KARIN(Waktu Nya Pembalasan)

KARIN(Waktu Nya Pembalasan)
#32/Masa kecil dulu.


__ADS_3

Adriana kini menangis tersedu sedu, bahkan anak perempuan nya tak tau kenapa mama nya bisa menangis.


"Papa mu jahat" tangis nya, mengalirkan air mata deras. Karin terbingung tak tahu harus menjawab apa.


"Mama kenapa? Memang nya papa Pratama ngapa-ngaapain mam?" Karin ikut sedih melihat mam Adriana dengan kesedihan nya.


"Pokok nya papa jahat sama mam, mama gak suka!"


Mendengar itu dirinya sakit hati, mendengar mam dengan ucapan nya itu. "Gak boleh gitu ma, papa gak jahat. Papa gak sejahat yang mama pikirin. Papa baik hati kok"


Mam adriana menggeleng kecil, "Salah, aku melihat nya sendiri." dirinya menunduk kan kepala. Hati Karin berdegup kencang, ia pikir apa lagi yang terjadi? Ia takut kalau mama dan papa nya bertengkar karena sesuatu.


"Mam, aku tak mau kalau mama bertengkar sama papa. Aku mau, mama jelaskan. Kenapa mama sedih? Aku akan membantu mam mencari solusinya"


Adriana langsung mengusap air mata menggunakan tisu. Saat ia ingin bicara dirinya diberi segelas air dari Jordan. Dirinya mencoba rileks, berpikir bersih agar dirinya bisa menyelsaikan semua ini.


"Mama tadi kan pulang mampir ke restoran. Aku isi kotak makan ku yang udah kosong sama makanan yang kubeli. Saat di kantor, aku gak sengaja melihat mas Pratama berselingkuh dengan wanita lain di dalam. Mam lihat di celah pintu, tentu mam kaget. mama langsung lari gak sengaja ketemu asisten nya papa dan mam pergi gitu aja. Terus mam pulang ke rumah, mau meluk kamu" jelas Adriana dengan perasaan sedih.


Mendengar cerita dari mama nya dirinya terdiam, Karin mencoba memahami perkataan mama nya. Ini kejadian sama saat dirinya juga diselingkuhi di masa depan, mana mungkin kan.


"Gak mungkin kejadian masa depan yang harus ku alami, berpindah ke mama. Kalau begitu, apa yang harus ku lakukan" lirih nya dalam hati mengingat masa kelam yang akan ia alami di masa depan bersama Haikal. Tapi itu semua tak terjadi karena ia menghalangi takdir nya sendiri.


Kalau benar takdir kejam nya berpindah posisi, tak akan Karin biarkan. Ia harus melakukan sesuatu, demi keluarganya.


"Papa Pratama tak mungkin melakukan hal itu, karena aku tau sifat papa. Papa tak sama dengan makhluk seperti haikal itu. Derajat mereka berbeda jauh, mam percaya dengan apa yang dilihat nya tanpa tau jelas apa maksud di balik nya?"


Dirinya mencoba membujuk mam. "Ma percaya sama aku. Papa gak akan melalukan hal tak senonoh di depan mama. Mam kan tau kalau pa-"


"Jadi! Papa bakal lakuin di belakang kita? Ya gitu!" balas Adriana membuat Karin terdiam. (Di belakang "kita?") tak benar, jangan sama kan Pratama dengan Haikal yang sama main belakang juga. Ia tahu dan ia yakin kalau papa Pratama adalah orangtua yang baik bagi anak dan istri nya, Karin percaya itu.

__ADS_1


"Mam jangan berpikir negatif. Papa.... Papa orang nya baik. Papa juga pernah bilang ke aku, kalau papa sayang~~~sama mama."


Adriana menatap anak nya dengan mata lesu. "Jadi kau lebih membela papa mu daripada mama mu? Mama yakin kamu juga merencanakan semua ini kan?"


Karin yang ditatap termenung, ia membuka mulut nya kecil dengan perasaan berdegup kencang. "Bagaimana kalau tanya papa? Aku gak mau gara gara ini kita bertengkar. Lebih baik kalian bicara satu sama lain, apa kekurangan kalian. Jadi kalian mengerti" kata Karin to the point. Mam menggeleng.


"Gak mau, mama gak mau ngomong sama laki laki itu. Mama udah gak percaya lagi, Padahal dulu dia sudah janji untuk gak nyakitin perasaan ku lagi!" alih Adriana, mengalihkan pandangan muka.


Karin hanya bisa menggoyang goyang kan tubuh mama nya. "Ma, plis sekali ini ya. Kalian juga pasti gak talk baru baru ini gara gara kerja an kalian sibuk banget. Plis ya ma, papa pasti punya alasan" ucap Karin sedikit menatap paman Jordan yang tak mau ikut campur dalam urusan rumah tangga kakak perempuan nya.


"Shes-shes. Paman Jordan. Hei, sini!" Karin mencoba memanggil paman Jordan yang seakan menjauh dari mereka berdua. Akhirnya Jordan menuju ke mereka, duduk di samping kakak perempuan nya.


"Kak" panggil kecil Jordan. Mam menengok ke samping melihat adik laki laki nya berada di samping nya. "Hiks" langsung Jordan dipeluk begitu saja oleh mama. Jordan kaget, dirinya ingin melepaskan pelukan kakak nya tapi tak jadi saat dirinya adalah tempat untuk bersimbah tangis kakak nya yang sedang bersedih hati.


"Kenapa!" mam memukul dada Jordan. "Kenapa!" ia pukul lagi, respon Jordan? Dirinya terdiam.


"Lepaskan semua nya di pelukan ku pun tak apa" Jordan mengelus puncak kepala kakak nya, dengan lembut terpikirkan masa kecil mereka dulu.


Dulu saat masa kecil mereka selalu bermain bersama, makan bersama, mandi bersama. Tapi semua berubah saat ayah mereka pergi meninggalkan ketiga anak nya sendirian bersama ibu nya. Yasa, kakak dari Adriana dan Jordan bekerja mengurusi keluarga mereka yang jatuh miskin. Tapi pada akhirnya Yasa sama saja dengan ayah nya. Dirinya meninggalkan kedua adiknya dan ibu mereka sendirian di gubuk kecil.


Jordan yang masih umur 7 tahun tak menyerah, apalagi Adriana yang berumur 15 tahun saat itu tak ikut menyerah. Mereka terus bekerja, sana sini demi mendapat kan uang. Dan uang itu untuk ibu mereka, yang sering sakit sakitan.


Impian mereka untuk memberikan perawatan terbaik untuk ibu. Berakhir saat 1 setengah tahun kemudian ibu nya meninggal, karena menderita gagal jantung.


Dengan keadaan ini semua, mereka berdua sudah tak kuat lagi. Mereka ingin menyerah, bahkan mereka ingin berniat bundir dengan takdir mereka. Sebelum mereka benar benar menyerah ada satu orang yang sudah menolong mereka di tepi jembatan.


Entah pria yang membawa Jordan dan Adriana siapa tapi mereka berdua di gendong dan dibawa ke mobil. Hingga pada saat itulah mereka mulai menghidupkan kembali impian mereka di rumah mewah nan indah ini.


Mereka berdua di adopsi, dengan senang hati mereka berdua menerima. Mereka sudah menganggap ayah terbaik di antara ayah kandung mereka sendiri. Dan Ayah Rex yang mereka sebut itu.

__ADS_1


Impian tercapai, hidup sudah ditanggung kini mereka berdua fokus dengan jalan nya masing masing. Jordan yang selalu diajari kakek, atau ayah dari ayah Rex tentang bela diri sedangkan Adriana diajarkan papa nya untuk menjadi model terkenal.


Mereka berdua terkenal dulu, hingga memasuki koran koran masyarakat. Sudah beberapa tahun di jalani dan syukur lah semua masih berjalan ddngan baik.


Tahun demi tahun berlalu mereka semua sudah dewasa. Akhirnya Adriana menemukan cinta sejatinya yaitu Pratama, dan begitu pun sebaliknya. Walau ada gelombang besar yang selalu saja ada di tengah hubungan asmara kedua nya, rasanya alam terus saja menyatukan mereka berdua hingga janur kuning melengkung.


Kini Jordan teringat semua nya, saat ia benar benar fokus dengan tugas nya, ia juga melihat dari kejauhan kakak nya Adriana memegang sebuah kemenangan. Mulai dari situ dirinya tak pernah membuka suara dengan kakak nya. Dirinya tak ingin mengganggu hidup kakak nya, hingga hari ini. Kakak nya menangis di pelukan nya ia tak bisa terbuka lagi seperti dulu.


Keakranan mereka saat keluarga mereka lengkap di rumah mereka dulu.


Jordan tak tahu apa yang selama ini kakak nya lakukan, tapi ia tak tahu kalau kakak nya peduli dengan nya selama ini. Hanya saja Jordan selalu fokus dan mementingkan segala urusan yang ada di depan mata.


Mereka pun memutuskan hubungan antar mereka berdua beberapa tahun. Tak berselang lama saat pernikahan Adriana, Jordan membawa begitu banyak hadiah. Mulai dari situ Jordan mulai membuka diri dengan kakak nya, berbincang ria, mengenang masa lalu bersama ayah Rex.


"Sekarang ayah Rex dimana ya" gumam Jordan. Pasalnya saat kelahiran Karin. Ayah angkat mereka sudah tak ada lagi, seperti menghilang bagaikan debu. Membawa kebaikan untuk yang membutuhkan, layaknya mereka berdua.


Mungkin sjya Rex sudah tua sekarang, mengingat Rex dulu berumur empat puluhan. Apa yang harus ia katakan, apa yang harus ia balas agar ayah Rex senang dengan pemberian mereka karena sudah menolong mereka. Tak ada yang tahu, rumah nya ditempati Jordan, dicari kemanapun tak ada.


Kembali ke masa sekarang, Jordan ikut menangis.


"Maafkan aku" ia memeluk erat kakak nya dengan perasaan bersalah.


"Maafkan aku kak" ia bersalah karena tak menghiraukan masalah kakak nya yang jelas jelas butuh bantuan nya juga.


"Saya akan membantu kakak, apapun itu" usap halus nya, mengusap kering air mata kakak nya.


"Jordan" Adriana berkaca kaca, berlinang mata haru. Melihat adiknya peduli dengan nya lagi.


"Makasih" Adriana memeluk adiknya.

__ADS_1


💐


__ADS_2