KARIN(Waktu Nya Pembalasan)

KARIN(Waktu Nya Pembalasan)
#34/wanita itulah yang harus disalahkan.


__ADS_3

PLAK-


Suara tamparan yang begitu keras, bahkan orang orang yang ada di sisi mereka berdua tak bisa menghentikan mereka, seperti paman Jordan.


Karin berlari memeluk mama Adriana dari belakang. "Ma, Stop! Stop ma!" ia berusaha menarik mundur mama nya yang akan mencakar cakar wajah papa nya.


"Lepasin! Lepasin Karin!" mam merengek, menggerakkan tubuh nya sana sini. Tapi kekuatan anak nya jauh lebih besar, dirinya dibuat sesak nafas.


"Gak mau! Aku gak mau mama bertengkar sama papa!" teriak Karin. Mam menatap tajam anak perempuan nya, "Ini bukan urusan mu Karin! Lepaskan mama! Mama mau mencakar cakar wajah Mas Pratama! Lepaskan mama!"


Karin menggeleng cepat, "Aku gak mau! Sampai kapan pun aku akan memeluk mama begini saja terus kalau mama mengamuk hebat gara gara papa!" ujar Karin.


Tapi mam masih belum menyerah, ia injak kaki anak nya hingga Karin kesakitan. "MAAA!!!" Karin langsung teriak saat Adriana sudah lepas dari kekungan nya. Apalagi Adriana kini siap siap menampar papa.


"MAMA!!!" teriak Karin ketakutan.


PLAKKK-


Jordan mengalihkan pandangan nya kesamping, ia sentuh pipi kanan nya yang lolos mendapatkan tamparan dari kakaknya. Jordan hanya tersenyum sambil menatap kakak nya.


"Kita omongin baik baik ya" ucap Jordan pelan. Adriana terbengong melihat aksinya yang malah menampar adiknya. "APA YANG KAU LAKUKAN!" hardik Adriana mundur selangkah demi selangkah.


"KENAPA KAU MENGHALANGI KU???"


"Ka-karena aku gak mau kakak teriak teriak gini..." cicit Jordan, menunduk kan muka.


Adriana langsung memasang wajah tak percaya, siapa lagi? Ya kepada mereka berdua Jordan dan Karin. "Kau, Karin kamu sudah janji kan mau memihak mama mu. Jordan, kau juga sudah berjanji akan selalu membela ku? Dan kini! KALIAN SEMUA SAMA SAJA!" Adriana berjongkok, ia menangis tersedu sedu.


Yang disalah kan pun juga tak bisa apa apa. Mereka berdua terdiam. Mereka juga sudah janji kepada Adriana untuk selalu memihak nya dan percaya kepada nya. Tapi bukan seperti ini yang Jordan & Karin ingin kan. Mereka berdua hanya tak mau ada pertengkaran di rumah ini.


"Ma" Karin ikut berjongkok, ia mengangkat kepala mama nya yang terus ingin menunduk gara gara Karin ingin melihat wajah mama nya sekarang.


Jordan menatap Pratama yang dari tadi hanya diam di tempat. Karin langsung memeluk mama nya dengan penuh kehangatan, "Maafin aku ya. Aku percaya kok sama mama. Tapi mama harusnya juga tau, kalau aku sangat benci kalau kalian gak akur gini. Kenapa mama, gak bicara dulu sama papa, mungkin aja kan papa punya alasan nya sendiri" usul Karin, Adriana seolah berpikir dalam diam, ia tak tahu harus apa. Karena kalau dirinya dengan suami nya bertengkar disini pasti akan menyakiti hati anak perempuan nya.


Adriana pun mengalah, ia berdiri lagi berjalan pelan menuju suami nya. "Aku akan mendengar semua penjelas an mu. Bahkan alasan mu harus bisa masuk akal bagi ku" jelas Adriana seketika wajah Pratama gembira kembali.


Mereka berempat pun duduk di sofa ruang tamu, sambil dihidangkan sajian oleh Nina. Papa pun mulai menjelaskan nya dari awal sampai akhir tapi Adriana masih belum percaya, karena tidak ada bukti dari ucapan suami nya itu.


"Alasan ku nyata ma, percaya ya. Aku gak selingkuh di belakang mu, aku dijebak sama wanita ****** itu. Dia masih menganggu ku, kamu juga tahu kan kalau dia dulu pernah mengganggu kehidupan kita? Kukira dia sudah tak menyukai ku lagi selama puluhan tahun, tapi baru baru ini wanita itu selalu saja mendekati ku. Bahkan dia berani ber drama di depan ku, aku tak menyadari nya. Aku lebih mementingkan perusahaan daripada harga diri ku sendiri, aku hanya tak mau ada masalah di kantor ku, ma. Maafin aku ya, papa janji gak akan lagi." jelas papa dengan suara pelan.


Adriana mengalihkan pandangan sambil mengerucutkan bibir. "Memang nya mas punya bukti???" jutek nya bersimpuh dada. Pratama terdiam ia sudah tak tahu lagi karena yang dimintai istrinya adalah bukti bukan janji manis dari nya.


"CCTV kan ada? Dikantor papa kan ada CCTV. di ruangan papa juga ada kan? Biasa nya ada, Kenapa gak cek CCTV aja!" usul nya yang ditanggapi oleh Pratama dengan senyuman.


"Yasudah aku akan menyuruh Jo untuk memeriksa CCTV ruangan ku, semoga saja masih ada"


Pratama pun menelepon Jo, panggilan diangkat untung saja Jo benar benar tak marah dengan nya.

__ADS_1


"Ya pak, ada apa?"


"Jo kau bisa kan cek CCTV"


"Untuk apa pak?"


"Kau masih percaya kan dengan ku kalau aku tak selingkuh? Aku ingin kau percaya soalnya bukti yang sebenarnya ada di cctv itu"


"Apa anda yakin pak?"


"Aku yakin 100% cepatlah! Aku tak ingin lama lama. Bantu aku Jo sekali ini--- saja"


"Saya akan memepercayai bapak sekarang. Saya sudah yakin kalau Pak Pratama tak salah. saya segera ke ruang khusus cctv untuk melihat rekaman"


"boleh"


Pratama memutuskan panggilan. Karin, Adriana, dan Jordan sudah berpeluh keringat sendiri mendengar percakapan yang Pratama sengaja suara telepon nya dikeraskan tadi.


"Kau sungguh..." Adriana menjeda kalimat nya, ia berpikir. "Apa kau sungguh tak berbohong?" tanya Adriana. Pratama mengangguk mantap, "Ma, kan aku sudah bilang wanita itu yang selalu mengganggu ku. Dia tak pernah menyerah, bahkan saat kita sudah menikah dia tak mau menyerah lagi ma, mama percaya kan sama aku..."


Istri nya terdiam, "Maksudmu Eve?" lirih Adriana, Pratama menggangguk. Adriana malah marah, "Kalau begitu kenapa kau tak marahi dia dari awal! Sudah tau dia pengganggu bukan nya kamu usir malah kamu biarkan! Kamu juga tahu kalau dia pelakor hebat yang bisa mengakibatkan hubungan kita kandas! Kenapa kamu gak bilang saja dari awal! Kalau begitu aku bisa percaya kepadamu!" tegas nya sampai Karin terbingung sendiri tak tahu apa yang dibicarakan orangtua nya.


"Ma, apa maksud mama? Eve itu siapa? Pelakor hebat?! Maksudnya?" tanya Karin. Adriana pun memberitahu sedikit cerita dulu saat sebelum menikah bersama Pratama. Mereka berdua saat itu masih menjalani hubungan 2 tahun tapi ada 1 pengganggu yang selalu saja mengacau kehidupan mereka.


"Pokok nya gitulah, Eve atau wanita licik yang diceritakan papa mu itu sudah menghancurkan hubungan asmara mama sama papa dulu sebelum menikah. Tapi itu dulu, setelah ia menikah dia gak dekat dekat lagi, eh mama gak sadar dia masih nempel akhir akhir ini. Memang gak punya harga diri dia." ejek mama, memainkan bibir nya sana sini.


"Jadi? Dia menganggu hubungan kalian, dulu?" tanya Karin.


"Ma....Kok aku gak tau. Kukira hubungan papa,mama itu biasa aja, aku gak nyangka ada wanita lain atau pelakor. Terus, Eve itu siapa? Kok bisa dekat sama papa? " Tanya Karin bertubi tubi.


"Eve itu... Mantan adik tiri mas Pratama dan sebenarnya umur nya berbeda dari kita. Dulu saat kita pacaran dia masih SMA, mungkin sekarang seumuran sama paman mu tapi berbeda jauh dikit, mungkin ... Kali ya, mama gak ngerti. Pokok nya Eve adalah mantan adik tiri papa mu dan kepolosan nya ia manfaatkan agar papa mu terpikat dengan nya. Yah... Pokok nya banyak lah, mama gak mau cerita lebih banyak lagi" jelas Adriana menduduk kan pantat nya, ia sudah capek berdiri terus menerus.


Pratama, Jordan dan Karin ikut duduk. "Kak. Vidio cctv nya udah ada belum?" tanya Jordan menghadap ke arah Pratama. Pratama pun mengecek hp, "Sudah, oh aku gak sadar soalnya nada dering ku mati"


"Sayang sini" panggil Pratama menepuk paha nya agar di duduki istrinya, Adriana menurut melihat hp suami nya yang sudah terpampang vidio beberapa menit.


Adriana sedikit terkejut, yang dikatakan suami nya benar adanya. Wanita itu, Eve sudah menjebak Pratama hingga jatuh terbanting ke bawah, untung di sofa empuk. Tapi yang bikin kesal nya kenapa suami nya tak langsung menjatuhkan Eve ke tempat agar tak terjadi hal panas seperti ini.


"Maafkan aku ya ma, aku pas itu mau jatuhin dia ke lantai. Tapi tubuh nya besar banget, terus tenaga ku gak kuat soalnya aku belum sarapan dan begadang ber hari hari akhir akhir ini. Tubuh ku lemas semua, dan kedua mata ku gak bisa fokus kemana mana. Untung aja ada Jo, gebrakan pintu nya membuat ku kaget reflek langsung jatuhin tubuh nya"


Pratama mulai menjelaskan nya lagi "Aku gak suka sama dia seperti itu, setelah kepergian mu dan Jo aku langsung mengamuk dan mengusir nya pergi. Ini buktinya, walau tidak ada suara nya tapi kamu pasti percaya kan sama aku. Kita sudah menjalani rumah tangga ini puluhan tahun. Kamu tahu aku ini orang nya seperti apa. Pacaran pun sudah lebih dari 10 tahun. Aku tahu kamu gak yakin hanya ragu saja, tapi aku cinta sama kamu, anak kita dan keluarga kita ma."


Pratama menyaku kan hp nya lagi, memeluk hangat istrinya ke pangkuan nya dari belakang. "Jangan marah ya. Saya janji gak bakal terima dia lagi di kantor, aku gak akan tertipu lagi oleh sandiwara nya. Aku janji" ia mengacungkan jari nya, Adriana tersenyum "Iya, aku tau tapi ada satu syarat-"


Mama Adriana berdiri ia mondar mandir kesana kesini. "Aku mau bertemu langsung sama dia!"


"Maksud kamu sama Eve? Kenapa?! Jangan! dia bisa saja membiat mu berbahaya!" tukas Pratama ikut berdiri.

__ADS_1


"Kata siapa? Kalau kenapa napa aku bisa menjadikan Karin menjadi pengawal ku." yakin nya membuat mereka semua terkejut.


Karin langsung berdiri, "AKU???". Dirinya kaget karena ditunjuk sebagai pengawal pribadi mama nya sendiri.


"Ayolah sayang.... Kamu mau kan? Aku bakal ajak kamu kemana pun kamu mau. Tapi temani mama dulu untuk berbicara sama Eve, mam mau kamu menjadi pelindung ku ya, cuma sekali aja hari hari selanjutnya enggak kok" jelas mama. karin awal nya tak terima.


"Kenapa gak aku aja ma?" tanya Pratama unjuk diri. Adriana menggeleng sebagai jawaban, "Aku gak mau nanti dia makin kleper kleper lagi di dekat mu. Kalau cemburu aku nya ku jambak rambut mu!" kata Adriana meninggikan suara di akhir kalimat. Pratama menelan saliva nya pelan.


"Kenapa harus aku ma???" geger Karin tak mengerti.


Adriana mengelus pipi anak nya, "Gak papa, mama pengen sama kamu dimanapun. Janji mu mana? Ingat kan untuk selalu melindungi keluarga mu termasuk mama." kata Adriana, Karin hanya bisa tersenyum kecut, ia bepikir "Bagaimana nanti reaksi para orang luar yang tahu kalau aku anak mama..."


"Tenang aja! Mama akan selalu ada di sisi mu!" kata mama, ia jawab dengan senyuman sahaja.


"Oh gitu ya, kapan mama ketemu sama Eve-Eve itu?. Besok kan?" tanya Karin.


"Sekarang" singkat nya yang membuat ketiga nya melonjak kaget.


"Kak seriusan??? Belum siap siap lo kita" kata Jordan khawatir sendiri disini. Adriana menimpali seperti ini, "Lho Jordan kamu ini gimana sih? Kamu kan gak ikut. Yang datang tuh cuma aku sama Karin. Ya gak papa lah sekarang atau besok sama aja!"


Jordan langsung terdiam.


"Yaudah mas! Kamu pasti punya kan No Hp nya Eve! Gak mungkin gak punya!!!" ucap mama yang kesan nya membentak.


Glek- leher Pratama langsung tercekit, tak mau dan bagaimanapun ia harus menyerahkan nomor yang diminta istrinya.


"I... Iya aku kirim ke kamu"


Ting- suara Hp mama berbunyi, menandakan papa sudah memberikan yang ia mau. "Dia ngapain aja!? Lihat Hp mu!!" hardik Adriana menjulurkan telapak tangan ke arah nya, Pratama langsung menyerahkan Hp nya dengan pasrah.


"Papa... Papa" gumam Karin kepada kedua orang tua nya yang penuh drama.


"Kamu ngeblokir dia?" tanya mama melihat blocked No Hp milik nomor yang tidak dikenal tapi mengenal kan diri di chat dengan sebutan nama Eve.


"Iya dia ngasih lope lope terus. Aku sampai bosan melihat nya" risau papa mendengus kasar.


"Oh...Bagus gitu dong!. Awas saja kamu kalau ada macam macam sama nih perempuan, gak ada jatah malam nanti!" sumpah serapah mama keluarkan dengan raut wajah kesal.


"I.. Iya... Ma"


"The real suami takut istri" pikir Karin tertawa sedikit dalam hati.


"Nih, aku sudah chat dia. Entah dia datang atau enggak, tapi aku gak beritahu nama ku siapa, ku suruh saja dia sekarang ke Restoran Tokis tengah kota jam 13.00,semoga aja dia datang" kata mama menyerahkan Hp suami nya.


"Yaudah Karin ayo siap siap, kita berangkat sekarang" aju mama, Karin kaget ia melihat jam di tangan nya. "Ma! Ini kan masih jam 10.00!"


Mama malah menatap tajam anak nya, "Lebih cepat lebih baik!, ayo! Pakai dress yang cantik sana. Mama tunggu disini nanti".

__ADS_1


"Eh ma! Tunggu!" Karin langsung menghampiri mama nya yang sudah berlalu lalang dari ruang tamu membiarkan mereka berdua sendirian di ruang tamu disini dengan tubuh membeku.


.


__ADS_2