
"Beneran?" Karin masih memastikan kalau jawaban dari Alby bukan lah sebuah kebohongan. Alby menampilkan senyum melengkung ke atas, sembari mengangguk. "Ya gak apa apa kok, Alby gak marah."tutur nya pelan.
Ia masih tak percaya kalau Alby memaafkan nya semudah itu. Seingat nya dulu barang yang Alby sukai kalau dirusak pasti marah, tapi sekarang kenapa tidak? Mungkin dia sudah besar, berpikir dewasa. (Nasi sudah menjadi bubur, tinggalkan masa lalu buat masa depan).
Alby berdiri, menjulurkan tangan ke arah nya. Ia menengok kesana sini, pikir nya mungkin ada orang lain yang ia gandeng selain dirinya. Pada akhirnya Karin menerima uluran tangan sahabat nya. Berjalan pelan, menuju ke sebuah pohon besar yang berada di tengah taman.
"duduk sini" Alby menepuk nepuk rerumputan untuk tempat duduk mereka berdua. Karin menduduk kan pantat empuk nya di rerumputan hijau taman. Ia melihat Alby sedang melihat pepohonan besar yang ada di depan mereka.
"Kukira ini pohon ku" unjuk nya menatap pohon besar.
"Ternyata aku salah, pohon ku sudah tidak ada lagi"
Menghela napas dengan gusar Karin langsung berdiri merasakan suasana ketidak enakan yang pasti.
Karin terduduk kembali.
Karin menunduk, dan berpikir "Saat aku belum kembali ke masa lalu. Aku tidak menemukan mu datang ke rumah ku. Tapi kenapa harus sekarang?. Padahal dulu aku merindukan mu, menginginkan mu kembali lagi. Kukira kamu sudah tidak ada. Meninggalkan ku selama nya. Sekarang, kamu kembali, mencari tanaman mu disini tapi sudah tak ada lagi. Aku tau kamu berbohong tentang bagaimana kehilangan barang tersayang mu. Kau bilang kan saat kecil kalau tanaman mu itu begitu penting, tak mau melepaskan nya kapan pun. Kamu sedih, tapi tak tahu harus berekspresi bagaimana lagi." ucap nya dalam dalam.
Alby tatap wanita cantik itu dan mengecup pipi nya pelan, tentu Karin kaget dengan aksi nya. "Gak apa apa aku kehilangan tanaman masa kecil ku. Aku tak peduli, yang penting kamu masih ada di sisi ku selamanya"ucap Alby.
Karin mendongak melihat Alby berdiri dari tempat duduk nya. " ayo" ajak Alby langsung Karin berdiri tanpa bantuan nya lagi.
"Gi-gimana kalau kita masuk dulu. Minum minum santai gitu, rileks in dulu aja gimana? Kamu emang nya mau pulang ya." tanya Karin melihat Alby akan pergi dari sini.
Alby menggeleng pelan, menolak ucapan nya. "Aku pulang saja, takut kalau orang tua kandung ku nyariin" kata Alby. Bagaimanpun Karin hanya bisa menuruti, membuntut nya dari belakang sampai ke gerbang depan.
Dilihat Alby di dampingi dengan asisten pribadi nya, membawa car mewah nya. "Dada Alby" Karin melambaikan tangan dijawab lambaian tangan juga. Alby masuk ke dalam, sebelum kaca mobil tertutup Alby sedikit menoleh ke arah sahabat nya, tersenyum kecil.
Karin menatap terus sampai punggung mobil sudah tak ada lagi. Menghela napas dengan lega. Alby sudah pulang kini pikiran nya mulai tenang.
Berbalik badan, Alan memasang tubuh di belakang nya. Ia yang tak sadar sedikit kaget karena asisten nya ada di belakang nya tiba tiba.
"Kamu ini ya... Bagaimana kalau jantung ku copot? Kamu mau gantikan jantung ku lari? Kalau mau bicara sama aku bilang bilang saja! Jangan diam aja di belakang. Kayak hantu penasaran aja..." amuk nya yang seperti orang tak mau kalah.
__ADS_1
Alan hanya menunduk "Maafkan saya nona, tak akan saya ulangi lagi"
Karin menampik dengan cibiran mulut nya, sudah berapa kali ia bilang seperti itu kepada nya tapi yang dikatakan Alan hanya kata (Maaf, Maaf) besok nya, atau nanti nya kejadian lagi.
Alan dan Karin berjalan beriringan masuk ke dalam mansion. Alan menyamakan jalan nya dengan jalan nya Karin. Karin berhenti, menoleh sedikit ke arah asisten nya seperti ingin berbicara sesuatu.
"Ada apa? Kamu mau bilang sesuatu atau apa!" geger Karin.
Alan membungkuk kan badan. "Saya mau menanyakan sesuatu saat anda duduk tenang di sofa ruang tamu nanti. Tapi karena nona memaksa akan saya bicarakan secepatnya sekarang"
Beberapa detik ditunggu akhirnya Alan angkat bicara.
"Apakah menurut anda tuan Alby benar benar memaafkan anda?" tanya Alan. Karin langsung mematung, apa yang dikatakan nya?.
"Maksudmu?" tanya nya tak percaya dengan perkataan Alan karena yang dikatakan Alan tentang Alby menurut nya tak benar.
"Kamu yakin Alan? Kenapa kamu menyimpulkan seperti itu. Alby kan sudah bilang tadi kalau dia sudah memafkaan ku. Ya sudah apa lagi?" cicit nya.
Alan hanya tersenyum kecil. "Kalau anda berpikir seperti itu tak apa nona. Saya tak bisa mengelak lagi" ucap Alan. Karin mengepak rambut pendek nya. "Jangan berpikir negatif dulu sebelum membuktikan nya!" jutek Karin meninggalkan Alan pergi.
🌹
Di Bintang Ceria tempat Pemotretan para Artis, Selebgram.
Cekrik.
Cekrik.
Cekrik.
"Satu, dua.."
Cekrik.
__ADS_1
Cahaya kamera berkali kali mengenai wanita cantik itu. Dengan baju yang ia pakai, kosmetik, sepatu, tas, perhiasan semua ia abadikan di potretan. Potret se potretan tersimpan di kamera dengan ukuran agak besar.
Beberapa menit dijalani untuk sesi pemotretan ke-1.
"BREAK!" teriak seorang lelaki paruh baya menghampiri wanita yang baru ia potret dengan banyak foto di dalam kamera nya. Dengan membawa buku genggaman di tangan nya, ia menyerahkan nya kepada wanita itu.
Wanita cantik dengan rambut hitam panjang menerima buku yang di berikan lelaki paruh baya itu. "Terimakasih" ucap wanita itu.
Datanglah seorang wanita dengan rambut di gelung kecoklatan. menghampiri wanita yang baru saja menjalani pemotretan. "Adriana" sapa nya memberikan salam dengan juluran tangan nya.
"Hei" Adriana berdiri dari duduk nya, menerima salaman manajer nya (Nayla).
"Masih istirahat kan? Bagaimana kalau kita ke cafe?" tanya Nayla. Adriana yang ditawar ke cafe mengangguk. Dengan anggun dia berjalan di samping Nayla menuju ke cafe.
Di cafe depan kantor pemotretan.
Nayla dan Adriana ber bincang bincang ria, ala ala ibu-ibu. "Eh nanti kamu pulang jam berapa?" tanya Nayla. Adriana tersenyum menaruh secangkir kopi baru saja yang ia minum.
"Aku bareng sama mas Pratama aja deh nanti. Kasihan yang di rumah, pulang larut malam terus" ucap Adriana melanjutkan mengesap minuman nya.
"Oh gitu ya? Gak ada rencana nih..." Nayla mengangkat alis sebelah mata. Adriana tak tahu apa yang di maksudkan hanya mengendikkan bahu.
"Itu lo, kapan kamu buat anak baru? Sudah berpuluh puluh tahun lo kamu gak punya anak lagi. Masa mau begini terus..." kata Nayla yang membuat Adriana membeku mendengar nya.
Memang benar Nayla manajer nya yang sudah ada di sisinya berpuluh puluh tahun tetapi ada rahasia yang membuat Nayla tak tau kalau dirinya sudah mempunyai anak, apalagi anak nya sudah besar, memasuki usia dewasa yang akan menikah.
Alasan yang tak bisa ia beri tahu kepada siapapun, dijawab dengan senyuman pulas saja.
"Haha gimana ya, mas Pratama banyak kerjaan sih"cicit Adriana membuat alasan.
Nayla yang baru saja menghabiskan minuman nya, hanya memasang wajah menyedihkan. "Awas loh nanti suami kamu direbut loh"
Mendengar godaan Nayla, Adriana langsung mencubit lengan nya. "Jangan gitu!" marah Adriana. Nayla mengelus lengan yang baru saja dicubit nya.
__ADS_1
"Haha bercanda" Nayla tersenyum sinis merasa tak bersalah sama sekali.
.