante tante itu?. Tak kenal siapa namanya itu tiba tiba melakukan hal romantis kepada Haikal, tapi hanya satu yang begitu Nana khawatirkan. Ia tak mau kalau Haikal terjadi apa apa, semua tentang biaya itu mudah tapi tidak kalau tentang kesehatan buruk nya akan terjadi


Nana takut sekali kalau Haikal koma lah, atau sakit parah. Nana tak mau karena Nana menyukai Haikal. Nana tak akan membiarkan tante tante yang sudah menganggu hubungan nya dengan Haikal rusak begitu saja.


"Halo Dad!" Nana mulai menelepon seseorang entah siapa tapi dari panggilan nya bisa dipastikan itu adalah orangtua Nana.


"Aku mau balas dendam sama wanita itu! Dad sudah tahu kan dari berita, kalau anak mu tak baik baik saja? Aku mau Dad menyuruh seseorang untuk menyekap nya! Pokok nya tante tante itu harus habis di depan mata ku! Tak ada penolakan Dad!!! Pokok nya harus sekarang!!!" kata Nana mengeraskan suara nya, menekan kan kalimat terakhir nya. Memutuskan panggilan begitu saja, Nana tak bisa tersenyum ia terus merenggut kesal.


Ia tak akan bisa senyum kalau permintaan nya tak dikabulkan. Segera Nana mengatur rencana dengan senyuman jahat nya. "Awas aja tante, aku akan membalas mu!" Nana menepis air mata nya yang akan jatuh, menatap nanar di hp yang ia genggam dengan perasaan benci yang sangat ter angat.


*


Sedangkan di kantor polisi, Karin sedang di intograsi habis habis an sama para detektif. Dari tadi pun dia menjawab dengan yang sebenar benar nya malah ditepis oleh para kedua detektif itu.


"Anda ingin dipenjara? Kalau tidak berkata lah yang sejujurnya!!!" sentak pak detektif yang menyebut dirinya dengan sebutan Mor tadi. Pak Mor terus terusan menggebrak meja agar si lawan yang sedang ia selidiki ini takut kepadanya. Tapi Karin hanya terdiam dari tadi, menjawab salah tak menjawab salah. Entah ia tak tahu apa yang diinginkan Pak Mor darinya sebenarnya.


Detektif yang satu nya sedang mencatat sesuatu sambil memakan biskuit berbentuk bulat , memandang tipis ke arah Karin. Dari tadi Detektif itu diam saja, hanya mencatat dari tadi. Hanya Pak Mor yang heboh sendiri dihadapan nya.


"Pak saya benar benar tak melakukan itu!!!" kata Karin sudah muak sendiri, sedari tadi ia bilang bukan dirinya bukan dirinya tapi Pak Mor menganggap itu hanya alasan.


"Saya hanya memukul nya. Tak lebih dari itu. Membunuh? Saya tak berniat membunuh, percaya lah Pak. Saya tak jahat, saya tak kan mungkin berniat seperti itu"


Denting jam menunjukan pukul 08.20 malam. Jam berdetak dengan suara nya yang terdengar nyaring. Suasana menjadi dingin karena hembusan angin yang masuk melalui celah celah besi jendela.


Detektif satu nya atau disebut dengan Pak Azre mengeluarkan beberapa kertas yang diselotip di dalam tas hitam nya, menyerah kan sebuah laporan kepada Pak Mor.

__ADS_1


"Terimakasih" Pak Mor menerima laporan dari Pak Azre dengan baik. Pak Mor mulai membuka laporan yang disampaikan, menatap tajam ke arah wanita itu.


"Karin Ariana. Umur 23 tahun. Pengangguran. Dan... Siapa keluarga mu? Kenapa disini tak dijelaskan sama sekali? Azre bagaimana kamu ini!? Kenapa alamat bahkan asal usul keluarga nya tak kamu tulis?"


Pak Azre langsung meminta maaf, "Maaf saya tak tahu, karena itu memang tak ada informasi lebih lanjut terkait keluarga nya"


Pak Mor hanya berdecak kesal. Membalik kan kertas laporan nya lagi. "Korban mu, Haikal Zeran. Kau sengaja menusuk nya kan? Memakai pecahan kaca. Kenapa kau melakukan nya? Apa Haikal ini punya salah kepadamu Nona Karin?"


Karin meneguk ludah nya kasar, hatinya berdegup dengan kencang. Keringat nya bercucuran, kedua mata nya mulai berkaca kaca bahkan sudah sedari tadi. Karin hanya menunduk menerima nasib yang ia timpa dengan senyuman kecut.


"Saya?" tunjuk nya pada dirinya sendiri, wajah nya sudah memerah. Kedua mata nya seolah olah akan mengeluarkan air mata. Bibir nya bergetar sendiri, kedua tangan nya kaku dan dingin. Tubuh nya tak baik baik saja sekarang.


"Takut? Kamu takut?! Iya?" tanya Pak Mor dengan senyuman tipis, kedua lengan nya ia tumpukan untuk menyanggah kepala nya. Pak Mor senderan di lengan nya.


Terus menatap Karin dari bawah.


Terdengar Karin terus mengulang nafas nya berkali kali, jantung nya sudah tak baik baik saja sekarang.


Karin menelan ludah nya sekali lagi, ia mencoba menenangkan tubuh nya. Tapi tubuh nya terus ber gemetaran tanpa henti, pandangan nya mulai memburam karena tangisan nya yang tak ada henti henti nya.


"Disini dikatakan kau cemburu kepada Haikal karena katanya para saksi yang ada di Museum, Haikal berjalan dengan seorang perempuan. Benar? Memang nya kamu siapa nya Haikal? Mantan? Pacar atau keluarga? Kalau Mantan yang masih belum menerima cinta nya dengan perempuan lain. Lebih baik renung kan dirimu, katakan siapa yang bersalah disini?" tatap Pak Mor dengan ucapan nya, membuat Karin ketar ketir ingin menjawab apa.


"A... Aku tak berniat membunuh nya. Aku hanya kesal kepadanya. Memang aku mantan nya, tapi ada masalah utang piutang yang belum dia bayar kepadaku" gugup nya dengan eratan tangan nya sendiri.


"Utang? Dia pernah meminta uang kepadamu? Lalu itu yang membuat mu kesal? Atau bagaimana? Aku masih belum mengerti. Kalau kau menjelaskan sejujurnya dari awal, mungkin aku akan menerima nya dengan baik baik"


Glek-


Nafas nya mulai tak beraturan, jantung nya berdegup begitu kencang. Kalau ia jawab jujur dari awal hingga akhir itu bisa dihitung dirinya lah yang salah. Sudah memutuskan Haikal begitu saja dengan alasan suara Haikal fales. Lalu memarahi perempuan asing di dekat Haikal tanpa alasan yang tak jelas. Disini posisi nya lah yang di salahkan, sedangkan Karin berbuat semua itu hanya untuk kehidupan nya yang akan terancam di masa depan nanti.


"Sa-saya...."

__ADS_1


Kriett..... Suara pintu besi terbuka menampilkan oknum polisi yang baru saja lari tergess gesa.


"PAK PRATAMA MAU MENGHAMPIRI ANDA PAK MOR"


Pak Mor berdiri, bahkan Karin ikut berdiri. Dirinya langsung terlonjak senang, pasti nya Papa nya akan menolong nya keluar dari sini. Karin tak mau terus terusan berada disini, disini sesak dan tak mengenak kan. Baru saja beberapa jam, tapi dari tadi semua ucapan nya sama sekali tak dipercaya oleh Pak amor dan Pak Azre. Kalau dia mengatakan kepada Papa nya pasti Papa nya akan mempercayai nya langsung.


Senyum Karin langsung memudar saat Papa Pratama datang datang sendirian itu menampar dirinya dengan begitu keras.


PLAKK-


Hingga nyaring di dengar oleh seisi orang yang ada disini. Mereka semua bahkan sampai terkejut dengan aksi Pratama. Karin jatuh tersungkur dikarenakan tamparan Papa nya lolos mengenai pipi halus nya hingga menjadi bengkak kemerahan, dan gigi nya juga terasa sakit.


Karin berdiri seakan ia tak percaya dengan kedatangan Papa nya yang malah menamparnya.


"Pa aku....aku-" gagap Karin terkejut mendengar bentakan keras dari Papa nya.


BRAKK Pintu besi di dobrak oleh Pratama membuat semua nya terperanjat kaget, Karin langsung terdiam seribu bahasa.


"PADAHAL BARU SEHARI!PADAHAL BARU SEHARI! DAN KAU ANAK TAK TAHU DIRI MALAH MEMBUAT MASALAH LAGI! DASAR ANAK TAK TAU DI UNTUNG!!!" Pratama sudah siap akan menampar anak perempuan nya yang kedua kali nya.


#


Seorang pria sedang menonton rekaman layar yang menampilkan sebuah ruangan kantor polisi. Dia hanya tertawa melihat kejadian itu, kejadian cukup menggenaskan.


"Dasar wanita b*d*h, hahahaha" tawa Mas N yang tak ada henti henti nya. Mulai merusak rusak kan komputer yang menayangkan kejadian tadi, menayangkan rekaman cctv di Museum Altar dan di Kantor Polisi.


Sekarang komputer nya habis tak tersisa, ia injak sekali lagi dan sekali lagi. Melemparkan komputer ke sembarangan arah hingga mengenai tembok sampai hancur tak beraturan lagi.


Mas N terus menginjak injak banyak nya kertas yang entah itu tulisan nya apa tapi tertulis (Plan X). Dengan banyak nya coretan dan lingkaran merah di kertas (Plan x).


Mas N terus mengamuk mengucapkan kata kata kasar beberapa kali. "RENCANA KU GAGAL!!! AKHHH!!!" Mas N memungut kertas (Plan X) yang ia injak injak dan ia remas remas hingga berbentuk bulat. Setelah itu ia lempar keluar kertas nya hingga masuk ke selokan di luar rumah.

__ADS_1


.


__ADS_2