
"Minum lah" sodor Pratama menyerahkan segeles kopi ke Jordan, Jordan manggut manggut. "Terimakasih kak" ucap Jordan pelan, mengesap kopi yang diberikan dengan senang hati.
Pembicaraan masih belum dimulai, Ac ruangan mulai menyapu angin sekitar. Malam menjadi dingin, kedua pria tanpa sesiapun lagi disini, menikmati hawa adem di ruang tamu sepi ini.
"Maaf kalau membuat mu tak bisa tidur" ujar Pratama. Jordan yang masih belum terkoneksi hanya menampilkan wajah datar, tak tahu harus membalas ucapan kakak ipar nya dengan kata kata apa.
"Gara gara keributan itu... Seharusnya kamu tak terlibat. Ini semua salah ku, maaf Jordan kalau kamu kerepotan dengan semua masalah yang ada di keluarga ini"
Ucapan Pratama membuat nya tersenyum kikuk, ia hanya menampilkan sederet gigi tipis lengkung ke atas dengan perasaan yang juga ikut bersalah.
"Waduh tak usah begitu mas. Saya juga jadi ikut bersalah karena tak ikut membantu. Padahal saya keluarga kalian, tak semestinya kakak bersalah kepada saya. Saya gak kerepotan kok, cuma takut aja... Sama wanita wanita yang ada di depan sana tadi. Tapi saya beneran gak kerasa kerepotan kok, saya malah senang kalau bisa membantu sebisa saya" jelas Jordan.
Pratama mengesap kopi nya hingga habis, menghela napas dengan lega "Aku hanya tak mau masalah di keluarga ini. Semua masalah datang begitu cepat hingga aku tak menyadari nya. Aku begitu ceroboh"
Jordan langsung menyela perkataan kakak nya. "Ini bukan salah kakak. Ini salah wanita itu, dialah yang harus disalah kan. Kakak tak perlu bersalah dalam hal ini, ini semua sudah takdir." sela Jordan tak ingin ada yang disalah kan dalam semua kejadian yang baru terjadi.
Walau Jordan sudah berkata demikian, dia masih merutuki nasib nya. "Begitu lah... Sebenarnya tak tahu aku harus bercakap cakap apa lagi dengan mu. Aku ingin tanya sesuatu tapi mungkin tak usah, lupakan saja" Pratama mulai berdiri, Jordan yang makin pertanya kan atas keadaan ini menghalangi kakak ipar nya dengan tangan kanan nya.
"Kalau ada yang dibicarakan bisa dibicarakan sekarang kak. Tidak apa apa, saya juga tak ada hal penting lain malam ini" kata Jordan.
Jawaban Pratama hanya lah senyuman, pria itu kembali ke tempat duduk nya kembali. Menatap kedua bola mata adik ipar nya dengan seksama.
"Aku mau bertanya, bagaimana kehidupan mu dengan Adriana dulu?. Kudengar kalian punya kakak lagi, kau tahu dimana kakak mu sebelum istriku?" tanya Pratama tanpa ada balasan sama sekali dari Jordan, bahkan Jordan saja tak tahu kemana kakak pertama nya itu.
"Saya tak tahu mas, yang kuingat kita ditinggal sendiri di rumah sama ibu. Aku juga gak ingat sama wajah, suara, dan tubuh nya. Pokoknya kita sudah kayak bukan keluarga nya lagi lah, itu sudah bertahun tahun dulu. Kita berusaha men coba melupakan nya, agar tak menjadi keterusan" sedih nya yang terasa begitu menghanyutkan.
Pratama makin bersalah sudah menanyakan kehidupan adik ipar nya yang tentu saja jawaban nya pasti begitu sangat sedih.
"Maaf. Saya ingin tanya lagi, dulu kamu punya ayah kan? Ayah yang kata istri ku mengadopsi kalian semasa kecil. Sekarang dimana ayah kalian?setelah hari pernikahan ku, aku tak bertemu dengan nya, siapa namanya? Aku lupa dengan ayah mertua ku" tanya Pratama menjuru ke arah hal yang makin membuat Jordan terdiam.
__ADS_1
"Ayah Rex? Dia sudah dinyatakan meninggal" cicit Jordan dengan alasan nya, yang seharusnya jawaban dari kakak ipar nya tak ia ketahui sama sekali. Ayah Rex lah atau kakak pertama nya lah, ia tak mengerti lagi dengan mereka yang malah hilang begitu saja seperti ditelan bumi tanpa ada kabar sama sekali.
Kini Pratama makin mengerutkan alis ke bawah, ia malah makin membuat adik ipar nya menjadi sedih. Dengan jantung berdegup kencang akan ia selsaikan semua ini dengan secepat nya.
"Maaf kalau begitu... Ini ku bereskan saja. Kamu tidur saja di kamar, maaf kalau membuat mu menjadi sedih-"
Saat ingin berdiri sambil membawa 2 gelas kosong di tangan nya, ia malah dicegat Sekali lagi oleh adik iparnya. "Mas Pratama, aku boleh kan tanya sesua-" saat akan menanyakan sesuatu, ucapan nya malah dipotong.
"Tak ada waktu! Ini sudah jam 11. Besok saja kalau tak ada kepentingan!" Pratama melewati tangan Jordan yang menghalangi nya begitu saja, ia langsung terdiam di tempat.
Ia teringat dengan momen tadi malam, saat ada yang bertanya.
"BENARKAH KAU ANAK DARI KELUARGA PRATAMA???TOLONG JAWAB!!!"
Ia mendengar itu dari para wartawan tadi, apa maksudnya ya? Memang ia tahu kalau orang tua Karin begitu dikenal di khalayak sana. Tapi mengapa ada wartawan yang bilang menyembunyikan anak? Memang tak masuk akal, seharusnya orang kaya tentu menginginkan anak nya dikenal oleh orang lain bukan? bahkan dunia. Tidak hanya orangtua, tapi juga anak mereka.
Walau Karin sudah dewasa banyak yang tak mengenal nya, ia kira banyak yang sudah mengenal Karin Ariana. Tapi tidak, ia penasaran mangkannya ingin menanyakan sesuatu ke kakak ipar nya mengenai anak mereka.
Niat nya ia urungkan, besok juga tak jadi ia tanyakan. Biar lah alam yang memberitahu semua, tubuh nya lelah. Ia mengantuk sekali, ini semua gara gara Salsa yang se enak nya membangun kan nya. Sia sia saja tadi dia pergi keluar tapi tidak bisa apa apa.
"Kenapa ya kakak menyembunyikan Karin dari para publik. Ingin tanya tadi nya tapi mas Pratama terburu buru. Kak Adriana pasti juga tak bisa menjawab, kalau Karin tidak tahu? Ya sia sia aku tanya kesana kesini. Biar lah nanti juga aku tahu tahu sendiri" usai nya dalam hati, berdiri dari duduk nya bergegas menuju ke kamar.
☀️
Keesokan Pagi hari nya.
"Met pagi Ma, met pagi Pa"
Papa Pratama dan Mama Adriana melihat kedatangan anak gadis nya menuju meja makan. "Met pagi Karin" jawab mereka berdua bersama sama. Karin segera mengambil makanan yang tersuguhkan di meja.
__ADS_1
"Begini aja terus" kata Karin yang membuat mereka tak fokus dengan makanan mereka masing masing.
"Kenapa?" tanya Mam tak mengerti, melihat anak nya masih menyantap sarapan nya.
"Enggak-enggak jadi" jawab Karin sambil menggeleng kan muka. Berpikir saja dirinya begitu senang akhirnya bisa makan bersama sama dengan kedua orang tua nya. Selama beberapa hari belakangan ini ia kesepian, Mama dan Papa nya tak sarapan di rumah maupun makan malam bersama, biasanya dirinya sendirian bersama Paman nya di meja makan.
"Paman dimana?" tanya Karin melihat sana sini, tak kunjung melihat keberadaan paman nya.
"Dia sudah sarapan dari tadi pagi, mungkin saja dia di ruangan olahraga" jawab Papa pelan, Karin menghabiskan makanan nya dengan cepat.
"Ya ampun Karin... Cepat sekali makan mu.." Adriana tentu kaget melihat sarapan milik anak nya sudah habis tak tersisa, padahal baru beberapa menit.
Karin hanya cengengesan. "Yaudah aku mau keruang PK ku dulu ya Ma, Pa. Mungkin Paman sudah nunggu aku disana"
Mereka berdua mengangguk simpul setelah itu melihat anak gadis mereka berlari menjauhi mereka dengan begitu cepat. "Ya ampun aktif sekali anak kita sejak kejadian itu..."
Pratama menaikkan sebelah alis nya, "Maksud Mama? saat pertemuan tunangan Haikal & Karin itu kan?!"
Mama mengangguk, "Setelah itu banyak hal lagi yang terjadi. Sekarang dimana ya Haikal? Sudah tak muncul hidung belang nya lagi di kedua mata kita? Apa benar ucapan Karin itu nyata? Mama tak yakin" ragu Adriana memainkan garpu dan sendok makan nya. Pratama memegang tangan istrinya, "Semoga saja setelah ini masalah tak lagi ada. Papa ingin semua nya cepat selesai"
Ucap papa menenangkan istrinya yang membuat istrinya tersenyum, "Semoga pa" balas nya dengan kedua mata yang ia sipitkan.
Sedangkan di Ruang PK, ia melihat Paman nya memandangi jendela. Dan arah kepala Paman nya ke arah bawah, Karin penasaran apa yang dilihat Paman nya di bawah, di gerbang depan sana.
"Paman ada ap-"
Kedua mata nya melotot melihat sekumpulan wartawan masih belum ada kata menyerah. "Sial!" umpat Karin dalam benak nya, marah karena para wartawan gila itu datang kembali ke rumah nya.
"Paman ayo kebawah!" suruh Karin yang sudah berlari dahulu, Paman Jordan menyusul dari belakang.
__ADS_1
"Kapan ini selesai nya....." kesal Karin tak main main melihat sana sini dengan kedua bola mata penuh amarah.
☕