KARIN(Waktu Nya Pembalasan)

KARIN(Waktu Nya Pembalasan)
#43/Bubur ayam bawang.


__ADS_3

Dari kejauhan Dina menuju ke arah Karin dengan membawa semangkok bubur, Karin tentu terheran ia ingat dengan jelas tak memesan bubur ataupun makanan lain lagi.


bingung nya melihat semangkok bubur di tangan nya sekarang. Dina hanya mengangguk "Nona, itu bubur ayam bawang untuk tuan Jordan. Ini resep dari nenek saya di kampung dulu, kata nenek saat ada orang yang kecapekan atau sakit. Biasa diberi bubur ayam bawang agar stamina nya ikut kembali naik."


Karin mengangguk simpul, "Makasih ya, maaf ya udah membuat mu kerepotan. Pasti kamu masih punya banyak pekerjaan kan?" tanya Karin, Dina mengangguk. "Tak apa Nona, sebenarnya membuat bubur itu begitu mudah tak terlalu memakan banyak waktu. Jadi saya tak kerepotan sama sekali, saya juga masih mempunyai banyak waktu untuk pekerjaan saya lainnya" kata Dina, Karin tersenyum.


"Makasih banget ya, aku ke kamar Paman Jordan lagi. Mungkin saja Paman sudah bangun. Lanjutkan pekerjaan mu, aku pergi dulu" ucap ku berjalan masuk ke dalam kamar Paman Jordan kembali.


Di dalam kulihat Paman Jordan terduduk manis sembari membaca koran, makanan di atas nakas sudah habis Paman makan. Paman Jordan yang melihat kehadiran keponakan nya, langsung menutup koran yang ia baca.


"Paman, makan lagi nih" kata Karin menyerahkan semangkok bubur ke arah Paman nya dengan baik hati. Jordan melihat isi dari mangkok yang diberikan Karin, sebuah bubur Ayam bawang. Paman tersenyum dengan wajah pucat nya.


"Makasih ya, ini kamu buat sendiri atau bagaimana?" tanya Paman sambil menyuapkan sesendok bubur ke mulut nya. "Enggak bukan aku yang buat, itu buatan Dina tadi. Katanya ini bubur agar Paman cepet sembuh, katanya gitu"


"Oh~, enak sih. Ada asin gurih, bawang nya juga kerasa. Kapan kapan boleh kan kau mintakan ke Dina.... untuk buat bubur ini lagi buat Paman. Rasanya gak main main, enak sekali" lahap nya memakan bubur dengan cepat cepat, bahkan 1 sendok penuh tak dikunyah langsung ditelan.


"Paman kenapa gak mau sarapan? Gak biasanya. Lain kali jangan gini lagi ya, keponakan mu ini yang khawatir dengan keadaan Paman nya...." lesu Karin yang malah ditertawakan Jordan. "Ya ampun Karin-Karin. Hanya pingsan sehari tak mungkin lah selama lama nya" canda Paman Jordan.


Karin langsung berdegup degup sendiri melihat Paman nya kembali ceria. Dirinya merasa ini semua salah nya. Seharusnya Paman nya tak usah ikut campur dengan semua masalah yang ada di keluarga ini. Pasti gara gara tadi atau kemarin lah yang membuat Paman Jordan gak mood buat sarapan tadi pagi.


Hingga Karin teringat dengan perkataan Paman nya sebelum kembali tertidur. "Kamu hampir sama dengan nya itu siapa Paman??" tanya Karin penasaran dengan dengungan Paman nya yang saat itu masih belum sadar sepenuh nya.


Paman hanya menaut kan alis menjadi satu, "Maksud kamu apa Karin? Paman tidak tahu apa yang kamu bicarakan"


"Huh?" Karin malah mendungu sendiri, dia yang salah dengar atau Paman nya yang pura pura lupa?. "Enggak, maksudnya itu yang Paman bicarain tadi. Apa ya... Oh ya, kata Paman mimpi dia semalam. Yang Paman bicarain itu siapa???"


Jordan langsung menepuk dahi mengingat kejadian tadi dan mimpi yang dirinya alami semalam, dan gara gara itulah alasan nya tak mau sarapan tadi pagi. Entah mimpi apa yang datang, tapi itu sangat buruk bagi nya.


"Bukan apa apa, hanya mimpi biasa... Paman gak mau sarapan karena gak enak aja. Kamu juga mengerti bagaimana seseorang tak mau makan apapun karena ada rasa tak keenakan kan?" ucap Paman Jordan diangguki keponakan nya.


"Kenapa gak enak? Paman gak usah sungkan sungkan kalau makan disini. Lagian kita kan keluarga... Untuk apa kita malu? Hanya makan saja loh. Paman ini, padahal selama hari hari ini Paman makan banyak. Kok sekarang begini? Paati ada alasan lain kan???" selidik nya.

__ADS_1


Jordan tersenyum kecut, ia masih belum bisa mengatakan alasan nya. Ya walau alasan itu penting atau tidak nya untuk keponakan nya. Tapi pria itu tak mau kalau keponakan nya tahu, siapa orang yang ia pikirkan selama ini. Harus ia jaga rahasia nya, untuk saat ini dirinya beralasan dulu.


"Bagaimana ya Karin. Sepertinya Paman memang sakit. Walau sudah banyak olahraga" kata Jordan yang tak berdampak apa apa di wajah Keponakan nya.


"Padahal Paman selalu makan bergizi, suka olahraga, bergerak bebas kemana mana. Gak mungkin Paman bisa jatuh sakit semudah itu kan? Tapi kata dokter tadi selain kecapekan katanya banyak pikiran. Beneran Paman? Kalau ada yang mau di ceritakan, ceritakan saja ke aku. Aku bakal dengar semua cerita Paman kok" tutur Karin.


"Haishh kamu ini, gak usah lebay. Saya itu baik baik saja. Lihat kan sekarang saya tidak sakit lagi, hanya sebentar saja kok. Juga, maaf ya Karin gara gara Paman, kegiatan mu menjadi tertunda"


Karin menggeleng kencang "Aku bakal marah kalau Paman melakukan hal seperti ini lagi. Baru aku marah kalau Paman gak sarapan sama sekali. Ngerti!" jahil nya dengan menekan hidung mancung Paman nya masuk ke dalam.


"Kamu tuh ya. Ya ya Paman gak ulangi lagi." Jawab Paman Jordan dengan deretan gigi pada senyuman nya.


Hp Karin berbunyi.


4 pesan masuk di aplikasi Whatsapp nya, entah nomor itu milik siapa tapi dilihat dari PP nya yang tak ada isinya sama sekali, membuat nya curiga kalau orang yang mengirimi nya pesan adalah orang yang ingin berbuat jahat kepadanya. Tapi dirinya tak mau berburuk sangka, karena masih belum ada bukti.


Satu foto dikirim ke nomor nya, Karin langsung terkejut melihat Haikal bersebelahan dengan perempuan lain berambut coklat panjang. Mereka berdua seakan menjalani hal romantis, bahkan di foto itu mereka meminum 1 gelas besar dengan 2 sedotan bersama.


(Apa itu pacar mu? Kulihat mereka begitu romantis)


(Apa kau ingin melihat lebih dari dari itu?)


(Aku menunggu jawaban mu disini, temui dia sekarang nanti di depan Museum Altar jam 14.20. Mereka akan ngedate bersama di sana. Ah.... Begitu romantis aku menantikan nya.)


Napas Karin mulai tak beraturan. Dirinya marah dengan lelaki itu, Haikal. Ya walau memang dirinya sudah menjadi mantan nya. Tapi di mana janji manis dulu yang selalu diberikan Haikal kepadanya? Janji manis kepadanya yang selalu mau bersamanya. Memang sih dia sudah tak punya perasaan lagi dengan Haikal.


Tapi Haikal benar benar sudah membohongi nya. Terimakasih orang yang entah datang dari mana sudah memberitahu hal besar seperti ini. Dengan begini Karin bisa mempunyai bukti double, langsung ia kirim foto yang dikirim orang asing tadi ke nomor milik Alan. Tapi ini masih belum cukup, ia ingin Haikal lebih menderita dari semua yang sudah ia lakukan kepadanya.


Karin: Aku ingin lebih, berikan semua foto foto yang berkait kan dengan Haikal.


Langsung dijawab, tak butuh beberapa detik layaknya robot AI.

__ADS_1


(Anda ingin lebih? Kalau begitu saya punya rencana. Dalam undangan ulang tahun mu undang saya juga. Pada saat itu saya akan membeberkan semua nya kepada anda. Cukup katakan iya, jadi anda sudah mengundang saya. Saya akan menyebut inisial nama saya saja (N) bisa huruf belakang maupun depan. Anda akan tahu siapa saya dan wajah saya. Tak perlu basa basi, majukan acara ulang tahun mu. Karena kamu tak akan mempunyai waktu lagi)


Karin: Iya.Tapi tunggu sebenarnya siapa kamu?


Kenapa hanya centang satu? Apakah Karin di blokir? Bisa bisa nya. Berani berani nya dia di blokir, padahal wanita ini belum mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lagi pun, siapa sebenarnya pria ini....


Apa dia meminta Alan saja untuk melacak keberadaan pria asing ini? Tidak tidak, Alan pasti sangat kerepotan dengan tugas yang ia berikan di luar. Ia tak boleh menganggu. Karin juga tak boleh terus terusan bergantung kepada Asisten nya.


Memantapkan diri, Karin mulai berdiri. Paman Jordan langsung terduduk tegap. "Kamu mau kemana Karin?" tanya Paman, Karin langsung melihat ke bawah, ia lupa kalau sedang menjaga Paman nya. Sedangkan bagaimana rencana nya yang akan di Museum Altar itu??? Siapa yang akan menjaga Paman nya disini?.


"Paman aku ada urusan sebentar di luar, sebentar aja gak lama juga kok. Gak apa apa kan Paman? Segera ku carikan pengganti ku biar Paman gak kesepian oke"


Tangan nya langsung di pegang sama Paman Jordan, "Tak perlu. Pergilah, Paman bisa jaga diri disini. Lagipun disini banyak pembantu, Paman bisa memanggil mereka sewaktu waktu. Jadi jangan khawatir Paman akan baik baik saja disini" Paman Jordan langsung mengecup dahi Karin pelan. "Hati hati di luar, pakai masker buat jaga jaga kalau ada apa apa di luar"kata Paman mengingat kan Karin dengan kejadian/masalah yang terjadi akhir akhir ini.


Karin langsung mengangguk, "Ya paman, beneran gak apa apa kan? Paman gak kesepian?". Jordan langsung tertawa keras.


" Ya ampun Karin.... Saya ini bukan anak kecil ya. Tolong jangan mengasihani Paman yang kayak Big Baby gini..."


Karin ikut tertawa dengan ucapan Paman nya yang begitu terdengar lucu. "Hahahaha, maaf, maaf. Yaudah aku pergi dulu. Pokoknya Paman harus jaga diri! Kalau mau makan bisa panggil pembantu di depan, soalnya mereka selalu stay di luar kamar"


Paman Jordan mengangguk, mengelus rambut Karin. "Sana pergi, jalani rencana mu di luar. Senang senang sana!"


Karin hanya tersenyum kecil. Begitu polos nya Paman Jordan mengira kalau dia akan senang senang bermain di luar. Padahal dia akan merencanakan sesuatu di luar. Something is dangerous (sesuatu yang berbahaya).


"Makasih, aku pergi dulu Paman. Bye Bye!!!" Karin melambaikan tangan ke arah Jordan, pergi dari kamar dengan menutup pintu pelan.


Perlengkapan nya sudah siap, masker, kacamata hitam, pakaian panjang, topi lebar. Pokok nya semua sudah siap, wanita itu sudah siap dan berlekas pergi menuju Museum Altar.


"Aku akan kesana." usai nya menaiki mobil miliknya.


__ADS_1


__ADS_2